
Nami yang tidak mampu menahan tangis, terus menerus menggenggam tangan suaminya sambil berucap bahwa ini akan baik-baik saja.
Tapi, hati dan pikirannya berkata lain. Semua akan semakin memburuk jika mereka tidak melakukan apapun.
"Harry, itu jumlah yang sangat besar. Kita tidak mampu membayar ganti rugi itu."
Harry menatap sang istri, berusaha melawan kecemasannya yang hanya bisa tersenyum dalam tekanan "ini akan baik-baik saja. Tenanglah, aku akan menyelesaikannya."
"Bagaimana ?! Uang yang kita miliki bahkan tidak mampu membayar separo dari uang ganti rugi itu." Nami berdiri dan melepaskan genggamannya, wajah ibu tiga anak tersebut semakin gusar. Dia begitu mencemaskan nasib anak-anaknya nanti. "Apa kau yakin sudah memeriksa semuanya ? Apa mungkin saja mereka berbohong dan memanipulasi semuanya karena ingin mengambil keuntungan dari kita ?" suara wanita itu berubah
Dengan tegas, Harry bersuara bahwa apa yang dikatakannya bukan hal yang mustahil "aku sudah memeriksa kondisi mobil itu, bahkan aku sudah ke Rumah Sakit. Semua berkas kerusakan dan dokumen pasien dari Rumah Sakit. Semua membenarkan kejadian itu."
Tubuh wanita paruh baya itu melemah, dadanya perih sehingga berulang kali ia mengusap dengan menahan debaran jantungnya yang meningkat.
Nami ketakutan, begitu pun suaminya, Harry. Pasangan Suami Istri itu merasa semakin tersudut dengan pikiran yang buntu.
Mengganti sejumlah uang yang sangat besar bagi keluarga mereka, tentu saja akan mengalami kesulitan.
"Nami, kumohon jangan beritahu Harumi mengenai kejadian ini." Harry berdiri menghampiri istrinya. Memandangi wanita itu yang tampak hanya ketegangan di wajahnya.
"Harumi jangan sampai tahu masalah ini, ia pasti akan kepikiran." lanjutnya sambil mengusap bahu sang istri
Nami berbalik dengan cepat "Cepat atau lambat Putri kita juga akan mengetahuinya. Yang sekarang kita pikirkan bagaimana kita bisa mengganti uang sebanyak itu. Walaupun, kita menguras habis uang tabungan dan menjual semua milik kita. Tetap tidak akan bisa melunasinya."
Harry berdiri mematung, ia menelan salivanya. Tatapannya kosong. Sampai Nami mengguncang bahu suaminya "Harry, apa mereka memberi kita waktu ?"
Kedua kelopak mata pria paruh baya itu terangkat, melihat wajah istri yang sangat dicintainya dengan perasaan bersalah "Lima hari, Mereka mengatakan jika lewat lima hari maka mereka akan melaporkannya ke jalur hukum. Dan mengambil semua milik kita dan memenjarakanku." dengan suara yang bergetar dan terbata-bata, kedua tangannya menangkup wajah Nami yang mulai pucat dan menangis lalu menarik sang istri dalam pelukannya "Iam sorry, iam so sorry. Aku berjanji ini akan berakhir dengan baik-baik saja."
Mendengar perkataan suaminya, Nami semakin sedih. Ia tenggelam dalam pelukan, merasakan betapa perihnya masalah yang sedang mereka hadapi sekarang. Ia mengenal baik, bahwa suami yang selalu didampinginya adalah Pria yang bertanggung jawab dalam keluarga. Harry Whiston tidak pernah ingin menyakiti keluarganya.
Pria sebaik Harry, yang sangat mencintai keluarganya. Tidak akan mungkin berbuat seceroboh itu dalam pekerjaan. Harry selalu berulang kali memeriksa setiap kendaraan yang di perbaikinya berulang kali sebelum di serahkan kepada Pemiliknya.
Dan ini untuk pertama kalinya, Harry tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Sebuah masalah yang tetiba muncul, dengan segala tekanan dan ancaman yang menyudutkan dirinya dan keluarga.
***
"Aku ingin bicara dengan mu, nak" sahut Elena tengah duduk di sofa ruang tengah yang melihat Puteranya sedang berjalan melewatinya menuju pintu
__ADS_1
Ekspresi Anton datar, ia sama sekali tidak memperdulikan panggilan ibunya. Dan memilih terus melangkah.
"ANTON !" suara kencang Elena akhirnya mampu menghentikan langkah Puteranya tersebut.
Menarik napas panjang, Elena menatap Puteranya dengan tajam "Dimana Harumi ?!"
Walaupun sebenarnya Elena mengetahui keberadaan Harumi, ia tetap memilih untuk mendengar langsung dari mulut Puteranya.
Anton berdiri terpaku membelakangi ibunya, diam. Sorot matanya dingin, tubuhnya kaku menegang saat nama istrinya terdengar di telinganya.
"Dimana ISTRIMU, Anton ?!" Elena mengulanginya lagi lebih tegas saat kata itu terucap dibibirnya.
