
Liam sempat terdiam sesaat ketika menatap tubuh mulus Harumi yang kini hanya berbalut celana dala* dan Br* berenda hitam.
Liam melangkah mundur, tatapannya melahap Harumi. Mata pria itu bergerak menyusuri setiap lekukan tubuh wanita yang dicintainya dengan sangat perlahan seolah dia tak ingin melewatkan setiap inchi dari bagian tubuh Harumi. Walaupun Liam hanya menatapnya, tapi membuat jantung Harumi melambung.
Tetapi....ketika tatapan pria itu bergerak semakin rendah ke arah bagian perut ramping wanita itu, dengan gerak cepat Harumi mengangkat kedua telapak tangannya menutupi sesuatu yang tak ingin Liam melihatnya.
Dia menutupi bagian depan perutnya, sesuatu yang ingin disembunyikan Harumi dan ada rasa tidak nyaman dalam diri Harumi jika di perlihatkan dengan orang lain apalagi orang itu adalah Liam.
"ada apa ?" suara serak Liam keheranan
Bulumata wanita itu merunduk, ia merendahkan pandangannya seakan jawaban yang akan dilontarkannya begitu berat diucapkan.
Dengan sangat lembut Tangan Liam meraih dagu wanita itu dan mengangkat ke arahnya, dia tersenyum "jika kau tak ingin, aku tidak akan memaksamu lagi"
Harumi menggeleng "Aku tidak ingin kau melihat bekas luka ini "
Rasa penasaran dan heran membanjiri benak Liam, tetapi juga dia tidak sanggup berpikir terlalu jauh bagaimana atau apapun itu yang bisa melukai wanitanya "Luka ?"
Nafas yang sedikit tersekat di dadanya, Harumi berusaha menjelaskan dengan singkat sambil menahan buliran-buliran yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya "aku tidak sesempurna yang kau bayangkan, mungkin wanita-wanita lain yang sudah pernah bersama mu memiliki tubuh yang sempurna. Tapi aku..."
"kau salah jika berpikir seperti itu, aku tidak ingin dan tidak akan pernah membandingkanmu dengan wanita manapun"
Alasan baginya untuk tetap bersama Liam sampai pada titik ini karena pria itu sudah terlalu banyak menerima kekurangan Harumi, semua kelemahan dirinya bahkan tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan di hadapan Liam.
Pria itu menerima dirinya, sekarang perasaan itu kembali, lebih kuat daripada sebelumnya.
Dengan sedikit gemetar di telapak tangannya, Harumi menggeserkan kedua tangannya dan memperlihatkan sebuah bekas luka hasil operasi yang cukup jelas di bagian depan perutnya.
__ADS_1
Liam menatap luka bekas jahitan itu dengan rasa iba yang mendalam, tak ada apapun yang membuatnya mengubah pandangannya terhadap Harumi. Dia tetaplah wanita yang di cintai Liam, wanita cantik, yang tak hentinya membuat Pria itu selalu memujanya.
"Ini bekas jahitan tiga tahun lalu, hasil operasi setelah kecelakaan yang hampir merebut nyawaku. Aku pernah menceritakannya padamu kan" dengan terbata-bata wanita itu menjawab
Jemari pria itu menyusuri pipi Harumi, kali ini pria itu menatap tanpa respon apapun, pancaran dari sorot matanya seolah menggambarkan rasa sayang yang semakin kuat kepada wanita itu. Dia ingin menenangkannya.
Sesuatu yang semakin intens dan semakin jauh merasuki Liam bahwa keinginannya melindungi Harumi sudah tidak bisa terbendung.
Dia mendaratkan kecupan lembut di kening Harumi, membisikkan sesuatu "Kita akan memulihkan semuanya bersama, aku akan melindungimu walau harus menukarkan nyawaku untukmu. Cause I'am Yours"
Harumi tidak dapat bernapas, Liam menatapnya seakan-akan dia adalah satu-satunya wanita di dunia ini. Harumi tahu bahwa tidak ada tempat bagi dirinya untuk melarikan diri.
Tidak ada pria yang pernah menatapnya seperti yang dilakukan Liam.
