
Dia berdiri menatap Harumi dengan perasaan yang bercampur aduk karena sesuatu yang awalnya hanya ia anggap sebagai omong kosong ternyata Benar. Apa yang dikatakan oleh Luciano adalah kenyataan yang sebenarnya.
Elena berusaha menghilangkan kegusaran di dalam dirinya.
Tidak mudah bagi Wanita itu menerima kenyataan bahwa sang Menantu yang sangat di sayanginya memiliki hubungan terlarang dengan Pria lain.
Dan Pria lain itu adalah orang yang sangat dikenal Elena. Yah, Puteranya sendiri, yang juga merupakan adik dari Anton.
Untuk beberapa detik, Elena tidak bergerak. Lalu akhirnya ia berbalik dan bersembunyi dibalik dinding.
Wanita paruh baya itu menyandarkan tubuhnya pada dinding, wajahnya tampak sangat shock dan memilih menutup mulutnya. Deru napasnya memburu, ekspresinya pucat dengan dada yang bergerak naik turun ketika paru-parunya menarik napas.
Sempat terlintas dalam benak Elena, apakah ini bentuk dari hukuman Tuhan yang harus diterimanya karena perbuatannya di masa lalu.
Menyaksikan kedua Puteranya berselisih dan akan berakhir dengan Penderitaan.
Malam itu menjadi hembusan panas bak awan hitam yang mengelilingi Elena. Wanita itu hampir menitikkan air matanya, dadanya perih.
Tapi, ia harus bangkit pikirnya. Elena tidak akan membiarkan kedua Puteranya akan berakhir dengan Perselisihan dan saling Menyakiti satu sama lain. Hanya karena urusan Wanita.
Wanita itu memutuskan kembali ke kamar tidur cucunya dengan perasaan yang tidak bisa dikatakan sebagai perasaan yang tenang. Kegelisahan mewarnai wajahnya dengan sangat jelas.
Sedangkan Harumi yang masih berada di Ruang tengah. Mulai merapikan kembali bingkisan tersebut dengan hati-hati setelah ia selesai berbicara dengan Liam lewat telepon.
Dengan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara bising, Harumi melangkah menuju kamar tidurnya sambil membawa kotak bingkisan tersebut.
Kedua sorot matanya sangat terjaga melihat ke sisi kiri kanan untuk memastikan tidak ada seorang pun di rumah itu yang memperhatikannya, sebelum ia meraih gagang pintu kamar tidurnya. Harumi menarik napas dalam-dalam, ia cemas jika nanti akan bertemu Anton.
Saat ia mendorong pintu dengan pelan, sebagian kepala nya masuk lebih dulu untuk memastikan jika Anton tidak berada di kamar.
Kedua matanya memindai setiap sisi ruang tidurnya, dan syukurlah Anton benar-benar tidak berada di kamar.
Tapi, Harumi bisa mendengar suara air pancuran yang menyala di kamar mandi. Wanita itu yakin Itu pasti Anton.
Yah, tentu saja ini kesempatannya untuk segera menyembunyikan Kotak tersebut.
Tanpa berpikir panjang lebar, Harumi bergegas masuk ke kamar dan ia sedikit berlari menuju Dressing Room.
Wanita itu langsung meletakkannya di dalam lemari di bagian daerah yang tersembunyi.
Akhirnya Harumi bisa bernapas lega, dan ketegangan mulai memudar di wajahnya.
__ADS_1
Walaupun ia tahu, Alana dan Mertuanya sudah mengetahui tentang keberadaan bingkisan kado ini. Tapi, Harumi sudah menyiapkan alasan yang masuk akal untuk memberi jawaban jika mereka mengajukan pertanyaan.
Memang semenjak pertengkarannya dengan Anton terakhir kali, Harumi tidak lagi bertegur sapa secara intens dengan suaminya.
Mereka berbicara hanya sekedar nya saat dihadapan orang lain, agar menghindari kecurigaan. Namun jika mereka sudah berada di kamar tidur. Mereka bagaikan orang asing yang bahkan untuk saling menatap satu sama lain pun tidak ada.
Bahkan kini mereka memilih tidur secara terpisah, karena permintaan Harumi.
Anton sudah beberapa malam ini tidur di sofa, dan Harumi di tempat tidur.
