
"Aku tidak perlu nasihat darimu !!" sela Anton tanpa menatap wajah Cathy sedikitpun
"Aku pun tidak sedang memberikan nasihat untukmu. Itu hanya sebuah PERINGATAN, karena jika kau ingin memenangkan permainan ini maka kau harus menemukan jawabannya." balasnya dengan seringai sinis
Dalam beberapa detik Anton sempat terpaku dengan ucapan terakhir Cathy, berusaha untuk mengabaikannya tapi itu memang benar. Biarpun mereka tidak pernah saling cocok dan sering berdebat tapi untuk hal yang satu ini. Anton tidak akan menyangkalnya.
Permainan yang sedang mereka jalani sekarang, tidak akan bisa di menangkan jika ego dan Amarah masih menguasai keadaan.
Semua akan berakibat buruk, semua akan berakhir dengan sia-sia.
Anton melanjutkan langkahnya, membuka pintu dan pergi meninggalkan Cathy tanpa sepatah katapun.
Cathy masih memperhatikan punggung pria itu dengan perasaan yang masih mengganjal, entah apapun itu. Cathy ingin semua Permainan ini segera berakhir.
Berakhir dengan baik, walau akan banyak orang-orang yang akan hancur dan tersakiti.
***
Ting !
Tong !
Ting !
Tong !
Seseorang sedang menekan bel berulang-ulang kali, tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya.
Bahkan tidak hanya itu saja, kedua pria dengan setelan jas dan memakai kacamata hitam menggedor-gedor pintu dengan sangat kasar.
Namun butuh waktu hingga membuat mereka menunggu, sampai akhirnya pintu itu pun terbuka.
"Siapa kalian ?" seseorang yang membukakan pintu tersebut terlihat terkejut melihat dua sosok pria berbadan besar sedang berdiri dihadapannya.
"Nyonya kami ingin bertemu dengan Elena Riandra !!" nada bicara salah satu pria itu tinggi seolah memberi perintah ketimbang memberikan jawaban
Ameera yang berdiri dihadapan mereka pun melotot dengan kening yang berkerut "Siapa Kalian ? Untuk apa ..."
"Aku ingin bicara dengannya" suara seseorang terdengar dari belakang kedua pria Misterius tersebut
__ADS_1
Mendengar sumber suara itu, kedua pria bertubuh besar tersebut secara refleks bergeser memberi jalan dan tunduk hormat kepadanya.
Ameera semakin bingung, ia masih memilih berdiri di ambang pintu yang setengah terbuka sambil memperhatikan seseorang yang dihadapannya sekarang "Anda siapa ?"
Wanita itu adalah Anita Seymour, melemparkan tatapan dingin dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca sedikitpun. Wanita itu membuka kacamata hitamnya lalu bolamatanya berjalan menatap Ameera dari ujung kaki hingga kepala dan ia mengeluarkan seringai miring yang sangat angkuh "Aku tidak perlu memperkenalkan diri kepada wanita sepertimu" ia mendekati Ameera
"Aku pun tidak akan membiarkan orang-orang seperti kalian masuk ke rumah kami !" lanjut Ameera mulai emosi
Anita tertawa tetapi tidak ada yang lucu "Orang-orang seperti kami ?! DASAR WANITA KURANG AJAR..." Wanita paruh baya itu hampir melayangkan tangannya ke wajah Ameera, ingin menampar tidak lama Elena berteriak mencegahnya.
"HENTIKAN !!" teriak Elena langsung menarik tubuh Ameera ke belakang. Kemudian ibunya Ameera itupun langsung memasang badan dihadapan Anita. "Jika KAU datang hanya ingin membuat keributan, maka ENYAHLAH DARI SINI !!! Jangan Sakiti Putriku !!!" wanita itu tidak merasa gentar, kedua matanya membara oleh emosi dan ia menunjuk-nunjuk wajah Anita.
Kedua pasang mata itupun saling mengunci.
Anita terdiam sejenak sebelum berkata, dagu wanita itu terangkat dan tatapannya tidak kalah mengerikan dari Elena "Menantumu tidak ada bedanya denganmu, SAMA-SAMA PELAC**!! MENJUAL DIRI DEMI UANG ! MENJIJIKKAN !!!"
Wajah Elena sontak terkejut, ia membeku. Ekspresinya terlihat syok dan geram.
Ameera yang mendengarnya, hanya menganga dan tubuhnya gemetar sambil memegang lengan ibunya.
"A-apa maksudnya, bu ?" Ameera menggerakkan lengan ibunya sambil menahan napas.
Anita beralih menatap Ameera dengan sorotan tajam "Harumi Nayaka Whiston" wanita paruh baya itu menyebutkan nama lengkap Harumi dengan lantang "Bukankah kalian mengenal nama itu."
Tampak wajah Elena berusaha menahan diri, walaupun dadanya sesak, napasnya tidak beraturan dan wajahnya mulai tampak pucat.
Tapi, keingintahuan Ameera jauh lebih besar dibanding dirinya "Apa maksudmu yang sebenarnya ? Kenapa dengan Harumi ? Ia t-tidak mungkin..."
