
Liam menggosok-gosok leher dan menutup matanya sebentar. "What this ? Who is she ?"
"Duduklah, Liam" perintah Luciano tegas, kemudian ia menoleh lagi kepada Elena yang masih tidak bergerak dari posisinya "Come in, Elena"
Hanya sekilas Elena melemparkan tatapan kepada Liam dengan perasaan tidak nyaman lalu ia membalas ucapan Luciano dengan menghela napas berat.
Memang tidak mudah berada di situasi seperti ini apalagi bagi Elena. Setelah puluhan tahun lamanya, ia sama sekali tidak pernah bertemu langsung dengan Liam. Puteranya yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang mapan sedang berada dihadapannya sekarang. Dulu ia hanya bisa melihatnya dari Majalah dan kabar dari berita di TV.
Perasaan wanita itu berkecamuk hebat, antara terus melanjutkan pertemuan ini atau memilih untuk mundur. Mengingat bagaimana situasi yang sedang dihadapinya sekarang memaksakan Elena untuk memberanikan dirinya bertemu Liam, walaupun sulit untuk mengungkapkan kebenaran yang sudah disimpannya selama bertahun-tahun. Dan kini, ia hanya ingin meluruskan semuanya. Mengembalikan semua kondisi menjadi baik walaupun harus terjadi pertentangan batin yang begitu kuat.
Dengan langkah yang sangat berat, Elena memasuki ruangan itu. Ketegangan pun mulai menguras wajah wanita paruh baya tersebut.
Liam mengernyit sambil terus memandangi Elena dengan heran. Di dalam pikirannya tidak pernah sekalipun menduga bahwa wanita yang sedang dihadapannya sekarang adalah wanita yang selama ini dicarinya. Wanita yang memiliki pengaruh penting bagi masa lalunya.
Elena berjalan mendekat dan kini ia sudah berdiri dengan jarak hanya beberapa kaki dari Liam. Wanita itu tetap memilih merendahkan pandangannya, sampai akhirnya Liam menyapanya "Anda siapa ? Apa ada yang ingin anda bicarakan..."
Luciano menyela "Ayo kita bicara dengan santai"
Elena melangkah dan duduk disofa. Wanita itu berusaha untuk tetap tenang bahkan sejak ia tiba tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya, ia meletakkan tasnya disamping kanan dirinya.
Tapi, berbeda halnya dengan sikap yang ditunjukkan Liam. Ia masih tetap berdiri mulai tampak gelisah. Pria itu berulang kali menatap arloji ditangannya.
"Sebaiknya kau mengabari wanitamu untuk menunggu, karena malam ini ada banyak hal yang perlu kita bicarakan" sindir Luciano yang menyadari sikap keponakannya tersebut mulai berubah dan berusaha mengendalikan situasi.
"Ada apa ini ? Jika bukan hal yang penting, sebaiknya kita bahas besok, aku tidak memiliki..."
"Ini MENYANGKUT MASA LALUMU, LIAM" suara keras Luciano menggema
Liam membalas tatapan pamannya dengan terkejut.
Mendengar itu, Elena menghela napas panjang dan menunduk memandangi lantai. Bertanya-tanya dari mana ia harus memulainya.
Wajah gelisah Liam berubah seketika "Masa Lalu ?"
"Yah...Kau seharusnya mengerti dengan apa yang kukatakan sejak awal." balas Luciano
Ketika Liam sedikit lagi membuka bibirnya, suara samar-samar terdengar.
__ADS_1
"Apa kabar...William ?" potong Elena pelan
Liam langsung berbalik dengan cepat ke arah wanita itu. Kedua alisnya menyatu "Kenapa anda memanggilku seperti itu ?"
Hanya keluarga terdekat yang sering memanggil nama itu kepadanya, dan Liam sudah sangat lama tidak pernah mendengar orang-orang memanggilnya seperti itu.
"William Xaverio Seymour, nama yang Roberto dan aku berikan untukmu. Bahkan aku selalu memanggil-manggil nama kecilmu Little Willy jika aku merasa sangat merindukanmu. My Little Willy." Elena tersenyum pedih
Sontak perkataan Elena tadi, membuat Liam membeku. Ia terdiam cukup lama, matanya tidak beralih sedikit pun dari Elena. Ia terus menatap wajah wanita paruh baya itu yang masih menunduk.
"A-apa maksudmu ? Siapa kau sebenarnya ?!!" seutas otot di rahang kokohnya bergerak dan sekelebat hitam di mata Pria itu menekan Elena untuk berbicara lebih jelas
Tangan wanita itu terasa gemetar, ia terus mengepal kedua tangannya begitu erat memohon agar diberikan keberanian dalam menghadapi situasi ini. Tapi, itu tidak membantu karena ketegangan terus memuncak di antara keduanya.
"Katakan siapa kau sebenarnya ?!!" ucap Liam lagi berusaha mengendalikan emosi dan mengatur napasnya yang mulai sesak.
