
"Liam memang seperti itu, tapi pelan-pelan ia akan melunak" bisik Anita menggandeng Olivia berjalan bersama menyapa tiap Tamu.
"Its Ok...Lagipula aku senang sikap dingin Liam..membuatku lebih penasaran, oh ya, ayah minta maaf tidak bisa hadir karena ada tugas negara, tapi lain waktu ia ingin sekali bertemu tante dan Liam" balas Olivia menyeringai.
Sesekali ia melirik ke arah Liam yang berada dari kejauhan, tak melepas sedikit pun pandangannya. Tentu saja, wanita cantik seperti Olivia tidak akan mungkin membuang kesempatan bersama Pria berkelas seperti Liam dengan mudah.
Olivia dan Anita menebarkan senyuman terbaik mereka di hadapan para tamu menyapa satu per satu, kedua wanita tersebut di sambut ramah oleh semua tamu undangan yang hadir, termasuk Istri cantik seorang Senator menyambut keduanya dengan sopan.
"Waaah, siapa wanita cantik ini ?" sapa Pria paruh baya menghampiri mereka
Sudut-sudut bibir Anita melengkung "She is Olivia James, kekasih Liam."
Anita tak ragu sedikit pun memperkenalkan Olivia sebagai "Kekasih" puteranya.
Pria paruh baya berpakaian Tuxedo itupun tersenyum kecil, meneguk Champagne di tangannya dan menatap wajah Olivia dari tepi gelas "Woow, kau beruntung sekali, bisa menjadi bagian Keluarga Seymour. Dan Selamat untuk Pembukaan Gedung Baru"
"Terimakasih Mr.Gershon. Oh ya, Kami yang beruntung Memiliki Menantu Olivia. Selamat menikmati pestanya"
Anita langsung menarik pelan lengan Olivia, meninggalkan Pria tersebut yang masih memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Siapa dia ? tatapannya aneh" bisik Olivia pelan
"Jangan sekali-sekali berbicara pribadi dengannya, Mr.Gershon seorang Duda Konglomerat , bisa dikatakan Pialang yang sangat sukses. Tapi kehidupan pribadinya tidak sebaik karirnya, sebaiknya jangan termakan rayuannya. Ia terkenal sangat Licik"
Olivia mendengarkan dengan baik setiap perkataan yang keluar dari bibir Anita.
Setiap Anita melangkah, tak hentinya para tamu menghampiri dan mengucapkan Selamat atas kesuksesannya Malam ini akhirnya pembukaan Gedung Baru Galery Seni berjalan lancar.
"Liam sayang..."panggil Anita menghampiri Puteranya yang fokus berbincang dengan tiga Pria berpakaian rapi di depan sebuah lukisan.
Sudah menjadi kebiasaan Liam, ia hanya sedikit melirik kepada Kedua Wanita itu. Lalu beralih meneguk habis wine yang tinggal separuh.
"Temani Olivia, tidak baik membiarkan wanita Cantik sendirian" Anita sedikit mendorong tubuh Olivia mendekati Puteranya.
Lalu tak lama, beberapa Tamu wanita berpakaian Glamor serba Mahal layaknya Wanita Sosialita seumuran Anita mendatanginya. Mengajak Anita berbincang, sekilas Anita memberi kode kepada Olivia sebagai bentuk dukungan.
"Haii Liam." Sapa Olivia tanpa permisi seolah ingin mencari perhatian, langsung menggandeng lengan Liam.
__ADS_1
Liam tampak sangat dingin tak ada penolakan sedikit pun, ia sudah bisa menebak apa yang direncanakan ibunya.
Salah satu Pria Muda yang berdiri bersama Liam berwajah oval bermata biru terang itu langsung menyapanya ,"Hmmm, Haaii salam kenal. Liam memang beruntung selalu di kelilingi wanita cantik"
Pria itu tersenyum santai menatap tingkah manja Olivia.
"Haiii " jawab manis Olivia, semakin menggenggam erat lengan Liam tak ada ragu sedikit pun. Ia bahkan bisa merasakan otot kuat dibalik Tuxedo hitam itu.
Tak ada reaksi apapun dari Liam, matanya hanya terus menatap lukisan di hadapannya. Sesekali ia mengambil ponsel di saku celana, menatap layarnya. Pikiran Liam sudah sangat kacau, sudah lebih 4 gelas wine dan Champagne yang di habiskannya sejak ia tiba.
Tak ada makanan apapun yang masuk ke perutnya dari tadi, pikiran dan tubuhnya sudah tidak sinkron dengan hatinya yang terus begejolak.
Ia membutuhkan Harumi, drugs dengan dosis tertinggi. Sekali lagi, jika ia melihat tingkah Olivia yang memuakkan seperti ini. Ia sanggup mencabik habis tubuh Wanita manja itu.
