
Ameera terpaku, ia tidak mampu berucap sepatah kata pun lagi. Tubuhnya membeku, dalam tangisnya ia menahan diri untuk tidak memperkeruh keadaan.
Saat ini, ia sadar tidak ada yang mampu ia lakukan untuk membantu suaminya selain tetap berada disampingnya. Selalu memberinya dukungan.
Robert benar-benar sedang marah, ia melampiaskannya dengan terus menerus berteriak. Memaki-maki orang-orang yang seharusnya membela dirinya bukan semakin memojokkannya.
Kemarahannya wajar karena pria itu merasa dibohongi dengan segala bukti yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.
Ameera terus menenangkan suaminya sambil berlinang airmata, karena ia tidak ingin anak-anaknya mendengar pertengkaran mereka.
Tatapan Robert mengeras "malam ini, aku akan menginap di rumah orang tuaku"
"why ? kumohon, tetaplah disini. Anak-anak sangat membutuhkanmu. Robert, tenanglah. Semua pasti ada jalan keluarnya" wajah Ameera khawatir, dengan perlahan ia menahan lengan suaminya.
Pria itu memalingkan wajahnya "aku perlu waktu untuk sendiri, ini sudah cukup membuatku MUAK !"
Robert melepaskan tangan istrinya, Ameera semakin sedih. Hatinya hancur, wanita itu tidak ingin suaminya pergi. Apalagi dengan kondisinya saat ini. "Bagaimana jika anak-anak mencarimu ? Mereka membutuhkan ayahnya, Robert..."
"CUKUUUP, MEERA !!!" sorot mata Robert membuat Istrinya shock. Respon pria itu semakin mengguncang Ameera.
Ameera memilih bungkam. Robert seolah tidak memperdulikan keadaan yang sedang dialami istrinya lagi.
Pria itu memutar tubuhnya, dan melangkah pergi meninggalkan istrinya.
Mata wanita itu sembab, pandangannya tak lepas dari punggung suaminya yang berjalan keluar.
Masalah ini, sangat membuatnya terpukul. Ameera tidak pernah berpisah sekalipun dari suaminya. Mereka selalu bersama, masalah demi masalah sudah mereka lalui selama pernikahan. Tapi, guncangan masalah ini begitu hebat. Sikap Robert berubah, pria itu memang sangat terobsesi dengan Karier dan pekerjaannya. Walaupun begitu, ia tidak lupa dengan keluarga kecil mereka.
Ameeraa masih berdiri, mematung. Tubuhnya lemas, hatinya hancur. Napasnya sesak, dadanya begitu perih bisa ia rasakan saat bayangan Robert menghilang dari balik pintu.
Disaat yang bersamaan, Elena yang sedang berada di kamar tidurnya. Mendengar semua pertengkaran mereka, Elena pun tidak luput dari kesedihan.
Dia merasa ikut hancur, mendengar tangisan Putrinya. Ia merasa Ameera tidak pantas menerima perlakuan seperti ini.
Elena berusaha tetap menahan diri, dan berpikir jernih.
Ini semua pasti ada Pemicunya, pikirnya. Tidak mungkin semua adalah kebetulan.
Elena mengingat satu nama, nama yang tidak mungkin lepas dari ingatannya.
Nama yang pasti dalang dari ini semua, nama itu juga yang mampu berbuat diluar akal sehat dan memiliki kekuasaan dibalik semua kekacauan ini.
Anita.
***
Aku melihat cahaya terang di depan, cahaya itu terus mendekat. Begitu Cepat mengarah padaku.
Silau. Aku berusaha melindungi kedua mataku dari cahaya itu. Sampai aku tidak mampu lagi melihat, semua pandanganku menjadi putih.
Putih. Seperti salju.
Tapi, aku bisa melihat. Ada bayangan seseorang... bayangan berdiri dari balik nya.
Manatapku...terus menatapku.
__ADS_1
Siapa dia ? wajah itu tidak bisa kukenali. Sebagian wajahnya tertutup oleh lumuran darah yang mengalir dari kepalanya.
"Mi dispiace caro"
Kalimat itu keluar dari bibirnya. Apa maksud kalimat itu ?
Harumi perlahan membuka kedua matanya, pandangannya masih sedikit kabur. Butuh beberapa detik hingga penglihatannya sedikit demi sedikit kembali jelas.
Kepalanya masih sedikit pusing, Harumi bisa melihat langit-langit di kamar rawat inap tersebut.
Bibirnya kering, ia merasakan rasa haus pada tenggorokannya. Tubuhnya masih lemas, Harumi mulai berpikir sudah berapa lama ia terbaring disini.
Tapi yang menjadi perhatiannya, adalah aroma wangi yang sangat dominan. Ia bisa menciumnya, aroma wangi yang sangat disukainya.
Aroma ini tidak asing bagi Harumi. Begitu menenangkan, nyaman.
Ia berusaha mengangkat tubuhnya, untuk bangun. Terlihat Harumi tidak sabar untuk melihat disekitarnya mencari-cari sumber aroma ini.
Lalu, ia melihat didepannya. Menoleh ke arah kiri dan kanannya.
Oh God.
Harumi benar-benar terkejut. Ternyata Aroma ini berasal dari semua Rangkaian Bunga yang bertebaran di setiap sudut ruangan itu.
Ruangan itu seolah disulap menjadi kamar yang sangat indah, bahkan Harumi merasa kamar ini bukan seperti di Rumah Sakit.
