Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 177 Forgive Me, Son


__ADS_3

Liam tetap membiarkan sang ibu meluapkan semua kesedihannya malam itu di dalam pelukan Puteranya.


Cukup lama hingga akhirnya ia membantu Elena duduk menuju sofa dan menenangkannya.


"Sudah lebih baik ?" Liam menatap dengan mengangkat kedua sudut bibirnya


Elena mengusap airmatanya dibantu Liam yang membersihkan di pipi wanita paruh baya itu dengan tisue.


Elena hanya menggangguk pelan lalu mengangkat wajahnya "Apa kau memaafkan ibu ?"


Liam dan ibunya saling berpandangan, kemudian ia menatap penuh arti pada Elena secara bersamaan "Aku tidak pernah membencimu, apalagi dendam. Hanya saja aku perlu jawaban."


Wanita itu menoleh pada Luciano, dan Luciano membalas dengan tatapan dingin "banyak hal yang perlu kau ketahui, anakku." ia menoleh kembali pada Puteranya


Liam diam membiarkan Elena melanjutkan.


Dan Elena pun mulai menceritakan seluruh kehidupannya sebelum hingga ia bertemu dengan Roberto. Semua ia paparkan, tidak ada satu hal pun yang disembunyikannya dari Liam. Bagaimana kehidupan kelam yang dijalani Roseanne sebelum akhirnya ia bertemu Roberto.


Bagaimana kejamnya ayah Roseanne, bagaimana ia akhirnya bekerja sebagai seorang Penari Striptis di Club Malam, dan kehidupan yang harus dijalaninya sebagai wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga Roberto dan Anita. Bagaimana perilaku Anita yang harus dihadapi Roseanne waktu itu.


Liam hanya diam, selama waktu berjalan ia tidak memotong penjelasan ibunya. Pria itu hanya menatap dalam keheningan di pikirannya. Ia menyimak dengan baik dan mendengarkan setiap kata demi kata yang dilontarkan Elena.


Liam duduk dan terus menatap. Sesekali ia menarik napas keras setelah beberapa penjelasan yang sedikit mengganggunya.


Begitu halnya dengan Luciano, pamannya itu juga memilih hanya diam tanpa melontarkan komentar apapun dan membiarkan Elena yang menjelaskan semuanya. Memang Luciano sudah mengetahui semua sejarah hidup dari Roberto, Anita dan Roseanne. Karena bagaimanapun Luciano juga ikut terlibat didalam kehidupan mereka.


Cukup lama, akhirnya Liam mengerutkan alisnya "Mengubah identitas ?" sebenarnya hal itu yang mencuri perhatiannya karena sampai saat ini Liam sangat ingin mengetahui kenapa ibunya tersebut harus mengubah identitasnya dan pergi menghilang.


"Ibu harus melakukan itu, karena Anita."

__ADS_1


Matanya menyipit "Apa yang dilakukannya ?"


Elena mendengkus "She is Dengerous. Dialah dalang yang merencanakan pembunuhan terhadap aku dan suamiku. Teddy Riandra. Dengan membuat rencana jahat itu seolah sebuah kecelakaan. Dan Hukum sama sekali tidak bisa menyentuhnya. INI BENAR-BENAR TIDAK ADIL !!!" ia geram dan merasakan pedih yang luar biasa di dadanya.


Tampak Liam mengepalkan kedua tangannya dan tatapannya mengeras. Ia sangat mengenal Ibu sambungnya tersebut dengan baik, Anita memanglah wanita yang sangat kejam dan berbahaya.


Tapi, ia tidak menyangka Anita akan berbuat sejauh itu untuk membalaskan dendamnya padahal Roseanne ketika itu memilih untuk pergi dan tidak kembali lagi ke dalam kehidupan Anita dan Roberto.


"Setelah Teddy tiada, ibu memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dan mengganti identitas kami. Begitu halnya dengan Anthony. Ini terpaksa kami lakukan karena aku yakin Anita tidak akan berhenti sampai disitu saja. Ia akan terus mengejar sampai ia bisa menghabisi nyawa kami."


"London" tukas Liam


"Yah, kami memutuskan pergi ke London dan memilih hidup di sana. Dan berkat bantuan Luciano yang mengurus semua dokumennya, ibu mengganti nama identitas ibu menjadi Elena Riandra. Yang sekarang ini nama yang orang-orang kenal selama 10 tahun adalah Elena. Elena Riandra dan ... Your brother's name is Anton Riandra."


Liam menyimak dan tiba-tiba suasana menjadi sangat hening. Dia tertawa tanpa humor "What ?!!! Once again. Katakan sekali lagi, who is My BROTHER ?!!!!"


