Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 158 One Way or Another


__ADS_3

Sebuah mobil sport mewah seperti yang dimiliki Liam bukanlah mobil yang mudah didapatkan semua orang selain orang-orang yang memiliki kelebihan uang. Bahkan produksi mobil-mobil mewah seperti itu sangat terbatas di seluruh dunia apalagi dengan harga yang sangat fantastis.


Jadi, mudah sebagian orang untuk mengenali jenis mobil ini karena penggunanya yang bisa dihitung dengan jari.


Makanya, bagi Harumi itu membuatnya tidak asing karena mungkin hanya Liam yang memiliki mobil itu di Bristol mengingat latar belakangnya yang merupakan pria dari keluarga terpandang dan terkaya di sana.


Harumi merasa ada potongan puzzle dalam pikirannya yang masih hilang, ketika ia memandangi foto tersebut. Mencoba mengingat tapi sulit baginya karena semua masih tampak kabur dalam memorinya.


"Rupanya kau sudah bangun" suara serak terdengar dari belakang


Harumi sontak terkejut, dan hampir melepaskan figura itu dari tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan berbalik "Hei..." sapanya dengan mata melotot


Liam berdiri dengan setelan santai di ambang pintu memperhatikan wanitanya sambil memegang segelas kopi.


"Maaf, aku lancang memasuki ruang kerjamu. Karena sejak semalam aku tidak melihatmu." sedikit tidak nyaman. Harumi mencoba menyunggingkan senyum, tapi Liam memberikan ekspresi datar ketika arah matanya melihat figura yang sedang digenggam wanita itu.


Harumi yang menyadari hal itu, jadi salah tingkah "Oh, aku tidak sengaja melihat fotomu. Dan sepertinya aku mengenal lokasi ini. Bukankah ini di Bristol ? Benarkan ?" wanita menghela napas sabar sekaligus lega, setidaknya ia bisa sedikit menghilangkan rasa canggung keduanya.


Harumi menyadari, bukan hak nya memasuki ruang kerja Liam yang ia tahu ini adalah tempat penting yang mungkin banyak berkas-berkas yang berharga dan tidak sembarangan orang bisa masuk kemari tanpa seijinnya.


"Yah, itu di Bristol." jawab Liam santai lalu melangkah sambil menunjuk figura dengan gelas ditangannya.


"foto ini diambil kapan ?" tanyanya


Bodoh. pikirnya. Ini bukan saatnya Harumi bermain-main menjadi Detektif. Liam tidak senang seseorang menginterogasinya.


Harumi menyesal mengeluarkan pertanyaan tidak jelas seperti itu sepagi ini.


"Tiga tahun yang lalu" balas Liam dengan jujur dan singkat


Liam tersenyum miring sambil mengalihkan perhatiannya pada Harumi "Apa ada pertanyaan lagi ?" tantangnya


Harumi tersenyum. Cukup. Wanita itu tidak ingin melanjutkannya karena suasana akan semakin berubah menjadi ruang interogasi jika dilanjutkan, walaupun sebenarnya masih ada satu pertanyaan yang menggantung dalam pikirannya mengenai mobil itu.


Apa mereka pernah saling bertemu saat itu ?


Harumi menggeleng dengan cepat lalu meletakkan kembali figura itu di tempat semula.


Liam masih tidak melepas pandangannya dari Harumi, ia meletakkan gelasnya di atas meja. Lalu, mendekati Harumi.


Pria itu meraih pinggul ramping Harumi dengan lembut lalu menariknya lebih dekat.


Mata Harumi mengerjap, ia sedikit terkejut.


Liam kini sedang memperhatikannya dengan lekat, menyelisik penuh penilaian dengan ekspresi yang sulit diartikan. Yang jelas Liam terkadang tanpa ekspresi namun tatapannya sungguh tidak membuat nyaman Harumi.

__ADS_1


Dingin dan membuat merinding.


Tangannya merayap ke bagian atas tubuh Harumi yang hanya ditutupi setelan gaun tidur berbahan tipis, lalu wajah itu mendekat dan berbisik di telinga Harumi begitu dekat.


Bahkan Harumi bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.


"Aku ingin mendengarmu mengatakannya lagi" perintah Liam


"A-apa?" wanita itu mengangkat wajahnya


Liam menaikkan kedua alisnya dengan tatapan yang seperti berkata Apa aku harus mengulangi pertanyaan itu lagi ?


Mata Harumi melebar dan wajahnya merah padam seketika. Wanita itu mengerti dengan ucapan Liam. Tapi, ia cukup malu untuk mengungkapkannya kembali. Kata-kata yang terakhir kali diucapkannya sewaktu di Lift.


Harumi memejamkan matanya, lalu membukanya kembali. Beberapa detik Harumi hanya memandangi wajah Liam dengan tatapan mereka yang saling mengunci satu sama lain.


