Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 163 Their Story


__ADS_3

Ameera's Home, Caifornia


"Mom, ini sudah waktu yang tepat untuk menceritakan hal yang sebenarnya ?" Wanita itu beralih duduk di tepi tempat tidur tepat di samping Elena yang tengah duduk menyandarkan bahunya.


Wajah Elena masih tampak pucat, tubuhnya terlihat lemas, bahkan ia hampir tidak ingin menyentuh sesendok pun bubur yang dibuatkan Ameera untuknya.


Tapi, putrinya tersebut tidak berhenti untuk terus memaksanya makan, sampai akhirnya dua kali suapan tertelan di tenggorokannya lalu Elena meminta untuk berhenti.


Ameera dengan sabar merawat ibu sambungnya tersebut karena ia sangat mengerti bagaimana kondisinya sekarang. Tertekan, stress dan terguncang tampak jelas diguratan wajah wanita paruh baya tersebut.


Semenjak Anton pulang, Elena tidak banyak bicara, hanya nama Anton yang selalu dikhawatirkannya. Dia diam dalam juntaian beban masa lalu yang tergantung dipundaknya.


"Mom, please ! Tell me Something !" Ameera meraih tangan sang ibu, mencoba meyakinkannya untuk bicara.


Pandangan Elena terus menatap jendela kamar yang sedikit terbuka dengan cahaya Matahari masuk dengan terang memantul ke dinding.


Tatapan kosong dan masih bungkam, Elena lebih mirip seperti cangkang telur kosong. Begitu hampa tanpa nyawa.


Ameera menelan salivanya, mengusap bahu Elena "Apapun yang terjadi di masa lalumu, setidaknya aku sebagai Putrimu berhak untuk mengetahuinya. Mungkin itu akan sangat menyakitkan untukmu, tapi berbagilah denganku. Aku juga seorang Ibu dengan tiga orang anak, aku mengerti perasaanmu. Kumohon, Jangan seperti ini" kekhawatiran Ameera yang mendalam membuatnya kembali menitikkan airmata, melihat kondisi Elena yang melemah sudah cukup membuat nya terpukul.


Ameera menarik napas panjang dan menunduk memandangi tangan ibunya yang mulai keriput termakan usia, menggenggamnya erat lalu tetes airmatanya jatuh tepat ditangan sang ibu.


Elena menoleh, ketika ia menyadari tangisan Ameera. Wanita itu menatap haru bercampur sedih melihat kondisi Putri nya yang begitu mencemaskannya.


Melihat dari tatapannya, Elena melunak dan ia mendekat "Jangan menangis seperti ini, Meera!" ia mengangkat wajah Ameera dan menghapus airmatanya


Kedua matanya masih berkaca-kaca, pipinya tampak basah dan sesekali ia mengusap wajahnya sendiri, lalu balik menatap Elena "Aku hanya ingin kita bisa saling berbagi, dan menyelesaikan masalah ini bersama. Mom, kau harus kuat. Aku akan selalu mendukungmu, kita akan melawannya bersama."


Mendengar perkataan Ameera, Elena diam bukan karena ia terbebani tapi ia masih tidak percaya kalau perkataan itu bisa keluar dari bibir Putri yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.


"Ooh, Tuhan. Betapa bersyukurnya, Tuhan memberikan jalan untukku bertemu denganmu, Meera." Elena dengan lembut mengusap puncak kepala Ameera, Putri yang begitu menyayanginya dan merawat Elena dengan sangat baik. Walaupun, ia tidak terlahir dari rahimnya, tapi Elena tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai anak tiri.


Elena menarik napas dalam, lalu memulai ceritanya "Dulunya, aku adalah seorang penari di sebuah club malam di Pinggiran jalan kota New York. Aku memulai menggeluti pekerjaan itu semenjak usia 17 tahun, tepat ketika kedua orang tuaku berpisah. Ayahku yang seorang pencandu alkohol, pencopet, dan memiliki banyak tindak kriminal tidak hentinya menyiksa ibuku yang hanya seorang buruh di Pabrik Tekstil. Entah, apa yang terlintas dipikirannya sampai menikahi Lelaki Biada* seperti itu. Yang bisanya hanya menganggur dan memukuli ibuku jika ia terlambat menerima uang hasil pendapatan ibuku setiap bulannya. Tentu saja, ia menghabiskannya hanya untuk bersenang-senang, berjudi dan obat-obatan terlarang. Hidup kami sangat tersiksa, bahkan terkadang ayahku sendiri tidak segan memukuliku untuk melampiaskan kekesalannya."


Ameera langsung shock mendengarnya, ia hampir tak menyadari bibirnya terbuka dengan mata yang melebar "Lalu, kenapa masih bertahan dengan orang jahat seperti itu ?"

