Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 95 Satu Lagi Kebenaran Dirimu


__ADS_3

Nami Florist


Pukul 6.15 am


Mrs. Nami, Ibu Harumi sudah mulai membuka pintu Toko lebih awal hari ini. Wajahnya yang cukup murung tampak jelas terpancar. Wanita itu tiba di Toko menggunakan jasa Uber Car, walaupun biasanya ia selalu di antar oleh Mr. Whiston suaminya. Tapi, hari ini ia lebih memilih untuk berangkat seorang diri.


Matahari mulai pelan-pelan menampakkan sinarnya menyambut hari itu dengan sangat indah, karena perkiraan hari ini cuaca cukup cerah.


Mobil-mobil mulai lalu lalang menghiasi jalan raya di Pusat Kota Bristol dengan segala kesibukan lainnya dan beberapa Pelayan Toko di Pinggiran Jalan mulai membersihkan kaca-kaca etalase.


Dengan langkah perlahan wanita paruh baya itu memasuki Toko, bahunya turun seolah ada beban berat di tanggungnya seorang diri. Sejak keberangkatan Harumi ke New York, sang ibu menggantikan Putrinya untuk sementara menjalankan Toko Bunga ini bersama Beatrix.


Tapi...hari ini Nami membuka Toko lebih awal karena ia seperti merencanakan sesuatu. Wanita itu mulai merapikan Toko sebelum Beatrix datang, seharusnya Toko buka tepat pukul 8 pagi. Dan Nami selalu datang 30 menit sebelum Toko dibuka.


Di saat Nami meletakkan tas Coklat kecil miliknya di atas Meja Kasir.


Suara pintu kaca terdengar terbuka di belakang Nami, Wanita itu berbalik menatap seseorang yang berjalan memasuki Toko.


Nami memang terlihat sedang menunggu seseorang yang akan ditemuinya pagi ini. Dengan wajah datar, ia mempersilakan orang tersebut masuk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan Nami waktu ia tiba di Toko.


Kepala tegak, bahu tegap, punggung lurus, orang itu melangkah dan duduk dengan tenang.


Nami menyusul duduk di hadapan orang tersebut, sambil melemparkan tatapan serius "Bagaimana kabarmu, Anton ?"


Orang yang datang dan sedang duduk dihadapan Nami saat ini adalah Anton Riandra, Suami dari Putrinya.


Dengan wajah yang sangat tenang, Anton tidak menggambarkan ketidaknyamanan saat berhadapan dengan sang Mertua "Fine, Very Well Mrs. Whiston"


Nami memandangi ekspresi Menantunya tersebut, dan membuatnya nyaris menampakkan wajah kurang simpatik dengan Pria itu "Mendadak menghubungimu karena Aku ingin meminta sedikit waktu mu hari ini, untuk berbicara empat mata denganmu."

__ADS_1


Anton mengangguk "Its Ok, aku sangat senang bertemu dengan Anda"


Sekelebat awan hitam seakan sudah menyelimuti suasana kedua nya dengan sangat pekat.


Mereka sempat diam, lalu Nami melanjutkan pembicaraan "Aku mengajakmu bertemu di sini, agar bisa berbicara lebih tenang, karena ada banyak yang ingin kuketahui dari mu."


Anton sekilas menoleh ke sekeliling tiap sudut di dalam Toko tersebut, yang tertata rapi dengan berbagai jenis bunga di etalase. Mencoba mengingatkannya kembali entah sudah berapa lama sejak ia terakhir mengunjungi tempat ini. Bahkan ia sendiri pun sudah kesulitan mengingatnya, karena cukup lama ia tidak pernah menginjakkan kakinya ke sini walau hanya sekedar melihat istrinya.


Kemudian Anton teringat, waktu itu ia pernah memaksa Harumi untuk menutup Toko ini tapi dengan permohonan Istrinya yang tulus. Anton mengurungkan niatnya, kini ia menyadari Toko ini adalah dunia yang dimiliki Istrinya.


Pandangannya kembali beralih kepada Wanita itu "Ada apa Mrs. Whiston ?"


Menarik nafas panjang Nami berusaha tenang tanpa segumpal emosional di dadanya yang ingin mempengaruhi "Aku tidak pernah ingin mencampuri urusan rumah tangga Putriku, aku menahannya dalam diam. Tapi, aku benar-benar khawatir padanya, ia sangat menderita. Ia seperti menanggung beban berat seorang diri. Aku tahu...selama ini Ia menutupinya. Tapi, seorang Ibu akan tahu jika Putrinya sedang ingin meminta pertolongan. Ada apa sebenarnya dengan Rumah tangga kalian ? Bahkan Harumi sulit dihubungi beberapa hari ini."


