
"10hari tidak lama, bukan sebulan. Tapi kuserahkan padamu, jika tidak boleh. Its Ok, aku akan menurutimu" ucap tegas dari bibir Harumi.
Ia menyandarkan bahunya di kursi, menyilangkan kedua tangan di dadanya. Seolah menunggu kepastian dari keputusan suaminya.
Harumi membantin sambil menatap mata Anton "di rumah ataupun di New York sama saja, kau juga akan tetap sibuk dengan urusan pekerjaanmu. Aku bahkan sudah terbiasa seorang diri."
Anton masih tak membuka bibirnya, ia masih fokus memikirkan keputusan yang akan diambilnya.
Ia mengusap menyapu rambutnya ke belakang, mengatur kembali posisi duduknya. Menundukkan pandangannya. Seakan ini keputusan paling sulit dibandingkan Proyek Milyaran yang selalu dihadapinya.
Kepala Anton terangkat, ekspresinya datar. Sorot matanya tampak biasa, tidak ada tekanan sama sekali. Ia sudah yakin dengan apapun yang akan diputuskannya. Tidak menuruti keinginan ibunya atau berpisah selama 10hari dari Harumi.
"Baiklah kau boleh pergi" Nada bicara Anton berubah, berbeda sekali dengan sebelumnya, lebih rendah tak meninggi. Tadi ia terlihat gelisah dan sangat gusar saat memikirkan jawaban kepada Harumi.
Kening Harumi berkerut, matanya menyipit ia cukup kaget dengan kalimat yang dilontarkan Anton.
"Kau yakin ?" balas Harumi, tubuh yang awalnya bersandar di kursi kini condong ke depan. Tatapan Harumi tak lepas sedikitpun kepada suaminya.
Anton tersenyum santai, bahkan lebih lepas dari sebelumnya. Giginya yang putih dan rapi nampak sangat menawan saat ia mendaratkan senyuman.
"Kau ingin aku berubah pikiran ?"
"Ok, tapi kalau kau mau, nanti bisa menyusul kami di sana"
"Anggap saja ini liburan kecilmu, Hadiah Valentine dariku. Kau bisa refreshing selama di sana, tidak usah khawatir soal biaya. Mama dan istriku yang manis ini tidak akan kekurangan apapun"
Lalu Anton menuangkan Wine dari botol ke gelasnya dan milik Harumi lalu meminumnya walaupun ia tetap memandang Wajah Harumi dari tepi gelas.
"Manis ? sekujur tubuhku langsung merinding seperti di siram segalon Air Es. Gombalanmu tidak menarik sama sekali"
"Kau memang...Manis Istriku" Goda Anton , bibirnya melengkung menikmati Reaksi menggemaskan istrinya.
"Sudah cukup, kau kira aku senang di puji. Sebaiknya kita pulang. Aku mau tidur"
Harumi mengambil tas yang diletakkannya di kursi samping. Saat akan berdiri, tangan Harumi dicengkram Anton. Harumi terkejut, ia berbalik melihat sorot tajam kedua mata suaminya.
Kedua pasang mata itu saling bertemu, Anton sama sekali tak bergeming ia masih menggenggam tangan lembut Harumi.
__ADS_1
"Pesta kita belum berakhir sampai di sini, aku akan membawamu ketempat lain"
"Maksudmu ?"
"Ikuti saja"
"Anton aku sudah sangat lelah, tubuhku sudah tak sanggup berpesta. Aku juga belum mandi, aku hanya mengenakan pakaian ini seharian"
"Tenanglah, aku jamin kau akan menikmatinya"
Anton pun berdiri, ia masih menggenggam tangan Harumi. Lalu menariknya mengikuti langkah kakinya meninggalkan meja mereka.
Harumi tak melawan atau berontak, ia mengiringi sikap manis suaminya, walaupun agak canggung bagi nya. Aneh dan Tak wajar hanya itu yang bergelayut di pandangan Harumi melihat tangannya dalam genggaman tangan besar suaminya.
Harumi makin keheranan dengan sikap suaminya hari ini, padahal beberapa hari lalu mereka bertengkar. Jarang berkomunikasi bahkan di rumah sekalipun mereka hanya bicara seperlunya.
