Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 44 Penyesalan


__ADS_3

"Ok,tunggulah… Taylor akan menjemputmu” balas Liam dengan Santai


“Terimakasih…..Liam” Jawab Harumi dengan sangat hati-hati mengakhiri pembicaraan.


Tak ada pertanyaan apapun yang terlontar dari bibir Liam mengenai permintaan Harumi yang sangat mendadak tersebut. Ia hanya menjawab dengan singkat dan seolah sudah mengetahui situasi yang sedang dihadapi Harumi saat ini.


Sebelum menuju kamar tidur, Harumi mencoba untuk sejenak duduk di kursi tamu. Pandangannya kosong, ia menghirup oksigen di sekitar menjernihkan pikirannya, lalu perlahan menutup kedua matanya.


Pikirannya mencoba membayangkan kembali semua kejadian yang selama ini telah dilewatinya, mengingat kenangan indah bersama Anton sebelum mereka menikah, mengingat kebahagiaan seluruh keluarga yang dicintainya saat hari Sakral itu mereka rayakan bersama dan juga Kejadian Malam itu.


Kini harus kah semua berakhir seperti ini, sangat menyakitkan dan dada Harumi semakin sesak tak sanggup bernafas kembali.


Bulir-bulir air mata itu kembali mengalir membasahi pipi Harumi, tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya akan merasakan penderitaan ini.


Harumi terisak menatap setiap sudut rumah mereka yang dulunya penuh cinta, penuh canda, saling menaburkan kasih sayang.


Seringnya mereka dulu sarapan bersama, menghabiskan weekend dengan memasak berdua, tertawa lepas, lalu bola mata nya bergerak melihat foto pernikahan mereka yang dipajang diatas nakas. Sebuah foto yang menjadi saksi bagaimana bahagianya mereka dulu saling mencintai satu sama lain.


Harumi semakin mengalirkan airmata itu, setiap bulir yang mengalir di pipinya ada kesedihan terdalam yang telah lama ia simpan sangat erat.


“Namun… ternyata pada akhirnya tak mungkin bisa kupaksa, mungkinkah aku meminta kisah kita selamanya, tak pernah terlintas dalam benakku bila hariku tanpamu, segala cara telah kucoba pertahankan cinta kita, selalu kutitipkan dalam doaku, tapi ku tak mampu melawan Ego dan ambisimu” dalam batinnya.


Harumi mulai menguatkan tubuhnya dan keteguhan hatinya, berdiri dari duduk memaksa kedua kakinya untuk melangkah walaupun terasa sangat berat. Berjalan menuju kamar tidur, untuk segera mengemas beberapa pakaian dan kebutuhannya.


Dalam perjalanan nya menuju kamar, sejenak ia menatap pintu yang tertutup ke ruang kerja Anton mengingat apa yang sudah ditemukannya di laci meja tersebut. Dalam benaknya ia sudah tidak terlalu peduli lagi dengan semua dokumen itu, apapun itu ia tidak ingin menyakiti dirinya lagi dengan menambah beban di pundaknya untuk saat ini.


***


Di ruang Kerjanya, Anton hanya terus menatap layar laptopnya yang menyala daritadi.


Pandangannya kosong, tampak beberapa perlengkapan alat tulis, kertas dan semua dokumen penting berserakan di lantai. Beberapa gelas kaca, pecah berhambur di sudut-sudut ruangan.


Meja kerja yang biasanya selalu rapi, kini sangat berbanding terbalik. Semua pernak pernik di Ruang kerjanya berjatuhan, lukisan indah yang menghias di dinding tergantung tak seimbang hampir jatuh ke lantai.


Anton sangat berantakan, penampilannya seperti paru-paru yang kekurangan oksigen, sulit bernafas hingga tak ada keinginan untuk hidup.


Sebelumnya Anton mengamuk seorang diri hingga hampir menghancurkan seisi ruang kerjanya Di Kantor. Ia menyapu semua yang tertata diatas meja kerja dengan kedua tangannya sampai semua berjatuhan di lantai.

__ADS_1


Ia terus mengepal erat kedua tangannya, rasa penyesalan yang sangat dalam dan rasa bersalah yang tak termaafkan lagi.


Ia sadar sudah menikam Harumi dengan ucapannya yang sangat menyakitkan.


Bibirnya bahkan tak sanggup lagi mengucapkan satu kata maaf saja untuk Harumi. Karena sudah terlalu dalam rasa sakit itu ia torehkan kepada Harumi.


