
"Firasatku buruk mengenai Putri kita" mata Harry sangat kosong, pria paruh baya itu hanya menatap ke arah jendela dengan sedikit cercah cahaya lampu menembus tirai tipis.
Nami Tomoeda Ibu Harumi tak hentinya berusaha menenangkan perasaan sang suami "Itu hanya lah Mimpi, sayang. "
Pria paruh baya itu tidak mengiyakan pernyataan istrinya, dia yakin firasat ini akan benar-benar terjadi nantinya "Kita pernah mengalami ini sebelumnya, ketika sebelum kecelakaan itu terjadi. Firasatku benar-benar terjadi waktu itu, aku hampir menabrak Ben di pekarangan rumah kita. Dan malamnya Putri kita ... "
"Takdir sudah menggariskan itu semua dalam kehidupan kita, Putri kita akan baik-baik saja. Aku percaya pada Harumi"
Pada saat itu juga, Harry berdiri. Kata-kata dari istrinya tidak sedikit pun membuatnya tenang. Punggungnya terasa semakin tegang karena Mimpi buruk itu masih berbekas terbayang jelas dalam pikirannya.
Nami yang ikut merasakan kecemasan suaminya, terdiam cukup lama duduk di tepi ranjang menatap punggung Pria itu. Suasana malam yang begitu pekat seolah menyelimuti mereka dengan keheningan yang tak menjawab apapun.
"Apa kau sudah menghubungi Harumi ?" tanya Harry berbalik
Wanita itu terdiam seribu bahasa, dia tak sepenuhnya ingin membahas mengenai tujuan kepergian Putrinya "Yah.... dia baik-baik saja"
Dengan melempar tatapan tidak percaya, Harry tidak merasa apa yang dikatakan sang istri sepenuhnya benar "Jawab aku Nami, kenapa Harumi ke New York ? aku bukan ayah bodoh yang tidak peka dengan Putriku sendiri"
Dengan putus asa, Nami berharap suaminya itu tidak menatapnya tetapi sorot mata Harry begitu mantap dan Nami merasa hampir mustahil bisa berkonsentrasi "Berlibur...aku sudah mengatakan padamu, bukan ? Anak kita memerlukan waktunya untuk tenang. Ku mohon Harry, Harumi bukan Gadis Kecil lagi. Dia sudah tumbuh menjadi Wanita Dewasa yang sangat Kuat"
"Dimana Harumi menginap ?"
"Itu juga sudah kuberitahukan padamu, Harumi menginap di Apartemen Catherine, Teman semasa kuliahnya. Hanya beberapa hari di sana, lalu ia akan menginap di rumah Ameera bersama Ibu mertuanya yang akan menyusul"
Dalam posisi yang masih berdiri di hadapan Nami, Harry mulai sedikit meredam kecemasannya "Apa suaminya akan ikut menyusul ?"
__ADS_1
"Harumi tidak mengatakan apapun mengenai itu, mungkin saja ia akan menyusul. Anton pasti akan menjaga Harumi dengan baik. Sebaiknya kita tidak terlalu mencampuri urusan rumah tangga Putri kita"
Tatapan Harry tidak simpatik setelah mendengar jawaban dari istrinya yang menyebutkan nama Menantu laki-lakinya tersebut "Setelah kejadian yang menimpa Harumi aku mulai tidak menyukai Lelaki itu, sampai sekarang pun aku tidak percaya padanya"
Menghela napas sejenak, Nami meyakinkan dirinya untuk tidak terbawa dalam suasana ketegangan yang tercipta oleh keduanya "Anton adalah suami Harumi, kita tidak bisa saling menyalahkan satu sama lain tentang kejadian malam itu."
"Suami ? Kau sebut ia suami dari Putri Kita, bahkan selama berhari-hari Anak kita di Rumah sakit lelaki itu hanya sekali menjenguknya. Berdalih karena urusan pekerjaan, ia bersikap acuh pada Putri Kita yang sudah meregang nyawa di atas meja operasi. Apa aku harus menyebut dia sebagai Menantu ku ?" suaranya sekeras tatapannya yang gelap
Ada terlalu banyak yang dipertaruhkan, Tidak ada alasan untuk bisa meyakinkan suaminya lagi, Wanita paruh baya itu hanya tertegun seakan ia membenarkan semua perkataan Harry.
