
Rona merah muda mewarnai pipi Harumi saat wanita itu mulai menyentuh bibir Liam.
Pria itu sempat terkejut saat wanita yang selalu berusaha menjauhinya kini dengan inisiatifnya sendiri memulai serangan sensual itu. Mereka berdua mulai mendapatkan kenikmatan yang mereka cari.
Saat merasakan bibir Harumi pada dirinya dan mencec*p rasa diri Harumi, tidak mungkin malam ini akan berakhir sekarang. Liam menarik tubuh wanita itu lebih dekat lalu melingkarkan tangan dengan posesif ke pinggang Harumi, memeluk erat.
Membalas sentuhan demi sentuhan yang diberikan Harumi padanya, tubuh Harumi menegang dalam pelukan Liam, tangannya melingkar di tengkuk pria itu menariknya lebih dalam merasuk ke dirinya.
Puncak kenikmatan menjalar di sepanjang tulang punggungnya. Melihat Harumi, memporak-porandakan seluruh indera Liam.
Lidah Harumi bergerak menyapu bibir dan keraguan kecil apapun yang bergejolak dalam dada Liam lenyap seperti asap. Mata Harumi besar dan gelap penuh gairah, rambutnya tergerai berantakan dan bergelombang.
Itu adalah pertama kalinya Liam melihat Harumi tampak begitu….begitu berbeda.
Dan sia**n, Harumi tampak sangat sempurna.
Ketika wanita itu ingin mengakhiri dan melepaskan dirinya, Liam menangkap bibir Harumi dalam ciuman yang lebih membara seolah memberi tanda kepemilikan dirinya atas Wanita itu.
Dan Liam sangat tergoda untuk melakukan lebih lagi, tetapi Harumi melepaskan dirinya mengangkat dagu, membalas tatapan Liam.
“Sepertinya kita sudah sampai” suara Harumi agak serak
“Hmmm…lebih baik kita lanjutkan di dalam” bisik Liam melemparkan seringai lebar
Harumi membalas dengan mengernyitkan dahinya “aku sangat lelah”
Moment mendebarkan itu harus berakhir sekejap saat roda mobil berhenti, Liam menatap keluar. Mereka sudah tiba di tempatnya, Penthouse Liam.
Sopir membukakan pintu untuk mereka, Liam keluar kemudian di susul Harumi.
“Selamat Beristirahat Tuan Liam dan Nona Harumi” sahut Sekretaris Will menyunggingkan bibirnya menatap ramah kedua sejoli tersebut
“Terimakasih Pak Will” balas Liam
Mereka melangkah memasuki gedung bertingkat tinggi tersebut, Liam meraih tangan wanita itu dalam genggamannya.
Dalam waktu sesingkat di dalam mobil tersebut, keduanya memperlihatkan aura bahagia menikmati kebersamaan mereka.
Saat di dalam Lift pribadinya, Liam mengamati Harumi untuk sesaat kemudian melangkah mundur, memberi isyarat agar dia bergerak.
Harumi heran menyipitkan kedua matanya “kenapa ?” dia merasakan tatapan pria itu bergerak dari bawah ke atas.
__ADS_1
“Aku benar-benar suka kau mengenakan Gaun itu”
Harumi mengangkat alis sementara bibirnya berkedut “Bolehkah aku bertanya alasannya ?”
Mata coklat Liam yang tajam perlahan bergerak untuk kembali menatapnya. Seringai kecil muncul “Karena….ada hubungannya dengan bagaimana pasnya gaun itu menangkup setiap lekukan tubuhmu, sangat sempurna”
Pipi Harumi sontak merona kembali, ia membuang wajahnya. Entah mengapa, godaan itu sesungguhnya semakin memanaskan suasana di dalam lift itu.
“Aku menyukai ketika kau sering menutupi wajah memerahmu”
Harumi tak menjawab. Dia diam menahan diri. Padahal dalam benaknya ia hampir meleleh dibuatnya.
Sampai pintu lift terbuka di lantai paling atas.
Liam keluar lebih dulu diikuti Harumi dari belakang, ada sebuah pintu Abu-abu besar keperakan terbuka saat Pria itu memasukan password di gagang pintunya.
Harumi memperhatikan dari balik bahu Liam.
“Kata sandinya 89889” ucap Liam berbalik melirik Harumi
“Kenapa memberitahuku ?”
Wanitaku ? satu kata sederhana itu seketika memiliki kekuatan dahsyat mengguncang diri Harumi. Ia menggelengkan kepalanya tak ingin mudah larut dalam setiap pesona Liam lagi.