Pria itu mengangkat wajahnya dan suara napasnya memburu. Ia berbalik "untuk apa ? tidak perlu mengetahui keberadaannya." kedua alis Anton terangkat
Elena terkejut, kedua matanya terbuka lebar. Ia tidak menyangka dengan jawaban Puteranya tersebut "ibu mengkhawatirkanmu. Harumi is your wife, ia bahkan sudah tidak ada kabar semenjak kau pulang dari Pesta itu. Sewajarnya ibu ingin mengetahui keberadaannya..."
"Dia BUKAN istriku lagi." jawaban penuh Tegas dan keyakinan. Sontak itu menjadi hentakan keras bagi Elena, dadanya seolah dilempar oleh ribuan Batu yang menghujam tak berhenti.
Pernyataan Anton, merobek perasaan Elena. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak ingin Pernikahan Puteranya akan berakhir menyedihkan seperti ini. "A-apa yang terjadi, nak ? Katakan padaku..."
"Listen Son, apapun yang dilakukan Harumi. Ia pasti memiliki alasannya, Harumi adalah wanita yang baik. Ia sangat mencintaimu."
Anton tertawa mengejek sambil mengangkat salah satu alisnya "Love ? sebaiknya ia belajar lagi, istri sepertinya tidak akan lama bertahan hidup. Dan perlakuannya selama ini hanyalah Topeng, DASAR WANITA MURAHAN !!"
Semakin Elena melanjutkan, ia semakin tidak sanggup mendengarkan setiap perkataan Anton yang mengerikan kepada Harumi.
Respon Anton yang tidak disangka-sangka membuat suasana tidak hanya menegangkan tapi sesak oleh rantai-rantai dendam yang dipancarkan Puteranya tersebut.
Saat Elena ingin berdiri, menghampiri Anton. Suara ponsel berbunyi, Anton langsung mengambil dari saku celananya dan menjawab panggilan tersebut.
Ia langsung berjalan meninggalkan ibunya keluar rumah sambil berbicara cukup serius dengan seseorang di balik ponselnya.
Entah siapa yang sedang menghubunginya, tapi tampak jelas Anton menunggu-nunggu panggilan itu.
Elena gusar, dia berpikir bahwa Anton akan bertindak diluar batas. Ia mengenal sifat Puteranya. Keras kepala, dan ambisius. Bahkan jika ada yang menyakitinya, Anton tidak segan-segan untuk membalasnya seribu kali lipat.
Dan kekhawatiran itu yang membuat Elena semakin tersiksa.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Elena mengambil ponsel miliknya.
Menghubungi seseorang.
Menunggu beberapa detik, orang tersebut akhirnya menjawab.
"Hallo"
"Kau pernah mengatakan akan membantuku untuk bisa menemui Liam."
"Tentu saja, apa kau sudah siap menemuinya ?"
Sempat diam sejenak, Elena menguatkan hatinya karena ini tidak mudah baginya. Setelah puluhan tahun ia tidak pernah melihat Putera keduanya tersebut, dan dengan situasi seperti ini ia harus menemuinya. "Yah, aku harus meluruskan sesuatu"
"Maksudmu mengenai Hubungan Liam dan Harumi ?"
"Kau pasti sudah mengetahuinya, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi"
"Rose, ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui. Liam sudah memecat Anton dari Perusahaan."
"W-what ?!!! Apa maksudmu Luciano ?"
"Liam menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan Anton sedikit demi sedikit, demi wanita itu."
Respon Elena bungkam, dengan ketidakpercayaan atas apa yang sudah didengarnya. Wanita itu tidak menyangka, Liam akan bertindak sejauh itu demi melancarkan keinginannya. Apa sudah sejauh itu hubungan keduanya ? Bagaimana mungkin Liam sampai tergila-gila pada Harumi hingga bertindak seperti itu ? Apa yang direncanakan merek ?terus menerus Elena berperang dalam pemikirannya sendiri.
Elena mengenal Anton yang sangat bekerja keras untuk karier di Perusahaannya. Ambisinya yang besar, tekadnya untuk sukses, loyalitasnya selama bertahun-tahun seolah sirna hanya dalam sekejap mata.
Itulah kenapa, Amarah berkobar hebat di didalam dirinya saat ia berbicara kepada Elena tadi. Ini yang membuat Elena mengerti, karena istri dan kariernya direbut paksa oleh seseorang yang begitu besar kekuasaannya. Seseorang yang bahkan tidak diketahui Anton bahwa Pria yang sudah merebut Harumi dan menghancurkan Karier Pekerjaannya adalah Adik Laki-lakinya sendiri.
"Kedua Putera kesayanganmu saling menghancurkan satu sama lain, dan aku yakin Anthony sedang merencanakan hal gila untuk membalas perbuatan Liam. Pria yang dikhianati akan jauh lebih mengerikan daripada Pembunuh Berantai sekalipun. Dan kau harus segera memberitahu rahasia yang sebenarnya kepada keduanya, jangan sampai menyesal Rose. Jika kau terlambat, aku yakin salah satu dari mereka akan saling membunuh."
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1