Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 160 No Time to Break


__ADS_3

"Apa rencana anda selanjutnya ?" tukas Gordon si Sekretaris berbalik menatap Anita yang tengah sibuk memainkan layar ponselnya


Mata Wanita paruh baya tersebut mengamati serius berbagai email yang masuk, tapi ia masih bisa mendengar ucapan Sekretaris kepercayaannya tersebut dengan baik "Awasi terus mereka"


"Baik, Nyonya" tegasnya


"Bukankah Menantu laki-laki dari Elena bekerja di sebuah Perusahaan Pialang ?" Walaupun sambil mengutak atik ponselnya, Anita masih bisa fokus berbicara dengan Gordon


"Benar, Nyonya. Robert John Aldrich bekerja sebagai Manager Perencanaan di Exness Company. Semua berkat dari koneksi kedua orang tuanya oleh karena itu kariernya berjalan mulus."


"Rupanya Keluarga Aldrich. Oke" Anita menyeringai miring


"Apa ada..."


"Jala** itu memiliki usaha di Bristol ?" sela wanita itu


"Nami Florist, Toko Bunga yang sudah berjalan hampir 5tahun. Untuk sementara Nona Harumi di New York, ibunya yang menjalankan usaha itu. Dan menurut informasi yang saya temukan, beberapa tahun terakhir ini Tuan Liam sering sekali mempromosikan Toko Bunga itu, sehingga kini usaha itu sangat berkembang pesat dengan beberapa Pelanggan besarnya semua dari kenalan Tuan Liam."


Anita terkesiap, konsentrasi yang awalnya tengah fokus pada ponsel miliknya kini mulai teralihkan dengan perkataan terakhir Gordon.


Wajah wanita itu terangkat dan menatap Gordon dengan mata yang menyipit "Apa maksudnya Liam membantu wanita itu beberapa tahun belakangan ini ? Apa dia sebenarnya sudah lama mengenal wanita itu ?"


"Sekitar lebih dari setahun belakangan ini Tuan Liam adalah orang dibalik kesuksesan penjualannya, dan sepertinya wanita itu tidak mengetahuinya. Karena Tuan Liam menyembunyikan identitasnya. Saya belum dapat informasi lebih jelasnya, tapi yang saya ketahui hubungan keduanya baru berlangsung sekitar dua bulan ini."


Menarik napas dalam, ekspresi Anita datar. Otaknya dipaksa untuk berpikir satu per satu benang merah yang sangat ingin ditemukannya, masih banyak kejanggalan dari hubungan Puteranya tersebut dengan Harumi yang membuatnya buntu dan bingung "Ada yang aneh, mereka baru saling mengenal 2 bulan sedangkan Liam sudah mengenal wanita itu setahun yang lalu. Kenapa Puteraku mendekatinya baru sekarang ? Dan bagaimana dia mengenal nya ?"


Gordon menggeleng "Untuk hal itu saya belum dapat informasi lebih lengkapnya. Jadi, apa rencana Nyonya ?"


Raut seriusnya tampak sangat jelas, ia menatap tajam Sekretaris Gordon yang duduk di samping Sopir "Habisi mereka, pertama hancurkan Toko Bunga itu. Buat itu seolah seperti sebuah kecelakaan atau apapun itu. Aku ingin semua berjalan dengan rapi, jangan ada saksi mata. Kemudian, orang-orang yang berhubungan dengan Elena dan juga Harumi. Satu per satu harus menerima akibatnya juga." Anita mengeluarkan seringai sinis lalu berubah menjadi tertawa tanpa sebab "Biarkan semua Hancur dan merasakan penderitaan, itulah balasannya. Roseanne...begitulah akibat dari semua perbuatanmu di Masa Lalu, dan Harumi si Jala** itu akan menyaksikan orang-orang yang dicintainya tersiksa."


"Baik, Nyonya" Gordon mengangguk tanda ia siap menlaksanakan perintah atasannya.


***


"Mom, kumohon jelaskan padaku ? Ada apa sebenarnya ?" Ameera terus menerus memegangi lengan Elena yang diam duduk di sofa


Sejak Anita pergi meninggalkan mereka dalam keadaan tidak berdaya, Elena terus bungkam. Dia memilih duduk di sofa tanpa sepatah katapun dan tatapannya kosong dengan tubuh yang masih gemetar.


Melihat kondisi ibunya, Ameera sangat cemas. Ia bahkan terus-terusan meneteskan air mata dan mengusap bahu serta memeluk ibunya yang tampak masih sangat syok "Kumohon bicaralah"


Tubuh kaku Elena dan terasa dingin menghilangkan kesadarannya untuk bergerak, ia seperti mematung. Sampai akhirnya, ia membuka suara setelah mendengar suara langkah kaki seseorang yang tengah memasuki rumah.

__ADS_1


Anton.


Pria itu pulang dengan keadaan wajah yang tertekan bahkan penampilannya sangat berbeda ketika kemarin ia pergi ke Acara Pesta di Manhattan bersama Harumi.


Anton lusuh dan masih tercium aroma alkohol yang menyengat.


Menyadari kedatangan Anton, Elena langsung berdiri dan menatap Puteranya tersebut "Kau sudah kembali ? Mana Harumi ?!" wanita paruh baya itu beralih menatap ke arah belakang punggung Anton mencari-cari sosok Harumi, ia masih berharap Menantunya itu pulang bersama Puteranya.


