
"Jonah, ada apa ?" tanyaku yang tampak heran
"Mrs. Harumi maaf mengganggumu, aku ingin meminta tolong, aku mau memesan karangan bunga untuk hari Valentine nanti, Karangan Bunga Mawar Merah"
"Mawar merah ? waaah, apakah kau ingin menyatakan cinta, Jonah ?"
Aku tersenyum mendengar permintaan Jonah, walaupun aku hanya berpura-pura tidak mengetahuinya. Tapi aku yakin Karangan bunga itu pasti untuk Beatrix.
"Iya Mrs. Harumi, saya mohon bantuannya ya. Maaf saya harus segera kembali ke Toko, karena ayah sedang keluar jadi saya harus bergegas kembali." Jonah yang tampak malu-malu, mulai gelisah karena takut akan kehadiran Beatrix yang bisa saja kembali tiba-tiba.
"Baiklah Jonah, aku akan membuatkan pesanan mu yang paling bagus"
"Terimakasih Mrs. Harumi" pamit Jonah yang bergegas kembali ke Toko Kue nya.
Aku melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda gara-gara kehadiran Jonah.
Tak berapa lama, aku mendengar dering panggilan dari Handphoneku. Ternyata itu panggilan masuk dari Anton.
Aku sempat heran menatap layar handphoneku, karena tidak biasanya Anton menelponku di saat jam kerjanya. Aku pun mulai berprasangka buruk.
"Hallo?" jawabku
"Rumi, aku butuh bantuanmu"
"Bantuan ?"
Anton tidak bertele-tele, ia langsung mengajukan maksud pembicaraannya.
"Pak Liam Seymour, kau masih ingat kan nama itu. Ia CEO di perusahaanku, aku ingin kau bisa membantunya. Ia sedang mencari orang yang ahli dalam bidang tanaman Bunga untuk merawat bunga-bunga yang ada di rumah barunya. Setidaknya kita harus memberikan kesan yang baik untuknya." jelas Anton
Aku tidak bisa berkomentar apapun mengenai permintaan suamiku. Aku hanya diam, dan mengingat pembicaraan Liam tadi pagi. Ia benar-benar menepati ucapannya.
"Tapi Anton, aku sudah memiliki cukup banyak pekerjaan di Toko. Bagaimana mungkin aku bisa membantunya ?" Aku mulai mencari-cari alasan agar bisa menolak kemauan Liam.
"Hanya seminggu sekali kau datang kerumahnya, apakah berat untukmu ? Aku hanya ingin kita dipandang baik oleh Pak Liam, ini sangat penting untuk masa depan Karierku di perusahaan. Apa kau mengerti Rumi ? "
__ADS_1
Aku masih tidak habis pikir dengan jalan pemikiran suamiku, sebegitu egoisnya ia. Demi kepentingannya sendiri ia bahkan tak memperdulikan kondisiku lagi. Mendengar cara bicara Anton seperti ini bukan sebagai suamiku tapi seolah sebagai atasanku.
"Iya aku mengerti, Baiklah. Aku akan mengusahakannya."
"Ok. Sampai ketemu di rumah" Anton mengakhiri pembicaraan kami.
Hatiku mulai terasa sakit lagi, mendengar semua perkataan suamiku. Memang ia tak mengatakan kata-kata kasar, tapi entah mengapa aku merasa sangat sedih.
Pernikahan yang kuharapkan bisa bahagia dan kami saling menyayangi semakin aku merasa pernikahan ini hanya seperti Cangkang kosong.
Aku berusaha memberi kesempatan bukan untukku maupun untuk Anton, tapi kesempatan untuk pernikahan kami. Bahkan aku takut jika sampai suatu hari nanti kesempatan pernikahan ini akan berakhir.
Di dalam Mobil Liam
"Tuan Liam, 30 menit lagi kita akan ada Virtual Meeting dengan beberapa para pemegang saham Seymour Shipping International Company. Mengenai...." Lapor Sekretaris Will
"Tunggu, tunda dua jam." potong Liam
"Baiklah Tuan Liam, saya akan mengatur ulang. Setelah ini anda ingin melakukan apa ?"
Liam yang duduk, mulai menyandarkan tubuhnya dan melihat ke arah jendela mobil. Pikirannya seolah teralihkan, ia hanya membayangkan wajah Harumi. Ia mulai tidak sabar menunggu Harumi menghubunginya.
