
Luciano menatap cemas "Ini bukan seberapa besar keinginanmu, bukan hanya tentang kalian. Pikirkan baik-baik bagaimana pengaruh hubungan kalian ini di masa depan bagi semua orang di samping kalian. "
Liam tidak merespons. Ia hanya menatap datar pada Elena yang tengah memejamkan mata menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Perasaan yang begitu menyakitkan dirasakan Elena di saat kedua Puteranya harus berada di kondisi seperti ini. Bukan siapa yang harus di bela nya tapi siapa yang harus ia korbankan agar keduanya tidak saling menyakiti.
Ia sangat menyayangi kedua puteranya. Mereka lah hidup Elena, tidak ada lagi yang ingin ia saksikan di dunia ini selain melihat kedua Puteranya saling menyayangi.
"Liam.." dengan suara parau Elena menarik lengan puteranya perlahan "Ibu memang pernah meninggalkanmu, ibu salah dan selama itu juga ibu tidak pernah memaafkan diriku sendiri. Hanya dengan melihat kalian bahagia, itu sudah cukup untuk ku tenang. Anton sudah menjalani kehidupannya dengan banyak kesulitan, sejak kecil ia tidak pernah cukup mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Ibu dan Anton menjalani hidup yang sulit setelah kami pergi. Selama hidupnya, ia menjalani kerasnya kehidupan di kota besar, serba kekurangan, hinaan dan banyaknya penolakan. Sampai hari itu, Anton bertemu dengan Harumi. Itulah pertama kalinya, Anton merasakan hidupnya benar-benar berubah. Harumi memberikan cahaya di dalam kehidupan Anton yang tidak pernah bahagia. Mereka saling mencintai, Harumi adalah bagian berharga bagi hidupnya. He was so happy with her Wife, and her too."
Luciano menyela cepat "Dan bagaimana jika Harumi mengetahui kebenaran ini ? Apakah kau yakin ia akan masih memilih bertahan denganmu ?"
Liam tidak menggubris walaupun ia bisa mendengar dengan sangat jelas. Tapi, ia membalas sentuhan hangat tangan sang ibu. Menatap mata ibunya dalam keheningan, cukup lama. Ekspresi Liam datar dan tidak bisa ditebak. Tidak ada guratan apapun, ia hanya berbicara lewat sorotan matanya.
Napas pria itu bahkan tidak terdengar, ia tampak tenang dan ketegangan justru semakin terasa intens. Di saat reaksi Liam yang seperti itu, auranya benar-benar berbeda.
Berapa lama pun waktu yang sudah mereka lewati tanpa saling bertemu satu sama lain, tapi itu sama sekali tidak menyurutkan perasaan yang saling terhubung antara ibu dan anak tersebut.
Elena bisa merasakan, apa yang sedang bergejolak di dalam hati Puteranya tersebut. Tidak mudah baginya untuk memilih di dalam keadaan seperti ini.
Tidak mudah. Jika harus mengorbankan hal yang paling berharga untuk kebahagiaan orang lain.
...****************...
Harumi menatap jam dinding dengan perasaan cemas, karena waktu sudah melewati tengah malam. Tapi, Liam belum pulang.
Dia biasanya selalu memberi kabar jika akan pulang terlambat. Namun, saat ini bahkan tidak ada satu pesan pun dari Harumi yang dibalas olehnya.
Jantungnya berdegup sangat kencang, wanita itu duduk di tepi ranjang dengan tubuh kaku.
Entah kenapa ia merasa malam ini, perasaannya benar-benar tidak nyaman. Ada hal yang mengganjal di dalam dadanya.
Berulang kali, ia mengecek ponselnya tapi belum juga ada balasan .
Setelah berbicara cukup lama dengan ibunya, Harumi merasakan sesuatu yang besar terus menerus mengusik dirinya.
Sesuatu yang seolah siap menemuinya sebagai bentuk pertanggung jawaban hidup yang tidak mengenal ampun.
Harumi mengerjap beberapa kali untuk menjernihkan pemikirannya.
Dia pun sangat mencemaskan ayahnya, mendengar kondisi ayahnya kini. Harumi tidak sanggup membayangkan betapa kecewanya ia dan pasti sudah menggoreskan luka pada perasaan ayahnya.
Sebenarnya Harumi ingin segera pulang dan menemui keluarganya. Meminta maaf dan memberi penjelasan kepada mereka. Karena ia ingin meluruskan semuanya.
Harumi sempat membaca salah satu media yang memberitakan artikel tersebut yang dikirimkan ibunya, dan ia membaca satu per satu komentar orang-orang tentang berita itu.
__ADS_1
Sangat mengejutkan, begitu mengerikan. Semua hujatan negatif tertuju pada Harumi sebagai wanita pengkhianat, bahkan lebih parahnya ia disebut sebagai Pelacu* kelas Atas. Banyaknya komentar pedas yang menyudutkannya, membuat perasaannya semakin sakit.
