Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 150 I'm Bleeding in Love


__ADS_3

Cathy kembali menatap Anton, dengan kondisinya yang sekarang membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk menceritakan perihal pria yang tidak sengaja bertemu dengannya tadi.


Cathy merasa sangat yakin kalau Pria tadi ada hubungannya dengan malam kecelakaan itu.


Wajah itu walaupun samar-samar terlihat dikarenakan hujan lebat yang melanda di malam itu, tapi Cathy masih mengenali wajah pria misterius tersebut.


Apa yang dilakukannya di malam kecelakaan itu ?


Sudah berkali-kali Cathy memutar otak agar bisa menemukan jawabannya, tapi tetap saja tidak ada titik terang.


Cathy hanya mengingat di saat malam kejadian itu, sewaktu ia berlari menyelamatkan Harumi. Sekilas sosok pria itu tampak terburu-buru memasuki mobil, hanya sekali ia menoleh ke belakang.


Wajahnya tampak gusar dan kesal. Pria itu pasti mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.


Apa dia yang menabrak Harumi waktu itu ?


"Kau pulanglah" akhirnya Anton memecah keheningan, ia mengangkat wajahnya dengan berat.


Matanya semakin sayu, garis hitam mulai mewarnai bagian bawah matanya. Tubuh Anton lemas, bahkan untuk berdiri pun ia kesulitan.


Cathy menggeleng dengan guratan kecemasan meroket "Aku tidak akan meninggalkanmu sekarang apalagi dengan kondisi seperti ini."


Anton menghela napas, menatap wanita itu malas "aku ingin sendiri"


Wajah Cathy sedikit mengkerut. Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan Anton sendiri karena tentu saja dia bukanlah anak kecil lagi yang harus selalu ditemani. Tapi, jika mengingat tabiat Anton yang sering temprament, dan selalu meluapkan kemarahannya. Yah tentu saja bisa dipastikan, pria itu akan menghajar orang-orang yang ditemuinya dan membuat masalah baru yang pasti menyulitkannya.


Dan itu tidak ingin dibayangkan Cathy, bagaimana jadinya.


Karena Pria yang sedang patah hati jauh lebih Mengerikan.


Setidaknya, walaupun Anton lebih sering cuek kepadanya, hanya Cathy yang mengerti situasinya sekarang. Jauh lebih baik, daripada orang lain. "Aku mengenal Harumi sejak kami dibangku kuliah, sejak pertama berkenalan dengannya kesan pertamaku dia wanita yang sangat pendiam, tidak banyak bergaul. Dan hanya fokus terhadap pendidikannya" ucap Cathy setenang mungkin, memulai cerita.


Anton diam, dan tampak mendengarkan.


"Hanya sebulan, aku sudah mulai akrab dengannya. Walaupun awalnya aku memanfaatkannya hanya untuk menyontek tugas kuliah dan sering meminta bantuannya." Kilatan memory itu membuat kedua sudut bibir Cathy melengkung "tapi akhirnya aku sadar, Harumi adalah wanita yang sangat baik. Dia tidak pernah protes jika aku selalu meminta bantuannya dalam mengerjakan tugas. Bahkan yang membuatku terkejut ketika dia menceritakan perihal pribadinya, Harumi tidak pernah berkencan dengan pria manapun semasa hidupnya. Dan itu membuatku sangat shock, diusianya yang ketika itu 20 tahun dimana semua wanita sudah berkencan berkali-kali bahkan berganti-ganti pasangan. Tapi, tidak bagi Harumi."


Cathy menoleh ke arah Anton yang masih memilih diam tanpa merespon, dia hanya duduk menyandarkan bahunya ke kursi.


Dengan ekspresi datar, tapi ia masih mendengarkan ocehan Cathy.


"Sampai akhirnya semua berubah ketika dia bertemu denganmu, itu hal pertama kalinya dimana Harumi menceritakan seorang pria kepadaku. Bagaimana kikuknya dia ketika menceritakan pertemuan kalian, perhatian yang kau berikan padanya. Semua hal itu begitu berpengaruh terhadap hidup Harumi"


Tampak seringai miring di wajah Anton ketika mendengar bagian itu. Dan itu disadari Cathy.