Daniel yang seharusnya datang membantu menyelesaikan masalah Client, Anton menunda pertemuan mereka malam itu.


Anton memilih berdiam diri di Kantor dan memutuskan untuk menenangkan diri agar bisa menyelesaikan masalah mereka perlahan-lahan.


Faktanya Anton masih sangat mencintai Harumi, tapi ego dan ambisinya mengalahkan perasaan itu. Membawa pernikahan mereka menuju jurang yang dalam.


***


Suara mobil berhenti tepat di depan rumah Harumi dan Anton, Taylor sudah tiba menjemput Harumi.


Bel rumah berbunyi, Harumi segera membukakan pintu.


Terlihat Taylor berdiri sigap, tetap dengan setelan jas rapi dan kacamata hitamnya.


Ia masih tetap berdiri di depan pintu menunggu Harumi bersiap-siap.


"Taylor, maaf sudah merepotkanmu malam-malam gini" sahut Harumi seraya menyeret koper berukuran sedang berwarna biru dengan ransel kecil warna mustard di pundaknya.


Harumi belum mengganti pakaiannya yang seharian di kenakannya.


Taylor langsung sigap meraih koper milik Harumi segera membawa masuk ke mobil.


Entah apakah ini keputusan yang tepat bagi mereka, hanya itu yang dipikirkan Harumi sekarang. Berpisah sementara untuk menenangkan pikiran, setidaknya ini lebih baik daripada ia harus mengakhiri hidupnya.


Mansion milik Liam terlintas begitu saja di benak Harumi sebagai tempat sementara untuknya menginap agar bisa berpisah dengan Anton sementara waktu.


Tidak mungkin Harumi bermalam di Rumah orang tuanya, akan semakin menyakiti hati kedua orang tuanya jika mengetahui kondisinya selama ini.


Setidaknya Liam adalah orang lain, karena tidak akan mempertanyakan permasalahannya terlalu dalam tentang kehidupan pribadi Harumi.


Setelah mengunci pintu, Harumi menatap sedih ke sekeliling rumah mereka dari luar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca kembali, tapi ia langsung mengusap wajahnya. Harumi harus Kuat, harus bisa bertahan melawan keadaan ini.

__ADS_1


Kemudian ia bergegas menuju mobil dan duduk di kursi penumpang di belakang.


Ia menarik nafas dalam-dalam, hatinya memang sakit tapi tidak akan lemah lagi.


Sebelum Taylor menjemput, Harumi masih menyempatkan untuk membereskan pecahan gelas yang terjatuh tadi, dan memasakkan makan malam yang sederhana untuk Anton.


Yeap, Harumi melakukan itu semua di tengah ia sedang bersedih. Setidaknya ia masih melakukan kewajibannya sebagai istri, walaupun hanya makan malam sederhana tapi ia membuatnya dengan sunguh-sungguh.


Ia meletakkan Makan malam untuk suaminya di atas meja dengan rapi, walaupun Anton sudah makan di Restauran sebelumnya. Tapi Harumi tetap melakukannya mengingat Anton akan pulang dengan keadaan lelah dan lapar dari Kantor.


Perhatian kecil ini ia lakukan sebagai wujud sayang nya kepada Anton, walaupun rasa sayang itu tak sebesar dulu. Tapi Harumi tetap berusaha menjadi istri yang baik untuknya.


Mobil Melaju dengan cepat melintasi jalan raya, waktu hampir larut malam tapi mobil-mobil lain masih banyak melintas.


Harumi menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela. Matanya sangat lelah dan sembab setelah menangis tadi.


"Hallo" Taylor menjawab panggilan masuk di ponselnya.


"Baik Tuan" sahut Taylor lalu mengakhiri pembicaraan.


Harumi bisa mendengar jelas dari kursi belakang, itu pasti panggilan masuk dari atasannya, Liam.


"Apa itu Liam ?" tanya Harumi mencodongkan tubuhnya menanyakan kepada Taylor yang fokus mengemudi.


"Iya Nona" jawab singkat Taylor


"Apa katanya ?" balas Harumi makin penasaran


Wajah Taylor datar, diam tak menjawab.


"Ehmm, kau pasti di perintahkan olehnya agar tidak boleh aku mengetahuinya kan"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank You ❤

__ADS_1


__ADS_2