Walaupun dengan sangat terpaksa, Anton menyetujuinya. Mungkin dengan memberi waktu untuk mereka saling introspeksi diri mungkin mereka akan lebih tenang nantinya.
But Its Impossible bagi Harumi, hubungan mereka tidak akan terasa sama lagi.
Harumi jenuh, ia merasa sudah cukup kacau menghadapi Dilema Hidupnya. Apalagi menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya selama ini sudah membohongi bahkan menyembunyikan Anak yang merupakan darah daging dari Anton.
Mereka sepakat untuk tidak saling mengganggu Privasi masing-masing, walaupun terkadang Anton masih saja terus mengajaknya berdebat.
Beberapa saat kemudian Harumi keluar dari Dressing room, dan tidak sengaja di saat yang bersamaan Anton juga keluar dari Kamar Mandi sambil mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.
Rambut Pria itu tampak basah setelah keramas, ia mengusapnya dengan handuk kecil.
Harumi tersentak, melihat Anton yang kini berdiri dihadapannya setengah telanjang.
Kedua pasang mata itu saling bertemu dan waktu terasa berhenti seketika.
Mata Harumi terbelalak, lalu ia dengan cepat memalingkan wajahnya. Wanita itu berjalan dengan langkah cepat melewati suaminya.
"Rumi.." tegur Anton dan entah kenapa suara nya terdengar sangat lembut saat itu
Awalnya wanita itu tidak ingin menggubrisnya, ia terus melangkah menuju tempat tidur.
"Rumi, maukah kau menemaniku ke Pesta Amal nanti ?" panggilnya lagi, ia pun berbalik dan memandangi punggung Harumi yang membelakanginya
Harumi tidak ingin merespon, ia lebih senang memilih untuk diam saja daripada menerima ajakan suaminya tersebut. Tapi...entah kenapa ia tidak bisa sekejam itu. "Ok"
Anton mengernyit "Benarkah ?" Pria itu benar-benar tidak menyangka, Harumi dengan lantang menerima ajakannya bahkan tidak ada perdebatan sama sekali.
Harumi menoleh dan melempar tatapan tajam yang menusuk "Apa Kau Tuli"
Bibir Pria itu melengkung dan tersirat ada kepuasan dalam ekspresi wajahnya "Tema Pesta nya adalah Secret Of You, jadi para tamu diminta untuk mengenakan Topeng selama acara berlangsung."
__ADS_1
mengenakan topeng selama pesta ? Jadi, itu maksudnya kenapa Liam memberikan topeng.
"Besok kau bisa pergi membeli Gaun Malam yang bagus untuk menghadiri Pesta itu. Aku akan mentransfer sejumlah uang ke Rekeningmu, agar kau bisa menggunakannya" sambungnya
Harumi berpikir bahwa Anton benar-benar ingin mengendalikannya, sampai wanita itu tidak bisa berbicara, sampai ia bahkan tidak yakin siapa yang sedang dihadapannya sekarang. "Tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus diriku sendiri" suaranya sangat kasar, seolah Harumi tidak ingin larut dengan perubahan sikap suaminya tersebut saat ini.
Anton berusaha mengulaskan senyum, meskipun usahanya hampir-hampir menyakitkan "Baiklah. Aku yakin apapun yang kau kenakan, pasti akan selalu cocok dengan mu"
Harumi tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka, wanita itu sudah muak dengan situasi ini.
Terlalu banyak kepura-puraan di antara mereka, hubungan yang disebutnya sebagai hubungan paling Bodoh karena mempertahankannya entah demi apa. Apa sebenarnya tujuan pernikahan ini nantinya. Harumi ingin sekali menertawakan dirinya sendiri.
Ini benar-benar sangat Bodoh.
Harumi mulai merapikan tempat tidur, lalu ia merebahkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya.
Ia bisa merasakan Anton masih berdiri memperhatikannya. Tapi, Harumi sudah tidak peduli.
***
"Luciano ..."
"Wah aku terkejut menerima panggilanmu, ternyata tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk bisa mendengar suara mu kembali."
"Please, I need Your help."
"What ?"
"Aku ingin bertemu dengannya."
"Who ?"
"Aku ingin bertemu dengan Liam"
"Are you sure ? bukankah kau tidak..."
"yah, memang benar. Tapi, semua mulai berubah. Aku harus bertemu dengannya."
"Ok , aku akan membantumu"
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you ❤