Harumi bahkan hanya membaca beberapa komentar dan tidak sanggup melanjutkannya lagi. Itu cukup membuatnya meneteskan airmata.
Orang-orang seperti mereka tidak pernah mengetahui kebenarannya, mudah menjudge kehidupan orang lain. Dengan segala opini yang tidak disertai fakta.
Inilah awal konsekuensi yang harus diterima Harumi dengan pilihan yang sedang dijalaninya sekarang.
Memilih hidupnya seperti sekarang, akan banyak bola panas yang terus menggelinding ke arah mereka.
Sejak awal Harumi dan Liam menyadari hal itu, konsekuensi menjalani hubungan yang tidak direstui bukan perkara yang mudah. Jalan yang mereka ambil salah di mata banyak orang, tapi apakah ini hukuman untuk mencintai seseorang.
Setimpalkah yang harus mereka terima.
...****************...
Ting
Sebuah email masuk, Anton membuka dengan tergesa.
Ia menatap layar ponselnya dengan cermat, memperhatikan setiap detail yang tertera pada email tersebut.
Seutas seringai miring terpantul di wajahnya.
Lalu, tidak lama panggilan masuk muncul pada layar ponselnya.
Anton langsung menjawab antusias.
"Bagaimana dokumen itu ? cukup ?"
Anton tertawa "Bagaimana kau bisa memperoleh semua data-data ini ?"
"Sudah kukatakan, aku merencanakan ini cukup lama. Hanya perlu seseorang untuk menjalankannya agar rencana kita berjalan mulus. Dan tentu saja orang itu adalah Kau."
"Dia benar-benar HARUS hancur, dan tidak sabar untuk MENGHABISINYA."
"Oke, oke. Kau masih harus bersabar, masih beberapa langkah lagi. Pemberitaan selanjutnya akan lebih mengejutkan, serangan itu akan diluncurkan beberapa hari lagi. Untuk rumor awal mungkin mudah bagi Liam untuk menghendle. Tapi, selanjutnya ia akan kewalahan. Karena banyak yang akan ia lindungi selain wanita itu, ia juga harus menghadapi para Dewan Direksi Perusahaan dan Para Pemegang Saham. Menyiksanya dengan perlahan, itu jauh lebih menyenangkan. Daripada membunuhnya dengan cepat"
...****************...
Malam itu, Liam memilih untuk tidak kembali ke rumah mereka.
Ia memilih untuk bermalam di Penthouse.
Berulang kali, ia membaca semua pesan masuk yang dikirimkan Harumi. Tapi, tidak satu pun membalasnya.
__ADS_1
Setelah pertemuannya dengan Elena dan Luciano. Liam bungkam, dan memutuskan meninggalkan mereka lebih dulu.
Luciano berusaha mencegahnya, tapi Liam tetap pada pendiriannya. Ia pergi tanpa jawaban apapun.
Hatinya tidak terbaca sedikit pun, beku dan dingin oleh semua kebenaran malam itu.
Pada keheningan malam yang semakin merambat Pria itu duduk seorang diri di ruang kerjanya, dan tatapan matanya mengarah pada sebuah pajangan miniatur pesawat terbang yang terletak tepat di dalam lemari kaca.
Yah, itu adalah pemberian dari Anthony sewaktu kecil atau yang dia kenal sekarang sebagai Anton. His Brother.
Gejolak yang tidak terhindarkan masih bergerak di dadanya.
Keputusannya untuk memilih bukan hal yang terpenting lagi sekarang, baginya semua tidak akan tampak baik-baik saja apapun keputusannya nanti.
Semua akan berjalan semakin buruk, jika ia tidak melakukan apapun.
Cukup lama, sampai akhirnya pada satu titik. Liam berdiri dan berjalan menuju pintu. Ia segera menghubungi Sekeretaris Will.
"Siapkan mobil"
"Baik, Tuan"
Malam itu, waktu sudah menunjukkan jam 4 dini hari.
Liam tidak akan membiarkan Harumi seorang diri dengan keadaan situasi seperti sekarang.
Ia memilih kembali ke rumah mereka.
Apapun keputusan Harumi nanti setelah mengetahui kebenaran ini. Liam tidak peduli, ia akan tetap mempertahankannya.
Lalu, saat Liam hampir meraih gagang pintu. Ponselnya berdering.
"Ada apa ?"
"Tuan, seseorang melukai Mr. Whiston. "
Mata Liam melebar "Apa maksudmu ? Bukankah kalian kutugaskan untuk berjaga di sana ?!!"
"Kami selalu mengawal dan mengawasi, tapi ternyata ini diluar dugaan kami. Salah seorang pengawal yang mengikuti Mr. Whiston adalah seorang pengkhianat. Ia berhasil melukainya. Kami mencurigai, ini ada hubungannya dengan para penagih uang ganti rugi."
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you
__ADS_1