
Aku masih menatap pria bernama Taylor itu, lalu beralih ke Amplop abu-abu yang kini berada di genggamanku.
Kubuka, ternyata berisi sebuah Kartu Ucapan, sangat minimalis, senada dengan warna amplopnya, di cover depan kartu itu bertuliskan "To : Benjamin Whiston (Ben)" .
Kartu Ucapan ini memang untuk adikku, aku membukanya dengan hati-hati. Di dalam kartu tersebut ada tulisan tangan seseorang dengan tinta hitam yang bertuliskan "Happy Birthday Little Boy Ben", lalu bola mataku bergerak ke bawah melihat nama pengirimnya "Liam Seymour".
"Liam ?" aku terbelalak melihat nama yang tidak asing untukku. "Apa pengirim semua hadiah-hadiah ini adalah Liam ?" tanyaku yang sudah sangat terkejut dan beralih menatap Taylor.
"Iya Nona Harumi, ini semua dari Tuan Seymour" jawab Taylor si pria tanpa ekspresi tersebut. Bahkan cara bicaranya saja sudah mirip sekali dengan Robot.
Takeru yang berdiri di sampingku matanya tertuju pada kartu itu yang masih kupegang dalam posisi masih terbuka dan mulai heran mendengar nama Liam.
"siapa kak ? Liam Seymour ? Kaka kenal ?" Tanya Takeru
Lalu Ben juga ikutan penasaran dan berlari mendatangiku. Ia sangat antusias ingin mengambil hadiah-hadiahnya.
"Kaka Rumi, ini semua kado punya Ben kan ? hayoook kak kita buka! kita buka !" ucap Ben yang melompat kegirangan ia tak sabar ingin mengambil hadiah-hadiahnya.
"Tunggu Ben, kaka bicara dulu sama Paman ini ya. Ben tunggu di dalam ya" aku mencoba menenangkan adikku, aku tidak ingin menerima hadiah mewah dan sebanyak ini begitu saja.
"Gak mau ! Gak mau ! gak mau" jawab Ben yang mulai kesal karena aku melarangnya.
Ibu pun melangkah mendekati Ben, ia mencoba menasihati anak bungsunya Agar mau menurutiku.
"Ben, jangan melawan kaka Rumi ya. ayo masuk ke dalam dulu. Main di dalam, nanti kalau kaka Rumi sudah selesai bicara dengan paman itu, baru Ben boleh buka Kado, Oke ?"
Ben akhirnya mau menuruti perkataan ibu dan menggandengnya perlahan memasuki Rumah.
"Rumi, apa kau kenal siapa pengirimnya ? yakin tidak salah alamat ?" komentar Ayah yang kebetulan berdiri di belakangku bersama keluarga yang lain.
"Pengirimnya dari Liam Seymour, Dia atasannya Anton. Pemilik Perusahaan tempat Anton bekerja" jawabku berbalik menghadap ke arah Ayah.
Ayah tampak terkejut mendengar jawabanku, begitu halnya dengan Takeru dan keluarga yang berdiri memandangiku.
"ayah tidak perlu khawatir, aku akan coba menanyakannya, nanti akan kujelaskan" lanjutku
__ADS_1
Aku mulai berbisik dan memberi kode kepada Takeru memintanya agar memberitahu keluarga dan ayah untuk masuk ke dalam rumah. Aku ingin menyelesaikannya.
Akhirnya semua yang berdiri di teras rumah pun masuk termasuk Ayah, setelah Takeru meminta mereka menunggu di dalam.
"Tuan Taylor, yakin semua hadiah sebanyak ini dikirimkan ke sini ?"
"Benar Nona, kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Seymour" jawab tegas Taylor yang masih berdiri tegap sigap bahkan tak bergerak sedikit pun. Aku bahkan seperti berhadapan dengan tembok besar.
Aku menarik nafas panjang, mencoba tenang dan berfikir jernih. Mengambil handphoneku di saku celanaku dan mencoba menghubungi Liam.
Saat kuhubungi, nomor Liam tidak aktif. Aku baru ingat, ia pasti masih dalam perjalanan ke California. Beberapa saat lalu aku sempat berbicara dengannya lewat telepon, saat itu ucapnya sebentar lagi ia akan berangkat.
Sudah cukup pikiranku dipenuhi dengan dokumen rahasia yang kutemukan di laci meja kerja Anton tadi yang sudah membuat sesak nafasku, dan sekarang ditambah dengan hadiah-hadiah Liam.
