Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 53 Mengawali Diri


__ADS_3

“Ibu tak mempermasalahkanmu pergi ke sana, ibu harap kau bisa menjaga diri. Kami sangat menyayangimu” pesan ibu seraya duduk bersampingan dengan Harumi di Ruang Makan. Sudah ada dua cangkir teh hijau yang disediakan ibu di atas meja.


Raut wajah ibu tenang, karena ia sangat mempercayai semua keputusan Harumi. Memegang lembut tangan Harumi dengan kedua tangannya, ada kehangatan yang selalu dirindukan Harumi.


Ibu tak hanya sosok orang tua tapi ia bisa menjadi sahabat yang sangat pengertian bagi Harumi.


Ia mengusap pelan kepala putri sulungnya tersebut, menyeka rambut panjang yang kini tergerai indah milik anaknya dengan penuh kasih sayang.


“Anakku, tak ada masalah apapun yang tidak ada jalan keluarnya. Jangan menghindar terus menerus, harus kau hadapi dengan semua kemampuanmu. Ibu tidak akan berubah, tetap akan selalu mendukungmu.” Tatapan mata ibu seolah memahami apa yang dihadapi Putrinya.


Mata Harumi langsung berkaca, dan memeluk erat sang ibu. Begitu halnya, Ibu Nami yang menyambut pelukan sang anak.


Pemandangan sore itu sangat mengharukan karena kedua wanita yang merupakan ibu dan anak tersebut tak banyak bicara dan tak banyak kata-kata di lontarkan keduanya. Tapi ketika hati sudah saling terpaut, tak perlu beribu bahkan berjuta kata untuk diucapkan karena kasih sayang mereka lah bentuk Cinta yang sebenarnya.


Ibu terus mengusap pundak Harumi “Rumi anakku, jangan menyerah karena bagaimana pun akhirnya nanti, Kau tetap Putriku. Putri yang kulahirkan dan kubesarkan sepenuh hati dan jiwaku. Karena bagiku Harumi wanita paling Tangguh.”


Airmata itu akhirnnya mewarnai wajah Harumi kembali, ditahan-tahannya di pelupuk mata tapi ia keluarkan seluruhnya di bahu sang Ibu. Ia menutup erat kedua matanya, bulumata panjangnya kini basah dan lembab.


Perlahan-lahan ibu melepaskan pelukan Harumi memegang bahunya, ia memandangi wajah putrinya yang tertunduk menyembunyikan tangisannya.


“Biar ibu yang akan bicara dengan ayahmu, karena kau tau wataknya kan. Pergilah bersenang-senang, jangan terlalu memikirkan semua orang di sini. Selama di sana, manjakan dirimu, pergi berbelanja, dan bebebaskan semuanya. Bersantai-santailah di sana.” Ibu mendaratkan senyuman di wajahnya, menyapu airmata di pipi Harumi dengan ibu jarinya.


Harumi mengangkat wajah membalas senyuman sang ibu “Iya Ibu, aku sungguh sangat menyayangimu” Ia memeluk ibunya kembali, kali ini dengan senyuman lepas, merangkulnya lebih erat. Aroma ibu yang selalu memberi Harumi kedamaian.


***


Hari Keberangkatan


Pukul 12.16 pm


Di kamar tidurnya Harumi tengah fokus merapikan beberapa pakaiannya ke dalam koper, sebagian pakaiannya sudah ia ambil dari rumahnya untuk tambahan selama di sana. Neva juga tak kalah sibuk membantunya, hal-hal kecil seperti kosmetik, alat mandi milik Harumi sudah ia masukkan ke dalam Travel Bag dengan rapi.


“aku pasti akan merindukan Nona” sahut Neva di sela ia memasukkan barang-barang milik Harumi

__ADS_1


“Jangan lupa kau harus selalu menghubungiku selama aku di sana, Ok”


“Oh ya Nona Harumi, Apa Tuan Liam sudah mengetahui keberangkatan Nona ?” Tanya Neva dengan sangat hati-hati


Tetiba tangan Harumi terhenti sangat ingin memasukkan salah satu baju tidurnya ke dalam koper setelah mendengar pertanyaan tersebut. Matanya sempat berpaling ke arah lain, dalam pikiran dan hatinya, Harumi sangat ingin memberi tahu Liam tetapi selalu diurungkannya. Karena baginya sangat tak memungkinkan bertemu Liam di saat kondisinya seperti sekarang, walaupun sebenarnya ia sangat merindukan Pria usil yang selalu menggodanya setiap hari.


Harumi cukup menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu ia melanjutkan aktivitasnya kembali.


Neva tak berkomentar apapun karena merasa ia tak memiliki hak untuk ikut campur urusan majikannya lebih dalam.


Setelah kurang lebih 30menit mereka menyelesaikan packing, Harumi bergegas mempersiapkan diri menuju kamar mandi, karena waktu penerbangannya sekitar empat jam lagi.


