
"Entah sampai kapan semua ini akan berhenti menghimpitku dalam ketidakpastian" ekspresi Harumi mengisyaratkan adanya keputusasaan yang tidak ingin diperlihatkannya tapi itu mustahil karena Liam menatapnya dengan dalam.
Dan Harumi merasa entah selihai apapun ia menyembunyikan kesedihan, Liam selalu menemukan cara untuk menenangkannya.
"Youre strong, Youre smart dan Kau memiliki segalanya. Kau memiliki aku" kemudian Liam menarik tubuh Harumi dan mendekapnya. Dan Harumi tidak pernah merasa senyaman ini ketika dengan seseorang selain ibunya. Ia menumpahkan seluruh bebannya tepat disaat ia meletakkan wajahnya pada pundak pria yang kini sangat dicintainya, bersamanya untuk berjuang.
"Rumi.."
"Hmmm"
"Aku melihat Catherine Jones diluar, apa ibuku yang meminta wanita itu bekerja bersamamu ?" Liam memprotes
Harumi mengangkat wajahnya dan menatap pria itu "Its Ok." ada kegundahan di matanya
"Its Ok ?! Ini sudah berlebihan. " Ada garis keras di sorot matanya, alisnya yang tegas bertautan menyatu dalam ketidaksukaan Liam terhadap tindakan apapun yang sudah dilakukan ibunya.
Harumi hanya tersenyum tipis, kali ini ia yang menenangkan Liam. Ia menyugar rambut coklat pria itu dengan lembut, menatap wajahnya dengan penuh kehangatan "Aku tidak bisa menghindari apapun jalan hidup yang kulewati saat ini. Aku tahu, jika aku semakin membencinya. Maka sama saja aku menyiksa diriku sendiri."
"She has a son with..."
"Stop--Please!" Ia menarik napas dalam-dalam, Harumi menyembunyikan wajahnya ketika airmata hampir menyeruak membasahi pipinya. Ketika ia akan beranjak, Liam langsung menarik tangannya
Liam membiarkan Harumi menutupinya walaupun ia sangat memahaminya tapi untuk saat ini ia ingin Harumi memperlihatkan keterbukaannya "Aku akan membereskan ini secepatnya"
Wanita itu berbalik "Maksudmu ?"
"Aku akan bertemu Anton, dan menyelesaikan perceraian kalian secepatnya."
Kedua matanya melebar "Jangan...Kumohon jangan menemuinya !!"
"Hanya itu satu-satunya cara agar kau terlepas dari semua penyiksaan itu. Perceraian."
Dari balik pintu, Cathy dikagetkan oleh seseorang.
"Miss Jones ?" panggil Sekretaris Will
Dengan wajah terkejut, refleks ia menjatuhkan dokumen yang dipegangnya ke lantai. Pandangannya langsung beralih, ketika mendengar seseorang tersebut memanggil namanya.
Matanya terbelalak "S-sekretaris Will...a-aku sedang akan memberikan beberapa..."Cathy merundukkan tubuhnya sambil mengumpulkan beberapa kertas yang berserakan akibat ia menjatuhkannya secara tiba-tiba.
"Untuk apa anda hanya berdiri saja didekat pintu, tidak langsung mengetuk pintu. Bukankah anda sudah mengerti bagaimana etika kerja sebagai Asisten ?!!" ekspresinya dingin, orang kepercayaan Liam itu hanya berdiri menatap dengan tatapan yang menusuk seolah ia sedang memergoki seorang Pencuri.
Cathy merasakan ketidaknyamanan yang sangat intens, tangannya gemetar saat ia mengumpulkan berkas itu lalu berdiri perlahan-lahan "M-maafkan aku tidak bermaksud apap-apa. Hanya saja aku tidak ingin mengganggu mereka."
"Jika memang ada hal yang benar-benar penting, kau tidak perlu segugup itu Miss Jones. "
"Be-begini Sekretaris Will, aku benar-benar tidak bermaksud...yang seperti anda pikirkan " Cathy menggeleng dengan cepat, kecemasan tergambar jelas diwajahnya.
"Apa kau mengerti dengan jalan pikiranku ?" matanya menyipit, mendekat "Dengar Miss Jones. Bukankah ini jam istirahatmu, sebaiknya kau fokus untuk urusan pribadimu. Dibandingkan hanya berdiri menguping pembicaraan orang lain. Itu akan membahayakanmu" sama halnya seperti atasannya. Liam. Sekretaris Will tidak berbeda, ia tidak suka basa basi.
__ADS_1
Napas Cathy tersengal, ia ketangkap basah. Lututnya gemetar. Ia hanya memilih merendahkan pandangannya dan hanya menjawab dengan suara gemetar "Iam sorry, a-aku berjanji tidak akan mengulanginya." ia membalas menatap "Kumohon j-jangan mengadukan hal ini."
Sekretaris Will tidak merespon. Ekspresinya datar. Ia hanya berjalan melewati Cathy. Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Dan itu justru membuat Cathy semakin tersudut, dan penuh konfrontasi.
...****************...
Saat Harumi memasuki kediamannya sepulang ia kerja. Harumi dibuat terkejut saat pandangannya terhenti dan melihat meja makan tertata sangat rapi.
Di atas meja sudah tersaji berbagai aneka masakan, dengan beberapa lilin yang menghiasi. Peralatan makan yang terbuat dari perak, menyinari tatanan meja makan tersebut.
