
Cathy sedang menunggu Harumi di ruang santai, merebahkan dirinya di sofa lembut sambil menonton Acara Tv favoritnya.
Tak lama Harumi keluar sambil menarik kopernya, ia sudah bersiap walaupun Cathy menyadari kedua mata sahabatnya itu tampak sembab setelah keluar dari kamar cukup lama.
Tidak perlu mengajukan pertanyaan perihal apapun, itu sudah bisa dipastikan kalau Harumi menghabiskan waktunya dengan menangis dalam kesendiriannya.
Mengamati dengan rasa simpati dan tentu saja rasa bersalah , Cathy hanya tidak ingin membuat Harumi salah dalam memilih langkah.
Dia cuma ingin sahabatnya bahagia.
Harumi meletakkan kopernya di samping nakas, kemudian dia mendekat kepada Cathy dan memeluk sahabatnya itu dengan erat "Thank you, Cathy. Iam so sorry"
Cathy tersentak, kedua matanya melebar ketika Harumi memberikan pelukan untuk berpamitan.
Kedua bibirnya melengkung, ada sedikit kelegaan dalam dadanya "Hei..Kau selalu diterima disini. Please, kau harus kuat. Seiring waktu perasaan itu akan menghilang. Trust Me, Ok " Wanita itu menepuk pelan punggung Harumi, berusaha menguatkan nya.
Harumi hanya sekilas tersenyum walaupun tu hampir menyakitkan, karena kini untuk tersenyum pun itu masih terasa perih "Apa kau tidak bekerja ?"
"Ini masih jam makan siang, mungkin sebentar lagi aku akan kembali ke Gallery"
Sekilas Harumi mengangguk "Ok, aku pergi dulu. See you. "
Lalu Harumi berbalik, mengambil kopernya melangkahkan kakinya dengan cepat menutup jarak di antara dirinya dan pintu. Kemudian... Harumi pergi, meninggalkan Apartemen tersebut.
Begitu Harumi pergi, Cathy menyadari, tanpa keraguan, bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan memaksakan Harumi melawan apa yang ada di hatinya.
Sekilas Cathy mengingat perkataan Harumi dulu, bahwa terkadang Jangan pernah menyesali semua yang sudah dilakukan, tapi penyesalan akan datang ketika kita tidak melakukan apapun.
Semua yang dikatakan Harumi benar,
Cathy sadar, Harumi merasakan perasaan itu. Itu adalah Cinta bukanlah semata-mata hanya sebuah Obsesi sesaat.
Harumi jatuh cinta dengan Liam. Memang benar adanya.
Tapi...
Dia kembali kepada Anton untuk kebaikan semua orang dan mengesampingkan perasaannya. Dan itulah yang dilakukannya sekarang.
Memberikan Kesempatan Terakhir kepada Pernikahannya.
Adalah tindakan yang paling bijaksana.
***
Di dalam mobil, Harumi hanya diam seraya hanya melemparkan pandang dari balik jendela mobil. Sejak ia turun dari Apartemen Cathy, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Tatapannya kosong, jantungnya serasa masih di peras oleh banyak tentakel-tentakel masa lalu.
"Rumi ?" panggil Anton
"Hmm.." jawab singkatnya
Pandangan mata Anton tertuju di depan sambil terus memegang kendali mobil, sesekali ia melihat kepada Harumi "Apa kau sudah makan ?"
Harumi memejamkan mata erat-erat, lalu menghela napas. Setelah sedetik, ia menjawab "Sudah"
"Apa yang kau lakukan selama di New York ? bersama Cathy ?" tanyanya lagi
Rasa canggung menjalar kuat di antara keduanya, dan perasaan tidak nyaman terus menguasai atmosfir mereka saat itu.
Pikiran Harumi mengatur kata-kata dan dengan sangat hati-hati menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat di hindari wanita itu "Jalan-jalan" jawaban singkat tapi ada kejanggalan yang terkandung di dalamnya karena Anton pasti akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terus menerus sampai ia puas.
"Pasti kalian terlalu sibuk jalan-jalan hingga kau sangat sulit dihubungi. Bahkan semua pesan singkatku tidak ada satu pun yang kau balas " Anton bertanya dengan suara parau terdengar jelas sampai ke telinga Harumi.
Anton menunggu jawaban, tampak seakan-akan membutuhkan waktu.
Perut Harumi bergejolak "New York Kota besar, jadi kau akan mengerti."
Wanita itu menarik napas tajam "Soal komunikasi, aku hanya ingin berfokus untuk diriku sendiri selama di sini. Aku tidak ingin bicara mengenai apapun denganmu. Dan tidak ada yang perlu dibahas" lanjutnya tanpa mengalihkan tatapannya dari Anton.