Setiap Wanita berpakaian seksi dengan tatapan nakal tak hentinya menghampiri Liam. Menyapanya dengan maksud lain, sentuhan tangan penuh godaan dipundak Liam sudah jadi sapaan biasa para wanita tersebut.
Like a Jungle, para Wanita ini rela saling memperebutkan kedudukan untuk berada di sampingnya. Bahkan tak jadi masalah, jika ia harus mempertaruhkan sesuatu berharga di balik Dress ketat mereka demi bisa menyentuh Liam.
Tapi sorot mata Liam kosong, dingin dengan semua wanita Cantik itu. Diam menatap tajam, pikirannya seolah melayang tak di sana.
"Pria itu Puteranya Nyonya Anita, bukan ?" bisik Cathy melirik Sosok Pria dari kejauhan.
"Waah, Sempurna sekali, postur tubuhnya, wajah tampannya, lengannya nampak sekali sangat kekar, aku berani bertaruh bagaimana kekuatan di balik celana itu" Cathy terkekeh .
Teman Wanita Cathy menarik lengannya "yuk, tidak ada salahnya kan mendekati pria itu. Kesempatan akan selalu ada jika kita yang menciptakannya. Oke Bebs"
Cathy balas "Its Ok" ia merapikan tatanan rambutnya, menarik sedikit belahan dress agar kaki jenjangnya makin terekspos. Mengatur posisi payud**a nya agar belahan itu semakin menonjol.
Dengan anggunnya kedua wanita itu berjalan semakin mendekat. Bak Catwalk model kelas atas, mereka menghampiri Liam.
"Hello, Mr. Seymour" Sapa teman wanita Cathy dengan sedikit melempar tatapan menggoda menyentuh bahu bidang Liam
Olivia yang berdiri di samping Liam berbalik seakan hanya pajangan bahkan lukisan itu jauh lebih berharga darinya yang tak dihiraukan keduanya. Olivia sinis, membalas "Hei... Kalian siapa ?"
Liam berbalik menatap mereka.
Cathy mulai mendekat "salam kenal aku Catherine Jones, Kurator Seni di Gallery ini" mengangkat tangannya.
__ADS_1
Liam menyambut baik dan meraih tangan Cathy, "Liam Seymour." hanya sebentar lalu melepas tangannya dari Cathy.
Tapi itu sudah membuat kobaran api di mata Olivia, "sudah selesaikan. Sebaiknya kalian pergi"
"Waahh, kami kan baru saja tiba, kenapa harus pergi " Jawab sinis wanita yang satunya.
Pria bermata biru yang bersama Liam menyela mereka "Well, bukankah pesta baru saja di mulai, sebentar lagi ada pesta kembang api. Come join Us Ladies"
Cathy menerima dengan senang hati ajakan pria itu "Of Course, we Love it"
"Come On Man, dari tadi kau sibuk dengan ponsel, tak henti menatap layar ponselmu. Rileks Man!" tegur pria yang satunya lagi menepuk bahu Liam.
Perhatian Liam memang sudah teralihkan ke layar ponselnya, sikapnya semakin dingin, bahkan kini ia meminum satu gelas Champagne lagi di berikan seorang pelayan.
Ia tak merespon apapun atas teguran kedua pria itu, Liam masih fokus menatap berbagai arah. Tubuhnya sangat tegang, menghabiskan minumannya hanya dua kali tegukan. Tentu saja, Liam makin gusar dan mulai melayang karena mabuk.
"Oh My God..." sahut Cathy mengejutkan mereka
"Kenapa ?"
"Sharon, aku lupa... Harumi ?" jawab Cathy dengan lantang.
Seakan petir dan guntur datang bersamaan mengguncang gedung bertingkat tersebut, Nama Harumi seolah menarik kuat mengembalikan pikiran Liam yang melayang jauh.
Ia langsung berbalik, menatap tajam Cathy, memastikan kebenaran yang masuk ke indera pendengarannya tiga detik lalu.
"Harumi siapa ?" tanya Sharon menatap keheranan.
"Astaga aku lupa, karena sibuk dengan yang lain aku melupakannya. Harumi temanku yang datang bersamaku ke sini. Tunggu sebentar di sini....aku akan mencarinya dulu "
Sebelum Cathy pergi mencarinya, Liam sigap melangkah menangkap lengannya "Wait...Waiit...apa tadi kau menyebut nama Harumi...Harumi mana dia ?" dengan nafas tergesa gesa menatap semakin menusuk. Liam semakin kuat mencengkram lengan Cathy.
"Katakan dimana dia !!! " Suara serak Liam seakan mengintimidasi terus memaksa menuntut jawaban dari Cathy
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