
1 hours later
"Kenapa kau sembunyikan hal sebesar ini dari ku ?" Harumi mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Air matanya menyebar di seluruh wajahnya. Ia menahan untuk tidak menangis sejadinya. "Aku sudah sangat lelah."
Liam terpaku. Ia diam. Walaupun jauh di dalam dirinya, ia pun sama sakitnya ketika melihat Harumi harus merasakan penderitaan ini seorang diri.
"Ini kelewatan, entah seburuk apalagi yang akan terjadi selanjutnya. Cukup, aku tidak ingin keluargaku menanggung akibat dari keputusanku."
"Please..." Liam tidak bisa berkata-kata lagi.
Pria itu mencoba melangkah mendekatinya, tapi Harumi sontak memilih mundur dengan tatapan menyakitkan.
"Maafkan aku..."
"Jika aku tidak mendengarnya dari Anita, sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dariku ? Apakah sampai semua orang yang kucintai ikut hancur ?!"
Liam menggeleng, membantah dengan cepat "Itu tidak akan pernah terjadi, Aku akan melindungimu, melindungi keluargamu."
Wanita itu menghela napas, diam dalam sejenak lalu memilih meninggalkan Liam di kamar tidur mereka.
Tapi, pria itu langsung mencegahnya. Menahan lengan Harumi "Beri aku kesempatan sekali lagi, aku berjanji akan memperbaiki semua yang sudah kulakukan terhadapmu"
Harumi hanya menarik napas dalam untuk menetralisir segala perasaan buruk yang berkecamuk dalam dirinya.
Ia menyadari suatu saat nanti, hal yang lebih buruk akan terjadi dalam hidupnya. Sebagai akibat dari keputusannya.
Tapi, ia tidak pernah menginginkan Keluarganya akan menanggung akibat dari Dosa yang telah dilakukannya.
...****************...
"Hallo"
"Hallo, Putriku. Ibu senang bisa mendengar suaramu."
"Bagaimana keadaan kalian ?Aku sangat merindukan kalian." sekuat apapun Harumi menahan perasaannya. Tapi suaranya tidak bisa disembunyikan, getaran yang terdengar pedih sampai ke telinga ibunya.
"Apa semua baik-baik saja, sayang ?"
Harumi membungkam bibir dengan tangannya sendiri, menahan perih yang terasa menyakitkan didadanya.
Walaupun jarak yang memisahkan mereka sangat jauh, tapi tidak bisa menghalangi kontak batin diantara keduanya. Nami bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Putrinya saat ini.
"Rumi, my little girl...ibu akan menceritakan satu hal padamu. Apa kau tahu bahwa kupu-kupu tidak pernah bisa memilih warna apa yang ada pada sayapnya nanti, bahkan ia tidak bisa menentukan bagaimana bentuk sayapnya setelah ia bersembunyi cukup lama dalam kepompong. Sekalipun belum tentu warna yang ada di sayapnya nanti, disukai kupu-kupu itu atau tidak. Tapi, lihatlah setelah dia melepaskan dirinya dari kepompong, bukan warna atau bentuk sayapnya yang dipedulikannya saat itu. Tapi, hal pertama yang di ketahuinya adalah ia mampu bertahan hidup sangat baik, karena ia mampu melanjutkan hidupnya setelah sebelumnya ia adalah seekor ulat. Kini tidak hanya bisa berada di tanah saja. Ia mampu terbang dengan sayapnya yang indah dan semua mata yang melihatnya pasti kagum dengan keindahan dirinya. Begitu halnya dalam kehidupan, semua pasti akan bermetafora. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi dalam hidup kita nanti, bahkan disaat kita dihadapkan dalam pilihan-pilihan hidup kita tetap tidak mampu memilihnya apakah ini benar atau salah. Yang terpenting, sama halnya seperti kupu-kupu itu. Berjuang untuk hidup adalah pilihan yang sebenarnya sudah kita pilih, lebih baik daripada menyerah hanya karena kita tidak bisa memilih apapun. Biarlah orang lain memandang kita pada perspektif yang berbeda-beda. Karena kita tidak mampu menyenangkan semua orang. Harumi, putriku, Ibu bisa merasakan apa yang kau rasakan. "
"Apa ibu tidak membenci apa yang kulakukan saat ini ?" suara Harumi terdengar mulai kembali tenang
"Tentu saja awalnya ibu tidak menyetujuinya. Bahkan aku membenci tindakan yang kau pilih. Karena bagaimanapun ibu tidak ingin kau menderita dan menghadapi banyak masalah."
