Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 114 Waves of Gray


__ADS_3

Burn and Beat Restaurant, California


Kesan pertama kali melihat restoran ini, Harumi lebih memilih untuk diam tanpa berkomentar apapun, dia hanya menatap dengan sorotan mata yang kosong ke sekelilingnya. Pikirannya seolah melayang entah dimana, dia masih memikirkan mengenai semua perkataan Ameera. Kenyataan yang begitu asing dibalik masa lalu Anton, bagi Harumi ini begitu mengganggu dirinya. Dan yang paling menyakitkan, kenapa suaminya tidak berterus terang tentang masa lalunya kepada Harumi.


Dan memilih untuk menyembunyikannya, setidaknya Harumi ingin Anton bisa berbagi cerita dan bisa menghadapinya bersama karena itulah salah satu komitmen sebuah pernikahan. Dan itu, membuat Pernikahan mereka seolah hanya sebuah perjanjian di atas kertas.


Harumi sadar pernikahan nya dengan Anton begitu rapuh, bahkan untuk saling terbuka pun mereka sangat sulit. Mereka bagaikan menjalani pernikahan dengan dua dunia.


Sempat terlintas dalam pikirannya, tentang Roseanne nama asli dari mertuanya tersebut. Nama itu seakan tidak asing baginya.


Roseanne ? nama itu seperti pernah kudengar, tapi dimana ? Apa seseorang pernah menyebutkan nama itu sebelumnya ?


Harumi mengerjap beberapa kali, untuk menjernihkan pikirannya. Dan ini harus segera diakhiri. Mungkin ini sudah terlalu mencuri pikirannya sendiri. Pikirannya sudah terlalu penuh dengan semua dugaan-dugaan asing yang semakin liar menguasainya. Belum lagi seringnya dia bertengkar dengan suaminya, ancaman-ancaman bodoh yang dilontarkan Anton.


Ini benar-benar membuat Harumi muak dan lelah.


Walaupun tempat itu menawarkan suasana dan panorama yang menakjubkan. Visual yang sangat memanjakan mata bagi para pengunjungnya, tapi tidak berpengaruh dengan Harumi. Wanita itu masih tampak murung semenjak perjalanan hingga mereka tiba di sini.


Restoran ini sangat terkenal di California. Selain karena terkenal dengan menu-menu yang ditawarkan berkelas tinggi oleh para Chef internasional, Restoran ini sangat diminati oleh orang-orang kalangan atas terutama di waktu -waktu Lunch.


Ketika memasuki tempat tersebut, sesekali Ameera menengok ke belakang dan menatap Harumi. Ada rasa bersalah yang mengguncang hatinya saat melihat Harumi yang hanya diam dengan tatapan sayu. Seolah wanita itu menanggung beban yang terlalu berat di pundaknya.


Harumi begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri sehingga ia bahkan tidak menyadari Ameera berhenti sampai ia menubruknya.


"Maaf" Harumi mundur selangkah


Ameera yang melihat tingkah Harumi, dengan sigap menarik tangannya "Rumi, are you ok ?"

__ADS_1


"Its Ok. Sorry, aku tidak memperhatikan di depan" wanita itu mengerjap dan mengangkat wajahnya


"Alright, jangan melamun Rumi. Lihatlah di sekelilingmu. Its Wonderfull, Nikmatilah hari-harimu. " Ameera tersenyum dan menepuk lengan Harumi dengan perlahan seakan ingin menyadarkan dan menariknya dari pikiran-pikiran bodoh yang sudah menyita waktunya.


Seorang pelayan di Restoran menghampiri dan mempersilakan mereka untuk menuju meja yang sudah di reservasi oleh Ameera.


Mereka duduk di meja tepat berada di Lantai dua, Ameera tampak paling antusias mengedarkan pandangan ke semua arah. "Waah, jika aku tidak ada koneksi dari mertuaku. Kita mungkin tidak akan bisa makan siang disini."


Harumi mengernyit "Apa sesulit itu jika ingin makan siang disini ?"


"Whaat ! hellooo Rumi. Open your eyes. Look !" wanita itu menunjuk ke semua arah. Lalu sorot mata Harumi mengikutinya, ia mengitari pandangan ke sekeliling tempat itu. Semenjak ia tiba di Restoran ini, baru ia menyadari.


Restoran ini sangat indah dan berkelas, semua ornamen yang menghiasi tampak berkilat. Aroma yang hangat dan menyegarkan langsung tertangkap di indera penciumannya. Aroma ini seperti Floral, zaitun dan wood, so natural.


Sudah sewajarnya restoran ini menjadi tempat paling bergengsi di California.


Semua meja terisi penuh dengan para pengunjung yang sudah berdatangan.


"Sekarang kau paham, bukan. Mertuaku adalah pelanggan tetap di sini dan Manager Restoran ini adalah kenalannya. Jika tidak, tidak akan mungkin aku bisa reservasi hanya dalam waktu 3 jam sebelumnya." Tukasnya dengan kedua sudut bibirnya melengkung tinggi


"Ok. Aku mengerti." balas Harumi yang mulai menggambarkan senyuman tipis pada wajahnya yang sedari tadi tak ada ekspresi apapun.


