
Tatapan Elena terarah ke wajah Luciano, wanita itu bisa mendengar denyut aliran darahnya berdentam-dentam di telinga. Pernyataan Pria itu tidak bisa diterima Elena begitu saja, karena baginya sangatlah tidak mungkin Liam dan Anton bisa menyukai Wanita yang sama.
Siapa Wanita yang dimaksud Luciano ? Pertanyaan itu terus menggema di dalam pikiran Elena.
"Itu benar-benar tidak masuk akal, bagaimana mungkin mereka seperti itu. Kau terlalu banyak membual, Luciano" sindir Wanita itu terkekeh tidak percaya.
Senyum Luciano setipis mata pisau "Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk bercanda ?!"
Udara di sana terasa pekat dan senyap.
"Aku tidak percaya padamu. Anton sudah menikah. Dia sangat mencintai istrinya. Aku lebih mempercayai Puteraku, tidak mungkin Anton mengkhianati Harumi" geram Elena
"Apa kau tidak memahami apa yang kumaksud sebelumnya, aku tidak pernah mengatakan Anton berselingkuh, aku hanya bilang kedua Puteramu memiliki selera wanita yang sama." ujarnya disertai senyuman tajam
Elena terdiam seketika, pikirannya menerawang dengan berbagai dugaan yang sama sekali tidak ingin ia cerna dengan baik.
Kedua Bola matanya tak bergerak, wajahnya tertunduk ia terfokus memandangi cangkir berisikan kopi yang belum sama sekali disentuh olehnya.
Wanita itu membeku, Ya Tuhan. Jangan sampai dugaannya benar, tidak mungkin. Berulang kali Elena menggelengkan kepalanya, seolah menghentakkan dirinya sendiri agar ia bisa tersadar dan bisa berpikir lebih tenang.
Elena mengangkat wajahnya dan menarik napas berat "Kau pasti salah menduganya, bagaimana mungkin Liam..." wanita itu terhenti, ia tersenyum miris "Bagaimana mereka bisa saling bertemu...Apa maksudmu sebenarnya ?"
Untuk kesekian kalinya Wanita paruh baya itu menggeleng-geleng untuk menjernihkan imajinasinya.
"Sebaiknya kau cari tahu sendiri, mungkin itu jauh lebih baik dan bisa membuatmu lebih percaya daripada kau mendengarkan semua perkataanku yang hanya kau anggap omong kosong" tatapan Luciano yang stabil membuat Elena gelisah
Berusaha menyingkirkan pertanyaan itu jauh-jauh, tapi itu sia-sia bagi Elena karena keingintahuannya sekarang jauh lebih besar "Sebaiknya katakan semuanya padaku, KATAKAN YANG SEBENARNYA. Apa Liam dan Harumi pernah bertemu ? apa mereka menjalin hubungan yang tidak kuketahui ?"
Elena belum siap mengetahui fakta itu, tapi mengapa ia masih duduk di sini, membiarkan dirinya terbawa suasana ?
Pria itu menatapnya dengan seksama tapi bagi Elena tatapan itu seolah sudah menjawab semua pertanyaan yang dilontarkannya. Ketika Luciano hampir membuka bibirnya, tetiba seseorang tak terduga hadir di antara mereka.
Dan itu, membuat Elena tersentak. Mendengar suara yang memanggil-manggilnya.
"Hei, Mah" panggil seseorang yang ternyata orang yang sedang berdiri di belakangnya adalah Anton. Puteranya yang datang menjemputnya.
Karena terkejut, wanita itu langsung berbalik dan menatap Puteranya dengan sorotan mata yang melebar "Anton ?!"
__ADS_1
Dahi Anton mengernyit, ia tampak bingung melihat reaksi ibunya "Whats Wrong ? Kenapa melihatku seperti itu ?"
Anton mengamatinya beberapa saat, Elena langsung bergegas berdiri "Its Ok, Mama hanya sedikit terkejut melihat kehadiranmu. Mungkin karena kita sudah cukup lama tidak bertemu"
Saat pandangan ibu dan anak itu saling bertemu satu sama lain, sorot mata Anton beralih menatap ke arah Luciano yang masih duduk di posisinya yang sama "Who is.." tanya Anton ragu-ragu
Luciano tersenyum tipis, beberapa saat Pria itu hanya diam mengamati Anton lalu ia berdiri dan mengulurkan tangannya "Perkenalkan, Luciano Sey..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Elena langsung memotong dengan gelisah "Anakku, dia hanya kenalan lama Mama. Tidak sengaja bertemu di sini"
"Oh" reaksi Anton santai, ia dengan tenang menyambut tangan Luciano "Saya Anton Riandra."