"Roseanne" akhirnya Elena mengangkat wajahnya dan kini ia menatap Liam cukup lama dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"W-what ?" raut wajah Liam sangat terkejut dengan kedua tangan yang mengepal menahan emosi.
Liam sempat memilih bungkam, pemikirannya melayang mencoba mencari-cari pembenaran lainnya yang hilang. Tapi semua seolah buntu dengan fakta yang tidak terduga akan didengarnya malam itu.
Dengan suara yang terbata-bata Elena berusaha membuat Liam percaya "Aku mengubah identitasku karena untuk menghindari Anita....A-aku..."
"Satu hal yang sebenarnya ingin kuketahui, kenapa kau menyerahkan ku pada wanita seperti Anita ?" tanya Liam dingin, pria itu tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya ketika ia mengetahui fakta sebenarnya.
Elena berdiri "Dengarkan, nak. Jangan pernah berpikir aku sudah menelantarkanmu. Kumohon, jangan berpikir sejauh itu."
"Hanya pertanyaan itu yang selalu terlintas di saat aku mulai mengetahui kebenaran itu. Why ? Kenapa ibuku sendiri meninggalkanku bahkan tanpa kabar apapun seolah menghilang begitu saja ? Padahal aku berhak mengetahui fakta itu ?" Liam tersenyum di tengah matanya yang berkaca-kaca ketika ia mengingat masa kecilnya yang dibesarkan oleh wanita yang sama sekali tidak menyayanginya dengan tulus
"Bukan seperti itu yang sebenarnya terjadi. Kau salah paham. Ibu tidak pernah ingin meninggalkanmu, kesalahan yang pernah ibu lakukan di masa lalu membuat ibu benar-benar menyesalinya. Sudah terlalu banyak yang ibu lalui tapi semata-mata untuk kebaikanmu. Untukmu dan Anthony"
Liam mengernyit "Anthony ? Who is he ?" pandangan mata pria itu begitu lekat
"Liam biarkan ibumu menjelaskannya satu per satu" sanggah Luciano cepat
"He is your brother, Anthony Osvaldo Seymour. Dia adalah Kakak Laki-lakimu. Ibu sangat menyayangi kalian berdua."
__ADS_1
"My Brother ?!!" Liam sedikit terkejut walaupun ia sudah mengetahui bahwa ia memiliki kakak laki-laki tapi mendengar nama sebenarnya membuat Pria itu tiba-tiba merasakan ikatan yang sulit dijelaskan
"Yah, usia kalian hanya selisih dua tahun. Dan kalian begitu mirip satu sama lain."
"where is he ? Dan kenapa ia tidak ikut ?!" tanyanya tegas
Elena menarik napas, mulai melangkah dan mendekati Liam. Lalu ia berdiri sangat dekat dihadapan Puteranya. "Sebelum ibu menjawabnya, Bolehkah ibu memelukmu ?"
Awalnya Liam masih merasa canggung, tentu saja terasa asing baginya. Karena selama ini ia belum mempersiapkan apapun hingga dikejutkan dengan sesuatu yang sangat membuatnya shock. Seorang wanita paruh baya yang kini berada dihadapannya, wanita yang selama ini dicarinya. Sudah berada tepat di depannya.
Seorang Ibu yang mengharapkan Puteranya kembali ke dalam kehidupannya.
Sempat terdiam cukup lama, Liam akhirnya mengangguk pelan.
Kemudian, Elena melangkah lagi lebih dekat dan memeluk hangat Puteranya.
Suasana menjadi sangat hening. Liam memenjamkan matanya menikmati elusan dari tangan lembut ibunya.
"My Little Willy...My Son" panggil Elena
Liam diam, tidak menyahut.
"Ibu tahu kau sedang marah, kesal dan sakit hati dengan semua yang sudah ibu lakukan padamu, nak. Ibu sangat menyesalinya, tidak pernah terlintas didalam pikiranku untuk melupakanmu. Hari-hari yang ibu jalani tidak pernah lepas dari rasa rindu padamu. Ibu sangat menyayangimu. Ibu benar-benar minta maaf." tanpa Elena sadari, airmatanya mengalir perlahan melewati hidungnya.
Liam bisa merasakan bahwa ibunya selama ini sedang menderita. Perasaan bersalah terus menerus menghantuinya, tubuh wanita paruh baya itu gemetar dengan suara parau. Liam bisa mendengar tangis sang ibu di dalam dekapannya.
Dan itu membuat Liam menarik tubuh ibunya dengan lembut dan mendekapnya lebih erat, ia mengusap bahu ibunya yang masih menangis. Menenangkannya. Memberinya rasa nyaman.
Liam pun merasakan hal yang sama, ia tidak pernah membenci ibunya. Justru ia memohon suatu hari nanti untuk segera dipertemukan agar ia masih bisa memiliki kesempatan untuk membahagiakannya. Membahagiakan Ibu dan Saudara Laki-lakinya.
Pertemuan Ibu dan Anak itu membuat suasana semakin haru. Ketegangan yang menjadikan tembok besar di antara keduanya seakan sirna.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1