Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 37 Jangan Berbohong


__ADS_3

Mood Anton mulai berubah, ia tidak senang dengan pertanyaan itu. Matanya membalas tatapan Harumi, ia mengerti arah pembicaraan ini.


"Sejak kemarin kau bertanya hal yang sama, maka jawabanku sudah pasti sama" jawab singkatnya. Ia mengalihkan pandangannya, seolah Anton tak ingin memperpanjang pertanyaan ini lagi.


Harumi menyeringai sinis, ia benci jawaban santai Anton.


Bibir Harumi sudah mulai terbuka, lalu di urungkannya lagi. Permasalahan tentang Berkas itu sudah diujung lidahnya, ia ingin mencerca banyak pertanyaan kepada suaminya.


Tapi pandangan Harumi pun teralihkan menatap ke sekelilingnya, ia sadar ini bukan tempat yang cocok untuk membahasnya.


Ia tidak ingin menimbulkan perdebatan yang akan menjadi pusat perhatian orang banyak di tempat ini.


Harumi menahan emosinya, perasaan yang berkecamuk memuncak pun di tahannya dengan kuat.


Pilihan paling Bijak adalah mulai mengalihkan pembicaraan ini untuk sementara.


Saat ingin membicarakan hal lain, Pelayan datang membuyarkan suasana canggung keduanya.


Harumi kembali menghela nafas sesaat, ia berusaha menenangkan dirinya yang tegang.


Anton tersenyum paksa, mencairkan suasana.


Selesai pelayan meletakkan makanan pesanan Anton di atas meja, lalu pelayan membuka tutup botol Wine dan menuangkan di gelas keduanya bergantian.


"Silakan Tuan Dan Nyonya, Selamat Menikmati" sapa ramah pelayan tersebut kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Aroma Makanan yang sangat lezat mulai merasuk ke indera penciuman Harumi dan Anton.


"sebaiknya kita makan dulu" Anton tidak sabar langsung mengambil pisau dan garpu di samping piringnya, ia mengambil sepotong Daging asap yang sangat lezat dimasak medium bisa tercium dari aromanya.


Ekspresi Harumi datar, ia belum menyentuh makanan apapun di atas meja. Harumi hanya tertarik meraih gelas sudah berisi white wine yang dituangkan Pelayan tadi.


Ia meneguk sedikit demi sedikit masuk ke tenggorokannya, meletakkan kembali gelas tersebut.


Ia memandangi suaminya makan dengan lahap, bahkan Anton tak sadar Harumi memperhatikannya.


Mata Harumi menyipit melihat cara makan Anton sangat mirip dengan seseorang. Ia mencoba mengingatnya, ternyata memang benar cara makan Anton mengingatkannya dengan Liam. Ketika Liam makan malam sangat lahap di rumah Harumi waktu itu.


Padahal Harumi dan Anton sejak pacaran sampai menikah sudah sering sekali makan bersama. Tapi baru ini Harumi benar-benar memperhatikan Anton makan dengan lahapnya, memang Liam dan Anton terkadang sepintas memiliki kesamaan.


"Kenapa tidak makan ?" tanya Anton sambil memotong Steik yang dihadapannya sekarang. Ia menoleh ke Harumi hanya melamun dan meminum Wine saja. Sedangkan Anton sedang melahap makanan kedua di piringnya.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar kecil dulu" sahut Harumi


Harumi berdiri, meletakkan serbet dipangkuannya ke atas meja dan mengambil tas tangan miliknya. Ia berjalan perlahan menuju kamar kecil.


Saat menuju ke sana, handphone Harumi bergetar. Ia dapat merasakan dari dalam tas tangan miliknya.


Ia mempercepat langkahnya, sesampainya di kamar kecil. Ia meraih handphone di dalam tasnya, matanya terbelalak menatap ke layar ternyata itu panggilan masuk dari Liam.


Perasaannya berdebar, Harumi tak menyangka Liam menghubunginya jam segini. Perbedaan waktu yang cukup jauh antara Bristol dan California bisa dipastikan seharusnya Liam masih tidur sekarang.


Harumi merasa tak nyaman menjawab panggilan Liam, karena ia dan Anton sedang makan malam bersama.


Posisi Harumi yang diam-diam saling berkomunikasi dengan Liam seperti ini, sangat tidak pantas menurut pemikiran Harumi.


Ia meletakkan handphonenya yang masih bergetar di tepi wastafel, Harumi tidak ingin mengangkatnya. Ia membuka keran dan mencuci tangan walaupun matanya masih melirik ke layar handphonenya. Ia menatap dirinya di cermin yang berukiran emas di kamar kecil Restaurant tersebut.