__ADS_1


"Awalnya aku tidak tahu bahwa pria yang diceritakan Harumi waktu itu adalah kau. Aku mengetahuinya disaat usia kehamilanku baru menginjak 4minggu." nada suara berubah, Cathy tidak ingin melanjutkannya, dadanya tiba-tiba merasakan sesuatu yang sangat aneh. Perih.


Tapi, bibir Cathy masih mengulas jejak senyum "Aku hanya bisa ikut bahagia mendengar Harumi sudah menemukan pria yang benar-benar dicintainya, jadi saat itu aku menutup rapat mengenai kehamilanku."


"aku tidak ingin mendengarnya" Anton menjeda


Cathy seolah tidak peduli, ia melanjutkannya kembali "Awalnya aku tidak ingin kau mengetahuinya, tapi setelah itu aku berubah pikiran ketika mendengar kalian berencana akan melangsungkan pernikahan. Makanya aku mencarimu ketika itu. Tapi, kau sempat tidak mengakuinya karena itu begitu tiba-tiba." Cathy memejamkan matanya dan menghirup udara dalam. Wanita itu membuka matanya dan menatap Anton dengan intens "A-apa kau pernah memiliki perasaan kepadaku ?"


Anton mulai merasa tidak nyaman dan memalingkan wajahnya "Apa yang kita lakukan dulu hanya untuk bersenang-senang, kita sama-sama mabuk malam itu. Setelahnya, kita kembali ke kehidupan masing-masing. Just one night stand, aku tidak pernah merencanakan masa depan denganmu. Hanya Harumi, Hanya Harumi yang ada di hidupku."


Mendengar jawaban Anton, Cathy terpaku. Ia merasakan tubuhnya kaku oleh reaksi pria itu. Hatinya hancur, karena memang selama ini Cathy memiliki perasaan dengan Anton. Dan perasaan itu tidak pernah berubah, ia memilih bungkam karena untuk menjaga perasaan Harumi.


Miris rasanya jika dibayangkan seperti apa ini akan berakhir nantinya, jika Cathy harus menahan diri terus menerus sedangkan seseorang yang dicintainya terpuruk seperti sekarang.


"Setelah dia mengkhianatimu, kau masih tetap mencintainya. Aku iri pada Harumi, bahkan dia selalu dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya. Bahkan rela berkorban untuknya. Jika kau benar-benar menginginkannya kembali, berubahlah ! Sikap tempramentmu, keras kepala, ambisimu, hilangkan itu semua. Aku yakin dia akan kembali ke sisimu" wanita itu tersenyum perih


Anton meremas tepi kursi dengan kuat, saat ingatan itu kembali lagi dimana Harumi memilih bersama Liam dibandingkan dirinya. Pria itu sadar, bahwa pria yang bersama Harumi kini adalah orang yang sangat berkuasa, bahkan Pemilik Perusahaan tempat ia bekerja.


Bagi Anton melakukan kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal karena mudah bagi Liam untuk menghancurkannya.


Anton akan kehilangan segalanya, Pekerjaannya, Karier, kerja kerasnya selama ini dan tentu saja kehilangan Harumi.


Pikiran Anton kalut, dan penuh sesak. Ia tidak henti-hentinya memukul-mukul dirinya sendiri dihadapan Cathy "BODOH...BODOH!!!"


Cathy melotot "Tenanglah...Aku berjanji akan membantumu !! Aku berjanji akan mengembalikan Harumi ke sisimu. Asal kau berhenti bertindak seperti anak kecil!!!"


***


Sejak keluar dari pesta menuju Penthouse milik Liam, mereka berdua saling bungkam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sementara Sekretaris Wil dan pengawal lainnya berada di mobil lain mengikuti di belakang.


Liam memilih mengendarai mobil mewahnya sendiri tanpa sopir pribadinya, Harumi melirik Liam melalui sudut matanya.


