Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 106 Pengakuan Palsu


__ADS_3

Beberapa waktu berjalan mereka tidak saling bicara, menghasilkan kesunyian yang canggung di ruangan tersebut.


Wajah Harumi seketika dingin bercampur perasaan yang berkecamuk "Kapan kau tiba di sini ?"


Anton tidak menjawab, ia hanya terus memperhatikan istrinya dengan sorotan tajam. Sejak tiba di sini, Harumi seakan membawa perisai kuat dan Menciptakan jarak pemisah di antara keduanya.


Jaga jarak.


Itulah yang sedang dilakukan Harumi sekarang dengan suaminya. Jadi, Harumi putuskan untuk menjaga jarak dan tidak ingin terlalu dekat.


Anton melangkah perlahan mendekat dengan tetap tidak melepaskan pandangannya dari Harumi, tapi dengan refleks Harumi melangkah mundur.


Langkah Anton semakin cepat, hingga membuat Harumi tidak dapat melarikan diri kemana pun karena saat ia mundur tubuhnya tepat mengenai tepi meja makan.


Harumi mematung hanya bisa terperangkap, lalu Anton mengulurkan tangannya meraih tangan istrinya lalu menariknya dalam pelukannya.


Tubuh Harumi bergetar "A-apa yang kau lakukan ? Lepaskan, Anton !"


Anton tak bergeming dengan penolakan istrinya, walaupun wanita itu berusaha mendorong tubuhnya. Tapi, semakin erat Anton mendekatkan Harumi dalam dirinya.


Anton memeluk Harumi, dengan kerinduan yang tak ingin ia ungkapkan hanya dengan kata-kata. Perasaan merindu itu ingin di sampaikannya melalui pendekatan lebih intens dengan Harumi.


Itulah yang sedang dilakukannya sekarang.


"Harumi...iam so sorry karena tidak memperlakukanmu dengan baik selama ini. Please, I want you back" Anton mengusap bahu istrinya dengan pemujaan akan kerinduannya yang selama ini dipendam Pria itu.


Harumi tak hentinya mendorong tubuh suaminya "Lepaskan aku" tolak nya dengan tegas, tapi Anton tidak menyerah begitu saja "Dengarkan aku, Rumi. Kumohon berhentilah bersikap seperti ini, aku berjanji pada ibumu, aku tidak akan melepaskanmu lagi"


Mendengar kata-kata Anton, seketika Harumi terdiam dan berhenti bersikap berontak. Ucapan Anton membuat jantungnya semakin berdetak cepat, Harumi mendongak.


Alis Harumi terangkat "Apa maksudmu ? Kau menemui ibuku ?"


Pria itu menatapnya dalam-dalam "Yah"


"Apa yang kau bicarakan padanya ? Katakan padaku !" Raut wajah Harumi semakin tegang dan ada rasa kekhawatiran yang berkecamuk dalam dadanya.


Kecemasan itu beralasan karena Harumi tidak ingin Ibunya mengetahui tentang kondisi Rumah tangganya sekarang. Dia tidak ingin membuat ibunya ikut menderita dengan semua yang dialami nya. Sudah cukup, bagi Harumi semua permasalahan yang akan dihadapinya sekarang ataupun nanti. Ia tidak ingin melibatkan keluarganya.


Anton dengan hati-hati melepaskan Harumi dari pelukannya, dan memberikan jarak di antara keduanya.

__ADS_1


"Bukan sesuatu yang harus diperdebatkan sekarang, Rumi" bantah nya


Kejengkelan menyengat kulit Harumi saat ia menatap suaminya "Aku tidak ingin keluargaku terlibat dalam permasalahan kita. Aku tidak mau ibuku harus menderita melihat kondisi Rumah tangga Putrinya. Cukup aku saja yang menanggung semua resikonya. Jangan Ibuku."


Sesaat Anton ingin membuka bibirnya, matanya menoleh ke samping. Sorotannya tajam melihat kehadiran Cathy yang tiba-tiba menurutnya tidak tepat ketika tanpa sengaja Cathy ingin menuju Ruang tamu untuk menghampiri mereka.


Cathy pun melemparkan tatapannya ke lain arah, Wanita itu tampak canggung karena berada di waktu yang tidak tepat "M-maaf ..."


Anton mengerutkan kening "Sepertinya Miss Jones datang di waktu yang tepat" Anton tersenyum sinis menatap Cathy


Cathy tidak membalas tatapan Anton, Ia hanya menatap Harumi dengan sikapnya yang tampak kebingungan "Ok, baiklah. Iam sorry, aku akan biarkan kalian.."


Harumi langsung mencegah sahabatnya itu sesaat Cathy ingin berbalik meninggalkan mereka "Cathy wait..."


