
Ulang Tahun Ben
Malam ini, di rumah orang tuaku hampir seluruh Keluarga Besar berkumpul. Mulai dari Paman Andrew, Bibi Keyna, bahkan Kakek Luke yang sudah berusia 80 tahun pun juga ikut hadir, Kakek Luke adalah Ayah Baptis dari Ayahku.
Tak lupa sahabatku Andrea bersama suami dan Putrinya Abigail turut hadir memeriahkan, Andrea sudah sangat dekat dengan keluargaku.
Semua sangat menikmati Perayaan Ultah Ben, walaupun hanya Acara Makan Malam sederhana tapi antusias keluarga sangat besar.
Ben sangat bahagia bisa berkumpul dan bermain dengan para sepupu yang seusianya. Ini perayaan Ultah Ben yang paling meriah dari tahun-tahun sebelumnya, ayah, ibu dan Takeru bekerja sama mendekorasi rumah kami dengan Tema Bajak Laut seperti keinginan Ben. Mulai dari Dekorasi dinding rumah, piring-piring, gelas, sampai Birthday Cake.
Tadi pagi Takeru memberikannya sebuah kejutan yaitu Kapal bajak Laut yang dibuatnya sendiri dari bahan kardus bekas. Ben sampai kegirangan, ia bahkan lebih memilih tidur di kapal tersebut daripada di kamarnya sendiri.
Anak-anak semua mengenakan kostum bajak laut, sangat meriah dan penuh sukacita. Ibu tampak sibuk menyiapkan Makanan dan Minuman mulai dari Ringan sampai yang berat. Ibu memasak dan menyiapkannya seorang diri, aku merasa bersalah karena tidak bisa ikut turun tangan membantu mereka.
Aku tak lebih seperti Suamiku sendiri, karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku di Toko, bahkan sampai tak ada waktu membantu mereka.
Ibu dan aku kini tengah asik menyiapkan kudapan manis dan minuman di dapur. Menyusunnya dengan rapi di atas Lima buah Baki berwarna silver, acara makan malamnya sudah selesai 20 menit yang lalu. Aku sangat bersyukur, Takeru tadi menjemputku.
Setidaknya aku sempat mengikuti Doa Bersama dipimpin oleh Pastor Arthur dan bisa menikmati makan malam dengan menu yang lezat bersama keluarga. Kecuali Anton suamiku, yang belum ada kabar nya.
Sejak aku dayang hingga berlangsungnya acara makan malam tadi, aku berusaha tersenyum dan menyapa semua keluarga yang hadir.
Bisa dikatakan Senyuman terpaksa, bukan karena aku bermasalah dengan mereka, tapi pikiranku yang masih penuh sesak oleh dokumen rahasia beserta surat-surat aneh itu.
Menjadi orang yang pandai berakting tidak cocok dinobatkan untukku, karena seseringnya aku memaksakan diri untuk tersenyum, ekspresi wajahku semakin tak karuan.
Saat keluarga lagi berbincang di Ruang Keluarga, dan kelima baki yang berisi kudapan manis tadi sudah di sajikan dimeja makan.
__ADS_1
Anak-anak langsung berlarian mengambil cemilan kesukaan mereka, Ibu membuat Yorkshire Puding, Strawberry Eton Mess, dan Pai Banoffee sebagai kudapan manis. Tentu saja itu semua adalah kesukaan anak-anak.
Ibu memang Wanita Jepang, tapi ia sangat ahli memasak makanan dan membuat Kue khas Inggris.
Dulunya ibu adalah seorang desainer Gaun Pengantin di Tokyo sebelum bertemu ayah. Setelah menikah dan mengandungku, ia memutuskan ikut ayah ke Bristol, Inggris untuk lebih fokus mengurus keluarga. Ia meninggalkan Profesi yang sangat dicintainya, bagi ibu yang terpenting adalah Keluarga.
Untuk seorang Wanita Jepang melayani Suami dan Keluarga adalah sebuah Kesetiaan dan Ketataan yang paling penting dalam Hidupnya.
Aku sangat mengagumi dan menghargai keputusan ibu, ia adalah wanita Hebat dalam hidupku.
Tatapan ibu berubah ketika melihatku lebih sering melamun sejak tadi, sorot mataku tampak kosong.
"Apa Anton akan kesini ?" tanya ibu dengan pelan
Kami berdua masih di dapur, menyusun piring-piring ke rak dan laci setelah selesai di bersihkan. Mendengar pertanyaan ibu, aku langsung berhenti beraktivitas menyusun piring yang ada di genggamanku.