Setelah mereka memesan makanan, sesekali Harumi memandangi tempat itu sambil menikmati keindahan nya. Dia menyadari, memang benar yang dikatakan Ameera. Tidak ada salahnya, memanjakan diri kita dengan hal-hal yang indah dan sementara waktu membuang beban berat di tubuh kita untuk bisa sedikit merasakan menjadi diri kita sendiri.


Terkadang Harumi lebih sering melupakan bagaimana rasanya menjadi dirinya sendiri tanpa harus bergantung dengan seseorang.


"Rumi.." panggil Ameera

__ADS_1


Wanita itu berbalik menatap Ameera dengan mata melebar "Yah ?"


"hmmm, maafkan aku jika menanyakan ini lagi. Tapi, jika kau tidak ingin menjawabnya its ok. Apa kau dan Anton baik-baik saja ? jawablah dengan jujur" Ameera menanyakan dengan rasa khawatir


Harumi sempat terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia membuka mulut "Tidak mungkin aku mengatakan bahwa kami tidak pernah memiliki masalah apapun, setiap pernikahan pasti bermasalah. Dan kami hanya mencoba memperbaikinya. Tidak mudah menyatukan dua kepala menjadi satu pemikiran."


Ameera mengamatinya dengan rasa simpatik dan ada rasa kagum bercampur haru yang tersirat di wajahnya. Harumi bisa saja mengatakan Anton adalah suami yang buruk untuknya, mengatakan hal-hal yang menyakitkan bagaimana Anton bersikap kepadanya tapi dia memilih untuk menyimpannya seorang diri. Dan menganggap bahwa kesalahan itu adalah bersumber dari keduanya karena Harumi tidak ingin menyalahkan siapapun.


"Anton sangat beruntung memilihmu, Rumi. Aku cukup tahu bagaimana tabiat adikku itu. Dia egois, keras kepala, ambisius, dan terlalu dingin dengan hal-hal yang tidak bisa memberinya keuntungan. Aku berharap Tuhan membalas semua kesabaranmu"


Harumi termenung dan menghela napas "Aku tidak sesempurna yang tampak dari luar. Banyak kekurangan yang kumiliki, banyak kesalahan yang sudah kulakukan. Bahkan sudah banyak yang tersakiti olehku."


Baru setelah Harumi kembali menenggelamkan diri dalam kesalahan-kesalahan nya, dia lemas dan kehabisan napas. Dia tidak sebaik yang nampak di luar yang dinilai oleh semua orang. Mungkin baginya, Harumi sendiri tidak lebih baik dari Anton yang egois.


"Satu hal lagi, ini sudah lama ingin kutanyakan padamu. Kau jarang membahas mengenai kecelakaan malam itu. Mungkin tidak seharusnya aku mengungkit masalah ini, hanya saja aku merasakan dampak dari kecelakaan itu begitu besar dalam hidupmu kau jauh tampak berbeda, dibanding pertama kali aku bertemu denganmu sebelum acara pernikahan kalian. Waktu itu kau adalah Gadis yang ceria dan mudah bergaul dengan siapapun"


Hatinya terasa berat saat ia harus mengingat kejadian malam itu kembali, bagi Harumi untuk selangkah saja menuju ke depan sangat sulit dan menyakitkan. Dampak besar yang di rasakannya setelah kecelakaan dan perampokan yang menimpanya malam itu membuat hidupnya harus merasakan perubahan besar bak roller coaster yang bergerak begitu cepat.


Harumi merasa sangat rapuh jika mengingatnya "entah apa yang harus kukatakan tentang itu, aku tidak bisa bicara banyak mengenai itu semua. Karena itu sudah mengubah hidupku, mengubah segalanya. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun, mungkin ini sudah jalan hidup yang harus kulalui"


"Yang aku tidak habis pikir, kenapa polisi masih belum juga menemukan pelaku tabrak lari itu. Aku tahu karena malam itu sedang turun hujan deras sehingga mungkin pengendara itu tidak melihatmu, atau mungkin pengendara mobilnya dalam keadaan pengaruh alkohol. Tapi, setidaknya ia harus bertanggung jawab saat kejadian itu. Bukannya melarikan diri, membiarkan seseorang yang sedang meregang nyawa tergeletak di tengah jalan begitu saja. " geram Ameera sambil mencengkeram erat gulungan kain kecil di atas meja.


"Sebenarnya aku tidak ingin menuntutnya, aku hanya berharap setidaknya ia tidak melarikan diri seperti seorang Pengecut. " Harumi mengerjap-ngerjap mengusir air matanya. "Jika suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kami, aku berharap Dia masih mengenaliku. Hanya itu saja. Aku tidak akan membencinya, karena sudah mengubah hidupku"


Ameera mengangkat dagu dan menatap mata Harumi "Jangan pernah memaafkan orang seperti itu, Rumi. Meninggalkan tanggung jawab nya, akan membuat hidupnya tersiksa, Aku yakin orang itu sedang merasakan penyesalan yang tak berujung. Dunia akan menghujaminya dengan kepedihan"


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 😘


__ADS_2