"Kami yang seharusnya keluar, this is Your Apartment. Maaf sudah mengganggumu" lanjutnya


Anton merasa ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuknya berbicara serius dengan Harumi "Aku akan menunggumu di luar, kau bisa menyiapkan semua barang-barangmu." Pria itu melangkah ingin meninggalkan mereka, lalu matanya beralih melihat paper bag tergeletak di lantai tepat di samping kaki istrinya yang tadi dibawa Harumi sebelumnya.


Isi paper bag itu ada gaun pesta milik Harumi yang dibawanya dari Penthouse Liam.


"What is that ?" tanyanya


Pundak Wanita itu terangkat sekilas "Nothing"


Anton bukanlah Pria yang mudah di bohongi dengan jawaban klise seperti itu, Alisnya berkerut kedua matanya menyipit "Kau dari mana tadi ?"


Harumi hampir kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan suaminya.


Cathy yang menyadari sikap Harumi, langsung memotong ucapan Anton dengan setengah berlari mengambil paper bag itu "Its Mine, Not hers. Aku meminta Harumi mengambilnya di Butik yang sudah kupesan lama" seolah Wanita itu sudah menduga apa yang akan terjadi jika ia tidak berinisiatif untuk lebih dulu bertindak. Cathy bisa memastikan akan ada kecurigaan di antara mereka yang akan membahayakan hidup Harumi.


Sekilas Anton melirik Cathy dengan tatapan sinis dan menusuk. Pria itu seperti mengeluarkan aura yang tidak bersahabat kepada Cathy, padahal ia tahu Cathy adalah sahabat baik dari istrinya.


Seraya menarik napas, Anton setengah percaya dengan ucapan Cathy, tapi ia tidak ingin memperpanjangnya "Bersiap-siaplah, aku akan menunggumu di bawah" Anton langsung berjalan menuju pintu dan meninggalkan mereka.


Setelah melihat Anton keluar dan selesai menutup pintu, Cathy bergegas memastikan bahwa Anton benar-benar meninggalkan mereka. Dan keberadaan nya tidak ada. Barulah, ia bisa bernapas lega dan bebas berbicara dengan Harumi.


"Oh Tuhan !" ucap Cathy lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Kemudian ia berbalik melihat Harumi yang masih berdiri di posisinya yang tadi. Cathy heran, melihat Harumi yang masih mematung.

__ADS_1


"Rumi ?" panggilnya


Harumi tidak merespons apapun, tatapannya kosong.


"Hei, Rumi ? You ok ?" panggilnya lagi


Akhirnya Harumi mengangkat wajahnya, Cathy tersentak menatap mata Harumi yang berkaca-kaca. "Oh Tuhan, Rumi "


Cathy menghampirinya, dan berusaha menenangkan sahabatnya tersebut.


Tangan Harumi bergetar mencengkeram tepi bajunya, melihat sikap nya seperti itu. Cathy semakin khawatir. "Ada apa Rumi ?"


Wajah Harumi tertekuk "Kenapa Aku merasa kosong, kenapa tubuhku seperti bukan milikku lagi sekarang."


Cathy menatapnya "What's wrong ? Tell me"


"A-apa yang harus kulakukan, Cathy ? Apa aku harus melanjutkan pernikahan ini dengan kebohongan. He wants me back. Tapi...sebagian diriku berusaha menolaknya, sebagian diriku yang lain merasa bersalah. A-aku...aku..." Airmata itu akhirnya mewarnai rona wajah Harumi. Mengalir di kedua pipinya.


Cathy merasakan gelombang rasa siksa dalam diri Harumi, ia tahu sahabatnya itu sedang berada di persimpangan yang masing-masingnya memiliki resiko besar bagi hidupnya.


Harumi sadar bahwa ia telah menghancurkan hidupnya dan akan menghancurkan lebih banyak kehidupan orang lain lagi.


"Aku tidak ingin membuat kedua orangtuaku hancur mendengar yang sebenarnya terjadi."


"Rumi, apa kau masih menyisakan perasaan itu pada Anton ?"


Harumi menyadari konsekuensi yang harus dihadapinya dari kelakuannya yang tidak bermoral. Ia sadar, Anton tidak akan pernah memaafkannya.


Pengkhianatan yang menyakitkan akan membuat tidak hanya Anton yang menderita tapi juga Harumi.


"I dont know, aku tidak bisa mengendalikan sesuatu yang terus bergejolak di dalam diriku"


Cathy mencengkeram kedua tepi bahu Harumi dan menatapnya "Listen to me ! Kau harus melupakan Pria itu. Membuang jauh-jauh perasaan semu itu. Dan kembali pada Anton. He loves you, he is your husband. Kau ingat itu. He is your Husband"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2