Perlahan Harumi menceritakan apa yang terjadi padanya saat itu, mulai ia bekerja dengan Anita sampai perihal kejadian yang menimpa ayahnya.
Nami mendengarkan dengan baik semua penjelasan putrinya, sesekali ia hanya merespon dengan singkat agar Harumi nyaman untuk lebih terbuka dengannya.
"Saat pertama kali, pria itu datang menemui kami. Ibu cukup terkejut dengan keberaniannya. Tidak menduga pria seperti Liam, menempuh jarak yang sangat jauh menuju Bristol hanya untuk meminta izin dan restu dari kami. Bahkan ia selalu menanyakan kabar kami sampai saat ini. "
Harumi sontak terkejut "Apa Liam sering komunikasi dengan ayah dan ibu ?"
"Setelah ia pulang dari Bristol, ibu menyadari Liam adalah pria yang sangat sibuk. Tapi tidak menduga, ia masih menyempatkan waktu menghubungi kami untuk menanyakan kabar ayahmu setiap hari. Bahkan beberapa orang suruhannya masih datang mengantarkan makanan dan semua hal yang kami butuhkan termasuk menjaga Ben dan Takeru dirumah selama kami di Rumah Sakit. Sebenarnya ibu yang melarangnya mengatakan hal yang terjadi saat ini kepada mu. Liam sebenarnya ingin berterus terang, tapi ibu yang memaksa untuk menyembunyikan hal ini."
Harumi terdiam cukup lama setelah ia mendengar penjelasan langsung dari bibir ibunya, ini diluar dugaanya. Bahwa Liam akan melakukan hal-hal itu semua untuk keluarganya.
__ADS_1
Aku akan melindungimu, melindungi keluargamu
Kalimat itu terngiang didalam benak Harumi begitu intens. Pernyataan Liam yang awalnya hanya angin lalu bagi Harumi karena kemarahahnnya saat itu seolah menjadi hal yang sangat berharga.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami, ayahmu baik-baik saja. Kondisinya sudah sangat membaik, 2 hari lagi ia akan segera keluar dari Rumah Sakit. Apa kau tahu, Rumi ? Sepertinya ayahmu mulai menyukai Liam, karena ia terus menanyakan mengenai hal mekanik otomotif yang sering mereka bicarakan ditelpon." sekilas terdengar Nami tertawa santai "Liam cukup pandai mengambil hati ayahmu yang keras kepala itu. Bahkan, tidak henti ayahmu membicarakan hal otomotif yang ia bicarakan dengan Liam pada ibu yang bahkan sedikitpun ibu tidak mengerti."
Ada seutas senyuman tergambar manis di wajah Harumi saat itu, dari semua masalah yang menyakitkan, setidaknya masih ada hal bahagia terdengar nyaman ditelinganya dan menenangkan hatinya. "Apa...ibu dan ayah sudah merestui kami ?"
