
"apa bedanya dengan Anton ?"Cathy mengangkat alisnya, menatap tajam Harumi. Sindirannya ini bak belati yang menusuknya.
Cathy melanjutkan "Apa kau mempercayai suamimu, Rumi ? lihatlah penampilannya yang super Perfect, But Look him Now..."
"He's Different, memang kepercayaan ku sudah mulai goyah. Tapi, aku masih berharap suatu hari nanti akan ada perubahan" Harumi masih membela Anton di mata sahabatnya, walaupun Cathy sangat mengerti situasi sahabatnya itu sekarang.
Cathy menarik nafas panjang, "I wish You happy, melihatmu bahagia itu sudah lebih dari cukup untukku. Tapi, sebelum menikah salahnya kau terlalu singkat mengenal Anton , hanya 5bulan. That's Not Enough, apalagi dirimu sangat minim hubungan dengan pria."
Sebenarnya dalam Pikiran Harumi masih belum siap menghadapi cibiran orang lain, jika ia sampai berpisah dengan Anton. Apalagi sampai mengetahui kondisinya yang mengalami kesulitan untuk Hamil.
Cathy memang belum mengetahui keadaan yang sebenarnya, tapi ia tak ingin mencampuri urusan Harumi lebih dalam.
"Sebenarnya Anton pria baik, hanya saja terlalu banyak rahasia dan sifat asli dalam dirinya yang baru kuketahui setelah menikah." pengakuan Harumi
Harumi mengangguk perlahan, melemparkan senyuman kepada sahabatnya berusaha tetap tegar walau itu bohong, yeap ia sama sekali tidak bisa menutupinya. Meraih cangkir kopi yang sudah mulai dingin, perlahan meminumnya.
"Okeeee...okeee..cukup...pertama kita ke apartemenku, antar koper dan semua bawaanmu. Baru kita shoppiiiiiiing!!!" semangat Cathy sedikit mengalihkan.
Senyuman mulai terpancar dari wajah Harumi melihat semangat dari sahabatnya.
Mereka pun akhirnya berdiri dan pergi bersama menuju mobil cathy terparkir tak jauh dari Kedai Kopi sambil membawa koper dan bawaan Harumi.
***
Dua Mobil Hitam super mewah beriringan melintasi Jalan Raya yang sedang padat oleh kendaraan pada jam itu.
New York selalu memberikan pesona kemewahan pada pusat kotanya, keramaian para pekerja kantoran yang lalu lalang tak ada hentinya, banyaknya gedung-gedung bertingkat pencakar langit, berbagai teknologi canggih menghiasi tiap sudut kota.
Gambaran betapa maju dan berkembangnya New York saat ini.
"Liam, Mama tidak sabar besok malam. Mama mengundang banyak orang Penting untuk menghadiri pesta." ucap Anita antusias, senyum tak hentinya terpancar dari wajahnya. Bahkan kerutan di wajah wanita paruh baya ini seolah memudar karena kebahagiaannya saat itu.
__ADS_1
Liam hanya sibuk dengan ponselnya, kicauan sang Ibu tak ditanggapinya sedari tadi walaupun mereka duduk bersebelahan di dalam mobil. Indera pendengar Liam seakan tak mempan dengan suara-suara bising apapun.
Sejak dari perjalanan California ke New York, Anita memang tak kunjung berhenti menceritakan bagaimana bahagianya, ia akhirnya bisa mewujudkan impian membangun dan membuka sebuah Galery Seni.
Mobil mereka melaju menuju sebuah daerah di Manhattan.
Selama di New York, Liam sering menghabiskan waktu di Penthouse pribadinya. Tak ada seorang pun yang pernah berkunjung ke penthouse tersebut kecuali Sekretaris Will, para Bodyguard pribadinya bahkan Anita ibunya tak sekalipun menginjakkan kaki di sana.
Anita memiliki Apartemen pribadinya sendiri yang tak kalah mewah, ibu dan anak ini memang tidak memiliki hubungan yang cukup baik.
Hanya ingin menjaga reputasi keluarga, makanya Liam menuruti keinginan sang ibu untuk ikut menghadiri Pesta besok malam.
Sesampainya di Penthouse, setelah mengantar ibunya. Liam langsung menuju kamar pribadinya untuk beristirahat. Sejenak ia masih menatap layar ponselnya, selain mengurus urusan pekerjaannya. Yang mendominasi dalam pikirannya saat ini tentu saja sosok wanita itu, Harumi.