Liam mengertakkan gigi dan langsung berdiri. Suasana mulai memanas dan semakin tegang. Napas pria itu kasar dan ia tidak mampu menenangkan dirinya. "Tidak Mungkin !!" kata Liam dengan nada berapi-api dan Elena membuka mata.


Luciano berdiri dan menghampiri keponakannya tersebut "Liam..." ia meraih pundaknya tapi Liam mengelak.


Rona kemarahan mulai menguasainya, Liam menggebrak meja kerjanya dengan keras, suaranya memecah keheningan seketika "ITU TIDAK BENAR !!! KALIAN BERBOHONG" ia tidak segan menunjuk-nunjuk Pamannya dengan mata yang lekat oleh bola panas


"LIAM...Itu lah kebenarannya. Rahasia Keluarga kita yang selama ini kau cari-cari ada dihadapanmu sekarang. Kebenaran itu sudah kau saksikan. SHE IS YOUR MOTHER, ELENA RIANDRA IS YOUR REAL MOTHER AND ANTON RIANDRA IS YOUR BIG BROTHER. Tidak ada yang bisa menyangkal itu semua." suara parau terdengar nyaring dari Luciano


Pria paruh baya itu berusaha mengendalikan keadaan tapi itu benar-benar tidak mudah karena Liam sudah tampak kalut dengan emosi yang memuncak.


Panas di antara mereka mencapai pada titik membakar, tubuh Liam merasakan hawa panas yang menjalar dan ia tidak sanggup bertahan. Pria itu benar-benar berada di persimpangan yang tidak paham jalan mana yang seharusnya ia lalui saat ini. Pikirannya penuh sesak, ia mengepal dengan keras kedua tangannya sampai ia tidak lagi merasakan sakit ketika kuku-kuku menekan kulitnya.


Liam masih tidak bisa menerima kenyataan ini, ia ingin memutar waktu dan berharap tidak pernah mendengar kebenaran ini.

__ADS_1


"Maafkan ibu, baru mengatakan kebenaran ini sekarang. Maafkan ibu." Elena sedih, ia menyatukan kedua tangannya di hadapan Puteranya dengan posisi memohon-mohon ia menangis


Liam diam, ia memalingkan wajahnya. Gejolak hebat di dadanya masih belum reda. Ia ingin menghindar dari semua tekanan ini, dilain sisi ia sangat bahagia karena akhirnya kini ia bisa bertemu dengan ibu kandung dan saudara laki-lakinya. Tapi, rahasia dibalik itu semua sudah sangat membuka tabir baru yang lebih mengejutkan.


Mengerikan dan cukup membuat Liam tidak mampu berbuat apapun. Semua hal-hal hebat yang melekat didirinya seolah tidak berarti apa-apa. Liam yang selalu tegas dan percaya diri, kali ini hanya dalam hitungan detik mampu mengubah dirinya.


Luciano mendekat dan tersenyum miris "Sekarang kau sudah mengerti, kenapa aku selalu memperingatkanmu untuk tidak bertindak semaumu. "


Liam membalas tatapan Pamannya dan menggertakan rahang "Dia memang pantas mendapatkannya. "


"Liam...kumohon. Kau pasti sudah mengerti alasan kenapa aku kemari ?" dengan suara parau, wanita itu berharap Liam akan melunak


Kemarahan yang menjadi-jadi karena Elena menggiringnya membahas topik yang Liam hindari. Geraman frustasi keluar dari tenggorokannya "Harumi" jawab singkatnya


"Ibu sudah mengetahui hubungan kalian. Ibu terkejut, nak. Ibu ingin meluruskan semuanya. Harumi is your brother's wife. She is your sister in law."


Liam berdiri di tengah ruang kerjanya, tidak ada jejak senyuman di wajah pria itu. Pengamatannya yang lugas membuat Elena merasa lebih tidak nyaman daripada yang bisa dibayangkannya.


Tanpa memahami alasannya, Liam berjalan kembali ke arah Elena, kemarahan memuncak dalam dirinya, meskipun ia tidak dapat memastikan apakah kemarahan itu ditujukan pada dirinya sendiri atau pada kebenaran yang harus diterimanya.


Satu hal yang ia tahu, dirinya sudah muak dengan percakapan ini.


"Aku menyayangimu, bahkan aku selalu ingin membahagiakanmu karena aku sudah menyiakan-nyiakan waktu merasakan kehilangan. Youre My beloved Mother. Always. But--- She is My Life, My Whole Life. Harumi segalanya. Dan Tidak ada yang akan mengubahnya."


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2