Liam masih terus menghubunginya tak henti. Akhirnya Harumi pun menjawabnya.


"Hallo" jawabnya sangat hati-hati


"Di mana kau sekarang ?" tanya Liam tegas. Suara serak nya mendengung di telinga Harumi.


"Di mana ?"


"Liam... aku sedang menuju pulang"


Harumi terpaksa berbohong, karena ia tau reaksi Liam jika ia mengatakan yang sebenarnya.


Liam pasti akan cemburu buta bila mengetahui Harumi dan Anton sedang makan malam bersama. Sifat cemburu berlebihannya akan membuat ia bisa bertindak gila.


"Jangan berbohong, sayang !!" ketus Liam


Harumi menahan nafasnya sesaat, menutup kedua matanya. Pikirannya bekerja mencari-cari alasan agar Liam tidak mencurigainya.


Jantungnya mulai merasakan debaran itu lagi, ia menyentuh perlahan debaran jantung itu. Perasaan apa ini sebenarnya ? pertanyaan yang selalu bergelayut di pikiran Harumi baru-baru ini.


Perasaan asing yang sering timbul di saat ia semakin dekat dengan Liam.


"Kenapa aku harus berbohong ?"


"Aku tidak suka kau menyembunyikan sesuatu dariku"

__ADS_1


"Tidak ada Liam, aku dalam perjalanan pulang"


"Dengar!! aku sudah cukup gila berjauhan dengan mu seperti ini, jadi jangan menutupi apapun dariku" ancam Liam


Harumi hanya bisa terdiam mendengar perkataannya, kini dalam pernikahannya dengan Anton telah hadir Liam yang perlahan lahan mulai membuat Harumi semakin bimbang.


Tidak seharusnya Harumi larut dalam permainan ini, ia berusaha menjauh dan menghindar dari Liam. Tapi keadaan justru semakin menariknya ke dalam arus hubungan terlarang ini.


"Liam...ku mohon hentikan hubungan kita yang seperti ini. Aku tidak bisa lagi berkomunikasi terlalu intens denganmu, pernikahanku memang sedang menghadapi masalah. Tapi bukan begini caranya aku harus menyelesaikan masalahku sendiri dengan Anton"


"cukup! Aku tidak peduli dengan pernikahanmu, apalagi Lelaki itu. Selama aku menginginkan apapun itu, pasti akan kudapatkan bagaimanapun caranya. Akan kuhancurkan orang-orang yang menghalangi keinginanku"


Jawaban Liam semakin mengerikan bagi Harumi, ia tidak mengerti kenapa Liam sangat terobsesi dengannya. Banyak wanita cantik dalam kehidupan Liam, kenapa harus memilih Harumi.


Itulah pertanyaan yang selalu menghantui pikiran Harumi. Sosok Pria Sesempurna Liam, pasti tidak akan sulit menemukan Wanita yang akan mendampinginya, bahkan pasti banyak yang rela mengantri untuknya.


"hmmm...kenapa aku, Liam ? kenapa kau seperti ini padaku ?" tanya Harumi dengan lembut, ia ingin menenangkan hati Liam yang sedang gelisah. Harumi sangat mengerti bahwa pria ini sedang mencemaskannya, bahkan tidak tidur demi ingin mendengar suara Harumi.


"karena aku tidak perlu alasan untuk mencintai mu"


Bagaikan desiran ombak yang menyapu lautan, bisa dirasakan di sekujur tubuh Harumi. Jawaban Liam semakin membuat debaran dalam diri Harumi Kian Kuat.


"Jangan seperti ini, aku mohon...aku mohon...


sudah hentikan...aku tidak mau menjadikanmu sebagai pelarian. Ku mohon cukup Liam, hentikan perasaan itu jangan sampai terlalu dalam"


Harumi merasakan jantungnya semakin berdetak kencang, debaran aneh tu semakin kuat. Ia tau bahwa setiap perkataan yang keluar dari bibir Harumi tak sesuai dengan hatinya.


Perasaan itu memang ada, perasaan terdalam itu memang benar adanya saat ini ingin rasanya Harumi berlari kencang menuju ke pelukan Liam.


Seandainya jarak ini tak memisahkan mereka, ingin rasanya Ia bertemu Liam dan menghabiskan malam ini bersamanya.


Perasaan berbahaya itu, tidak ingin Harumi biarkan semakin menariknya terlalu dalam.


"Tapi bagaimana dengan perasaanmu ? semua perkataanmu tadi hanya dusta, tidak mungkin kau tidak ada perasaan itu, seandainya jarak sia**n ini tidak ada, aku pasti sudah memelukmu dan melahapmu malam ini dalam dekapanku.." ucap Liam penuh keyakinan.


#jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2