Semenjak masuk ke mobil, mereka berdua tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Harumi merasa kalau ia sedang diantar oleh seorang sopir, bukan si pemilik mobil.


Harumi menghembuskan napasnya dengan lembut.


"Ehem!" Harumi berdehem, menoleh pada Liam "Maafkan aku...mengenai kejadian tadi"


Liam tidak menggubris, malah pria itu seperti tidak mendengar ucapannya. Liam terlihat asik sendiri menari-narikan jemarinya di lingkaran kemudi mengikuti irama musik yang tengah diputar di dalam mobil dengan volume kecil.


Oh Tuhan, apa ada sebuah batu yang menyumbat telinganya atau ada perekat ditenggorokannya sampai tidak mendengar ataupun merespon. Minimal sebagai basa basi ?


Harumi mencoba kembali mengeluarkan suara "boleh, aku bertanya ?"

__ADS_1


Diam. Berarti iya.


"hmmm...jika kejadian itu diketahui media. A-apa ..."


"Aku tidak peduli"


Harumi menoleh cepat pada Liam yang akhirnya bicara. Ternyata pria itu tengah menatapnya datar, namun hanya sejenak sebelum mengalihkan kembali pandangannya ke depan, pada jalan yang sedang dilalui.


"B-bagaimana dengan nama baik, reputasimu, dan keluargamu ?" timpal Harumi kemudian


"Apa sesulit itukah menjawab pertanyaan pria itu ?" tanya Liam mengabaikan ungkapan tulus dari Harumi "Aku tampak seperti seorang pengecut dihadapannya"


"Maksudmu ?"


Harumi baru menyadari, ada yang mengganjal di hatinya sekarang. Liam terlihat kesal.


Wanita itu mengerti dengan maksud pertanyaan Liam, tapi Harumi berusaha memastikannya lagi. Tapi, Liam kembali angkat bicara.


"Merebut mu darinya, seperti itu yang tampak di mata orang lain. Mungkin ada benarnya, aku hanya pelarian, tempat untuk berlindung. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya"


Awalnya Harumi merasa canggung, tapi mengingat setelah yang dialaminya malam ini tidak ada yang perlu ditutupinya lagi.


Harumi sudah menentukan pilihannya.


Dia memilih Liam, pria yang sekarang terlihat cemburu tepat berada disebelahnya.


Tidak perlu mengungkapkan dengan terbuka bagaimana perasaan Harumi sekarang ini, karena seharusnya Liam sudah menyadarinya.


"Aku tidak akan mengambil resiko sebesar ini, duduk disampingmu sekarang. Jika tidak memiliki perasaan apapun" jawab wanita itu tenang


Walaupun di dalam hatinya kini sedang bergejolak hebat, dimana perasaan dan akal sehatnya berperang kuat. Tapi, Harumi siap menghadapi semua resiko besar nantinya.


Bersiap menghadapi kehilangan, kehilangan kepercayaan keluarganya, dijauhi orang-orang terdekatnya, dapat hujatan sebagai wanita murahan, dicap wanita gila harta, gila uang. Semua itu pasti akan diterima Harumi dikehidupannya nanti, karena demi memilih bersama seorang pria yang telah mengguncang hidup dan perasaannya.


Tidak ada hubungan seperti Liam dan Harumi yang akan berjalan dengan baik-baik saja. Kehancuran dan Kehilangan akan dirasakan keduanya, memilih untuk mengkhianati pernikahan bukan jalan yang sebenarnya di iinginkan wanita itu, tapi kebahagiaan yang diambil diatas penderitaan orang lain. Akan mengakibatkan bola panas terus menggelinding ke arah mereka.


"Selama proses perceraian, biarkan aku yang mengurus semuanya. Sementara, jangan menemui siapapun. Aku sudah menghubungi beberapa Pengacara pribadiku, mereka sedang menyelesaikan berkas-berkas yang diperlukan selama persidangan. Aku tidak ingin kau masih terikat dengannya" suara serak Liam dengan bola matanya yang menggelap dan napasnya sedikit kasar. Dia memutuskan semua itu dengan Tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2