__ADS_1


Elena menyeringai miring "Entah apa ini bisa disebut dengan jawaban yang benar, ketika kutanyakan hal yang sama pada ibuku, dan ia hanya menjawabnya dengan mudah. She Loved him, Dia mencintainya."


Mendengar perkataan itu, Ameera menggeleng-geleng tidak percaya "Cinta ? Its a bullshit !! Dia sudah menyakiti Kalian"


"Yah, awalnya aku merasa dibodohi dengan hal itu. Mencintai seseorang yang hanya menyakiti kita bukanlah Cinta, tapi Obsesi. Kegilaan sebuah Obsesi yang tidak akan pernah ada ujungnya. Ibuku tidak pernah melawan kecuali disaat ayahku menyakitiku. Aku benar-benar gila saat itu, setiap hari aku hanya mendengar pertengkaran demi pertengkara di rumah. Aku mencoba mengajak ibuku untuk kabur bersama. Tapi, tetaplah ibu lebih memilih untuk tinggal dan masih berharap kalau pria itu akan berubah suatu hari nanti."


Ameera tidak berhenti menatap ibunya "Lalu, bagaimana kalian sampai berpisah ?"


Elena sempat diam sejenak, menundukkan kepalanya lalu kembali menatap Putrinya "Kesabaran ibuku habis di saat ayahku hampir menusukkan pisau dapur kearahku karena saat itu ia dalam pengaruh alkohol dan kalah berjudi dengan jumlah yang sangat besar, belum lavi semua utang-utangnya. Ibu sempat menghalaunya dengan cepat, setelah berhasil ada kesempatan lalu kami berusaha kabur bersama meninggalkan rumah susun yang kami tempati itu tanpa membawa apapun."


"Ooh Tuhan" Ameera menggenggam semakin erat tangan Elena, ia tidak menyangka akan mendengar kisah masa lalu yang begitu tragis dari bibir wanita paruh baya itu


"Ibuku memilih tidak bekerja lagi di Pabrik itu karena berulang kali Ayahku selalu datang mengamuk mencari masalah di tempat ibuku bekerja. Dan, ia tidak ingin merugikan semua orang yang bekerja disana. Kami hidup berdua dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, uang seadanya, makanan yang tidak bisa disebut dengan layak, bahkan kami tidur di gang-gang sempit yang sangat kotor pinggiran kota. Tidak jarang kami selalu diusir oleh para pemilik Toko di sekitaran tersebut. Menjadi Gelandangan di kota sebesar New York tidaklah mudah."


"Dan bagaimana kalian bisa bertahan hidup ?"


"Lima hari, kami hidup dari hasil tabunganku, di dalam kaleng yang kutitipkan pada tetangga baik hati karena jika kusimpan dirumah maka ayah akan menemukannya. Uang yang kebetulan selalu kusisihkan dari uang jajan pemberian ibuku selama ini. Memang tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk makan kami berdua untuk sekali sehari. Aku tidak melanjutkan sekolah, lalu aku menemui seorang teman sekolahku. Dan aku tidak menyangka, Amber menolongku. Itu seperti mukjizat. Ia mengatakan kalau ayahnya memiliki sebuah Club Malam. Dan mungkin aku bisa bekerja disana. Setelah dua hari bolak balik mengajukan surat lamaran di sana, berkat Amber yang terus memaksa ayahnya untuk membantuku. Akhirnya, aku diterima sebagai Karyawan Pencuci Piring. Walau, bukan pekerjaan yang menjanjikan, tapi setidaknya itu bisa membantuku untuk menyambung hidup dengan ibuku. Dari gaji itu, kami menyewa sebuah tempat kecil di pemukiman yang kumuh. Setidaknya kami tidak tidur dijalanan lagi."


Ameera menatapnya dengan ketidaksabaran yang nyaris tidak ditutupinya "Mom, bagaimana kau sampai menjadi seorang Penari ?"


"Apakah di Club Malam itu kau bertemu dengan pria itu ?" sela Ameera dengan alis berkerut


Wanita paruh baya itu sekilas tersenyum tipis "Usiaku 23 tahun ketika pertama kali bertemu dengannya, Roberto Alessio Seymour."


"What ?! and then ?" Ameera semakin antusias


"Roberto adalah Tamu VIP di Club tersebut, ia datang hanya dua-tiga kali sebulan. Dan itupun hanya penari khusus yang disediakan untuk menemaninya. Aku tidak pernah bertemu langsung jika ia datang ke Club karena bagi tamu VIP mereka memiliki akses khusus yang tersembunyi untuk masuk ke Club tanpa diketahui pengunjung lainnya. Karena sifatnya sangat Private, jadi mereka tidak sembarangan memberikan pelayanan kepada para Tamu VIP. Sampai pada malam itu, karena Penari yang biasa menemaninya sakit, akhirnya Manager memintaku untuk menggantikannya. Dan di malam itulah, untuk pertama kalinya aku bertatapan langsung dengannya."


