Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 174 Forced to Lie


__ADS_3

“Kuperingatkan padamu, JANGAN MELIBATKAN PERASAAN dalam hal ini jika ingin semua berjalan baik. Kau HARUS MENGENDALIKAN EMOSI. Aku akan dengan senang hati memuluskan keinginanmu asalkan kau masih tetap pada jalur yang sudah kurencanakan. Kita memiliki tujuan dan target yang sama. Maka bekerja sama lah dengan baik.” Seringai miring mewarnai wajah pria yang berprofesi sebagai Dokter Bedah tersebut.


Noah adalah sosok yang sulit ditebak, ia sangat manipulatif, pandai dalam berargumen dan mampu mendominasi pada pola pikir seseorang.


Konflik yang kini sedang di hadapi antara Anton, Harumi dan Liam adalah bagian terbaik dalam memuluskan rencana liciknya selama ini. Dengan memanfaatkan situasi yang sedang dihadapi Anton, mudah bagi Noah untuk menarik tali boneka di tangannya. Yah, of course. Boneka yang dimaksud adalah Anton.


Tanpa disadarinya, Noah sedang menyetir pria itu menuju rencana yang bahkan sama sekali tidak diketahui Anton. Rencana penuh tipu muslihat yang mampu jadi boomerang bagi Anton sendiri.


“Jika ingin masuk dalam circle Liam, maka mulai lah dari orang-orang kepercayaannya. Memang tidak mudah, karena Liam memiliki sistem keamanan yang sangat Solid, ia dikelilingi oleh orang-orang yang terpercaya dengan tingkat keahlian tinggi. Dia sangat cerdas, sulit untuk meruntuhkan kekuasaannya jika kau hanya bermodalkan emosi dan amarah. “


Anton menghela napas, ia mengusap wajahnya dengan gusar “satu-satunya yang kuinginkan membawa Istriku kembali, merebut Harumi dari tangan Bajing** itu. Aku tidak tahan, ingin segera menghabisi nyawanya”


“Sebaiknya tetap pada posisimu sekarang, aku yakin Liam akan datang padamu dengan sendirinya. Karena yakinlah, dia pasti sedang mengurus Dokumen perceraian mu demi memuluskan keinginannya.” Noah tersenyum kecil tebakan Pria itu tepat sasaran


Anton mengerutkan dahi “Tidak Mungkin”


“Liam sangat tergila-gila dengan wanita itu, sudah kukatakan ia tipe pria Posesif yang mendominasi. Pasti ia ingin memiliki seutuhnya, dan tentu saja dokumen itu tidak akan lengkap tanpa tanda tangan darimu dan Harumi. Maka, di saat itulah kau akan berada di atas angin, dan aku akan melanjutkan dengan penyerangan selanjutnya. “


Tiba-tiba Anton merasakan degup jantungnya berdetak tidak seirama, ia menarik napas dalam sebelum berkata “aku akan mengikuti rencanamu selanjutnya, asalkan aku bisa menghabisinya di saat yang tepat.” Rahang Anton mengeras, kedua tangannya yang berada di lengan kursi mengepal kuat. Dugaannya benar.


...****************...


Liam memperhatikan dengan lekat sebuah dokumen yang kini ada di hadapannya “apa semua sudah lengkap ?”


“Benar, Tuan. Anda hanya perlu tanda tangan keduanya, maka proses perceraian mereka akan selesai dengan cepat.” Jawab Sekretaris Will tanpa ekspresi setelah menyerahkan dokumen itu dihadapan Liam


“Lalu, bagaimana dengan pemberitaan itu ?”


“Anda tidak perlu khawatir, semua sedang dalam proses pemblokiran pada beberapa Media Elektronik dan Cetak. Berita itu akan segera mereda paling lambat besok, dan semua kembali bersih. Tim kita berhasil menemukan sumber Media yang pertama kali menyebarkan berita itu. Dan kami, masih dalam proses investigasi. Jika, sudah jelas pelaku yang menjadi sumber utamanya akan ditemukan maka saya akan segera menginformasikannya pada anda.”


Liam mendengarkan ucapan Sekretaris kepercayaannya tersebut dengan seksama, walaupun matanya masih menyoroti dokumen tersebut dan sekilas ia menoleh pada sebuah ponsel yang terletak tak jauh darinya.


Ponsel yang bukan miliknya, Yah itu adalah Ponsel milik Harumi yang sedang dicarinya.


Ternyata Liam lah yang sudah mengambil ponsel Harumi di atas meja, ketika wanita itu lengah saat mereka sedang sarapan pagi.

__ADS_1


“Sekretaris Will, kirimkan ponsel dan nomor baru untuk Harumi.” Titahnya jelas


Awalnya Sekretaris Will menatap bingung “Apa ponsel Mrs. Harumi hilang ?” Kemudian ia sadar, tidak sepantasnya ia menanyakan hal itu


Liam menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya “lakukan saja perintahku”


“Baik, Tuan” jawabnya sambil mengangguk


“Bagaimana situasi di Bristol sekarang ?”


“Semua sudah terkendali dengan baik, Keluarga Whiston kini dalam penjagaan ketat dari Taylor dan Pengawal lainnya. Tapi, ada satu masalah lagi Tuan “


Pria itu menyipit “what ?!”