Memang benar, dering Handphone Liam pun berbunyi. Ada panggilan masuk dari Harumi. Menatap layar Handphone saja, Liam sudah mulai senyum-senyum sendiri.
"Hallo" jawab dingin Liam yang seolah tidak ingin Harumi mengetahui bahwa ia sangat antusias.
"Hallo Liam, apa kau sibuk ?"
"Tidak, kenapa ?"
"Aku menerima kabar dari suamiku, sesuai dengan keinginanmu ia mengizinkanku bekerja untukmu. Tapi Liam, aku merasa tidak nyaman dengan semua ini. "
"kenapa kau merasa tidak nyaman, bukankah ini hanya seperti seseorang yang akan merekrutmu untuk bekerja dengan gaji per bulan. Apa ada yang salah, memangnya pekerjaan yang kutawarkan buruk ?"
Mendengar jawaban Liam, aku hanya terdiam. Semua yang dikatakannya memang benar, ia tidak ada maksud lain. Aku hanya cemas, karena merasa seperti ada sesuatu diantara kami.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menerimanya. Tapi untuk kapan aku mulai ke sana, aku yang akan menentukannya. Karena aku harus menyesuaikan dengan pekerjaanku di Toko. "
"Oke, deal! aku senang mendengar keputusanmu Rumi. Kabari aku jika kau ingin memulainya, aku akan meminta Taylor menjemputmu."
"Tidak usah Liam, aku bisa pergi sendiri dengan uber atau taksi. Aku bukan anak kecil lagi yang harus di antar jemput, lagipula aku masih ingat jalurnya."
"Aku tidak ingin kau pergi seorang diri, aku yang memaksa mu sekarang. Jangan membantah, Taylor siap mengantar jemputmu." Liam mulai bersikap protektif kepadaku.
"Baiklah, aku akan menghubungimu kembali." aku mengakhiri percakapan kami.
Sekretaris Will yang duduk di samping sopir, hanya bisa mendengarkan pembicaraan tuannya.
"Tuan Liam, mohon maaf jika saya lancang, boleh kah saya menanyakan satu hal kepada Tuan ?" dengan Hati-hati Sekretaris Paruh baya itu berbicara kepada Liam.
"Boleh Pak Will, aku tidak pernah melarangmu menanyakan apapun kepadaku. Kau sudah bekerja padaku cukup lama, bahkan sebelumnya kau sudah mengabdi pada ayahku. Jadi kau sudah kuanggap seperti keluarga."
"Saya baru ini melihat Tuan sebahagia itu, bahkan seharian ini saya perhatikan Tuan lebih sering tersenyum. Apakah Tuan memiliki perasaan khusus dengan Nona Harumi ? maafkan jika pertanyaan saya terlalu pribadi."
Liam menghela nafas, sebelum menjawab pertanyaan sekretarisnya. Ia tau arti pertanyaan itu, cepat atau lambat ia pasti harus mengklarifikasinya.
"Entahlah, sebenarnya aku sendiri bingung. Awalnya hanya ingin bersenang-senang, tapi makin ke sini aku seperti tidak ingin lepas darinya. Aku ingin memiliknya....memiliki seutuhnya."
"Tapi apakah Tuan tidak bisa mempertimbangkannya lagi, Tuan Liam sudah mengetahui status Nona Harumi yang telah menikah, apalagi suaminya adalah bawahan Tuan sendiri. Saya hanya berpendapat sebagai orang yang telah lama bersama Tuan."
"Aku ingin memisahkan mereka, aku mau mereka segera bercerai. Aku tidak tahan membayangkan Harumi serumah, bahkan seranjang dengan Anton." jawab Liam tak bisa menahan emosinya, ia sangat cemburu terhadap Anton.
Mendengar jawaban Liam, sekretaris Will hanya diam tak berkomentar apapun lagi. Ia sangat mengerti maksud Tuannya tersebut. Selama mendampingi Liam, ia tak pernah melihatnya begitu bahagia.
Sangat mudah bagi Liam untuk menemukan Wanita sebagai pendamping Hidupnya, banyak wanita yang bahkan rela berkorban untuknya.
Tapi Liam justru memilih Harumi seorang perempuan sederhana, bukan dari kalangan atas, yang bahkan merupaka perempuan sudah ber suami untuk diperjuangkannya.
Liam sendiri pun tau, akan banyak resiko, rintangan dan masalah besar yang akan dihadapinya demi memiliki Harumi dalam hidupnya.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Terimakasih ❤