
“Baju ini terlalu terbuka..Liam” ucap Harumi menatap malas ke arah Liam yang tak berkedip menatap tubuhnya.
Dengan balutan gaun tidur itu Harumi lebih terlihat bebas di mata Liam, kulit putih hasil turunan darah Jepang yang mengalir di tubuh wanita itu menampilkan dirinya bak Boneka Cantik yang mengagumkan.
Harumi melengkungkan jemari kakinya yang tak memakai alas, merasa kurang nyaman dengan pakaian itu “Dari semua pakaian tidur yang dibawa, hanya ini yang masuk akal. Yang lain lebih parah”
Kedua tangan wanita itu melingkar di dadanya, menutupi bagian tubuhnya yang sedikit terbuka. Liam tengah mengamatinya dari seberang meja sambil tetap duduk di posisinya awal, pria itu bersandar mengawasinya seolah-olah Harumi adalah penghibur yang tampil untuk menyenangkannya “kau sangat mempesona, sayang”
Kilatan tajam yang tiba-tiba di mata Liam membuat Harumi membeku di tempat, dan sejenak, mereka hanya berpandang-pandangan, ketegangan mendidih di antara mereka seperti daya yang hidup dan bernapas.
Kemudian, ia melihat kilau yang sekarang sudah tak asing di mata lelaki itu dan merasakan rona merambati pipinya.
Gairah berbaur dengan rasa nyeri, dan butuh upaya keras bagi Harumi untuk tidak melangkah ke arah lelaki itu.
“Bagaimana kau bisa menatapku seperti itu ?” suara Harumi pelan, tetapi tangannya semakin melingkar erat menyembunyikan tubuhnya dari tatapan penuh gairah Liam.
Tatapan Liam menusuk “Ini pemandangan paling indah dari seorang Wanita yang pernah kutemui selama ini”
Seraya terus memandangi wanitanya, Liam berdiri melangkahkan kakinya secara perlahan-lahan mendekati Harumi.
Setiap langkah kaki pria itu seolah membuat jantung Harumi berdetak semakin kencang, ia mencoba menggeser kakinya mundur selangkah. Tapi, justru gerakan Liam lebih cepat darinya bahkan kini tak ada jarak lagi diantara mereka sekarang.
Tubuh tinggi Liam berdiri di hadapan Harumi, menatapnya dengan tajam mengkoneksikan setiap denyut yang bergejolak di antara mereka.
Liam berdiri saling melemparkan tatapan dalam diam dan menarik pinggul ramping wanitanya semakin dekat dengan gerakan yang penuh tujuan, tidak secara kasar tetapi sedemikian rupa sampai-sampai Harumi tidak memiliki keraguan dimatanya mengenai niat itu “Jika kau ingin menghentikanku, Harumi. Sekaranglah saatnya”
Liam memberinya pilihan, kalau begitu. Atau Tidak ?
__ADS_1
Dari saat Harumi melihat lelaki itu, sejak ia memasuki kehidupannya dengan sifatnya yang dingin, terkadang tak bisa di tebak, penuh dengan kejutan, misterius, usil, perhatian bahkan posesif, Harumi sudah terperangkap.
Jantung Wanita itu seakan hampir meledak dengan aliran darahnya yang menjalar panas di sekujur tubuhnya “Liam…” dengan bibir bergetar Harumi berusaha keras menahan dirinya.
Salah satu tangan lelaki itu bergerak ke atas menarik kedua tangan Harumi di dadanya “Aku menginginkanmu” membuka penghalang kecil di antara tubuh keduanya.
Liam membimbingnya masuk dalam permainan indah yang secara alamiah tercipta untuk keduanya. Dia menarik Harumi lagi ke arahnya, jemarinya dengan lembut merapikan rambut dari pipinya. “Hal pertama yang menguasai hidupku adalah kau, Harumi”
Napas Harumi tersekat di tenggorokan dan ia mengangkat wajah ke bibir lelaki itu, menunggu ciumannya, tetapi Liam hanya tersenyum lambat, malas, dan menelusurkan tangan ke bawah lehernya, jemarinya berlama-lama pada nadi yang berdetak di tenggorokannya.
“Belum, Sesuatu yang semenyenangkan ini janganlah diburu-buru”
Sentuhan lelaki itu menenangkan sekaligus menggairahkan dan perlahan-lahan, sangat tenang, dan ini akan menjadi malam yang diingat Harumi seumur hidup. Hanya ada Liam dan atmosfer panas yang berpusar-pusar menyedot mereka berdua ke dalamnya.