Pria itu tidak mau memandang ibunya, ia memalingkan wajahnya. Anton hanya diam.


Dengan sorotan mata geram menahan diri dan sakit di dadanya. Wajah Elena sangat pucat, ia mendekati Anton "KATAKAN, ANTON ! MANA HARUMI ??!" teriaknya


Anton bungkam. Ia mematung, tidak menatap ibunya. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya dari samping.


Napasnya memburu, kedua tangannya dikepalnya dengan erat.


Elena tidak sabaran setelah melihat tingkah Puteranya yang hanya diam "JAWAB AKU ! DIMANA ISTRIMU ?!" timpalnya


Anton hanya melirik sebentar ke arah ibunya, lalu ia membuang wajahnya dengan cuek. Ia pergi begitu saja menuju ke Lantai Atas dengan tergesa-gesa meninggalkan Elena.


"A-anton..." panggil Elena. Tapi, Pria itu hanya berlalu begitu saja.


Elena tampak terkejut, perih di dadanya semakin terasa. Wanita itu terus memegangi dadanya, karena jantungnya berdebar dengan hentakan yang begitu keras.


Kepalanya pusing, kedua matanya kabur melihat sosok Anton yang menaiki anak tangga.


Elena hampir terjatuh tapi ia masih sempat berpegangan pada dinding, melihat kondisi ibunya. Ameera bergegas membantu ibunya, dan membawa Elena ke kamar dengan kondisi yang mulai lemah.


Sambil manahan sakit, Elena menatap Ameera "Meera, kumohon berjanjilah jangan katakan apapun mengenai...m-masalah tadi ke-kepada Anton. Rahasiakan i-tu d-darinya"


Ameera yang menopang sang ibu di bahunya, mengangguk pelan. "Bertahanlah"


Elena berhasil di baringkan di kamarnya dan Ameera segera memberinya obat.


***


"Aku akan menunggumu di luar" Liam mengambil jaket kulitnya lalu keluar kamar.


Pria itu sudah berpakaian rapi, ia terlihat gagah mengenakan jaket kulit berwarna hitam yang dipadukan dengan kaos hitam, celana jeans hitam, sepatu boots hitam dan dilengkapi dengan kacamata hitam yang tergantung di bagian leher kaosnya. Liam memang sangat menyenangi warna hitam dan abu-abu.


Harumi tampak sudah mengenakan dress putih selutut, rambutnya dibiarkan tergerai dan mengenakan flat shoes berwarna coklat.

__ADS_1


Ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya dengan perasaan yang masih tidak tenang. Ia menarik napas.


Tentu saja, ada perasaan yang terus mengganjal karena masalah demi masalah tidak ada satu pun yang terselesaikan di dalam hidupnya.


Harumi sadar akan hal tersebut, tapi ia tidak bisa mundur. Harumi memilih jalan ini untuk terus maju, walaupun akan banyak resiko besar yang sedang menghadangnya.


Harumi beralih menatap ponselnya yang masih tergeletak di atas meja riasnya yang kini sudah dalam keadaan off karena kehabisan daya.


Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil ponsel tersebut memasukkannya ke dalam tas.


Sebelum ia keluar kamar, Harumi memilih duduk sejenak di tepi ranjang dalam keheningan. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dadanya sesak. Perih.


Kepalanya menunduk seketika airmata itu keluar secara perlahan dari kedua matanya.


Harumi menangis. Tangisan yang sudah meraung tapi ia menahannya di depan Liam. Ia tidak ingin pria itu melihat dirinya menangis lagi, Harumi tidak ingin terlihat lemah, walaupun ia bodoh dan begitu jahat. Wanita itu tetaplah manusia biasa, Harumi bukanlah wanita sempurna yang memiliki sisi Malaikat, ia pun sama seperti manusia lainnya yang tidak luput memiliki Sisi Gelap.


Tidak ada yang sempurna didirinya, ia tidak pernah ingin menyakiti siapapun hanya untuk mengejar kebahagiaannya semata.


Walaupun jalan yang diambilnya salah, tapi ia ingin memperbaiki semuanya.


Beberapa menit kemudian, Harumi turun ke Lantai Bawah ia melihat Liam di Ruang Tamu sedang berbicara dengan Sekretaris Will.


Melihat kehadiran Harumi, Liam menatap dengan tersenyum. "Kita pergi sekarang ?"


Wanita itu mengangguk pelan.


"Sekretaris Will, lakukan yang kuperintahkan tadi."


"Baik, Tuan" Sekretaris Will mengangguk lalu berjalan lebih dulu membukakan pintu untuk keduanya


Liam meraih tangan Harumi agar berjalan sejajar dengannya. "Kau menangis lagi ?" ucapnya pelan .


Ternyata, Liam memperhatikan Harumi. Dia sadar dengan hal kecil apapun yang terjadi pada wanitanya, walaupun Harumi sudah berusaha menutupinya.


Harumi membuka matanya lebar dan menatap Liam. Ia terkejut "Hah ?"


Ia terkesima bagaimana mungkin Liam mengetahuinya, padahal Harumi sudah menutupi matanya yang agak sembab dengan makeup.


Liam menoleh sebentar ke arah Harumi "Aku tidak suka melihatmu menangis, apalagi tanpa sepengetahuanku. Kita akan Hadapi Bersama." Pria itu mempererat genggamannya di tangan Harumi.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank You ❤


__ADS_2