
Bristol, Inggris
"Aku senang kau menginap malam ini" seorang wanita memeluk dari belakang dengan erat
Pria itu membalas dengan menggenggam erat kedua tangan sang wanita yang melingkar di pinggangnya "Pekerjaanku sangat banyak akhir-akhir ini. Menjadi seorang Direktur di sebuah Perusahaan Arsitektur sebesar itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagiku, apalagi aku tidak memiliki basic sebagai seorang Pengusaha."
"Tapi setidaknya kita bisa lebih dekat sekarang, walaupun aku lebih senang melihatmu sebagai Dokter, Zac" dagu wanita itu diletakkannya tepat dipundak sang pria, ia memperlihatkan sikap manis kepadanya.
Pria itu sekilas tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya menatap wanita itu "Setidaknya keputusan Liam menempatkanku di Bristol tidak seburuk seperti apa yang kupikirkan, aku bisa menemuimu lebih sering"
Wanita itu menarik napas dalam lalu membalas tatapannya "Mengenai pemberitaan Liam yang ramai dibicarakan itu, apa itu benar ? Yah aku tahu, dia sudah mengakuinya dalam konferensi pers tempo hari. Tapi....ini benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin dia seberani itu mengakui bahkan dengan lantang memperjuangkan Harumi dihadapan Publik. Apa kau sudah lama mengetahui hubungan mereka ? aku tahu kalian berteman dekat tapi apa kau tidak pernah memperingatkannya."
Zac bergerak menuju meja makan, ia memilih duduk dan diam sejenak.
"Lynn..."
"hmm"
"Liam adalah orang yang menabrak Harumi pada malam itu."
Wanita itu sontak terkejut, wajahnya kaku dan diam seketika.
Lynn merupakan kekasih Zac, ia juga adalah seorang Dokter Spesialis Kandungan yang bekerja di Rumah Sakit Bristol. Mereka sudah cukup lama menjalin hubungan jarak jauh, dan menyembunyikan hubungan mereka secara diam-diam dari sebagian orang dan hanya orang terdekat mereka yang mengetahuinya, walaupun mereka seprofesi sebagai Dokter tapi mereka tidak pernah mencampuri urusan pekerjaan masing-masing.
Semenjak Liam menempatkan Zac di Bristol sebagai Direktur, kekasihnya Lynn sangat bahagia menyambut keputusan itu. Mereka jadi mudah bertemu dan sering bersama.
"M-maksudmu Liam ... "
"Yah, Liam lah pelaku kecelakaan malam itu yang selama ini disembunyikan oleh Pihak Polisi."
Kedua mata Lynn melebar "Apa Harumi sudah mengetahuinya ?"
Zac menggeleng "dia belum mengetahui yang sebenarnya."
Lynn melangkah dan duduk dihadapan Zac, wajahnya masih tampak shock "Kau tahu kan, Harumi adalah salah satu pasienku sejak ia diketahui positif hamil, dan aku masih mengingat jelas bagaimana peristiwa naas malam itu ketika dia dibawa ke Rumah Sakit dalam keadaan luka parah. Aku sempat kehilangan harapan, tapi Tuhan memberikan Mukjizat itu dan dia selamat dari kematian yang hampir merebutnya. Walaupun janin yang dirahimnya tidak mampu diselamatkan."
"Apa kau mengingat siapa yang mengantarkan Harumi ke Rumah Sakit malam itu ?"
"Aku cukup mengingat wajah wanita itu, walaupun aku tidak mengetahui identitasnya. Namun, jika aku bertemu lagi dengannya aku pasti bisa mengingat wajahnya. Dia menggandeng seorang anak laki-laki yang masih kecil. Dia pergi terburu-buru tidak lama setelah kedua orang tua Harumi tiba di Rumah Sakit"
"Apa kau masih memonitor kondisi kesehatannya pasca operasi itu ?"
Lynn mengangguk "tentu saja, terakhir kali aku bertemu dengannya di sebuah Kedai Kopi tidak jauh dari Toko Bunga miliknya sekitar beberapa bulan lalu sebelum dia ke New York. Kondisi rahimnya kurang baik, aku selalu menyarankannya untuk berobat lebih intens di Rumah Sakit New York, aku punya banyak kenalan Dokter yang berkompeten disana untuk pengobatannya. Dan Dr. James pernah menghubungiku ia sempat melakukan tindakan pada Harumi karena kondisinya mulai memburuk."
"Memburuk ?" Zac semakin menelisik.
__ADS_1
"Pasca Operasi Harumi hanya memiliki sisa satu indung telur, dan itu pun sedang bermasalah. Jika tidak segera ditindak lanjuti maka efeknya akan berakibat fatal pada keselamatan dirinya."
Zac juga mulai menceritakan semua hal yang diketahuinya dari Liam mengenai yang terjadi pada Harumi baru-baru ini, mendengar penjelasan Zac hati Lynn terasa miris. Guratan rasa prihatin tergambar jelas di wajahnya.
"Aku akan berusaha mencari informasi lebih lanjut mengenai Operasi yang akan dijalani Harumi nanti. Bagaimanapun aku ikut merasa bertanggung jawab atas kesehatan dirinya, dimanapun Harumi tetaplah Pasienku."
...****************...
Harumi menarik selimut, menutupi tubuhnya lalu menundukkan tubuhnya berusaha mengambil pakaiannya yang masih tergeletak di lantai.