Harumi merasakan matanya tertutup saat waktu dan pemikiran serasa menggantung. Jantungnya bergemuruh dan bagian dalam tubuhnya serasa meleleh, padahal Liam hampir tidak menyentuhnya.
“Kau Cantik” Liam menggumamkan kata-kata itu ke tenggorokan Harumi. Dan ia meyakini, Liam memang ahli dan berpengalaman dalam hal memanjakan wanita, pria tampan, kaya raya dan dikagumi banyak wanita sepertinya, sudah bukan hal baru dalam soal memberikan “Service” pada pasangannya di atas tempat tidur.
Lalu tangan keras Liam bergerak ke bawah, ia merendahkan tubuhnya membungkuk meraih kedua kaki wanita itu. Ia mengangkat Harumi, menggendongnya.
Mata harumi membesar, kedua alisnya terangkat terkejut mendapati dirinya kini berada di atas dekapan tubuh lelaki itu. Kedua kakinya yang tanpa alas tak lagi menyentuh lantai.
“Liam…turunkan aku” ucap Harumi dengan pipi merona. Dengan Refleks ia melingkarkan kedua tangannya di tengkuk pria itu sebagai pegangan untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Liam menyeringai tipis merasakan reaksi gemas Harumi, “aku ingin melahapmu di kamar pribadiku, bukan di sini” lengkungan kecil di pipi Pria itu membuatnya semakin tampan sekaligus manis secara bersamaan. Dan Harumi menyadari hal itu saat ia dalam dekapan eratnya.
Bobot tubuh wanita mungilnya bukan hal serius untuk di perdebatkan, di perjelas dengan otot-otot kuat yang timbul di sepanjang pergelangan tangan Liam dari balik kemeja santainya. Menangkup ringan beban tubuh Harumi yang tak seberapa baginya.
__ADS_1
Dengan santai, Liam berjalan melangkah menjajaki anak tangga menuju lantai atas. Matanya ke depan sedangkan Harumi terus memandangi sisi samping wajah Pria itu. Garis rahang tajamnya dengan sedikit rambut kasar di rahang sampai dagunya yang dibiarkan tanpa di cukurnya, membuat Liam tampak sangat… sangat maskulin.
Wanita itu bisa merasakan jemari Liam mencengkeram dengan posesif di kedua pahanya.
Dengan sekali dorongan bahunya, Liam sudah membuka dengan mudah pintu kamar pribadinya.
Ia menurunkan Harumi dari tubuhnya dengan pelan, sekarang mereka berdua berdiri berhadapan di tepi ranjang.
Tak ingin menunggu lagi, jemari lelaki itu menyingkap tali gaun tidur ke lengan wanita itu, menampakkan lekuk bahunya. Dia membelai kulit putihnya yang lembut, berlama-lama, menikmati setiap jengkal kulit Harumi dengan ujung jemarinya.
Tubuh Harumi menggelenyar merespons dan bibirnya merekah dalam permohonan tanpa suara, tetapi Liam masih belum mendaratkan ciuman di bibirnya.
Sebagai gantinya, Harumi merasakan pagutan lembut gigi lelaki itu dan belaian lid*hnya di bahu, yang kemudian bergerak semakin turun. Tangan lelaki itu, yang begitu mantap dan percaya diri, menyelinap naik ke tubuhnya dan di hentikan tepat di atas pinggangnya.
Suasananya berdenyut oleh gairah yang hampir tak tertahankan dan Harumi menger**g pelan saat sensasi terbakar di tubuhnya meningkat ke proporsi yang nyaris tak tertanggungkan.
“Kau terasa begitu menggairahkan” geram Liam, hasrat menebalkan ucapan dan aksennya “begitu sempurna”
Tiap Sentuhan manis tangan lelaki itu, selembut gaun satin yang dikenakannya. Membuat Harumi makin dibuat mabuk melayang tinggi selemah nyawa meninggalkan tubuhnya saat itu.
“Liam…” dikuasi oleh gairah yang begitu kuat sampai-sampai hampir menakutkan, Harumi mengangkat tangan ke pipi lelaki itu dan Liam menoleh untuk mengecup tangannya, sementara tatapannya mengunci tatapan Harumi.
Kemudian, mulut Liam akhirnya mendarat di bibir nya.
Ciumannya panas dan menggebu-gebu, tanpa ampun dan tanpa melepaskan bibir Harumi, Liam meraupnya ke dalam pelukan lalu merebahkannya di tengah-tengah ranjang.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you💋