Koper dan satu Travel bag berwarna coklat milik Harumi sudah siap di ambang pintu kamarnya. Neva berada di bawah menemui Taylor untuk menyampaikan pesan dari Harumi.


“Taylor, ada pesan dari Nona Harumi ia akan pulang naik Taksi. Jadi kau tak perlu mengantarnya. Sebentar lagi ia akan turun” ucap Pelayan muda tersebut.


“Pulang ?” Tanya Taylor yang berbincang dengan Neva di Taman belakang.


Saat Harumi sedang Mandi, ponsel yang diletakkannya di Nakas, bergetar tanpa suara. Ternyata sebuah panggilan masuk dari Liam, karena Harumi tak kunjung mengangkat panggilannya ia terus menghubungi.


Tapi ketika Harumi keluar dari kamar mandi dengan kimono mandinya, secara bersamaan getaran ponselnya itu berhenti.


Harumi mengenakan pakaian lebih simple, T shirt putih oversize, jeans slim fit memperlihatkan lekuk kaki indahnya lalu mengenakan mantel kulit. Tak lupa Sneakers putih andalan, dan rambutnya di tata tergerai bebas ke bawah memperlihatkan gelombang nya yang cantik.


Tak ada waktu lagi memeriksa ponselnya, langsung mengambil di atas nakas, memasukkan ke dalam tas bersama dengan dompet, passport dan tiket yang sudah di persiapkannya.


Raut wajahnya tampak lebih santai karena ia ingin perjalanannya ini berjalan dengan tenang dan lancar sampai ia kembali lagi ke sini. Selama ia bepergian, Nami Florist tetap buka dan akan di handle oleh Beatrix dan ibunya sementara waktu. Walaupun Harumi harus tetap terus memonitor dari New York.


Sebelum menuju ambang pintu kamar, ia menoleh sejenak menatap keseluruhan sudut kamar tidur yang sudah di tempatinya selama beberapa hari ini. Masih teringat dengan jelas malam pertama ia bermalam di kamar tidur tersebut dengan kejutan-kejutan gila yang telah di sediakan Liam untuknya.


Tetiba Seorang pelayan pria berseragam mengejutkan Harumi dari balik pintu yang terbuka sedikit, ingin membantu Harumi membawa koper dan tas lainnya menuju keluar.


Harumi tersenyum lalu berjalan keluar kamar, menutup pintunya dengan pelan. Pemandangan indah kamar tidur mewah beserta Dressing roomnya yang super canggih tersebut mungkin akan dirindukan Harumi nantinya.

__ADS_1


Taylor menyambut di pintu keluar Mansion, beserta para pelayan yang berdiri merendahkan pandangan mereka dan memberi hormat kepada majikannya. Harumi berjalan dari kejauhan melihat mereka dengan rasa terharu karena akan berpisah dengan para pelayan yang sudah mulai dekat selama ia disini.


“Terimakasih semua, Terimakasih sudah membantuku selama ini. Mohon maaf jika ada kesalahan yang kulakukan pada kalian.” Pamit Harumi semakin menambah haru suasana saat itu.


“Jaga kesehatan selalu Nona, semoga kita bisa bertemu kembali. Nona harus sering-sering ke sini” sahut salah satu pelayan wanita yang berdiri dihadapannya.


Bibir indah Harumi melengkung, bahagia bercampur sedih bisa bertemu dan mengenal mereka dengan baik sampai sekarang.


Kaki nya mulai melangkah melewati ambang pintu, pandangan Harumi pun tak luput dari sosok pria tinggi besar yang selalu kaku, displin, dan pastinya selalu setia membantu Harumi. Ia berdiri tepat dihadapannya. Taylor selalu berpakaian rapi dengan seragam jas hitam dan tentu saja dengan kacamata hitamnya.


“Sampai jumpa Taylor, Terimakasih atas semua bantuanmu selama ini”


Awalnya Taylor hanya diam, bibirnya tertutup rapat.


“Taylor….” Panggil Harumi


“Maaf Nona, bagaimana jika Tuan bertanya perihal anda ?”


“katakan padanya aku pulang ke rumah, karena sudah cukup aku merepotkan kalian selama di sini. Jadi saatnya aku pulang.”


Tak ada jawaban lagi dari Taylor, ia tetap berdiri sigap dengan postur tubuh kekarnya.


Neva berjalan mendekati Harumi, mendampinginya mengantarkan sampai menuju taksi yang sudah menunggu sedari tadi.


Saat akan masuk ke dalam, Harumi menepuk bahu Neva dan memeluknya “Terimakasih Adikku, jaga kesehatan ya” Harumi melepaskan pelukannya lalu bergegas masuk ke dalam.


Koper dan tas lainnya sudah dimasukkan pelayan pria ke dalam bagasi. Setelah pintu taksi di tutup, pandangan Harumi tak lepas dari balik jendela mobil di kursi penumpang. Bahkan saat rodanya mulai berputar dan jalan, Harumi tersenyum dan melambaikan tangan kepada Neva, begitu juga sebaliknya.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you❤

__ADS_1


__ADS_2