Anton menampakkan segala sesuatu di wajahnya tiba-tiba terlihat sangat keras, rahangnya yang agresif, kilatan dimatanya dan ketegangan di pundaknya "Tidak ada masalah apapun di antara kami, semua baik-baik saja"


Anton tidak menjawab.


"Sejak pertama Harumi memperkenalkanmu pada kami, aku menaruh kepercayaan kepadamu. Karena aku tahu, apapun pilihan Putriku adalah yang Terbaik baginya. Harumi dengan wajah polosnya, mengatakan padaku bahwa Dia sangat Mencintaimu, senyuman Putriku adalah bentuk Kebahagiaan ku. Dan... sekarang sejak kecelakaan itu aku bahkan tidak pernah melihatnya tersenyum lagi. Kumohon Anton, apa yang kau sembunyikan sebenarnya. Apa yang terjadi dengan Harumi ?" Wanita paruh baya itu akhirnya tak mampu menahan lagi dan menunjukkan penderitaannya serta kerentanan.


Sejujurnya dalam diri Anton, ia tak ingin membahas pembicaraan ini. Dia berjanji tidak akan mengatakan yang sebenarnya mengenai dampak yang terjadi kepada kondisi Harumi setelah insiden tersebut.


Itu akan membuat ibu mertuanya akan semakin menderita. Menghancurkan harapan mereka.


"Apapun masalah kami, akan kami selesaikan bersama" jawab Anton enteng, matanya tertuju pada tangan Wanita paruh baya itu yang bergetar.


Entah apa yang ada dalam diri Anton yang sebenarnya, bahwasanya ia tidak pernah ada maksud menyakiti keluarga dari istrinya. Tapi, sifat keegoisannya yang sangat besar sudah mempengaruhinya terlalu lama. Bahkan dengan berbagai Rahasia Kelam yang mengiringi Pria itu.


Nami menggeleng "Tidak, aku tidak ingin mempercayaimu lagi. Sudah cukup, aku ingin kau berterus terang padaku, sejak lama aku menyembunyikan ini dari kalian. "

__ADS_1


"Maksud Anda ?" Anton heran


Nami menurunkan pandangannya lalu kembali mengangkat wajahnya dengan tegak, Wanita itu tidak mengurangi atmosfir ketegangan saat itu sedikit pun, sorotannya tak ada belas kasihan "Siapa Freddie James ?"


Ketegangan memuncak di wajah Anton, saat mertuanya tersebut mengucapkan sebuah nama yang membawa Pria itu pada kegelapan, mendorongnya pada rasa Takut yang besar "S-Siapa yang Anda Maksud ?"


Nami melengkung sinis merespons ketika Anton mulai menampakkan kecemasan "Jangan berpura-pura lagi Anton, jelaskan yang sebenarnya Siapa Anak itu ? Namanya Freddie James, bukan ?"


Tusukan rasa sakit yang panas seolah mengiris Anton dalam sekejap "Aku tidak mengenalnya"


Anton membuat Nami semakin Kesal "Jangan berbohong ! Siapa Anak itu ? Apa selama ini kau menyembunyikan Rahasia itu dari Putriku ? Bagaimana mungkin kau bisa bersikap sangat tenang"


Keheningan yang mengerikan meliputi mereka, menyadari arah Pembicaraan mereka.


Anton tak berkedip sedikit pun membalas tatapan mertuanya "Bagaimana Anda mengetahui hal itu ?"


Emosi menjalari Wanita Paruh baya tersebut, sepanas sungai Lava, mendorong dan menariknya meskipun ia telah terlalu terguncang oleh Kenyataan itu. Apalagi jika ia harus membayangkan bagaimana jika Putrinya mengetahui Kebenaran ini.


"Aku menemukannya tiga tahun lalu. Dokumen dalam Map Coklat yang tidak kau sadari terjatuh di lantai Ruang Kerjamu ketika Harumi memintaku mengambil Buku miliknya saat ia baru pulang dari Rumah Sakit."


Dengan tersentak, Anton mengatur ritme bicaranya dengan sangat hati-hati "Apa sebenarnya yang Anda ingin ketahui dariku ? Bukankah sudah tertera semua di dalam Dokumen itu ?"


Rasa Kesal menggelitiknya karena Nami sudah begitu kewalahan dengan semua jawaban Klise yang dilontarkan Menantunya tersebut.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2