Seolah-olah akan diadakan perjamuan makan malam, tapi Harumi merasa tidak ada memiliki janji dengan siapa pun.
Lalu, sesaat kemudian ia melihat Martha membawa nampan dengan dua orang pelayan lain dibelakangnya dari arah dapur.
Keningnya mengernyit "Bibi Martha ?"
"Oh God, Mrs. Harumi. Anda sudah pulang " seperti biasa Martha selalu menyapa dengan ramah. Ia tersenyum. Dan mulai meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja. "Maaf Nyonya, apa aku mengejutkanmu ?"
Harumi mendekat dengan ekspresi masih keheranan "What this ?" tatapannya beralih pada makanan-makanan yang tersaji cukup meriah di atas meja
"Ini permintaan dari Nyonya Anita, ia ingin makan malam bersama dengan anda dan Tuan Muda."
Harumi menghela napas dan itu mulai membangkitkan banyak pertanyaan.
Liam mengerutkan keningnya "Apa yang kau lakukan disini ?"
"Begini Tuan Muda, Nyonya Anita yang memerintahkan saya untuk menyiapkan makan malam untuk kalian dan ia ingin bergabung disini. Makan Malam bersama."
Ada seringai sinis di wajahnya "Apa lagi yang direncanakan Penyihir itu ?!!" Liam menatap Martha "BERESKAN INI !!!!" matanya menunjuk ke arah meja
Martha tampak kebingungan, tapi seketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.
"Apa ibu salah jika mengharapkan makan malam bersama Puteraku ?" sahut Anita yang ternyata sudah berada di kediaman tersebut.
Semua berbalik kearah Anita, terkecuali Liam yang tetap berdiri membelakanginya. Wajahnya sangat dingin, punggungnya menegang. Kehadiran Anita benar-benar membuatnya merasa sesak.
"Liam, ibu tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin berkumpul dengan kalian setidaknya hanya makan malam bersama."
Liam masih tidak bergeming. Ia memilih diam.
Anita menatap Harumi, seolah-olah melemparkan kode untuk meminta bantuannya.
Karena Anita memahami sifat Liam yang keras kepala dan sangat membenci dirinya,
Harumi menyadarinya "Liam ?"
"Bisakah kau TIDAK LAGI MENCAMPURI KEHIDUPANKU ?!!!" ia akhirnya buka suara, bentakan suaranya keras dan pandangannya lurus ke depan.
__ADS_1
Semua yang ada disana sontak terkejut.
"Liam, ibu mohon sekali ini saja. Aku hanya ingin makan malam bersama. Aku sangat merindukan Puteraku." Anita masih berdiri di belakang Puteranya, memohon.
Melihat pemandangan tersebut, Harumi merasakan perasaan yang tidak terduga. Ia mulai melihat sisi lain dari Anita, seorang wanita yang hanya ingin pengakuan dari Puteranya.
Tapi Liam masih menampakkan kebenciannya, tidak memudar sedikit pun.
Harumi mendekatinya, menarik tangan Liam dengan lembut "Please" hanya satu kata dan tatapan hangatnya, pria itu sedikit melunak.
Tapi, Liam memutuskan pergi meninggalkan ruangan itu menuju kamar pribadinya. Ia melepaskan genggaman tangan Harumi, dan berlalu tanpa membalas menatapnya.
Harumi yang melihat reaksi itu, cukup terkejut ia berdiri dan memandangi punggung Liam dari belakang. Tampak ada kekesalan yang masih menguasainya.
"Aku akan mencoba membujuknya." Harumi berbalik menatap Anita
"Entah sampai kapan ia akan terus bersikap seperti itu. Never Forgive me. "
"Sebaiknya Anda beristirahatlah, aku yakin Liam bukanlah orang yang keras kepala seperti dugaan anda."
...****************...
"Kapan operasinya di lakukan ?"
"Secepatnya, karena kondisinya kurang baik jika pasien itu terus menunda. Karena itu akan semakin memicu kanker Rahim yang membahayakan. Aku sudah membicarakan dengan pihak walinya sementara ini. Mereka belum memutuskan apapun. Hanya saja Mr. Seymour menginginkan segera dilaksanakan Operasinya dalam bulan ini."
"Aku yang akan menanganinya "
"M-maksudmu ? Kau sendiri yang akan turun menangani Operasi ini, Dr. Walls ?"
"Tapi bagaimana dengan Dr. Lynn dan Dr. James yang dulunya pernah menangani pasien ini. Mereka pasti tidak akan menyetujui perubahan ini."
"Apa kau meragukan kinerjaku sebagai Dokter Spesialis Bedah dan Penyakit Dalam, masa kerjaku jauh lebih diatas mereka ?!!!"
"Tapi kau mengerti prosedurnya, tidak semudah itu. Akan banyak pihak...."
"Itulah kenapa aku meminta bantuanmu, kau adalah sahabat yang sangat menyenangkan. Kita kuliah bersama, bahkan sekarang jabatanmu adalah Kepala Rumah Sakit yang cukup ternama di California. Aku yakin itu sangatlah mudah untukmu. Sebaiknya gunakan keahlianmu. Apa kau lupa tentang pasien yang pernah kau tangani di Seattle
?"
"Enought !!...aku memang pernah berutang budi padamu."
"Baguslah, ini saat yang tepat untuk menebusnya."
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You ❤
__ADS_1