Betapa besar keinginannya untuk menghubungi Harumi tapi selalu ditahannya, ia ingin Harumi sendiri yang menghubungi lebih dulu. Tapi sampai sekarang, tak ada kabar beritanya sama sekali sejak kepulangannya dari Mansion.
Sebenarnya sangat mudah bagi Liam untuk mencari informasi keberadaan Harumi saat ini, tapi dalam benaknya akan lebih terasa berbeda jika Harumi sendiri yang memberi kabar bukan diam-diam harus membuntutinya terus.
***
"Untuk ukuran apartemen wanita single, mandiri, seksi dan tentu saja cantik, ini sudah sangat mewah bukan ?" Cathy membanggakan dirinya, ia berdiri angkuh memperlihatkan setiap sudut ruangan, tak hentinya ia menebarkan senyuman hingga memperlihatkan gigi putihnya berbaris rapi.
"dan satu lagi....Kau wanita paling sombong super angkuh yang kutemui. Sebaiknya, ada banyak cermin di apartemenmu." ejek Harumi, menyilangkan tangan di dadanya, menyorot mata Cathy.
Cathy pun langsung tertawa, diikuti Harumi yang juga tertawa lepas.
"Ok,, "sombong" i like it, bukankah selain sombong, aku juga penakluk Pria. Hampir separuh pria di Manhattan sudah pernah tidur denganku. And I proud my Self, seharusnya ada penghargaan untukku."
"Kau benar-benar tidak waras.....aku mandi, lalu istirahat sebentar baru kita jalan." Harumi menarik kopernya menuju kamar tamu yang memang sudah disediakan Cathy.
"Ok, oh ya, sedikit asupan untuk pencernaan tidak ada salahnya kan. Aku akan memasak" Cathy yg masih mengenakan dress silvernya menuju dapur mengenakan celemek merah. Sesekali mengibas rambut blonde panjangnya.
__ADS_1
"memasak ? ku yakin kau sudah mengalami pencucian otak. Sebaiknya jangan ribut, aku mau istirahat " ejek Harumi berlalu melangkah menuju kamar tak memperdulikan sahabatnya itu yang tengah kebingungan melihat isi kulkasnya karena bahan masakan yang minim.
Di dalam kamar, Harumi langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia sangat sangat lelah, seluruh urat syarafnya terasa tegang. Matanya agak mengantuk walaupun hari masih siang.
Matanya tak begerak melihat plafon putih kamar tamu tersebut, pikiran Harumi kembali terbayang semua kejadian yang dilaluinya sebelum ia ke New York, mulai menginap di mansion Liam, bertemu Anton di Cafe, menemui ibunya. Semua terasa berputar di kepalanya.
Tempat tidur empuk dan nyaman tersebut, sedikit membuat ketegangan Harumi lebih ringan.
Ia setengah membangunkan tubuhnya meraih ponsel di dalam tas. Berbaring kembali menatap layar ponselnya, ada pesan masuk dari suaminya dan Ibu.
Pesan Anton :
Aku sangat merindukanmu, Cepatlah kembali.
Pesan Ibu :
Jaga kesehatan, Jangan Lupa Makan. Salam dari Takeru, Ayah dan Ben mereka terkejut saat ibu katakan kau pergi ke New York. Mereka akan merindukanmu.
Ia mencoba scroll layar ponselnya, Tak ada pesan dan panggilan masuk lagi dari Liam, terakhir ia menghubungi saat Harumi akan meninggalkan Mansion.
"Kenapa aku selalu menunggu-nunggu kabar darinya ?" gumamnya
Harumi menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba membuang perasaan ini jauh-jauh.
Tanpa di sadari Harumi, ia sudah tertarik dengan Liam, mulai menyukainya. Bahkan Ada Hasrat berbahaya yang menggebu ingin ia salurkan kepada pria usil yang selama ini terus membuatnya tergoda.
Tak akan bisa dibayangkan olehnya apa yang akan terjadi bila Harumi bertemu lagi dengannya, ia khawatir dan takut jika mereka akan hanyut dalam hubungan terlarang ini lebih dalam. Akan melewati batasan yang seharusnya tidak mereka lakukan, itulah kenapa Harumi tak ingin menghubungi Liam lagi.
Walaupun Rindu keduanya sudah tak tertahankan.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you 💋