
Kedua tanganku semakin bergetar, nafasku sudah tidak beraturan, dadaku makin sesak. Bahkan mataku hampir tidak berkedip, syok, terkejut dan membayangkan sesuatu yang diluar nalarku membuatku hampir kehilangan akal sehatku.
Ketika aku mencoba menguatkan diri, tetiba ada suara yang membuyarkan lamunanku. Suara Langkah kaki memasuki rumah.
Dengan sigap aku merapikan kembali map yang tadi berada di tanganku, dengan hati-hati kususun kembali tiap lembar kertas tersebut sesuai saat aku membukanya di awal. Secepatnya kuletakkan di dalam Laci itu.
"Apa Anton sudah pulang ?" gumamku seraya mengusap wajahku, menarik nafas mengatur irama nafasku mengelus dadaku sendiri membuat diriku lebih tenang agar tampak seolah aku tak melihat apapun seperti sebelumnya.
"Kaaaaakkk, apa kau di rumah ?"
"Takeru ?" jawabku terkejut melihat adikku yang sudah berdiri di Ruang tamu.
Aku heran lalu melanjutkan "bagaimana kau bisa masuk ?"
"Kau tidak mengunci pintumu kak" potong Takeru
Aku baru mengingat-ngingat sebelumnya, karena bergegas masuk ke rumah, aku bahkan lupa mengunci pintu.
"Tidak biasanya kau lupa mengunci pintu, ibu sangat mencemaskanmu jadi menyuruhku ke sini karena semua keluarga sudah berkumpul kecuali dirimu kak, apalagi Ben tak bosan-bosannya menanyakanmu" jelas Takeru yang mengambil posisi duduk di Sofa tamu.
"Baiklah, aku ambil tasku dulu"
Aku kembali melangkah menuju Ruang Kerja Anton, hatiku masih tak karuan.
Tasku tertinggal di atas meja kerjanya gara-gara perhatianku teralihkan kepada Map Coklat berbahan Kulit dengan seutas tali yang terselip dibagian depannya.
Aku masih terus mengingat tiap kata dan kalimat yang terbaca olehku dari tiap lembaran kertas dalam Map tersebut, rasa penasaranku semakin memuncak hingga membuat pikiranku mulai penuh.
Seharusnya aku merasa sangat bahagia dan antusias menghadiri acara malam ini, apalagi hubunganku dengan Anton mulai membaik.
Seketika Semuanya seperti terbawa arus deras tak menyisakan satu ruangan pun dalam pikiranku untuk mereka selain Surat-surat itu.
***
Tempat Keberangkatan
Pukul 8.15 pm
Liam dan Sekretaris Will sedang dalam perjalanan menuju Maskapai Penerbangan.
Selama diperjalanan menuju tempat keberangkatannya, Di dalam mobil Liam hanya diam ia terus menatap layar Handphonenya, sorot matanya sangat sendu karena ia ingin sekali menghubungi Harumi. Tapi selalu diurungkannya.
Ada rasa bersalah yang ingin ia tebus kepada wanita yang sudah membuat Liam semakin berubah yang awalnya sangat cuek kini lebih perhatian. Sangat berbanding terbalik dengan kepribadian Liam dulu.
Sekretaris Will menatap dari kaca sepion mobil, ia melihat ekspresi tuannya yang tidak bersemangat, Liam sesekali mengesampingkan wajahnya dan memandang pemandangan di luar.
Kini perhatian lelaki itu hanya dua kalau tidak pandangannya ke luar jendela mobil yang kedua adalah layar handphone.
__ADS_1
"Apakah Nona Harumi sudah mengetahui keberangkatan Tuan malam ini ?" celetuk Sekretaris Will, tebakannya tidak akan salah kalau pikiran tuannya kini sudah dipenuhi dengan Harumi.
Pandangan Liam beralih ke sekretaris Will yang sudah menyebut nama Harumi
"seharusnya ia sudah mengetahuinya"
"Anda bisa coba menghubunginya lebih dulu, setidaknya mendengar suaranya sudah cukup" jawab Sekretaris paruh baya itu sambil mendaratkan senyuman tipis seolah memberikan dukungan untuk Liam.
"Ia marah, aku yakin ia takkan mau mengangkat panggilanku "
"Apa saya saja yang menghubunginya, Tuan ?"
Liam langsung buru-buru menolak saran dari Sekretarisnya "Tidak perlu, justru ia akan semakin memaki ku, biar aku saja"
Liam pun akhirnya menghubungi Harumi, seraya ia mengatur posisi duduknya. Liam tidak menyadari ia menghentakan kaki kanannya naik turun dan jemarinya bermain main seperti mengetuk ngetuk, Tidak diragukan Liam sedang gugup dan gelisah.
