
Kediaman Keluarga Ameera
"Anton sudah kembali ?" tanya Ameera sambil menatap Harumi yang sedari tadi tidak menyentuh makanannya sedikit pun
Harumi menggeleng pelan tanpa menjawab.
Jantung Harumi berdebar kencang mendengar pertanyaan tersebut, saat kekecewaan dan Kemarahan mendesak dalam persatuan di dalam dirinya.
Rasa perih di dadanya menghantam diri Harumi saat membayangkan Anton belum juga kembali dan mengingat bagaimana ia harus terpukul dengan sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya.
"Apa kau sudah menghubunginya ?" tatapan wanita itu mulai bertambah cemas
Sekali lagi Harumi tidak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan. Tak sedikit pun ia mengalihkan pandangannya dari makanan yang hanya dimainkannya dengan garpu semenjak piring itu tersaji dihadapannya. Wanita itu sudah kehilangan selera makannya.
Hari sudah semakin siang saat Harumi dan Ameera di meja makan, dan kekesalan Harumi sudah di ambang batas. Bahkan Wiski sekalipun tidak terlalu membantu.
"Rumi...apa yang..."
"Maaf, aku permisi ke kamar dulu ya." potongnya seketika wanita itu dengan tubuh yang terlihat tak bertenaga memaksakan diri untuk berdiri dan melangkah menuju kamarnya
Ameera tak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa menatapnya dengan kekhawatiran yang mendalam karena Harumi semakin kurus dan wajahnya pucat penuh tekanan. Ameera mengerti dengan situasi mereka, tapi wanita itu tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga adiknya terlalu dalam.
Karena ia sangat memahami tabiat adik laki-lakinya tersebut bagaimana keras kepalanya Anton dan sifat Egoisnya yang terlalu berlebihan.
Dengan menghela napas dalam-dalam, Ameera cuma bisa berharap Harumi dan adiknya bisa melewati permasalahan mereka.
Selang satu jam berlalu, Anton akhirnya pulang. Dengan wajah yang gusar, matanya yang tajam ia melangkah dengan tergesa-gesa memasuki rumah langsung menuju kamar tidur.
Ekspresi pria itu sangat dingin, ia masih mengenakan pakaian yang sama sejak terakhir kali ia meninggalkan rumah. Tapi, kali ini penampilannya sedikit berantakan.
Saat ia membuka pintu kamar, pandangan matanya langsung mengitari ruangan mencari-cari . Hingga akhirnya kedua sorot matanya terhenti pada tempat tidur dimana ia melihat Harumi yang sedang berbaring di sana.
Mendengar suara pintu yang terbuka, wanita itu langsung menoleh dan terbangun.
Harumi terkejut dengan kedua matanya yang terbuka lebar menatap Anton yang masih berdiri di ambang pintu yang juga menatapnya.
Harumi mencoba untuk tetap bersikap tenang "Kenapa kau baru pulang ? Semalam kau kemana ?"
Anton yang masih berdiri dalam keheningan, hanya menatap istrinya. Lalu, Pria itu berjalan dengan langkah hati-hati mendekati Harumi dan duduk ditepi ranjang tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
__ADS_1
"Aku tidur di Hotel" jawabnya dengan nada serak, bau minuman keras dan rokok masih bisa tercium samar-samar
Harumi merasakan ketegangan dalam dirinya secara tiba-tiba, sebenarnya ia ingin sekali menumpahkan semua kekesalan yang sudah membuatnya muak.
"Hotel ? Hotel dimana ? apa semalaman kau hanya di Hotel ?! Atau ...?" tatapannya menusuk nada bicara wanita itu mulai berubah tajam
Suaminya hanya menyeringai miring "Apa kau mulai menginterogasiku ?!"
"Wajar aku menanyakannya, karena kau tidak memberi kabar. Bahkan ponselmu tidak aktif"
Mulut Pria itu terkatup membentuk segaris tegas.
Lalu, ia berdiri dan melempar tatapan mengejek ke arah Harumi "Bagaimana perasaanmu sekarang ?"
Mata Harumi berkilat oleh amarah yang nyaris tak terkendali "APA MAKSUDMU ?!"
Anton terkekeh pelan kemudian berubah dengan tertawa lepas seolah Harumi sedang memberikan pertunjukkan Hiburan dihadapannya.
Wanita itu mengertakkan gigi, membuka lebar matanya "Aku tidak sedang bercanda !!!" katanya dengan nada berapi-api.
Sambil melangkah pelan hampir menuju balkon, Pria itu tidak ada hentinya tertawa bahkan sikapnya begitu santai "Apa yang kau rasakan sekarang, begitulah yang Kurasakan ketika kau berhari-hari tidak bisa dihubungi. Saat kau tiba di New York, bahkan tidak ada satu pesan singkatku yang kau balas. Kau menghilang begitu saja, berhari-hari tanpa kabar. Dan Sekarang kau tahu bagaimana rasanya padahal aku hanya sehari semalam meninggalkanmu"
Anton mendapati diri memperhatikan setiap gerakan wanita itu, kemarahan di wajahnya adanya kekesalan dan wajahnya yang sebenarnya tampak letih.
"Aku pun Marah, Kesal, Gelisah ketika itu. Bagaimana bisa seorang wanita yang bersuami, memilih pergi ke negara lain yang menempuh jarak yang sangat jauh seorang diri tanpa memberi kabar sekali pun. Apa kau sadar Harumi, siapa sebenarnya yang Harus Marah ! Apa Kau tidak bisa menjadi istri yang PATUH, atau..."