Nami tampak mulai tertekan memaksakan dirinya berdiri menghampiri dan memeluk suaminya, tak peduli betapa pun besarnya kegundahan yang dirasakan mereka. Kedua orang tua Harumi hanya ingin Putrinya Bahagia dan Dilindungi dengan baik.
Entah seberapa keruh yang mengitari kehidupan Pernikahan Putrinya dengan Anton, kedua orang tuanya hanya berharap Harumi tetap tegar dan Kuat, mereka yakin itu.
Dengan kedua matanya ia menyaksikan Harumi berlumuran darah, napas yang hampir menghilang dan detak jantung melemah dengan tubuh yang terkujur kaku di atas meja operasi. Saat itu, Harumi sudah kehilangan banyak darah. Tak ada harapan apapun yang bisa dijanjikan oleh Dokter sewaktu itu, ketika mendengar sembaran petir yang begitu kuat membuat Nami sempat terjatuh di koridor Rumah sakit malam itu.
Nyawa Putri yang sangat dicintainya hampir tidak dapat tertolong, kenyataan pahit itu membuat sang ibu terkujur kaku di lantai koridor, terduduk dalam diam lalu berteriak menangis meminta belas kasih kepada Tuhan. Ia menundukkan dirinya, mengharapkan Mukjizat itu datang untuk Putrinya.
Kenangan itu sempat tersimpan rapat dalam dirinya kini sesaat terlintas kembali, ia meyakinkan dirinya bahwa Harumi akan baik-baik saja "Putri kita akan bahagia, ia akan memperolah kebahagiaannya, Kebahagiaan yang besar dalam hidupnya. Kita harus yakin dan mendukungnya, Harry. Anak kita bukan Wanita yang biasa, Harumi Wanita Tangguh yang kulahirkan dari Rahimku dan aku akan memperjuangkan nya sampai akhir hidupku"
Pelukan wanita itu semakin kuat dalam diri suaminya, ia berusaha tetap menahan rasa emosional dalam dirinya, menguatkan hati sang suami. Bahwa firasat buruk itu jangan sampai terulang kembali.
***
Reputasi Tinggi Liam Seymour beserta popularitas nama besar keluarganya telah menyebabkan pikiran Harumi memunculkan gambaran fisik yang sebanding dengan kenyataannya sampai-sampai selama sesaat wanita itu tidak dapat melakukan apapun kecuali menatap, seperti yang pastinya dilakukan ratusan wanita lain terhadap Liam.
__ADS_1
Mata pria itu mengunci tatapannya dengan akurasi letal senjata mematikan dan udara meninggalkan tubuhnya.
"Apa kau hanya ingin menatapku saat ini ?" ucap pria itu menaikkan kedua sudut bibirnya
Segera Harumi mengibas-ngibaskan wajahnya saat ia sadar bahwa dirinya ketangkap basah sedang menatap Liam yang sudah sedari tadi tak berkedip. Tentu saja, siapa yang tidak terpesona kepada Lelaki yang satu ini.
Hanya berbalut kemeja santai berwarna biru keabu-abuan dengan jeans, rambut coklatnya terpaparkan begitu berkilat. Ditambah aksen kacamata hitam, Liam tampak sangat....sangat seksi.
Ada apa denganku ? Hentikan ! Bukankah seharusnya aku marah, kesal dengan tingkah seenaknya Pria itu !
"Aku tidak menatapmu, aku hanya kesal dengan tingkahmu" balas Harumi dengan wajah menunjukkan rasa malu ketimbang kesal.
Liam terkekeh "Benarkah ? baiklah, simpan dulu kekesalanmu. Aku akan menunggu mu di bawah. "
Harumi sedikit bergumam sendiri saat merapikan dress cantik berwarna putih polos yang dikenakannya serta memaksa dirinya untuk bergerak maju menyusul Liam yang sudah lebih dulu keluar dari kamar tidur mereka.
Yeah, setelah sebelumnya mereka berdebat soal Perceraian nya dengan Anton, tingkah menyebalkan Liam yang sudah membuat Harumi tidak ingin berlarut-larut di meja makan. Kini, entah apa yang sudah merasuki Harumi dengan begitu mudahnya menuruti keinginan Liam.
Tentu saja, keinginannya berlibur berdua saja di suatu tempat yang bahkan Harumi sendiri pun tidak mengetahuinya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1