Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 7 Pertemuan Pertama


__ADS_3

Ketika aku ragu ragu hendak membuka kartu ucapan itu, tak lama Pak Gerald memberitahukan bahwa kami sudah tiba di tempat tujuan.


Belum sempat aku membukanya, Pak Gerald sudah memberi kode dan akhirnya aku mengurungkan niat itu yang tidak seharusnya kulakukan.


"Nona sudah sampai di Hotel Hampton" lapor pak Gerald sambil tersenyum yang dapat kulihat dari pantulan kaca sepion mobil


"Baik pak, terimakasih" balasku sambil mengulurkan tangan memberikan uang kepadanya


Pak Gerald dengan sigap keluar dan membukakan pintu mobil untukku. Aku mengucapkan terimakasih dan langsung pergi memasuki Hotel.


Tiba tiba hpku bergetar, ternyata pesan masuk dari Anton. Ia hanya membalas singkat "Ya" .


Aku sudah sangat bingung bagaimana menghadapi suamiku sekarang ini. Dia bahkan makin hari makin tidak jelas tingkahnya, sikap cueknya semakin menjadi jadi tapi jika ada maunya bisa berubah baik lagi.


Bahkan untuk memiliki kendaraan pribadi untukku sendiri, ia melarangnya. Alasannya karena berbahaya dan merepotkan, padahal aku sudah bisa membawa mobil sendiri dan bisa mengurus urusanku sendiri.


Hotel Hampton


Pukul 7.50 pm


Sebelum ke Lantai atas aku Berjalan menuju meja Resepsionis. Sesekali kulihat arlojiku, aku bisa bernafas lega karena datang sebelum jam 8, sekarang jam 7.50 malam.


"Selamat Malam, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Wanita Resepsionis yang ada dihadapanku


"Saya ingin ke Kamar 3576 atas nama Liam Seymour, saya ingin mengantar pesanan bunganya" jawabku sambil membawa buket bunga dipelukanku


"Oh Tuan Seymour baiklah , mohon tunggu sebentar ya Nyonya" Resepsionis itu langsung mengangkat gagang telepon, menghubungi seseorang.


"Baik, silahkan Nyonya. Presidential Room 3576 Lat 35. Anda sudah di tunggu Tuan Liam" sambung Wanita Resepsionis dengan memberikan senyum terbaiknya


"Terimakasih" bergegas aku berjalan menuju pintu Lift, aku tidak ingin terlambat sedikitpun


Di dalam lift, tak sengaja aku memperhatikan seorang wanita muda yang menggandeng gadis kecil berusia kira kira 3thn. Mereka satu lift denganku, aku memperhatikan sambil tersenyum kecil membayangkan jika aku tidak kehilangan anakku malam itu, ia pasti sudah sebesar gadis kecil ini.


Tetiba aku mengingat kembali kejadian malam itu, dimana aku di tabrak oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab meninggalkanku dalam kondisi terpuruk berlumuran darah meringis kesakitan terbaring di tengah jalan dengan hujan yang sangat deras.


Aku heran kenapa sampai sekarang pihak kepolisian tidak juga menemukan pelaku tabrak lari malam itu, padahal aku yakin ada kamera CCTV di jalan itu.


ting


Suara pintu lift terbuka membuyarkan lamunanku, aku keluar menuju kamar yang dimaksud.


Ternyata, aku baru mengetahuinya kalau Presidential Room cuma satu satunya di lantai ini. Jika hanya satu kamar kenapa harus di beri no kamar.


"Aku tidak ingin pusing dengan urusan no kamar, sebaiknya aku harus cepat memberikan pesanan ini dan segera pulang" batinku


ting


tong

__ADS_1


ting


tong


Kudengar suara langkah kaki dari dalam, tidak lama pintu pun terbuka.


Ada sosok wanita sangat cantik berdiri di depanku, wanita ini benar benar anggun bak lukisan mahal yang indah di sebuah galery.


Wanita berambut merah sebahu bergelombang, memakai gaun tidur berbahan sangat tipis dan terbuka hingga terlihat jelas lekuk tubuhnya.


"Maaf nona, saya dari Nami Florist ingin mengantarkan pesanan dari Tuan Liam Seymour." ucapku sambil menyerahkan buket bunga kepada wanita tersebut


Ia langsung mencabut kartu ucapan yang tertempel di buket tersebut dan membacanya.


Wanita berambut merah itu hanya diam dan tersenyum sinis melihat buket tersebut.


"kau tau maksudnya buket ini !!!!" jawabnya sambil menunjuk ke arah buket


Dengan kasar ia langsung mengambil buket itu dan melemparkannya ke lantai. Ia terlihat sangat kesal dan marah lalu menginjak injak bunga tersebut hingga hancur berserakan di Lantai.


Aku hanya bisa terdiam syok melihat tingkah laku wanita itu. Buket rangkaian bunga yang sudah kubuat dengan hati hati dan sangat kujaga selama diperjalanan menuju ke sini, kubawa dalam pelukanku bahkan bunga bunganya pun aku pesan yang paling bagus. Harus hancur seketika dihadapanku, begitu mudahnya wanita ini menginjak injak tumbuhan yang tidak bersalah.


"Nona kenapa kau menghancurkan buket ini, kumohon jangan seperti ini." pintaku dengan rasa sedih dan menundukkan tubuh mengumpulkan tiap helai kelopak bunga yang telah hancur


"heyyy kau gadis penjual bunga, jangan ikut campur, kau tidak akan mengerti" teriaknya sambil menunjuk ke arahku


"aku memang tidak tau dengan urusan nona, tapi jangan menghancurkan bunga ini, jika nona tidak suka, silahkan nona bisa mengembalikannya kepadaku"


Aku masih membungkuk di hadapannya, mengumpulkan sisa sisa bunga yang hancur berserakan di lantai.


