
Harumi tidak sedikit pun melepaskan tangan Liam dengan perasaan bercampur aduk dengan rasa takut, cemas sampai merasa terancam oleh sorotan-sorotan mencurigakan dari kedua pria Misterius tersebut di saat mereka mulai melewati satu per satu Rak Makanan dan Minuman, bersikap berpura-pura tidak ada yang sedang mengawasi mereka.
Harumi memang tidak pandai dalam hal berakting, dia sempat berbalik mengira akan melihat Pria yang memiliki tato di leher itu sudah pergi meninggalkan Minimarket, tetapi yang dilihatnya membuat dirinya pucat pasi.
Tatapan Pria itu justru semakin mencurigakan, dengan sekaleng Bir di tangannya, sorotan matanya terus mengikuti arah langkah Harumi dan Liam seolah ia memindai tiap gerakan mereka.
Pria itu tidak beralih dari posisinya sejak tadi, tubuh tinggi besarnya hanya terpaku disitu.
Wanita itu berbalik kembali menatap raut wajah Liam, ia sangat tenang bahkan tidak ada ketakutan sama sekali terpancar di wajahnya.
Lalu, salah satu Pria lainnya yang bersama Pria Misterius itu Harumi menemukannya sedang berbicara serius lewat ponselnya di barisan antrian Kasir sambil menggenggam sekotak Rokok tetapi tatapannya sangat jelas bahwa mereka saling memberi kode isyarat satu sama lain.
Pria ini berbeda dengan satunya, tak ada bekas luka di wajahnya, tubuhnya tinggi kurus dengan penampilan yang lebih santai dengan kemeja katun hitam dan jeans Navy.
Satu hal yang bisa ditemukan Harumi, ia dapat melihat dengan pasti kedua Pria itu memiliki Tato yang sama persis di sisi kiri leher mereka.
Tato yang sama ? Siapa Mereka ?
Sedetik kemudian, Liam melangkahkan kakinya lebih cepat dan menarik tangan Harumi menuju pintu belakang Minimarket, dimana pintu itu terhubung dengan sebuah gang, dan pintu keluar lain menuju tempat parkir.
Dengan tidak sabar dan tidak mengisyaratkan apapun Liam langsung membawa Harumi menuju keluar melalui Pintu tersebut.
"Apa yang akan kita lakukan ?" Harumi memaksa dirinya untuk mengikuti Liam mendorong tubuhnya dari dinding lalu menyelinap keluar melalui pintu itu.
Liam melepas genggamannya "Pergilah ke sana, sembunyi di balik itu." Pria itu menunjuk ke sebuah tempat sampah besar di pinggiran Gang yang terhubung setelah mereka keluar dari pintu belakang.
Itu adalah sebuah gang kecil yang menembus jalan-jalan setapak menuju pinggiran kota, Harumi bisa melihat hanya berjarak beberapa kaki ada sebuah bak sampah cukup besar ditembok gedung, jalanan gang itu tidak mulus karena ada beberapa bagian dari situ yang masih tergenang air, bau yang kurang sedap masuk dalam indera penciuman Harumi. Tempat ini sangat lembab dan sunyi.
Ada beberapa tangga besi yang mengitari tiap tembok gedung menghubungkan lantai bawah ke atas.
Harumi menggeleng "Tidak, aku tidak mau bersembunyi. Bagaimana jika terjadi....."
__ADS_1
Liam memberi tatapan mengunci "I'll be Fine, Trust Me"
Pria itu mengelus puncak kepala Harumi, dan meyakinkannya lewat sentuhan manis itu untuk wanita nya agar Harumi bisa lebih mengutamakan kepercayaan dan keyakinan terhadap Liam. Bahwa semua akan baik-baik saja. Liam hanya ingin Harumi aman, menjamin sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya.
Tapi Harumi bukan Wanita Bodoh yang mudah mempercayai semua akan baik-baik saja selama senjata itu masih berada di balik kemeja Liam.
Firasat buruk itu makin menggumpal di bayangan Harumi, tentu saja kedua Pria itu akan mengintimidasi Liam dengan mudah. Dan Harumi tidak ingin hanya diam menyaksikan itu semua.
Bersembunyi bukanlah ide yang baik, meninggalkan Liam menghadapi kedua pria itu seorang diri. Itu perbuatan paling ceroboh baginya.
Sorotan mata Liam semakin mengunci "Kumohon Rumi, bersembunyilah di sana" kedua tangan Pria itu menangkup lembut wajah Harumi, kedua pasang mata itu saling bertemu.