Harumi mengerutkan kening "Or What ?!"
Anton tertawa tanpa Humor " atau kau sedang bermain dengan Pria Lain di belakangku ?!"
Tampak sangat jelas ekspresi Harumi yang terkejut mendengar perkataan suaminya tersebut yang tiba-tiba. Ia sedang berpikir keras, di dalam dirinya tidak ada alasan untuk menutupinya tapi akan tampak sangat Bodoh jika Harumi berterus terang bagaimana Dia pernah menjalin hubungan dengan Liam. Dan Harumi tidak ingin di saat seperti ini seharusnya ia yang mengungkap Rahasia Hubungan Anton dengan Cathy lebih dulu.
Bukan sebaliknya.
Apa Cathy sudah memberitahu Anton ?
"Aku pun bisa menanyakan Hal yang sama padamu ? Apa ada yang kau sembunyikan dariku ?!" Suaranya mantap dan dagunya terangkat dalam sudut yang Anton kenali sebagai tanda Tekad.
Pria itu memberikan seringai sinis, Dia berjalan meminimalkan jarak keduanya "Dengar Istriku yang sangat kusayang, Sekarang Kau mengalami banyak Perubahan. Bahkan dengan Keberanian yang Kau miliki, kau tampak sangat...sangat Mempesona" Anton menyentuh pipi Harumi dengan tatapan dingin dan menusuk
__ADS_1
Ia mendekatkan bibirnya ke wajah Harumi dan berbicara pelan hampir berbisik "Melihat sikap mu sekarang, Kau sepertinya sudah mengetahui sesuatu "
Harumi terdiam sejenak, tetapi kemudian melemparkan pandangannya ke lain arah. Seakan menghindar "Apa Yang sekarang sedang kau bicarakan ?"
Mata Anton berlama-lama memandangi wajah suram yang terpancar di wajah istrinya "Ibumu, apa ia tidak mengatakan sesuatu yang Penting mengenai Pernikahan kita ?"
Tidak berpikir panjang, Harumi langsung menoleh dan menatapnya "Jangan bermain teka teki dengan ku "
Anton mematung sejenak, memandang wajah Harumi. Pria itu mengingatkan Harumi pada binatang hutan, yang selalu mengawasi. Menunggu waktu yang tepat untuk menerjang "Aku yakin Mrs. Whiston sudah mengatakannya padamu"
Itu bukan jawaban yang Harumi sangka-sangka dan ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan maupun kelegaannya "Maksudmu tentang Cathy ?!" nada tegas terdengar menggema di telinga Anton
Sekilas Harumi mengira akan ada rasa canggung dan Tegang yang semakin memuncak di wajah Anton saat ia mengucapkan perkataan itu. Tapi, malah sebaliknya Harumi heran melihat sikap suaminya yang tenang dan menanggapi dengan santai. Seolah ia sudah mempersiapkannya, karena cepat atau lambat semua ini akan terbongkar nantinya.
Sepintas seringai kecil tampak di wajah Pria itu, tidak ada ketegangan dalam dirinya, walaupun keheningan yang beku sempat menyelimuti keduanya "Sepertinya aku tidak perlu repot-repot lagi harus menceritakannya secara detail"
"Kau masih bisa bersikap dengan tenang ? setelah menyembunyikannya dari ku selama ini ?" amarah itu memuncak dan kini sudah tidak bisa tertahan. Karena untuk apa ditahannya lagi.Semua sudah semakin jelas sekarang.
Sekarang hidupnya dipenuhi jalinan masalah dan otaknya seharusnya sarat oleh perhitungan dan solusi untuk masalah tersebut. Alih-alih, pikirannya penuh dengan kebencian.
Sorotan mata Anton mulai berpijar oleh seuatu yang tidak dimengerti Harumi, Pria itu diam lalu menangkup pipi wanita itu dengan kedua tangannya.
"Jangan berharap perceraian dariku, walau kau sudah mengetahui yang sebenarnya. Aku tahu keinginan mu untuk berpisah sekarang akan semakin kuat. Tapi, aku tidak akan pernah melepaskanmu Harumi. Tidak -Akan- Pernah " suara serak pria itu menggema di pikiran Harumi
Harumi berusaha melepaskan diri dari cengkramannya, mulai memberontak "Lepaskan aku ! Ingat baik-baik Ini bukan lagi Pernikahan, Ini Penjara."
"Ooh Penjara ? Kalau begitu kau ingin bermain kasar. Baiklah"
Harumi merasakan marah, frustasi, takut. Semua bercampur aduk, membuat perasaannya berubah dari geram menjadi ngeri dalam sekejap hingga kepalanya pening.
Saat ingin membuka mulutnya, Harumi sudah mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa walaupun ia tahu tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melawan karena semalaman ia tidak tidur tidak ada istirahat sama sekali. Tapi, ini harus segera berakhir, dan segera memuntahkan semua amarah yang berkobar di dadanya. Bahkan hampir-hampir Harumi ingin menghabisi Pria itu menjadi berkeping-keping.
Tetapi, di luar dugaan sesuatu yang mengejutkannya terjadi sebelum sempat Harumi membuka bibir Anton membungkamnya lebih dulu.
Anton menciumnya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank You ❤