Anita menghela napas sebelum menjawab pertanyaan itu "Dia memiliki hubungan dengan Puteraku. Di saat ia masih Bersuami !! Bukankah itu tidak ada bedanya denganmu, Roseanne !!" Anita menoleh kembali pada Elena yang terlihat masih syok
"Ya, Tuhan, m-maksud anda...Harumi berselingkuh dengan Putera anda" hardik Ameera tidak terima
Ameera lalu melihat ke arah ibunya yang masih memilih diam tanpa membalas apapun dari cercaan Anita "Bu, bicaralah. Itu tidak benar kan. Harumi bukan wanita yang seperti itu. Bu, Bicaralah " Ameera mengusap-usap bahu ibunya.
Anita menghilangkan jarak keduanya lalu menarik kerah baju Elena dengan kasar. "Sejarah seolah terulang kembali. Tapi, Aku tidak akan membiarkan Liam jatuh ke dalam pelukan Wanita Murahan itu. TIDAK AKAN PERNAH !"
Tidak ada perlawanan, tatapan Elena kosong. Tubuhnya lunglai, ia masih terus bungkam. Membiarkan Anita menarik-narik dirinya dengan kasar.
Ameera tidak terima dengan perlakuan Anita, ia membantu ibunya untuk lepas dari cengkeraman Anita. Tapi, itu sia-sia.
__ADS_1
Kedua pria bertubuh kekar yang merupakan pengawal pribadi Anita langsung mencegah menarik tangan Ameera dan mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur di lantai.
Elena langsung tersadar, melihat perlakuan kasar yang sudah dilakukan kepada Putrinya tersebut. Melihat salah satu Pengawal itu menahan bahu Ameera yang berusaha ingin berdiri.
Akhirnya membuat Elena melawan "APA YANG KAU LAKUKAN ?! " sentak Elena lalu melepaskan dirinya dari Anita dan ingin menghampiri Ameera.
Tapi, Anita lebih dulu menarik rambut Elena dengan lebih kuat dan refleks Elena merintih kesakitan "AKU BELUM SELESAI" dan menjatuhkan tubuh Elena dihadapannya
"Aku belum selesai. Sebaiknya kau dengarkan baik-baik bagian terpentingnya, Roseanne !" Anita sedikit menunduk mendekat kepada Elena yang terduduk di lantai dengan bahunya ditahan oleh tangan pengawal tersebut. Sama seperti Ameera.
Kini keduanya tidak berdaya, karena pengawal tersebut menahan mereka.
Anita mencengkeram wajah Elena "Harumi sedang bersama Liam saat ini, Jika kau tidak bisa memisahkan mereka. Maka..." mata Anita melirik Ameera "Putri kesayanganmu akan meninggalkan dunia ini lebih dulu darimu, dan aku akan membuat hidupmu lebih hancur. Seperti kau menghancurkan hidupku dulu"
Mata Elena melebar, ia mengangkat tangannya untuk menampar wajah Anita tapi dihalang oleh Pengawal itu "Aku tidak pernah Takut dengan Ancamanmu" rutuk Elena dengan suara bergetar
"Inilah akibatnya jika kau bermain-main dengan Pria beristri. Bahkan sampai keturunanmu pun MENERIMA AKIBAT DARI MASA LALUMU"
Anita memberi kode kepada kedua pengawal pribadinya dan melepaskan kedua wanita itu.
Setelah lepas dari pengawal itu, Ameera dengan cepat berdiri menghampiri Elena yang diam dengan tubuh kaku masih terduduk di lantai "Bu..."panggilnya menggerak-gerakkan tubuh Elena dengan mata berkaca hampir menangis
"Itu balasan karena menantumu sudah mempermalukan ku !!" tandas Anita tidak bisa ditawar lagi "Aku hanya memberimu waktu dua hari. Hanya Dua hari untuk penyelesainnya. Maka aku akan memberi keputusan untuk nasib kalian" Anita sempat menatap lama kedua wanita yang terduduk di lantai lalu berjalan meninggalkan keduanya dan diikuti kedua bodyguardnya.
"Aku tidak pernah merebut Roberto darimu, tapi dialah yang mendekatiku lebih dulu. Dia tidak pernah mencintaimu, ia berusaha menawarkan perceraian tapi kau selalu menolaknya. Dengan dalih kau mengancam akan bunuh diri jika Roberto terus memaksa untuk bercerai. Yah, memang benar aku salah berada di antara hubungan kalian, tapi aku menebus semua dosaku dengan memberikan Liam" Akhirnya Elena buka suara dengan wajah yang tidak berdaya tapi ia berusaha terlihat kuat.
Walaupun ia penuh dengan tekanan, Elena ingin semua jelas. Masa lalunya yang kelam tidak ingin terus-menerus menghantuinya lagi.
Langkah Anita terhenti, dengan tidak menoleh dia berdiri membelakanginya "Liam adalah Puteraku, Puteraku !! dan tidak akan kubiarkan orang lain menghancurkan hidupnya. TIDAK AKAN."
Dengan terisak tangis, Elena memegang dadanya yang perih "Kumohon, Anita ! Jangan Sakiti Orang-orang yang kusayangi lagi. Cukup aku saja ! Kumohon !! Kumohon."
Ameera mengusap-usap lengan ibunya untuk menenangkannya. Dia pun ikut merasakan kesedihan Elena dan tidak henti-hentinya airmata mengalir dipipinya.
Tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama, Anita masuk ke mobil mewahnya tanpa memperdulikan kedua wanita itu lagi.
Sopir menutup pintu mobil, dan tampak Anita memalingkan wajahnya.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