“Mr. Harry Whiston ayah dari Mrs. Harumi akan menjalani proses Hukum. Mengenai masalah uang ganti rugi atas kecelakaan yang dialami salah satu pelanggannya dan Mr. Whiston tidak mampu menyanggupi untuk melunasi. Menurut informasi yang saya dapat, mobil yang dikendarai orang itu sebelumnya diperbaiki di bengkel milik Mr. Whiston dan mereka menyalahkan pria itu sebagai penyebab kecelakaan dan mereka memiliki bukti-buktinya. Oleh karena itu, mereka menuntut ganti rugi 60,000 pundsterling atas kehancuran mobil itu dan semua biaya perawatannya. “


“Lalu, siapa pemilik mobil itu ?” Tanya Liam tanpa ekspresi setelah terdiam cukup lama


“Mr. Arthur Hall Yarrow, ia CEO Perusahaan Penerbangan di Bristol. Dan memiliki beberapa ikatan kerja sama kerja dengan Seymour Company dalam Bisnis perhotelan di Beberapa Negara Bagian di Eropa. Anda pernah bertemu dengannya setahun lalu di Bristol”


“Apa rencana Anda ?”


Liam beranjak dari duduknya dan menuju jendela kaca besar yang mendominasi Ruang Kerjanya “cari bukti-bukti itu segera, jika semua siap. Aku sendiri yang akan menemuinya di Bristol. Memberi Sedikit pelajaran untuknya yang berani bermain-main permainan rendahan seperti ini akan berakibat fatal untuknya.” Wajah Liam bak iblis kelaparan yang ingin segera melahap korbannya dengan banyak kobaran api di sekujur tubuhnya, ia bukanlah orang yang mudah di bohongi. Liam bisa menebak, ada konspirasi di balik peristiwa itu. Dan tentu saja sasaran utamanya adalah ibunya, Anita Seymour dalang sebenarnya.


Karena Arthur Hall Yarrow pernah menjalin hubungan terlarang dengan Anita sebulan sebelum ayah Liam meninggal dunia. Dan itu sudah diketahui Liam sejak lama karena Anita berulang kali menjalin kerja sama bisnis dengan pria itu dengan dalih mengembangkan usahanya padahal Anita sama sekali tidak pernah peduli dengan itu.


...****************...


Hari sudah mulai malam, Harumi masih duduk di balkon kamar tidurnya mengenakan baju santai sambil menatap langit yang kini banyak di taburi bintang.


Tampak beberapa kapsul obat yang terletak di atas piring kecil, ia belum meminumnya satu pun. Wanita itu lebih memilih diam dalam keheningan seraya sesekali ia meminum secangkir teh hijau yang terletak di meja tepat di samping obat-obatannya.


Cahaya bulan yang samar-samar membasuh wajah putih Harumi, ketika ia menatap ke atas langit.


Ia sempat merasakan kesepian karena Liam seharian di luar hingga saat ini ia belum juga pulang. Sesekali ia menatap jam di ponsel barunya yang diterimanya dari orang suruhan Liam tadi siang. Ia masih belum terbiasa menggunakan ponsel keluaran terbaru itu. Dan hanya diletakkannya di meja, hanya di saat Liam menelpon baru ia menggunakannya walaupun Liam belum pulang. Tapi, pria itu tidak henti-hantinya menanyakan kabar Harumi. Mengingatkan wanita itu untuk makan dan istirahat.

__ADS_1


Jauh di dalam lubuk hatinya, kilatan memory tentang kebersamaannya dengan Anton terkadang datang secara tiba-tiba. Mengusik pikirannya, tentu saja karena urusannya dengan pria itu belum selesai.


Pernikahan mereka masih tercatat resmi secara Hukum, dan mereka masih terikat satu sama lain. Sehingga itulah yang membuat perasaannya masih tidak menentu. Sewajarnya Harumi masih bimbang mengenai kondisi hidupnya saat ini. Di lain sisi ia harus menghadapi kondisi kesehatannya tapi disisi lain ia harus berjuang untuk kebahagiaannya.


Harumi membutuhkan seseorang untuk tempatnya berkeluh kesah, menceritakan semua yang dialaminya agar tekanan kuat ini sedikit lebih ringan di pundaknya.


Satu-satunya orang yang selalu mendukung dan membuatnya selalu merasa nyaman adalah Nami Tomoeda, ibunya. Harumi memiliki hubungan yang dekat dengan sang ibu.


Harumi langsung meraih ponsel itu, di dalamnya tidak ada kontak satu pun kecuali nomor ponsel Liam. Tapi, Harumi masih mengingat nomor ponsel sang ibu.


Cukup lama, sampai akhirnya Nami mengangkat.


“Hallo” suara serak Nami ragu-ragu karena itu bukanlah nomor ponsel Harumi yang biasanya yang tampak hanya nomor asing


“Hallo, bu”


“Harumi ?” Jawabnya sontak terkejut mengenalinya langsung


“Yah, maafkan aku karena baru menghubungi ibu. Ponselku hilang jadi aku menggunakan nomor baru”


“Oh Tuhan, Putriku. Bagaimana kabarmu nak ?” Terdengar sedikit suara tangis Nami yang tidak mampu tertahan


“Aku baik-baik saja. K-kenapa ibu … “ Harumi mengernyit mendengar kecemasan ibunya secara tiba-tiba


“Dimana kamu sekarang, Rumi ? Apa benar pemberitaan itu ? Hati ibu hancur nak setelah melihat Berita itu dan mendengar komentar orang-orang yang menyudutkan Putriku sendiri.”


“Pemberitaan ? Apa maksud ibu ? Berita apa ?” Wajah Harumi bingung dan semakin dibuat heran karena kesedihan ibunya


“Apa kamu belum melihat Berita yang beredar, mengenai foto-fotomu Rumi. Dengan seorang pria yang adalah atasan Anton. Apa itu benar ? Katakan pada ibu nak, siapa pria itu ? Ada hubungan apa dengannya ?“


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank You 🍬

__ADS_1


__ADS_2