"Stay here, Don't go anywhere" Liam menarik lengan Harumi dan mencegahnya turun dari ranjang.
Harumi terkejut karena mengira Liam masih tidur.
Ia berbalik dengan wajah cemas "Liam mengertilah, Aku akan terlambat ke sana. Acara ini sangat penting untukku dan harus segera hadir disana sebelum acara dimulai. Kau sudah mengetahui aku diminta ibumu untuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara itu."
Liam pura-pura tidak mendengarkan, pria itu tetap menarik lengan Harumi lalu menangkap pinggangnya. Menidurkannya tepat dalam pelukannya "Just 5 minutes, tenanglah. Bukankah ada Cathy yang bisa menjalankan tugas. "
Harumi tidak bisa bergerak, dan sampai akhirnya dia luluh dalam pelukannya membiarkan pria itu berbuat sesukanya. Walaupun begitu, seutas senyuman kecil tergambar diwajah Harumi ketika tangan Liam mengusap puncak kepalanya dan menciumnya.
"Rumi.."
"Yah"
"Tonight for the first time, kita tampil di depan semua orang sebagai pasangan. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Publik tidak akan lagi membuat rumor sampah seperti kemarin."
Tiba-tiba suara dering ponsel Harumi berbunyi.
"Scarlett, ada apa ?"
"Nyonya Harumi, para stylist sudah datang."
"Stylist ?"
"Benar Nyonya. Mereka diperintahkan untuk membantu anda bersiap untuk Acara malam ini."
"Ok...Ok. Biarkan mereka menunggu, aku akan keluar sebentar lagi."
Harumi bergegas turun dari ranjang, "Ibumu mengirimkan Para Stylist itu lagi untuk ku" ekspresinya berusaha santai walaupun agak kesal dia tidak akan terkejut jika mendengar orang-orang itu diperintahkan oleh Anita.
Liam tertawa mengejek "Aku harap selera mereka lebih baik."
"Jangan mengejekku !!!" Harumi langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Liam yang langsung ditangkap pria itu dengan sigap
Liam semakin tertawa lepas, dan tidak henti memandangi Harumi yang kesal seolah olah itu sebuah pertunjukkan hiburan.
__ADS_1
...****************...
Semua para tamu berdatangan dari kalangan atas, mereka hadir dalam Galery Seni tersebut secara bergantian, dengan diselimuti penampilan mewah nan menawan.
Mulai dari para Selebritas, politikus, Seniman sampai pengusaha besar terkemuka tidak luput dari sorotan.
Para wartawan pun ikut memenuhi Acara tersebut di berbagai spot yang sudah dibatasi pihak penyelenggara.
Penjagaan keamaan sangat ketat, tidak semua orang bisa masuk tanpa diundang resmi oleh pihak Penyelenggara.
Selain mereka ingin meliput kelangsungan Acara tersebut, hal utama yang ditunggu-tunggu wartawan malam itu tentu saja kehadiran Liam dan Harumi di depan Publik untuk pertama kalinya secara bersama.
Pemberitaan mereka menjadi Viral di semua media, dan pembicaraan hangat di semua kalangan. Tentu saja, kehadiran mereka tidak akan terlewatkan tidak hanya bagi para wartawan tapi juga disaksikan Para Tamu yang hadir.
Liam dan Harumi akan menjadi daya tarik utama Acara malam ini, dibandingkan yang lainnya.
Ditengah-tengah keramaian dan kemeriahan para tamu tersebut, dua wanita hadir dan mulai memasuki gerbang Galery Seni.
"Ibu tidak seharusnya hadir di sini" seorang wanita paruh baya merasa cemas berlebih dan terus menggenggam erat lengan putrinya
"Mom, its ok. Kau harus buktikan, tidak ada yang perlu ditakuti. Anita mengundang kita, maka kita datang sebagai pembuktian bahwa Kita tidak bisa diremehkan begitu saja."
"Meera, ibu kurang nyaman karena para tamu yang hadir bukanlah kalangan seperti kita. Lihatlah mereka orang-orang terkenal dari kalangan atas, bahkan wartawan dimana-mana. Kita sebaiknya pulang saja." Elena membalikkan tubuhnya dan ingin melangkah menjauh.
Tapi Ameera segera mencegah "Mom, Please. Kau harus Kuat. Aku ikut denganmu hadir di sini, demi memperjuangkan Putra Putriku. Aku harus bertemu dengan Anita. Meluruskan semuanya."
bibirnya gemetar. Ameera merasakan hatinya pedih, memuncak ketika mengingat Kedua Putrinya yang kini tidak lagi bersamanya.
Elena semakin merasa bersalah, ia merasakan kepedihan yang dialami Ameera saat ini. Dia tidak ingin putrinya semakin terpuruk dalam kesedihan.
Wanita paruh baya tersebut terdiam, lalu ia kembali menggenggam tangan putrinya dan memasuki pintu Galery.
Sesaat sebelum mereka melangkah masuk, keadaan tiba-tiba berubah.
Para Wartawan bergegas berkumpul, dan kilatan kamera tidak henti-hentinya menyilaukan malam itu ketika mereka menyoroti pada satu arah.
Semua mata para tamu pun penasaran, karena tiba-tiba serentak para bodyguard berbaris memberi jalan dan penjagaan semakin diperketat ketika sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan karpet merah.
Elena dan Ameera pun menatap ke arah yang sama.
"Siapa yang datang ?" tanya Elena ikut penasaran berusaha mencari celah dari kerumunan para wartawan.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