Anton meraih tangan istrinya lalu menggenggam erat "Kumohon berhentilah melakukan perlawanan, Rumi"
Entah sampai kapan ini akan dilalui Harumi di sepanjang hidupnya, mungkin hanya awal makanya rasa sakit itu masih sangat terasa.
Tapi, sampai kapan. Pasti dengan berjalannnya waktu, sisa rasa ini akan hilang dengan sendirinya.
Mungkin saja.
Tolonglah, Tuhan, jangan biarkan ini menjadi kesalahan yang besar. Harumi sudah melakukan kesalahan dan dia hanya ingin memilih Langkah yang benar untuk hidupnya.
Harumi membuka bibirnya, tetapi apa pun yang hendak dia katakan telah menguap dari bibirnya. "Kita kemana ?"
Mata Anton menyipit "Ke rumah Ameera, kau lupa ?"
Dengan ekspresi datar, Harumi hampir melupakan salah satu tujuannya kemari adalah menjenguk Ameera. Sudah berhari-hari di New York, yang dilakukannya hanya menghabiskan waktu di Penthouse. Bersama nya. Itu membuatnya lupa.
Kau terlalu Bodoh, Rumi. Kau sibuk menghabiskan waktu dengan Liam. Arrrgghhh, sadarlah !!! Wake Up !!!
Wanita itu mengerjap beberapa kali menjernihkan pikirannya.
Begitu mengingat nama itu kembali terlintas dalam pikirannya, untuk sejenak Harumi terpaku tanpa suara dan melupakan kehadiran Anton yang kini sedang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Fokus.
Dengan hati-hati, Wanita itu mencuri pandang kepada suaminya yang masih fokus dengan kegiatan menyetirnya. Dan Anton tidak lagi mengajukan pertanyaan yang membuat rasa mual di dalam perut Harumi bergejolak.
Raut wajah pria itu sama sekali tidak terbaca saat membalas tatapan wanita itu "What ?" ucap Anton heran
Harumi setengah terkejut lalu mengangkat sekilas bahunya "No"
Dia menatap Anton sementara seringai miring perlahan muncul di bibir pria itu. Alisnya terangkat. "Apa kau memperhatikanku ?" godanya
Dari segala hal yang diharapkan Harumi akan dikatakan Anton, ini tidak termasuk di dalamnya. Dan rasanya agak lucu, karena dia tidak terkejut Anton bersikap begitu angkuh.
Harumi langsung memalingkan wajahnya dengan seringai miring yang sama "Jangan terlalu percaya diri"
Suasana yang sebelumnya sangat canggung di antara mereka, kini perlahan-lahan mencair dengan sendirinya. Walaupun belum sepenuhnya Harumi bisa menerima keadaan ini.
Ini semua membutuhkan waktu.
***
Walaupun melewati beberapa jam yang cukup lama, dan harus menembus kepadatan jalan raya kota New York. Akhirnya mereka sudah di California, dan sebentar lagi akan tiba di rumah Ameera.
Selama dalam perjalanan, Harumi sempat tertidur sambil bersandar pada jendela mobil. Matanya cukup lelah karena Anton terus mengemudikan kendaraan mereka tanpa berhenti.
Karena ia ingin segera tiba di rumah Kakak Perempuannya tersebut.
Ameera dan Suami beserta ketiga anaknya memilih tinggal di California. Ameera tidak bekerja, ia hanya fokus mengurus ketiga anaknya. Sedangkan Robert Hardy, suami Ameera bekerja di salah satu Perusahaan Pialang terkenal di Amerika.
Kehidupan Pernikahan Ameera sangat harmonis dan sempurna. Selain memiliki kehidupan financial yang berkecukupan, kedua anak perempuan yang sangat cantik. Ameera diberi satu karunia lagi yaitu melahirkan seorang bayi Laki-laki yang tampan.
Setibanya di rumah , Harumi dan Anton di sambut hangat oleh Ameera dan kedua anak perempuannya.
"Rumi, sayang How are you ?" Ameera melangkah dari pintu setelah melihat kehadiran Harumi yang baru keluar dari mobil tampak tak sabar langsung memeluk nya dengan erat.
Harumi sangat diterima di dalam keluarga Anton, kakak iparnya sangat menyayanginya. Ini pertama kalinya, Harumi berkunjung ke rumah Ameera.
Dan rumahnya mewah dan nyaman, sangat bersih untuk keluarga kecil mereka. Ameera sangat menyukai tanaman, tampak dari taman bunga di halaman depannya yang sangat terawat.
"Yuk, kita masuk" ajak Ameera menarik tangan Harumi
Tak lama menyusul kedua anak perempuannya berlari menghampiri mereka dengan gembira "Hi Aunty Rumi. Nice to meet you" sapa Alana si anak Sulung yang kini hampir beranjak teeneger
#Jangan lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