Anton mengamati alis Pria paruh baya itu yang diangkat dengan arogan "Wah, senang berkenalan denganmu."
"Anton, tunggulah Mama di luar. Sebentar Mama menyusul" Elena tergagap mengucapkan kata itu
Setelah Anton melepaskan tangannya, ia menatap ibunya dan mengangguk pelan "Ok" lalu ia menoleh kembali pada Luciano "Nice to meet you"
Dia mengambil dua koper milik ibunya dan membawanya keluar meninggalkan mereka.
Elena menatap Puteranya yang berjalan meninggalkan mereka, mengamatinya sampai Anton benar-benar sudah keluar.
Luciano tersenyum sinis "Aku tidak berharap kau mempercayaiku, hanya saja kau harus tau bahwa sejarah akan terulang kembali. Dan aku yakin dalam waktu dekat kau akan menemui ku kembali."
Seluruh tubuh Elena memanas di bawah tatapan tajam Pria itu "Cukup, aku tidak akan menemuimu kembali, sudah tidak ada lagi yang tersisa dari masa lalu ku. Semua sudah berakhir, kehidupanku sekarang sudah lebih baik. Jangan mencoba menghancurkannya hanya karena bualan bodohmu yang tidak masuk akal."
Elena berbalik dan ketika kakinya ingin melangkah meninggalkan Pria itu, Luciano menghentikannya. Dia meraih lengan Wanita itu dengan cepat "Rose, Dengarkan aku baik-baik. Kau mungkin bisa menghindariku, tapi tidak dengan Liam. Jangan pernah melupakan Anak itu. Dia juga Puteramu. Temui Dia"
"Lepaskan !" Wanita itu menarik tangannya, wajahnya memucat. Dia tahu bahwa ucapan yang dilontarkan di bibirnya tidak sepenuhnya sama dengan apa yang ada di hatinya.
Jauh di dalam hatinya, Elena sangat ingin menemui Liam, Putera keduanya tersebut.
Tidak ada respon apapun lagi, Elena lebih memilih membungkam dengan ajakan Luciano.
Wanita itu langsung berlalu pergi meninggalkan Luciano. Garis pundak Elena tampak tegang.
Pria paruh baya itu hanya menatapnya sedemikian rupa hingga yang benar-benar ingin Luciano lakukan adalah mencoba menghentikan wanita itu dan menolongnya, bagaimanapun Luciano masih memiliki perasaan masa lalu untuk Elena.
__ADS_1
Tapi, tidak bagi wanita itu, tidak ada perasaan apapun di dalam diri Elena untuk Pria itu.
***
"Kenapa Harumi tidak ikut bersamamu ?" tanya Elena pelan
Sorot mata Anton hanya berfokus pada pemandangan jalan raya di depannya, karena saat ini ia sedang memegang kendali mobil.
"Ia sedang bersama Julie."
Tetapi pernyataan singkatnya yang dingin tidak mempengaruhi Elena dan ia merasakan penarikan diri Puteranya tersebut. "She is fine ?"
"Yah, She is Good"
"Mama hanya ..."
"What ? " sekilas Anton menoleh, dan secara emosi ada sesuatu yang bergeser.
"Tidak. Mungkin hanya perasaan mama saja." gumamnya
Mendadak Anton mulai mengajukan Pertanyaan itu,
"Siapa sebenarnya Pria yang tadi Mama temui ? Who is he ? Aku melihat kalian bersikap canggung setelah aku datang."
Elena merasakan sekelebat rasa cemas yang tak bisa ia cegah atau pahami, dan itu tidak masuk akal "Dia hanya teman lama Mama. Kami tidak sengaja bertemu dan sudah lama tidak bertemu dengannya."
Kedua alis Anton menyatu, "Sepertinya wajah Pria itu tidak asing, dan kurasa dia adalah Orang Penting"
"Cukup, Anton. Tidak usah membahasnya lagi."
"Luciano... Yah bukankah Luciano namanya ? aku tidak ingat nama belakangnya. Siapa nama lengkap Pria itu ?"
Dorongan pertanyaan itu semakin membuat Elena tersudut, wanita itu sama sekali tidak ingin membahas Luciano dengan Puteranya. Tapi, ia mengerti sifat Anton yang tidak akan menyerah sampai ia menemukan apa yang diinginkannya.
"Sebaiknya kita tidak usah membahasnya, itu tidak penting. Mama sangat lelah dan hanya ingin beristirahat."
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you ❤