"Kenapa bunga bunga indah harus berakhir seperti ini, buatku tumbuhan memiliki perasaan yang tidak semua orang bisa mengerti. Tapi apa sebenarnya yang ditulis pria itu di kartu ucapan sehingga membuat ia marah besar ?" batinku terus bergejolak


Tak lama suara pintu lift terbuka, ada suara langkah kaki yang keluar menuju kami.


Dari bawah aku bisa melihat ada banyak sosok orang lain yang berjalan ke arah kami. Kuangkat kepalaku untuk melihat siapa mereka, ada 4orang pria dengan setelan jas hitam, berbadan kekar, aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena mereka memakai kacamata hitam.


Bisa kupastikan keempat org ini adalah pasukan Bodyguard seseorang.


Kulihat wanita itu berjalan menghadapi mereka. Bisa dipastikan wajahnya semakin kesal karena kedatangan keempat Pria Bodyguard itu.


"Untuk apa kalian kemari !!!! kalian suruhan Liam bukan, dasar pengecut !!!" teriak wanita berambut merah memecahkan suasana di lantai itu


Tak hanya disitu saja, dua pria itu langsung menyergap wanita tersebut memaksanya untuk berlutut.


"Lepaskan akuuu!!! kalian akan tau akibatnya, Lepaskan aku S****n. !!! kalian semua bi****b" bentak keras wanita itu sambil terus memberontak melawan kedua pria kekar yang menyergapnya


Selang beberapa menit kemudian, suara pintu lift terbuka lagi kali ini ada dua sosok pria keluar berjalan dengan tenang ke arah wanita itu.


"Bukankah pria itu yang tadi ke Tokoku memesan bunga, tapi siapa Pria yang berdiri di depannya ?" batinku sambil terus menatap ke arah kedua pria tersebut

__ADS_1


Aku mulai berdiri dan terpaksa melihat kejadian tidak mengenakkan itu dihadapanku.


Pria yang berjalan di depan, sangat berbeda dengan mereka semua. Sorot matanya sangat tenang, tajam, dan seolah hanya memandang wanita itu saja ia sudah dengan mudah mengintimidasinya.


Semua pria disitu langsung tunduk kepadanya. Seolah seperti Hewan peliharaan yang sangat patuh dengan majikannya.


Pria itu berpenampilan santai, mengenakan kemeja hitam yang digulung bagian lengannya, tinggi berbadan sangat atletis sekitar 185cm, warna kulitnya campuran seperti Pria Latin dengan Eropa.


Wajahnya memang sangat tampan dan mempesona, sorot matanya seperti berbicara. Bahkan tatanan rambutnya terlihat sangat santai, bagiku untuk ukuran pria kira kira berusia 35 tahun, ia memiliki pesona yang luar biasa.


Pria itu mendekat, dan memandang si wanita berambut merah yang dipaksa berlutut dihadapannya.


"ciiiih,,,,kau sudah menghianatiku Liam, kau hanya memanfaatkanku untuk kekuasaanmu, kembalikan semua milikku Liam," bentaknya


Liam Seymour dialah pria yang berkemeja hitam itu.


Liam sedikit membungkuk dan mencengkram erat dagu si wanita.


"aku tidak merebut milikmu, tapi kau sendiri yang menyerahkan segalanya"


Sorotan mata Liam memang sangat berbeda seperti belati yang bisa dengan mudah menaklukkan, hanya dengan kata kata singkat ia mampu menenangkan wanita itu.


"Tapi Liam...."jawab wanita itu yang kini emosinya seketika mereda


"Kumohon jangan tinggalkan aku, aku masih sangat mencintaimu" tangis wanita itu langsung pecah


Liam melepas tangannya dari wajah si wanita berambut merah dan tiba tiba membelai lembut rambut wanita itu.


"katakan pada ayahmu, Dia sudah kalah, dan tak akan bisa Menang melawanku" ancam Liam dengan senyuman iblisnya


Ia langsung berdiri dan hanya melihat sebentar ke para Bodyguardnya, seolah mereka sudah sangat mengerti maksud tuannya. Para Bodyguard mengangkat wanita itu dengan perlahan.


"bawa Nona Jane ke mobil, antar ia pulang kembali ke negaranya, bereskan semua barangnya dan jangan lupa pakaikan ia mantel, perlakukan ia dengan baik sesuai perintah Tuan Liam" titah pria kepercayaan Liam kepada semua Bodyguardnya.


"kumohon Liam, biarkan aku tetap bersamamu, ayahku pasti akan mengusirku, kumohon Liam" dengan badan yang sudah lemah dan berlinang airmata, wanita bernama Jane itu terus memohon kepada Liam


Tapi Liam tidak memperdulikannya, ia terus berjalan melewatinya menuju pintu kamar.


Para Bodyguard sudah keluar sambil membawa Jane yang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Diikuti Pria kepercayaan Liam yang sangat patuh dengan semua perintah Tuannya.


"sekretaris Will, selesaikan semuanya dengan rapi" titah Liam


Pria yang memesan bunga itu Sekretaris Will, ia mengangguk dan menundukkan tubuhnya ke Liam, lalu pergi menyusul para Bodyguard.


Seketika langkah Liam berhenti, sorot matanya melihat ke arahku yang berdiri diam sejak tadi menyaksikan kejadian itu.


Mata kami saling bertemu, ia memandangiku. Melangkah mendekatiku.


#jangn lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Vote dan Koment ya


Terimakasih


__ADS_2