Padahal Reputasi Liam sangat dikenal sebagai Presiden Direktur yang tenang dan selalu percaya diri berhadapan dengan orang-orang dari berbagai kalangan, memimpin Rapat besar dengan para Direksi dan petinggi-petinggi sampai pejabat Pemerintahan.
Tapi hanya dengan seorang wanita bernama Harumi wanita biasa yang sederhana, wanita mungil, dan bukan berasal dari kalangan selebriti ataupun model. Liam benar-benar sudah sangat takluk dibuatnya.
Beberapa kali nada sambung berbunyi, tapi Harumi belum juga menjawab panggilan Liam, ia semakin gelisah. Sampai pada panggilan kedua akhirnya Harumi menjawab.
"Hallo ?" jawab Harumi pelan
Suara indah yang sangat dinantikan Liam kini bergema di telinganya.
"Liam ?" tanya Harumi kembali
"Harumi...." Liam mengatur nafasnya, untuk menutupi rasa gugupnya
"Ada apa ?" tanya balik Harumi
Liam semakin dibuat bingung dengan pertanyaan Harumi.
"Sebentar lagi keberangkatanku" Jawaban singkat Liam membuatnya tampak seperti orang Bodoh, ia sudah hampir kehilangan akal sehatnya bahkan menjawab pertanyaan sederhana itu saja ia sudah salah tingkah.
"Ooh...yaa aku ingat"
Liam mulai kembali tersenyum mendengar perkataan Harumi yang masih mengingatnya. Liam mengusap wajahnya, menenangkan dirinya. Ia bahkan tak berhenti tersenyum, suara Harumi memang seperti candu bagi Liam.
"Maafkan aku Rumi, aku...."
Harumi langsung memotong "Baiklah...hmmm yang terjadi sudah terjadi tidak ada yang bisa mengubahnya lagi, aku juga minta maaf sudah seenaknya masuk ke kamar pribadimu"
Liam tersenyum lebar, awalnya duduk Liam yang tegap sekarang lebih rileks, ia menyandarkan tubuh bidangnya seakan beban nya sudah terangkat.
"Terimakasih, tapi....hmmm apakah aku masih bisa menghubungi dan bertemu denganmu ?" tanya Liam yang terbata-bata
__ADS_1
Harumi diam, beberapa detik ia membiarkan Liam menunggu.
"iya"
Sebenarnya Liam ingin sekali loncat kegirangan saat ia masih memiliki kesempatan itu.Tapi ia urungkan karena Sekretaris paruh baya itu akan terbahak-bahak menertawakan tingkahnya.
Harumi langsung melanjutkan "Tapi....kau tau status ku, aku harap sejak awal kau sudah sangat mengerti Kita hanya berteman, jadi Tidak ada Teman yang saling berciuman mesra, kau mengerti !" titah Harumi tegas
"Hmmm...Kalau itu aku tidak janji" Goda Liam
"Apa Kau ingin kontakmu ku block, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi "
"Hehehe...jangaaan sayang, aku akan berubah tapi pelan-pelan yaaah" Liam semakin menggoda Harumi, Budak Cinta itulah kata-kata yang menggambarkan Liam sekarang
"dasaaar Pria Usiiilllll, aku benciiiiii!!!"
Liam sangat menikmati berkomunikasi dengan Harumi, ini perbincangan yang di harapkannya. Santai, saling bertengkar, berbaikan lagi, saling menggoda saling tidak ada yang mau mengalah.
"aku pasti akan sangat merindukanmu, aku akan kembali secepatnya"
"untuk apa kembali ? kau kan bukan warga negara sini ?" ejek Harumi
"Aku pasti akan kembali....Kembali untuk menuntutmu ..."
"menuntutku ? apa salahku ?"
"Menuntutmu menjadi ..... Milikku"
Harumi membisu mendengar jawaban Liam.
"Jangan bercanda Liam"
Liam langsung memotong
"Aku sudah di Maskapai, aku akan menghubungi mu lagi"
Ia tak memberi kesempatan Harumi membalas, Liam langsung mematikan sambungan panggilannya, kegemaran baru Liam sekarang adalah membuat Harumi kebingungan.
Mobil iring-iringan Liam telah tiba di depan Private Jet Miliknya. Liam pun keluar dari Mobil Sportnya yang serba Hitam.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1