"Kau berjanji untuk mempercayaiku, akan kupastikan semua baik-baik saja." Pria itu memberi kecupan sekilas di kening Harumi, melepaskan tangannya dari wajah wanita itu.
Harumi tidak memiliki pilihan apapun selain tetap mengikuti alur rencana Liam saat ini, dia berjalan kaki dan berhenti di balik Bak sampah tersebut, menundukkan tubuhnya. Harumi menyembunyikan dirinya, sambil melihat dari tepi bak.
Harumi masih bisa melihat Liam berdiri sekilas memandang ke arah Harumi seolah memastikan
Liam berdiri terpaku sebentar memandangi Pintu yang menghubungkan kedua tempat itu, Pria itu seolah menunggu tindakan selanjutnya.
Ia seolah menimbang-nimbang antara menyerbu lebih dulu atau tetap menunggu di luar sini. Dia tahu bahwa Harumi tidak akan senang melihatnya melakukan kekerasan, tetapi mereka berdua harus mengesampingkan perasaan mereka.
Liam menunggu dua menit sebelum kesabarannya mencapai batas dan saat ia mulai bergerak ke arah pintu. Gagang pintu bergerak, seseorang akan membuka pintu tersebut.
Mata Liam membesar lalu ia bergeser menempel ke dinding tepat di samping pintu. Tangannya siaga bersiap mengeluarkan pistol dari balik kemejanya.
Senjata itu sudah aktif dan dan Liam hanya tinggal menarik pelatuknya.
Daun Pintu terbuka, sosok Pria memiliki rambut hitam setekuk lehernya itu pun keluar.
Pria itulah yang berdiri di depan Lemari Pendingin tadi, bekas goresan luka tergambar jelas di bagian wajahnya, dia yang terus mengawasi Harumi sejak ia tiba di dalam Minimarket.
__ADS_1
Ia berjalan perlahan dengan melemparkan pandangan ke sekeliling gang.
Liam melihat punggung Pria itu "Kau sedang mencari sesuatu ?" Pria dengan tato di lehernya tersebut berbalik dan tersenyum santai menghadap Liam.
Ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Liam, pria itu hanya melemparkan pandangan sinis.
Pria itu cukup mahir membuat Liam kesal "What do YOU WANT ?"
Liam mendorong tubuhnya dari dinding, berjalan mendekati Pria bertubuh besar itu dengan tuntutan sorotan mengancam balik ke arahnya.
"Where is She ?" suara berat Pria itu mengangkat wajahnya melemparkan tatapan mengerikan ke arah Liam
Liam sama sekali tidak merasa panik sedikit pun, ia hanya terkekeh "She ? She is not Your Mine"
Tak lama Pria bertubuh kurus yang satunya menyusul keluar dari balik pintu, ia melihat kedua Pria itu saling berhadapan "Hey Man, Calm Down! Kami hanya ingin Wanita yang bersamamu. Kami memintanya baik-baik" senyuman nakal terpancar dari wajah Pria itu
Amarah menghantam Liam seperti bola penghancur bangunan dan reaksinya dingin dan cepat. Liam bukan Pria Penyabar apalagi berurusan yang berhubungan dengan Harumi, dan kedua Pria itu sudah terindikasi akan menyakiti wanitanya, Liam bukanlah sosok Malaikat yang bisa bersikap lembut dan mudah berkompromi dengan siapapun. Sorotan Iblis di mata Liam memanas seakan membakar tubuhnya.
Liam menyerbu ke depan, mencengkeram pundak Pria yang memiliki bekas luka di wajah itu dan menyentaknya.
Tubuh Liam tidak terkalahkan dengan postur tubuh kedua Pria itu, Liam menghantam wajah Pria itu hanya dengan sekali ayunan "Kalian akan MENYESAL DAN MENGINGAT HARI INI !!!" lalu satu ayunan lagi secara bertubi-tubi ke wajah pria itu.
Penyerang itu berbalik membalas pukulan Liam, tapi Liam dengan santai menangkis Pria itu "hanya itu kemampuanmu" ejek Liam
Lalu , Liam menghantam pukulan kuat ke arah perut Pria bertubuh besar itu, hingga membuatnya tersungkur jatuh ke jalan.
Tatapan Pria bertubuh kurus yang satunya tajam, ia marah melihat perlakuan Liam kepada salah seorang rekannya, Pria itu mengeluarkan pisau dari balik kemeja hitamnya dengan ujungnya yang mematikan mengarah kepada Liam.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