"Katanya ia akan menyempatkan datang" mataku tak bisa membohongi ibu. Ia tau ada hal yang kusembunyikan.
"Kalian terlalu sibuk bekerja, sekali-sekali luangkan waktu kalian untuk berbulan madu kembali" Ibu berusaha menenangkanku, aku tau ibu tidak pernah ingin ikut campur terlalu dalam dengan urusan rumah tanggaku.
"Kami memang sudah lama merencanakannya bu, semoga tahun ini bisa terlaksana"
Mendengar jawabanku Ibu tersenyum dan menatapku, ia tepuk pelan bahuku. Mengelus lembut rambutku yang kini terurai. Kehangatan ibu memberiku kekuatan dan keberanian.
"Ibu bahagia jika Rumi juga bahagia, tak akan ada kebahagiaan paling besar dari seorang ibu selain melihat anaknya bahagia"
Ibu memelukku dengan hangat, ia mengusap punggungku, ibu tau apa yang kurasakan sekarang tanpa perlu kukatakan. Aku menahan tangis, memejamkan kedua mataku, menguatkan diri, aku harus bisa bertahan demi mereka.
Lalu terdengar suara langkah kaki Ben yang berlari-Lari ke arahku dan ibu.
__ADS_1
"Kakaaaa, di luar ada kado sangaaaattt banyak, itu kado untukku kan, ayoook kak lihat keluar, ibu jugaa!" Ben loncat kegirangan, ia menarik-narik tanganku dan ibu.
Kami pun segera menuju keluar rumah, aku sangat penasaran siapa yang sudah memberikan kado untuk Ben jam segini.
Semua keluarga kulihat berkumpul berdiri di depan teras, pandangan mereka semua tertuju keluar. Aku dan ibu semakin bingung dan penasaran tentang apa yang terjadi. Ben masih menarik tangan kami, ia tampak tak sabar menyeret kami. Begitulah Ben, yang selalu antusias dengan Hadiah dan semua Kado Ulang Tahunnya.
Bahkan Kado sederhana dariku pun ia tampak sesenang itu, kado yang sudah ku siapkan seminggu lalu. Sebuah Mainan Mobil-mobil an Sport Biru Navy Remote Control lengkap dengan Arenanya.
Tapi yang kurang adalah kartu ucapannya, Ben awalnya bertanya-tanya mengenai itu, baginya hal kecil seperti Kartu Ucapan Ultah adalah bukti bahwa ia sedang berulang tahun, begitulah yang ada dipikiran Ben seorang anak yang berusia 10 tahun. Ben bahkan menyimpan semua kartu ucapan Ultah nya dari tiap orang yang memberikan hadiah.
Pikiranku buyar ketika aku menemukan Dokumen itu, sehingga aku tidak ingat lagi menuliskan kartu ucapannya. Sampai sekarang pun, bayang-bayang Map Coklat bertuliskan Dokumen Rahasia itu masih penuh sesak mendominasi Otakku.
Sebelum sampai melangkah keluar rumah, Takeru menghampiriku dengan wajah bingung dan mengernyitkan alisnya. Matanya mengecil, ia penasaran akan sesuatu.
"Kak, coba kau lihat !" ucap Takeru
Aku langsung melihatnya dari teras rumah, mataku terbelalak dan tidak percaya apa yang kulihat di depan mataku.
Banyak Mobil Mewah yang terparkir di tepi jalan, ada mungkin sekitar 15 orang Pria berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas serba Hitam, mereka berdiri memenuhi halaman rumah. Setiap satu orang pria itu membawa 2 sampai 3 buah hadiah. Semua di hias sangat indah setiap kado tersebut.
Aku masih syok dengan orang-orang ini, siapa mereka. Lalu salah seorang Pria berjalan menuju ke arahku, ia tampak sangat sigap, berbadan besar dan sangat tinggi sama halnya seperti mereka, Pria ini juga berpenampilan rapi. Berambut pirang yang di tata sangat baik.
"Selamat Malam Nona Harumi, Saya Taylor." ucap ramah pria itu dengan suara seraknya.
"Taylor ? nama anda seperti tidak asing, aku seperti pernah mendengarnya, tapi aku lupa." jawabku keheranan.
Pria itu lalu memberikan sebuah amplop berukuran sedang berwarna abu gelap, tanpa ada tulisan apapun di bagian depannya.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you ❤