Harumi memang sangat menyukai Bunga, melihat pemandangan indah ini membuatnya rindu dengan Kios Bunga miliknya.
Setiap Buket bunga diletakkan di tiap space, dan Harumi bisa melihat berbagai jenis bunga-bunga yang dirangkai di dalam Vas yang terbuat dari kaca diletakkan di samping sofa, diatas meja dan di tepi Jendela.
Bibirnya melengkung indah, matanya tidak lepas dari semua pemandangan itu.
Dia menoleh kekiri dan melihat buket bunga indah lagi, diletakkan diatas meja tepat di samping tempat tidurnya.
Tulip Kuning.
Itu adalah bunga kesukaan Harumi.
Mengambilnya lalu ia menemukan sebuah kartu kecil di dalamnya.
Bertuliskan "Berjuanglah, aku disisimu."
Harumi memikirkan pengirimnya, dan Hanya seseorang yang pernah memberinya Tulip Kuning.
Liam.
"Kau menyukainya ?" suara seseorang memasuki kamar
Harumi langsung menoleh.
Dengan wajah yang masih tampak pucat, Harumi tersenyum. "Semua ini pasti ulahmu" balasnya
"Mungkin Santaklaus yang sudah melakukannya" jawab Liam menimpali
Liam mendekat, ia terus memandangi Harumi. Dari sorot Matanya ia menahan sedih dan cemas, Pria itu berusaha bersikap normal. Walaupun ia sudah mengetahui semua kondisi Harumi. Dan tidak mudah untuknya.
__ADS_1
"Kata-kata yang manis, tapi ... tidak membuatku meleleh" ejek Harumi walaupun ia tidak bisa menutupi wajah bahagianya.
Liam mengernyit sepintas "Benarkah ? mungkin cara ini akan berhasil "
Pria itu duduk di tempat tidur, sambil terus memandangi wajah Harumi. Kedua tangannya menyentuh pipi, menangkup wajahnya.
Dengan penuh kasih sayang, jemarinya menyentuh setiap inci wajah Harumi.
Alisnya, pipinya, matanya. Sentuhan lembut jemari Liam, terasa hangat bagi Harumi.
Liam menatap matanya, Harumi membalasnya penuh harap.
Ada keheningan sesaat, sebelum akhirnya Liam mendekatkan wajahnya pada Harumi. Sampai kedua kening mereka saling bersentuhan "Stay with me, semua akan baik-baik saja"
Harumi berhasil mengulaskan senyuman, dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Harumi merasakan sengatan panas airmata di pelupuk matanya.
Setetes butiran airmata akhirnya mengalir di pipinya, Harumi menangis.
Liam langsung memeluknya, dan didalam dekapan hangat itu. Harumi tidak ingin menahan lagi.
Ia mengeluarkan semua kesedihannya. Mengingat kondisinya.
Menangis, tenggelam dalam pelukan itu. Harumi sadar, ia membutuhkan seseorang yang berada disisinya.
Tubuhnya gemetar, Liam mengusap punggungnya. Membelai rambut hitamnya yang terurai.
Perasaan Harumi bercampur aduk, Liam membiarkan Harumi mengeluarkan semua beban dalam tangisnya.
Pria itu melepaskan pelukan, ia menyeka airmata yang mengalir di pipi Harumi dengan ibu jari. "Berbagilah bersamaku, Rumi. Berbagilah semua kesedihanmu padaku. Berbagilah kehidupanmu bersamaku" Dia mengangkat tangannya dan Harumi merasakan sesuatu diloloskan ke jarinya.
"W-what is ? Oh..." Ia takjub memandangi berlian besar yang sekarang menghiasi tangannya.
***
Sejam yang Lalu
Suara pukulan keras terdengar jelas, Liam memukul meja dengan amarah dan menatap tajam "KAU HARUS MENYEMBUHKANNYA !!! Aku tidak peduli Berapa biaya yang kau butuhkan. Dia harus sembuh."
Dokter itu sontak terkejut "Saya mengerti dengan kekhawatiran anda, Mr. Seymour. Anda harus tenang. Tentang biaya, saya tahu itu bukan masalah untuk anda. Bahkan saya percaya anda mampu membeli Rumah Sakit ini sekalipun. Tapi, kondisi Mrs. Harumi semakin memburuk jika ia tidak menjalani Operasi secepatnya."
Liam melangkah maju sambil memberikan geraman peringatan rendah "Kerahkan semua Tim Medis dan Dokter Terbaik di seluruh dunia. Jika kalian tidak berhasil Menyembuhkannya, aku tidak segan menghancurkan kalian semua."
"Kami tidak akan membiarkan Mrs. Harumi dalam kondisi terburuk. Saya harapkan pengertian anda. Kondisinya sedang menurun. Satu-satunya jalan adalah dengan Operasi. Dan satu lagi pesan saya, khusus untuk anda "
Ada kilatan di mata Liam "Apa maksudmu ?"
"Saya harap anda bisa bersikap tenang dan normal demi membantunya menghilangkan kondisi traumatiknya dari semua kabar-kabar buruk apapun yang dapat mempengaruhi kondisi pikiran dan tubuhnya saat ini. Jangan biarkan dia mendengar kabar buruk, menyaksikan kejadian yang mengganggunya. Sebelum menjalani operasi, kondisi Mrs.Harumi harus dalam keadaan fit, tidak boleh drop. Dia tidak boleh di bawah tekanan, pikirannya harus merasa aman dan nyaman. Maka kami bisa menjalani operasinya dengan baik. Kini semua itu berada di TANGAN ANDA"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1