Sudah cukup malam ini membuat ia menggila, tak akan level itu ditambahnya lagi menjadi semakin tak terkendali.
Harumi melirik dari balik pintu yang sudah terbuka, pemandangan tak biasa bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mewah saja tidak cukup mewakili tempat itu, ini Luar biasa dan Menakjubkan.
Kedua mata Harumi tak hentinya menyusuri tiap sudut Penthouse tersebut, sangat Luas, Elegant dengan arsitektur Mahakarya Terindah yang disaksikan Harumi selama hidupnya.
Desainnya di dominasi dengan warna putih, abu-abu dan hitam, sebagian besar dindingnya berlapiskan Marmer berkilat, hampir tiap bagian sudut Ruang memiliki jendela kaca besar mampu menangkap Pemandangan Seluruh Manhattan.
Penthouse itu memiliki dua lantai, empat kamar tidur, kolam renang, Jacuzzi Tub, Gym pribadi, tangga marmer bercahaya menjadi sorotan indah di tempat itu dan masih banyak fasilitas mewah lainnya.
Harumi hanya bisa terdiam menikmati tiap pemandangan kemewahan itu tertangkap di matanya.
“Kenapa diam ?” tegur Liam yang entah sejak kapan sudah memegang dua botol air mineral untuknya dan Harumi.
“Hah ? hmmm…aku suka desain dan dekorasi tempat ini. Apa kau sendiri yang mendesain seperti ini ?”
__ADS_1
“Yeah, sedikit banyak aku ikut memutuskan setiap desainnya” jawabnya mendekat memberikan sebotol air mineral kepada Harumi
Penthouse ini sangat bergaya modern berbeda dengan Mansionnya di Bristol yang lebih klasik.
“Hanya ada beberapa lukisan di dinding, sama halnya di Mansionmu. Aku tidak ada menemukan foto-foto apapun seperti foto keluarga yang biasanya menghiasi sudut rumah.” Harumi beralih menatap Liam yang duduk di sofa meregangkan tangannya.
Liam menyeringai tipis “Tidak ada foto apapun yang bisa di tampilkan, For What ? ”
Harumi menyadari ada sisi lain diri Liam yang tak diketahuinya. Setiap manusia pasti memiliki sisi gelap dalam hidupnya, sama halnya Harumi.
Dan dia yakin, Liam memiliki alasan untuk itu.
Pada akhirnya Waktu akan perlahan memberikan cukup ruang bagi mereka untuk saling memahami sisi tergelap mereka masing-masing.
Pria itu menarik dirinya dari sofa “ikutlah dengan ku” ajak Liam meraih tangan Harumi membawanya melewati tangga menuju atas.
"Mau kemana ?" tanya Harumi mengikuti langkah Liam.
Sambil memegang salah satu sisi rok gaunnya agar memudahkan Harumi berjalan, ekspresinya bingung entah kemana ia akan dibawa Pria ini.
Menyusuri tangga, melewati lorong dengan beberapa pintu ruangan yang tertutup.
Akhirnya mereka sampai di sebuah Space terdalam di Penthouse tersebut, Liam menggeser dua pintu kaca Transparan. Harumi terkejut melihat di balik pintu itu.
Sebuah tempat yang sangat indah, itu adalah Balkon luas yang terletak di lantai Atas.
Luar biasa, Menawan, Sangat indah, Harumi seakan berada di Puncak tertingginya New York. Pemandangan seluruh Manhattan, eits tunggu dulu mungkin bisa dikatakan semua pemandangan New York Terhampar indah dengan gemerlap cahaya lampu perkotaan tertangkap di kedua mata Harumi.
Balkon luas itu, terdapat Jacuzzi Tub dan Kolam Renang. Pagar di pinggiran Balkon di dominasi dengan kaca transparan. So Elegant and Classy.
Dengan Hati-hati Harumi melangkah, hembusan angin malam yang dingin seakan tak di respon berarti oleh kulit mulusnya yang terbuka.
Harumi sangat menikmati suasana malam indah di balkon itu, Yeah Balkon lagi tapi ini dengan pemandangan dan atmosfir yang sangat berbeda.
Rambut panjang Harumi meliuk liuk terbawa hembusan angin, Liam tak melepas pandangannya memperhatikan wanitanya tersebut dari belakang sementara Harumi tak menyadarinya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you 🥰
__ADS_1