Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 118 One Last Night


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju pulang, Harumi memilih untuk tidak banyak bicara. Dia mengalihkan perhatiannya kepada pemandangan jalan Kota California dan segala hiruk pikuk kesibukan warga di pinggiran kota dari balik jendela mobil.


Harumi bisa merasakan jantungnya bergemuruh di rongga dadanya, walaupun dari luar ia tampak sangat tenang.


Ameera pun seolah berusaha memahami apa yang sedang dirasakan Harumi saat ini, wanita yang memiliki tiga anak itu pun tidak ingin mencampuri lebih dalam mengenai perasaan dan apa yang sedang diresahkan Adik iparnya tersebut.


Ameera memilih fokus mengendarai mobil dan konsentrasi di depannya saat ini, walaupun sesekali ia menoleh sebentar ke arah Harumi yang duduk di sampingnya.


Sekedar memastikannya baik-baik saja, walaupun itu sama sekali tidak berefek apapun dalam situasi mereka ketika itu.


Khawatir, yah tentu saja kekhawatiran yang sangat kuat menguasai Ameera. Karena ketika ia kembali dari kamar kecil di restoran tadi, Ameera melihat Harumi yang semakin aneh dan tidak mengerti dengan sikapnya yang berubah drastis.


Harumi seperti orang yang sedang kebingungan, hilang arah dan mematung memandangi arah keluar pintu utama. Pandangan Harumi sangat kosong dan shock secara bersamaan.


Besar keinginan Ameera untuk menanyakan hal yang membuatnya begitu penasaran, apakah Harumi berubah sikap seperti itu karena setelah bertemu seseorang di Restoran itu tanpa sengaja.


Tapi, Ameera berusaha menahan diri agar tidak semakin menekan Harumi karena itu tidak akan berdampak baik untuknya.


Di waktu yang bersamaan, seakan ada koneksi yang tidak bisa dipahami oleh akal sehat manusia, Liam yang juga sedang dalam perjalanan dengan arah yang berbeda, pria itu hanya diam dan sorotan matanya kosong mengarah keluar jendela mobil.


Tak beda jauh dengan Harumi, Liam tidak merespon apapun mengenai hal yang sedang dibicarakan Sekretaris Will saat membahas berbagai jadwal kegiatan kerjanya selama tiga hari ke depan.


Posisi duduk dan pandangan matanya sama persis seperti yang sedang Harumi lakukan di dalam mobil. Keduanya tahu, mereka bukan orang yang pintar dalam berakting, bukanlah orang yang mampu bertahan untuk bisa menutupi perasaan mereka.


Sikap Liam yang sedingin apapun di hadapan Harumi ketika di Restoran tadi, ia tetap tidak bisa menutupi sesuatu yang sedang berdebar di dadanya saat ini.


Melihat sikap atasannya yang hanya diam dan murung sedari tadi, Sekretaris Will merasa khawatir "Anda baik-baik saja ?"


Butuh waktu bagi Liam untuk merespon pertanyaan sederhana Sekretarisnya tersebut, karena sebenarnya Liam tidak baik-baik saja. Pria itu sedang menyiksa dirinya mati-matian, menghancurkan dirinya perlahan-lahan demi tujuannya. Mengacuhkan Harumi, menganggap wanita itu seperti seseorang yang asing bukanlah perkara yang mudah karena Harumi adalah segalanya bagi Liam.


Menyakiti Harumi sedikit demi sedikit, justru berdampak sebaliknya. Liam lah yang sedang tersakiti, karena pria itu yang sedang menyakiti dirinya.


Liam berbalik "Fokuslah pada tugas-tugasmu, Sekretaris Will" sorotan mata Liam mengeras


"Baik, Tuan Liam"


Sekretaris itu tidak ingin meneruskan pembicaraan mereka, karena dia sadar akan posisinya. Bahwa tidak sepantasnya dia mencampuri urusan hati dari atasannya tersebut. Walaupun sangat tergambar jelas, bahwa Liam sedang menderita dengan apa yang sedang direncanakannya.


Sekretaris Will hampir 24 jam bersama Liam, dan ia tidak bodoh untuk menyadari bahwa sebenarnya Liam sangat mencintai Harumi. Sikap dingin yang di perlihatkannya adalah akting yang sangat buruk, karena di dalam hatinya Liam sebenarnya ingin memeluk Harumi saat ia melihatnya di Restoran tersebut.


Karena Liam tahu bahwa dia sangat merindukannya.


Merindukan Harumi.

__ADS_1


***


Kediaman Keluarga Ameera


Pukul 02.11 am


Waktu sudah melewati tengah malam, tapi Anton belum juga kembali sejak ia bertengkar dengan Harumi tadi pagi.


Awalnya Harumi ingin bersikap normal dan tenang, tapi mengingat yang sudah dialaminya semenjak ia tiba di rumah dari Restoran tadi. Pikiran Harumi sudah keruh dan resah dengan banyak dugaan-dugaan buruk tentang Liam dan semua yang di lihatnya saat itu.


Ditambah belum kembalinya Anton ke rumah, Harumi tidak bisa memungkiri tentu saja ia juga sangat mengkhawatirkan suaminya.