Sejak 3 tahun lalu Sikap Anton memang berubah tepatnya setelah kejadian Naas yang terjadi pada Harumi , lebih dingin dan moodnya yang sering berubah-ubah.
Apalagi sejak acara Ulang Tahun Ben, ketidak hadirannya, sikap tidak peduli dengan keluarga, bahkan menganggap keluarga Harumi seperti orang lain, dan puncaknya adalah Dokumen Rahasia itu.
Yeap benar sekali, pikiran Harumi terbesit kembali tentang masalah Berkas kelahiran itu.
Harumi bingung harus merasa senang atau canggung dengan sikap suaminya saat ini, yang pasti ini sebenarnya wajar sebagai pasangan suami istri.
Tapi tidak untuk Harumi dan Anton. Anton yang bisa bersikap sangat manis kepada Istrinya tapi bisa dengan mudah pula menjadi sangat dingin dan tak bisa di tebak.
Yang bisa di lakukan Harumi sekarang hanya mengikuti langkah kaki Anton, kemana ia akan membawanya malam ini.
***
California, 6.38 am
*Tok
Tok
Tok*
__ADS_1
Pria paruh baya dengan setelan jas Hitam sangat rapi dan tampilan rambut sangat berkilat sudah berdiri dan mengetuk pintu kamar berukiran klasik berwarna emas itu.
Pagi-pagi sekali Sekretaris Will sudah bersiap diri mulai membangunkan Atasannya. Tidak biasanya Liam belum bangun, karena setiap hari Liam sebelum jam 7 pagi sudah siap di meja Makan untuk sarapan.
Berkali-kali Sekretaris Will mengetuk, tapi tak kunjung Juga Liam membuka pintu kamarnya.
"Maaf Tuan Liam, anda baik-baik saja ?" ucap Pak Will mencondongkan tubuhnya berbicara dengan nada nyaring sangat dekat dengan daun pintu.
Tak disangka, baru Pak Will ingin membuka bibirnya untuk memanggil lagi. Ia di kejutkan dengan bergesernya pintu hingga hampir membuatnya terjatuh.
"Aku baik-baik saja" balas Liam dengan datar yang sekarang tengah berdiri di hadapan Pak Will dari balik Pintu yang sudah dia geser.
"Maaf Tuan, saya hanya khawatir" Sekretaris Will langsung memberi hormat kepada Atasannya.
Liam sudah bangun sedari tadi, lebih tepatnya ia tidak tidur nyenyak se malaman.
Yang ada dipikirannya hanya menunggu kabar Harumi.
Liam selalu tampak menawan ketika akan pergi ke kantornya, tampilannya sangat Rapi ia hanya menggunakan dua warna setelan jas saja yaitu Hitam atau abu-abu.
Tapi hari ini ia sangat tampan dan lebih mempesona dengan setelan jas serba hitam. Postur tubuh Liam tinggi sehingga setiap potongan jas yang dikenakannya selalu sesuai dengan ukurannya. Apalagi di bagian lengan kekarnya yang terlihat jelas dari jasnya yang press tampak keras dan kuat.
Liam sangat Hobby berolahraga, ia selalu menyempatkan setiap hari untuk Gym di tempat pribadinya dan sesekali joging.
Rahang Liam yang tegas dan ada lengkungan kecil di kedua pipinya jika ia tersenyum selalu jadi sisi lain menambah pesona tampan nya. Tak heran banyak wanita cantik rela berkelahi dan saling merebutkan untuk menjadi pendampingnya.
"Pak Will, Ke ruang kerja ku sebentar" Liam berjalan mendahului Sekretarisnya. Terlihat dari belakang punggung Liam yang bidang tampak tegang.
Sekretaris Will mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti langkah kaki Liam yang semakin cepat.
"Apa jadwal hari ini ?" tanya Liam sudah duduk di Meja kerjanya. Tangannya memain-mainkan bolpoint di atas meja dengan pandangan serius mendengarkan jawaban Sekretarisnya.
"Oh ya selain itu, bulan depan Tuan Liam akan ke New York, ada beberapa kunjungan dan Undangan menghadiri Acara Pesta Amal yang diadakan setiap tahunnya oleh seluruh kalangan Pengusaha, Entertainment, dan Para Pejabat Pemerintahan" lapor Sekretaris Will dengan tegas
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank You ❤