Ameera menyunggingkan bibirnya, lalu menggoda Elena "Apa ia tampan ? Aku yakin Dia pasti Tampan, Lihatlah Puteranya, Liam. Tidak diragukan lagi garis keturunannya"


Elena tertawa melihat reaksi Putrinya "Kau ini Meera."


"Tapi, benarkan ?" suara Ameera tegas


"Yah, tentu saja dia tampan. Seorang Pria keturunan Italy, usianya ketika itu sekitar 30an ke atas. Tapi, bukan itu yang membuatku terdiam dan kikuk saat pertama kali kami bertemu. Karismanya begitu kuat, pesonanya, Roberto adalah pria yang menghanyutkan bahkan ia belum mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatapku dingin. Memang benar beberapa rumor tentang dirinya yang sempat kudengar dari beberapa penari yang pernah melayaninya. Roberto memperlakukan penari dengan sangat Memuaskan. Seharusnya sebagai Penari, kami yang memberikan pelayanan yang memuaskan untuknya, tapi ia berbeda."

__ADS_1


Ameera mengernyit "Aku pernah mendengar, Tamu bukankah tidak boleh menyentuh bagian tubuh si Penari selama mereka melakukan tugasnya"


Elena mengangguk "Yah tentu saja, seperti itu aturannya. Kami hanya menari dengan pakaian seksi dan sangat terbuka. Tapi mereka tidak boleh menyentuh bagian tubuh kami. Namun, Roberto memiliki tatapan yang sangat berbeda, gastur tubuhnya, cara ia menatap, ekspresi wajahnya yang diam dan disaat ia berbicara suaranya serak dan terkadang ia mengucapkan kata-kata sensual. Semua hal yang mungkin jika dilakukan pria lain akan tampak biasa saja, tapi Roberto berbeda. Cara ia menatap, ekspresinya yang angkuh tapi begitu seksi dan maskulin. Mampu menaklukan dan membuat semua Penari Wanita manapun akan mudah terangsa** tanpa ia harus menyentuhnya."


"Wow...aku tidak bisa berkomentar apapun. Lalu bagaimana kalian bisa memiliki hubungan ?" Ameera speechless dan menarik napas sabar


"Itulah awal mula semua ini akhirnya terjadi, setelah pertemuan pertama kami. Selanjutnya, Roberto lebih sering datang daripada sebelumnya, dan ia sendiri yang meminta agar Penari yang akan melayaninya setiap ia datang cuma Aku. Dan entah apa yang merasuki Pria tampan dan kaya raya seperti dirinya yang akhirnya mendekatiku dan memiliki perasaan itu ? aku sempat tidak percaya ketika mendengar pertama kali dari bibirnya bahwa ia akan membawa ku pergi dari tempat itu. Dan berjanji akan menikahiku."


"Mom, dia sudah menikah kan waktu itu ?"


"Yah, aku sudah mengetahui statusnya. Dia mengakui bahwa sudah memiliki istri dengan Pernikahan yang tidak diinginkannya. Dan kau pastilah bisa menebak, istrinya adalah Anita Seymour yang datang ke rumah kita"


"Wanita jahat itu adalah istrinya" Ameera menggerutu "Lalu, kenapa Mom kau mau menerima ajakan Pria itu ? Kau tahu itu akan menjadi Jurang untukmu."


Elena menyadari hal itu, ia memperjelas walau terasa berat mengungkapkannya "Karena Cinta, akhirnya aku merasakan apa yang dirasakan oleh Ibuku. Dulunya aku tidak percaya dengan hal bodoh itu, dan saat itu aku merasakannya sendiri. Cinta yang mampu memberi jalan keluar sekaligus membutakanku"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


Dear All Readers,


Terimakasih sudah mengikuti Novel ini sampai pada Bab 163, bahagia sekali dengan semua dukungan, komentar dan semua saran-saran yang sangat penting dan luar biasa hingga menjadi masukan yang sangat berarti buat saya.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika masih banyak kekurangan yang terdapat pada alur, timeline, plot dan penulisannya. Saya akan mencoba memperbaiki dan terus belajar lebih baik lagi.


Dan apabila ada keterlambatan dalam Up setiap babnya saya mohon maaf dengan sangat, karena kebetulan kondisi beberapa minggu belakangan yang kurang memungkinkan untuk lebih konsentrasi dalam pembuatannya. Hingga terjadi keterlambatan saya terus mencoba lebih bisa memperbaikinya dengan benar.


Terimakasih banyak, Thank you Thank you so Much. Semoga ke depannya akan lebih banyak dukungan dari teman-teman semua.


With Love,


Anita Moera

__ADS_1


__ADS_2