Karena Pria itu tidak mengucapkan apapun tentang kepergiannya, tidak mengabari Harumi walau sekedar hanya pesan singkat.


Wanita itu segera mengambil ponselnya di atas nakas, setelah ia keluar dari kamar mandi.


Memanggil nomor Anton, tapi kekecewaan tergambar jelas di wajahnya ketika nomor Anton yang dihubunginya tidak aktif.


Alis Harumi berkerut "kemana dia ?"


Wanita itu duduk di tepi ranjang, bulumatanya merendah, pikirannya benar-benar tidak bisa terkontrol. Benar-benar kacau.


Ia memandangi ponsel yang sedang dalam genggamannya saat ini, siapa lagi yang bisa dihubunginya. Harumi tidak mengenal siapapun bahkan teman-teman dekat suaminya.


Tapi, entah mengapa Harumi merasa malam ini terasa sangat berbeda. Jauh di lubuk hatinya, walaupun Anton sering bersikap menyebalkan padanya, Harumi ingin Anton baik-baik saja.


Walau bagaimanapun Harumi tidak ingin terjadi hal buruk pada suaminya, jika hal itu terjadi dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Yah, hati Harumi memang masih sakit dengan semua yang sudah diucapkan dengan kasar dan perlakuan dingin Pria itu selama pernikahan mereka.


Harumi hanya bisa merasakan kebahagiaan indahnya berumah tangga hanya setahun di awal pernikahan. Setelah itu, semua berubah seketika.


Kemana ?


Kumohon... Kumohon kembalilah, selesaikan ini semua bersama.


Jangan melarikan diri seperti ini


Berulang kali ia mencoba menghubungi nomor Anton, tapi jawabannya tetap sama. Nomornya tidak aktif.


Harumi mengirimi banyak pesan singkat, dan berharap setelah Anton mengaktifkan ponselnya ia akan membaca semua pesan dari Harumi.


Wanita itu berdiri lalu mengambil sweeter berbahan wol dan membaluti tubuhnya, Harumi bergerak menuju balkon di kamar mereka, ia seolah tidak peduli dengan dinginnya malam yang akan menusuk sela-sela bagian tubuhnya.

__ADS_1


Wanita itu berdiri di sana, memandangi langit malam itu yang terasa dingin. Dia melipat kedua tangan membungkus dirinya, dan Harumi bisa merasakan dadanya berdebar dengan sangat kuat.


Ia bisa merasakan hatinya bergejolak dengan hebat, ketika terlintas sosok kedua pria yang sedang mengelilingi pikirannya malam itu. Yang menyebalkan dari pikiran Harumi saat ini, adalah keserakahan yang di rasakannya ketika dalam satu waktu kedua pria itu tergambar jelas didalamnya.


Seraya mengabaikan kerlip kegelisahan yang menyeruak dalam dirinya, Harumi terpaku dan mengedarkan pandang menatap pemandangan halaman rumah tersebut yang terbentang indah di hadapannya, mencari sesuatu, apa saja, yang bisa ia kenali, dan berharap itu adalah Anton tapi semuanya terasa asing.


***


Berjalan sambil terhuyung-huyung seseorang keluar dari dalam lift sambil sesekali ia berpegangan pada dinding-dinding untuk membantu menyeimbangkan tubuhnya.


Pandangannya kabur, dengan napas-napas yang memburu.


Langkahnya yang tidak beraturan membuat nya kesulitan dalam melewati lorong jalan tersebut.


Lalu, ia mengenali sesuatu dan berhenti tepat di depan sebuah pintu apartemen.


Orang itu mengangkat wajahnya dan menyeringai miring sambil mencari tombol bel. Dengan tangan yang lemas ia mengangkat dan menekan bel tersebut.


Berulang kali ia menekan bel, tapi pintu itu belum juga terbuka.


Itu membuatnya mulai emosi, hingga tanpa memperdulikan waktu sudah dini hari dan suasana yang hening, dia mengeluarkan suara yang cukup bising dengan memukul-mukul pintu dengan keras.


"BUKAA!!" teriaknya


Dia tak berhenti dan terus berteriak, bahkan tangannya terus mengetuk pintu itu dengan lebih keras.


Kemudian, tak lama seseorang membukakan pintu tersebut.


Dari balik pintu tampak seorang wanita dengan gaun tidur tipisnya sontak terkejut melihat kedatangan seseorang yang sudah membangunkannya dengan kebisingan yang hampir menyita perhatian di gedung tersebut.


Mata wanita itu terbelalak "What are you doing ? Kau tidak seharusnya berada di sini, Anton apa kau sudah gila !"


Pria itu mengangkat bahu dengan gayanya yang sombong "Apa aku tidak boleh kemari, this is My Apartemant too"


"You Crazy ! apa kau tidak sadar ini sudah jam berapa " ketika wanita itu hendak menutup pintu, dengan cepat Anton menahan tepi pintu dengan kuat.


"Aku berhak kemari kapan pun aku mau, Cathy" ucap Anton menyeringai menatap wanita itu


"Anton, YOU DRUNK !" aroma minuman langsung menyeruak kuat dari Anton yang kini tengah berdiri dihadapan Cathy.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you ❤


__ADS_2