
Cathy terbangun dari tidurnya dan di saat ia membuka mata. Wanita itu menoleh ke samping dan ia sontak terkejut karena tidak melihat Freddy yang sejak semalam tidur di sebelahnya tiba-tiba menghilang.
Wanita itu langsung panik, ia segera bangkit dari ranjang, mengenakan kimono tidurnya yang tergantung tepat di samping nakas lalu ia berlari menuju ke lantai bawah.
Freddy dimana kamu, sayang ?
Kecemasan tergambar jelas diwajahnya, karena Cathy tidak pernah selalai ini sebelumnya. Dia selalu bangun lebih awal sebelum puteranya tersebut terbangun.
Cathy memang seorang ibu yang sangat protektif kepada Freddy, ia bahkan tidak pernah membolehkan puteranya itu bermain di luar Apartemen dan jarang sekali membawanya ke tempat umum seperti Taman Anak-Anak maupun Supermarket.
Langkahnya tergesa-gesa menuruni anak tangga, sampai pada satu titik langkahnya terhenti.
Kedua matanya seolah membeku dan membesar secara bersamaan ketika sebuah pemandangan mengubah kecemasannya berangsur-angsur lenyap menjadi perih.
Cathy berdiri mematung, tubuhnya sedikit gemetar, jantung yang awalnya terpompa sangat cepat, temponya perlahan semakin lambat seketika itu juga.
Wanita itu shock. Tanpa sadar tangannya menutupi bibirnya yang hampir terbuka.
Dia shock dengan apa yang dilihatnya saat itu.
"Kau harus mengoleskannya dengan benar, ok ?" Anton berdiri tepat dibelakang Freddy sambil membantu mengajarkan bocah kecil itu mengoleskan selai stroberi ke roti tawar di atas piring.
Freddy mengangguk cepat dan anak itu sangat fokus mengikuti instruksi Anton. Freddy memang anak yang pintar dan mudah menerima ilmu baru yang diterimanya. Dia memperhatikan ketika Anton memberikan contoh.
Sudah Roti kedua yang dioleskannya, walaupun sangat berantakan karena terkadang bocah itu diam-diam mengambil selai stroberi dari botol dengan jari telunjuknya lalu menjilatnya.
Dia sangat menikmati aktivitas tersebut sambil bermain, ia duduk dengab kakinya yang tidak sampai menyentuh lantai bergantung sambil ia menggoyang-goyangkannya di bawah meja.
Bibir mungilnya sudah mulai banyak noda selai stroberi. Tapi, ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Anton.
Pria itu tengah membuat secangkir kopi panas dan menuangkan segelas jus jeruk untuk Freddy. Terkadang sesekali ia berbalik melihat keadaan Freddy yang duduk di meja makan sambil dengan gembira memakan selai tersebut dengan nikmatnya.
Terlihat senyuman lembut di bibir Anton ketika ia memandangi bocah itu dari belakang.
Lalu, Freddy mengangkat wajahnya ketika ia menyadari sesuatu.
"Mommy!" teriak Freddy antusias.
Cathy melangkah cepat sambil menggeleng tipis mendekati Freddy "What are you doing ?! Mommy sudah bilang jangan bangun tanpa memberitahu lebih dulu. Mommy khawatir, sayang!!" Cathy mengambil sendok ditangan Freddy dan melemparkannya ke atas meja, lalu menggendong Freddy ke dalam dekapannya.
"aku bersama Paman" dengan polosnya ia menatap Cathy lalu beralih menujuk ke arah Anton.
__ADS_1
Melihat kondisi itu, Anton heran dan mengernyitkan keningnya "He is fine, Kenapa reaksimu berlebihan seperti itu ?!" tukasnya
"AKU TIDAK SUKA KAU MENDEKATI PUTERAKU !" raung Cathy dengan mata menyala.
Mendengar suara ibunya yang nyaring, Freddy terlihat ketakutan dan akhirnya bocah laki-laki itu pun menangis dalam dekapannya.
Cathy berusaha menenangkan dengan terus mengusap kepalanya yang tenggelam di tengkuk wanita itu.
Anton merasa Cathy sudah sangat berlebihan bersikap kepada Freddy dan dirinya. Dan itu membuatnya tidak terima. "Kami hanya menyiapkan sarapan, apa itu salah ?" Pria itu menunjuk ke wajah Cathy dengan kesal
Bibir Cathy bergetar, hatinya bergejolak hebat ketika kedua pasang mata yang diselimuti emosi itu saling bertemu "Bukankah sudah ada dalam Perjanjian kita bahwa Kau tidak akan pernah menemui Freddy. Aku MENYETUJUINYA, karena kau sama sekali tidak berhak."
Anton semakin kesal, karena ia merasa terintimidasi dengan kata-kata Cathy, pria itu mendekat tapi Cathy mundur beberapa langkah.
Freddy masih terus menangis, suaranya makin nyaring disaat kedua orang dewasa itu saling melemparkan kesalahan.
"HE IS MY SON !!!, walau sehebat apapun kau menyembunyikannya dia akan tetap mencari ayah kandungnya."
Cathy menyeringai miring "Ooh, kenapa baru sekarang kau mengakuinya ? bukankah dulu ketika aku melahirkannya kau hanya menganggap dia ANAK HARAM."
Anton tidak mendengarkannya, pria itu berjalan menuju sofa. Merogoh sesuatu di saku celananya yang ternyata sebungkus rokok.