"Ibu dan ayah tidak bisa seratus persen merestui hubungan kalian sampai urusan kau dan Anton benar-benar sudah selesai. Mau sebahagia apapun, hubungan kalian tidak akan bisa diterima. Yang bisa kami lakukan hanya terus mendoakanmu agar kau selalu bahagia. Liam memang pria yang baik dan bertanggung jawab, ibu yakin ia akan mencintaimu dan memperlakukanmu dengan baik. Bahkan menerima apapun keadaanmu. Jika kalian ingin menikah, segera selesaikan urusanmu dengan Anton dan bicarakan baik-baik dengan keluarganya. Tidak perlu mengkhawatirkan kami, kami baik-baik saja di sini. Kami akan selalu mendukungmu, sayang"
Sekali lagi, kedua sudut bibir Harumi melengkung dan kedua matanya yang berkaca. "I love you Mom, Thank you"
"I love you too My Little Girl"
...****************...
"Apa kau masih marah padaku ?" dengan setelan tuksedo hitam, Liam benar-benar tampak menawan walaupun dengan wajah gusar dan tampak merasa bersalah ia hanya bisa berdiri memandangi Harumi yang sedang berusaha merapikan gaun malamnya,.
Seperti sedang bermain-main dengan perasaan Liam, tampak seringai kecil di wajahnya ketika ia membelakangi pria itu. Harumi membiarkan dirinya bungkam tanpa sepatah katapun berusaha cuek tidak menghiraukannya. Walaupun saat itu, sebenarnya Harumi sudah memaafkannya setelah beberapa waktu lalu ia mengobrol dengan ibunya.
Tapi sesekali membuat Liam merasa bersalah tidak ada salahnya, bukan ? Pikirnya.
Memang hampir dua hari, Harumi tidak memperdulikan Liam. Tidak ada komunikasi, bahkan setiap Liam menghubungi ponselnya. Harumi tidak pernah mengangkat sekalipun.
Di rumah, mereka tidak saling berbicara. Walaupun Liam berusaha mendekati tapi Harumi masih menjauh. Harumi pun memilih tidur di kamar yang berbeda, dan itu cukup membuat Liam marah. Tapi pria itu menahan diri. Karena tidak ingin semakin merusak suasana.
Dan itu cukup menyenangkan bagi Harumi. Setidaknya melihat sikap Liam seperti itu sangat menghiburnya. Karena sebelumnya Liam yang selalu memberinya kejutan.
"Rumi...say something, please."
Harumi berbalik, dan menatap tajam pada pria itu "Baiklah, maka kau harus melakukan satu hal untukku."
"Didepan semua tamu nanti, aku ingin mendengarmu menyanyikan lagu untukku." tampak Harumi menahan tawanya
Liam tidak bisa dibohongi dan tentu saja ia tidak bisa dipermainkan dengan mudah. "Sing a song ?!" pria itu meruncingkan matanya dan berjalan mendekati Harumi. Ia tidak sedikit pun melepaskan tatapannya pada wanita itu. Tatapan Liam berubah, sorot matanya menusuk.
Ia semakin mendekat.
Harumi menelan salivanya "Apa yang akan kau lakukan ? Stop !"
Seakan tidak peduli dengan ucapan Harumi, Liam masih terus mendekat dengan santai. "Kau memintaku untuk bernyanyi dihadapan para tamu ?!!"
Harumi mundur sampai akhirnya, Liam dengan sigap manarik pinggang wanita itu menempel pada tubuhnya.
"Liam lepaskan !" dengan pipi yang tampak memerah, Harumi berusaha memberontak.
Tapi, pria itu tidak peduli Liam mencengkram pinggang ramping Harumi semakin erat dan menekannya pada tubuhnya. "Katakan sekali lagi, kau ingin aku melakukan apa ?"
Harumi mendelik "Jika kau tidak ingin melakukannya, ya sudah lah. Maka, aku tidak akan memaafkanmu." wanita itu memalingkan wajahnya
Liam menggeleng dengan bibir masih mengulas jejak senyum. "Benarkah kau tidak akan memaafkanku ?"
Harumi bisa merasakan satu tangan Liam bergerak ke bawah. Menyusuri kakinya semakin rendah, hingga tanpa di sadarinya. Tepi bagian gaunnya mulai diangkat oleh Liam hingga memperlihatkan kulit putihnya.