Tatapan dan semua ucapan pria itu membuat sesuatu di dalam diri Harumi terasa lega dan tentu saja ia merasa sangat aman.
Apakah ini tanda-tanda pertama menuju lereng licin bernama obsesi, entahlah...pikiran Harumi sudah tak bisa sejernih apapun lagi, karena baginya ia ingin Liam melihat Harumi sebagaimana dirinya yang sebenarnya.
Ciuman ini bukanlah godaan yang perlahan atau penjelajahan, bibir Liam menyatu dengan bibir Harumi dan saat dia menarik napas, Liam menyeruak masuk. Dan saat satu tangan menyapu tengkuknya, dia terbawa dalam sensasi indah yang dibangkitkan Liam di dalam dirinya. Itu membuat Harumi takjub.
Sesaat sesuatu terlintas dalam pikiran Harumi, dia harus menyuruh Liam untuk berhenti. Ini terasa tidak pantas bagi mereka. Hubungan apapun di antara mereka tidak akan berhasil.
Ketika wanita itu ingin melepaskan diri, Liam menarik tubuh Harumi kembali. Pria itu seolah sudah bisa menebak gerak gerik Harumi.
Liam menggeram di bibirnya, membuat rasa dingin merayap di kulitnya yang merona "Kau tidak akan bisa lari dariku, kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan padaku, Rumi. Kau membuatku kecanduan akan dirimu"
Rasanya dia pun bisa mengatakan hal yang sama tentang Liam, tetapi kemudian pria itu kembali menciumnya dan dia tidak lagi dapat berpikir. Yang membuat perhatiannya terpusat adalah sensasi yang diseret keluar dari dalam dirinya oleh Liam, dan dia merasa terbebaskan.
__ADS_1
Dia menjatuhkan diri ke dalam sensasi itu, sambil berharap bahwa pada saat Liam sudah selesai dengannya, dia masih bisa naik ke permukaan.
Pria itu menggerakkan kepala Harumi mundur dan bibirnya meninggalkan bibir Harumi.
Dengan sedikit menyeringai, Liam menggoda Harumi "apa aku harus berhenti sampai di sini ?"
Perut Harumi terasa tergelitik seakan-akan ada ribuan kupu-kupu terbang di dalamnya "Benarkah ?"
Liam terkekeh rendah "tentu saja aku belum selesai denganmu, sama sekali belum " tegas Liam sambil menggigiti dagu Harumi. "Aku baru saja mulai"
Harumi tidak dapat menjawab. Seluruh indranya terasa berputar.
Liam kembali menggerakkan kepalanya semakin turun, membakar dengan ciuman-ciuman panas dan bas** menuruni leher Harumi.
Lalu dengan sigap pria itu mengangkat tubuh wanitanya dan membawanya ke tengah ranjang. Harumi yang menatap kedua mata Liam yang kini berada di atas dirinya, Denyut di perutnya berpindah ke dada. Mungkin saat ini dia tidak dapat berpikir logis, tetapi siapa yang dapat menghentikannya ? Pria ini adalah perwujudan nyata dari sebuah Obsesi.
Tangan Harumi menyapu dada Liam lalu bergetar, Pria itu tidak memalingkan wajah, terus menatap matanya dengan tingkat gairah yang membangkitkan sulur-sulur penuh damba jauh di dalam dirinya.
Liam perlahan bergerak menuju perut wanita itu, lalu membuat nya tersentak ketika pria itu mendaratkan sebuah kecupan manis pada bekas luka jahitan itu "Tubuh mu sangat sempurna, sesempurna apapun yang sudah melekat kuat di dalam dirimu, sayang"
Rasa di dalam diri Harumi kini sudah bercampur aduk merasakan tiap sentuhan yang di berikan Liam padanya.
"Liam ...." Demi Tuhan, Harumi memang menginginkan Liam, dia sadar akan hal itu. Tubuhnya gemetar memikirkannya.
Pria itu menekankan keningnya di kening Harumi lalu menyusurkan tangannya di rambut Harumi yang lembut bergelombang, menjalin jemarinya ke helai-helaian itu. "Besok aku akan membawamu kemanapun yang kau inginkan, hanya kita berdua."
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you❤