Anton mengambil satu batang rokok dan menyalakannnya. Ia mengisap rokoknya dengan tenang.
"Aku sudah memberikanmu uang yang cukup banyak setiap bulan untuk memenuhi semua kebutuhanmu dengan anak itu. Dan sekarang KAU MEMAKI-MAKI KARENA AKU BERSIKAP PERHATIAN KEPADANYA."
Dengan tubuh gemetar karena emosinya yang memuncak Cathy menghampiri pria itu. Dia tidak segan melemparkan tatapan tajam ke arahnya "Freddy tidak memerlukan sosok seorang Ayah dalam hidupnya, Memang benar kau selalu memenuhi semua kebutuhan Kami. Tapi, hanya sebatas itu. Itupun Karena kau bersikeras ingin melakukannya, Aku Paham semua uang itu hanya sebagai Uang TUTUP MULUT agar Aku tidak membongkar kebenaran ini di hadapan Harumi dan semua keluarga besarnya. Kau Ingin tampak sebagai Pria yang sempurna dihadapan mereka, memiliki pekerjaan dan masa depan. Kau menawarkan semua itu, agar Harumi Menerimamu. " wanita itu terhenti dan ia terkekeh masam "Tapi...pada kenyataannya Kau Tidak sesempurna itu, kau memiliki Masa Lalu yang akan terus mengikutimu."
Anton menarik napasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan, lalu ia tertawa sumbang "Aku tidak peduli dengan apapun yang kau bicarakan, Freddy tetaplah Anakku. Dia keturunanku, My Blood. Kau tidak bisa memisahkan Kami."
"K-kau..." ucapan Cathy terpotong saat suara bel berbunyi.
Cathy melangkah dengan cepat menuju pintu sambil menggendong Freddy yang masih menangis.
Ternyata di balik pintu ada Mrs. Chen.
Mrs. Chen adalah pengasuh anak yang dibayar Cathy untuk menjaga Freddy setiap kali ia berpergian entah pergi bekerja maupun ke acara-acara lainnya. Seperti halnya ketika Harumi datang ke Apartemennya, Saat itu Freddy sedang bersama Mrs. Chen.
Mrs. Chen seorang wanita Tionghoa paruh baya berusia berkisar diatas 50thn dan tinggal satu Lantai di bawah Apartemen Cathy.
Wanita itu memang terkadang datang menjemput Freddy jika Cathy lambat mengantarkannya.
__ADS_1
"Hii, Handsome boy. Kenapa kau menangis ?" Mrs. Chen menatap bocah tersebut yang sedikit lebih tenang walaupun masih terdengar isak tangisnya setelah ia melihat kehadiran pengasuhnya itu.
Freddy memang sangat dekat dengan pengasuhnya karena sejak usianya setahun, Mrs. Chen sudah merawatnya dengan baik hingga saat ini.
"Aku hanya sedikit memarahinya, karena ia bermain-main dengan gunting" dengan suara pelan Cathy berusaha menutupi hal yang sebenarnya."Bisakah kau membawanya dulu, nanti aku akan mengantarkan baju gantinya."
"Baiklah"
Cathy menyerahkan Freddy ke dalam dekapan Mrs. Chen, wanita paruh baya itu menggendongnya dengan lembut.
Cathy menatap puteranya dengan perasaan bersalah "Maafkan Mommy ya sayang" lalu ia memberi kecupan manis di kening, dan seluruh bagian wajah Freddy. Dia mengusap puncak kepala puteranya tersebut.
Cathy terus menatap sampai Mrs. Chen memasuki lift bersama dengan Freddy yang sudah tenang walaupun tampak wajah bocah itu masih sedih.
Cathy menutup pintu, ia memejamkan kedua matanya sambil menarik napasnya kuat. Kedua tangannya berulang kali mengusap-usapkan ke wajahnya agar membuat setidaknya emosinya berkurang. Perkataan Anton sudah cukup menyulutkan emosi di dadanya. Karena kini hanya tinggal mereka berdua saja di dalam. Setidaknya itu akan membantu mereka lebih membuka pikiran dibandingkan saling beradu emosi dan keegoisan.
Ketika ia melihat Anton masih duduk diposisi yang sama, Cathy melangkah mendekat. Tapi, terhenti di saat ponsel milik Anton berdering.
Pria itu terkejut, lalu dengan sigap ia mencari keberadaan ponselnya. Sampai akhirnya ia menemukannya tepat di bawah bantal sofa, yang bahkan dia sendiri lupa meletakkannya disitu karena semalaman ia sudah larut dengan pengaruh alkohol.
Anton memang sudah menunggu-nunggu ponselnya itu berdering, karena ia berharap itu adalah panggilan dari Harumi.
Tapi...
Kenyataan bukan.
Itu panggilan dari Daniel, Sekretaris Pribadinya.
"Hallo"
"Sebaiknya Anda segera Memeriksa Email Sekarang juga" suara Daniel tampak cemas, seolah sesuatu yang mendesak sedang terjadi di Kantor.
"What ? KATAKAN SAJA !!!" Anton mulai tidak sabar.
"Hari ini Pelantikan Direktur Baru di Perusahaan. Seorang yang bernama Zac Morton menggantikan posisi anda secara tiba-tiba. Dan itu sudah atas persetujuan semua Direksi."
"APAAAA !!!!" sontak Anton langsung berdiri setelah ia sudah mematikan putung rokok nya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