Karena kedatangan suruhan Liam sebanyak ini dengan kado yang tak kalah banyak, menjadi sorotan yang sangat mencolok oleh para tetangga di lingkungan ini. Kulihat beberapa tetangga yang berdiri melirik ke arah rumah orang tuaku.
Aku tidak ingin menimbulkan omongan bahkan lebih buruk lagi jangan sampai mereka bergosip yang aneh tentang keluargaku.
Akhirnya aku memutuskan menyuruh para Bodyguard Liam untuk masuk membawa masuk hadiah-hadiah tersebut ke dalam rumah.
Sekilas kuperhatikan hadiah-hadiah yang mereka bawa tersebut, berupa Sepeda versi Trek Spider Madone keluaran terbaru seingatku sepeda ini seharga sebuah Mobil Lamborghini, ada Mobil sport mainan yang sangat mirip aslinya berwarna merah bisa di kemudikan dan dijalankan langsung oleh anak-anak seusia Ben selayaknya mobil sungguhan memiliki mesin tanpa perlu menggunakan remote kontrol, Playstation versi terbaru, Ipad, Handphone dan Scooter Listrik.
Bahkan masih banyak sekali hadiah lainnya yang aku sendiri pun tidak bisa membayangkan harga barang-barang mahal ini.
Ben si bungsu berambut hitam ikal, berkulit putih pucat wajahnya bagaikan duplikatnya ayah namun versi usia 10tahun, ia sudah tidak sabar, matanya yang biru sangat berseri-seri melihat semua hadiah nya berada di dalam.
Ia tak berhenti tersenyum bahagia dan berteriak kegirangan kepada ayah, ibu dan Takeru.
Entah berapa item barang yang sudah di letakkan di dalam, hingga rumah orang tuaku tidak memiliki space lagi untuk menyimpannya. Sampai sebagian hadiah diletakkan di garasi mobil Ayah.
"Sudah semua Nona Harumi" Lapor Taylor
"Kumohon, ini hanya sementara kuletakkan hadiah-hadiahnya di sini sampai aku bisa menghubungi Liam. Tapi, Aku ingin minta bantuanmu Tuan Taylor jika Liam menghubungimu lebih dulu, katakan padanya aku tidak bisa menerima semua pemberiannya"
Taylor hanya perlahan menganggukkan kepalanya, tanda ia memahami maksud dariku.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya melangkah memasuki mobil-mobil serba hitam terparkir rapi di depan dan pergi meninggalkan rumah kami yang sekarang sudah penuh berisi kan kado-kado dari Liam.
Baru aku melangkah melewati pintu rumah, Ben berlari sambil berteriak senang ke arahku.
"Kaka cobaa Lihat, hadiahnya ada Jam Tangan" ucap Ben sambil menunjukkan sebuah Arloji perak dengan tema karakter untuk anak-anak dari Brand Terkenal Paris masih terbungkus rapi di dalam kotaknya berwarna Burgundi.
Aku sudah tidak sanggup berkomentar apapun lagi, kulihat Ben dan semua keluarga pun ikut membuka hadiah-hadiah tersebut. Mereka sangat antusias dan bedecak kagum dengan kemewahan barang-barang tersebut. Ini pertama kalinya dalam hidup kami menerima semua ini bahkan di hari Ultah Ben.
Ibu mendekatiku yang terdiam berdiri mematung di ruang tamu.
"Rumi, bisa ibu bicara berdua ?" Ibu tampak serius bisa terlihat dari sorot matanya.
Aku yang awalnya terdiam, tersentak dengan pertanyaan ibu.
"Iya, bu"
Sekarang kami sudah berdua berada di teras belakang, ibu dan aku duduk bersampingan.
"Siapa pria yang memberikan semua hadiah itu, Rumi ?" tanya ibu mengawali pembicaraan.
"Liam, namanya Liam Seymour. Ia atasannya Anton" jawabku hati-hati
"Anakku,.. ibu hanya berharap Pria tersebut tidak memiliki maksud lain kepadamu" Pandangan ibu kini beralih menatapku.
"Maksud ibu ?"
"Rumi, tidak ada Pria yang akan memberikan barang-barang mahal sebanyak itu jika tidak memiliki maksud lain, apalagi Ia sangat Kaya Raya. Ibu hanya merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ibu"
"Tidak apa-apa bu, mungkin ia memberikan semua hadiah ini sebagai Penghargaan terhadap hasil Kerja Anton selama ini untuk Perusahaan. Ibu tenang saja, aku akan bicarakan baik-baik dengan Anton" jawabku meyakinkan ibu yang tampak sangat khawatir terlihat dari raut wajahnya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You ❤
__ADS_1