Harumi memejamkan matanya dan menghirup udara dalam. Harumi membuka matanya dan menatap Liam dengan cemas "A-apa yang kau lakukan ?"
"Menghukummu." perintah Liam dengan suara mendesis.
Iris mata keduanya, saling mengunci satu sama lain.
__ADS_1
"Kita akan terlambat ke acara itu, hentikan"
Liam tidak peduli, ia tetap menarik gaun hitam Harumi semakin tinggi. Dan perlahan bergerak menuju ke bagian yang sensitif dari tubuh wanita itu.
"Please, Stop !"
Harumi menahan napas, ketika Liam menikmati kulit indah Harumi melalui sentuhannya.
Liam menyadari, reaksi tubuh Harumi yang menikmati setiap sentuhannya. Harumi bisa mengatakan Tidak tapi tubuhnya bereaksi yang berbeda.
Tangan pria itu kini tepat di bagian sensitifnya, Harumi mencengkeram tangan Liam untuk berhenti. "Liam..."
Sekali lagi pria itu tidak berhenti, ia masih meneruskan aksinya. Ia membiarkan Harumi menggenggam tangannya.
Harumi benar-benar tidak bisa membantah, ia membiarkan Liam berbuat sesukanya. Harumi memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan tangan Liam yang semakin masuk ke dalam bagian yang sangat sensitif. Kewarasannya seakan sirna karena rangsangan yang Liam berikan.
"Ahh...." Harumi mendesah, wajahnya mendongak. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan karena kenikmatan yang baru ia rasakan. Karena selama mereka berhubungan, Liam tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
Liam berubah, Harumi bisa merasakan hal itu dari sorotan matanya.
Liam menahan tubuh Harumi dengan meremas boko**nya.
Liam terus menjelajahi seluruh area pribadinnya tanpa berhenti.
"Li...am " lenguh Harumi ketika hal yang begitu nikmat merambat naik ke seluruh aliran darah di tubuhnya.
Liam menyadari reaksi Harumi, itu membuatnya menyeringai puas. "Kau menyukainya."
Keduanya saling berpandangan penuh arti. Harumi sedikit melebarkan matanya saat tiba-tiba Liam mencium keningnya.
Harumi menatap Liam yang tengah mencium keningnya dengan lembut.
Pria itu mengusap pipinya "Maafkan aku, sayang"
Harumi memejamkan matanya ketika Liam menyentuh bibir mereka. Harumi membalas ciuman Liam dan mencengkeram pipi pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Setelah ciuman yang begitu dalam, Liam mengangkat tubuh Harumi dan menurunkannya ditempat tidur dengan perlahan.
Harumi mengigit bibir bawahnya gugup saat Liam mulai menurunkan tali gaun wanita itu.
Harumi menahan napas dengan jantung berdebar kencang ketika Liam selesai melucuti gaun dan pakaian dalamnya.
Wanita itu dalam posisi terbaring tanpa mengenakan sehelai benang pun, menatap Liam yang juga mulai melepas jas dan melonggarkan kan dasinya. Tatapan pria itu tidak beralih sedikit pun dari mata Harumi, dan itu cukup membuat suasana semakin memanas.
Liam menyorotnya lekat, membuat Harumi gugup.
Pri itu mendekat dan menindih tubuh Harumi.
Ia tidak langsung beraksi, bibir pria itu justru turun hingga pada bagian payuda** Harumi.
"Kau sudah mempermainkanku dua hari ini, aku akan menghukummu sampai kau akan merasakan ketagihan yang luar biasa." Liam tersenyum di tengah hisapan nippl* Harumi.
Liam mulai menghisap puncaknya, sementara satu tangannya lagi meremas satu bagian yang lain. Harumi memejamkan matanya kembali, tangannya meremas rambut Liam. Tubuhnya mulai memanas, dan Liam mendengar suara ******* Harumi yang begitu seksi.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1