Harumi menahan napas "I Love You, Liam"


Ia menahan malu ketika mengucapkannya, Harumi menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dan itu membuat Liam semakin terobsesi, mendengar pengakuan manisnya, tingkah Harumi yang sangat menggemaskan dan keputusannya.


Liam melirik sejenak pada Harumi, kemudian pria itu menurunkan kedua tangan wanita itu "Kau malu ?"


Harumi mengangguk jujur, wajahnya sudah merah padam.


Ia mengangkat dagu Harumi "Aku bahagia, sangat bahagia. Tidak perlu malu"


Keduanya saling berpandangan penuh arti. Liam membelai pipi Harumi dengan lembut. "Aku tidak sabar memilikimu seutuhnya, itu tidak akan lama lagi" ucap Liam setengah bergumam.


"Bukankah aku sudah disini ?" jujur Harumi


Liam tersenyum tipis "Belum sepenuhnya."


Harumi menunduk dengan wajah merah. Ia mengerti dengan perkataan terakhir Liam.


Liam semakin melebarkan senyumnya. Karena yang terpenting sekarang adalah hati Harumi sudah menjadi miliknya, perasaan itu jelas adanya.


Harumi sedikit melebarkan matanya saat tiba-tiba Liam mencium keningnya.


Wanita itu menatap Liam yang tengah mencium keningnya dengan lembut.


Harumi hanyut dalam sentuhan pria itu. Suasana begitu hening hanya terasa detakan jantung mereka yang saling bersahutan menghilangkan rasa canggung diantara mereka berubah menjadi sebuah keintiman yang intens.


Harumi memejamkan matanya ketika Liam mencium bibirnya. Harumi membalas ciuman Liam dan mencengkeram pipi pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.


Setelah ciuman yang cukup panjang dan menggebu, Liam mengangkat tubuh Harumi, menggendongnya ala bridal menuju sofa besar di Ruangan itu.

__ADS_1


Liam menurunkan Harumi di sofa berbahan kulit tersebut dengan perlahan. Harumi menggigit bibir bawahnya gugup saat Liam mulai membuka tali kimono tidur yang wanita itu kenakan.


Harumi menahan napas dengan jantung berdebar kencang ketika melihat mata Liam yang tidak lepas sedikitpun darinya.


Liam melepaskan setelan baju santainya dihadapan Harumi, dan itu bukan pertama kalinya ia melihat tubuh Liam tanpa pakaian. Pria itu memiliki tubuh yang sangat seksi seperti pahatan, sangat maskulin dengan otot dan perut kotak-kotaknya.


Ya, Tuhan...


Harumi menelan salivanya saat ia merasakan tubuhnya gemetar dan memanas.


"Gugup ?" celetuk Liam dengan tersenyum miring.


Harumi langsung membuang muka dengan wajah terasa sangat panas menahan malu.


"hei..." Liam meraih pipi Harumi agar menghadapnya. "Look at me" titahnya.


Wanita itu menurut dan menatapnya. Liam menyorotnya lekat, membuat Harumi makin gugup "Aku tidak akan melanjutkannya tanpa seijinmu." ucap pria itu tegas.


Lalu, Liam meraih tangan Harumi dan meletakkan didadanya. "Its me"


Harumi mematung, Ia hanya diam dengan perasaan yang bercampur aduk.


Harumi bisa merasakan bagaimana debaran itu nyata adanya, itu bukan rekayasa. Semua alamiah terjadi dan Harumi juga merasakan hal yang sama.


Harumi memeluk tubuh besar Liam sebagai reaksinya.


Liam membalas dengan meraih pipi Harumi agar sedikit menunduk dan menciumnya dengan lembut.


***


"Satu hal yang ingin kuketahui !!" balas Cathy keras.


Wanita itu memandangi Anton yang sedang mengenakan jasnya dengan wajah geram.


Anton tidak memperdulikan apapun yang diucapkan Cathy sekarang. Itu TIDAK PENTING baginya.


Ketika akan menuju pintu, Cathy tegas dengan lantang "Aku bertanya satu hal padamu. APA YANG SEDANG KAU PERJUANGKAN SEKARANG ?!!!"


Langkah pria itu terhenti tapi ia masih membelakangi Cathy.


"Pekerjaan, Karier, Harga dirimu atau Your Wife ? Apa yang sebenarnya sedang kau perjuangkan, Anton ? Jika kau ingin mencari istrimu di sana kau tidak akan menemukannya, itu hanya hal yang sia-sia. Kau sadar, kau sudah kehilangan Harumi jauh sebelum ini terjadi. Seharusnya kau sadari itu lebih cepat. Karena yang sedang kau hadapi sekarang bukan hanya Harumi dan Liam. Tapi, DIRIMU SENDIRI"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you ❤


__ADS_2