
Samar-samar bayangan terpantul dari lantai ubin dapur ketika Pria itu hampir menggeser pintu kaca.
Berusaha mengenali siapa sosok dari bayangan tersebut, Anton perlahan semakin mendekat dan dengan hati-hati ia menggeser pintu agar tidak menimbulkan suara.
Pintu sedikit terbuka, Pria itu bisa melihat ada seseorang yang berdiri di teras taman belakang.
Genggaman pada sebilah pisau di tangannya semakin erat, jantungnya mulai berdentam-dentam kencang. Karena pikiran Anton di penuhi dengan dugaan-dugaan bahwa ada seseorang yang sedang ingin berniat jahat.
Di saat itu, kedua mata Anton melebar, bibirnya sedikit terbuka, keningnya berkerut, Pria bertubuh tinggi itupun sontak terkejut ketika ia berhasil mengenali sosok yang sedang berdiri masih mengenakan gaun tidur berwarna light grey beberapa meter darinya itu ternyata adalah...
Harumi...istrinya
Genggaman tangannya pada sebilah pisau itupun mulai longgar, bersamaan ia terus memperhatikan Harumi dari balik sebagian pintu kaca yang dibukanya.
Anton tampak heran sekaligus menimbulkan banyak tanda tanya tentang keberadaan Harumi selarut ini berdiri sambil berbicara dengan seseorang.
Yah, Anton dapat meihat jelas bahwa istrinya tersebut sedang berbicara dengan seseorang di ponsel miliknya.
Walaupun Anton tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan istrinya tersebut, karena Harumi berbicara sangat pelan hampir-hampir seperti sedang berbisik.
"Apa yang dilakukannya ?" gumamnya sambil terus memperhatikan Harumi
Harumi berdiri menyamping, sambil berbicara di ponsel yang menempel di telinga sisi kanannya.
Terkadang ia memindahkannya ke sisi kiri telinganya.
Anton tampak penasaran dengan siapa istrinya tersebut berbicara, dan apa yang sedang dibicarakannya sehingga membuat wanita itu harus bangun di jam seperti ini.
Malam yang pekat, angin yang bertiup pelan melewati kulit Anton menambah suasana sunyi itu terasa asing baginya.
Rasa haus di tenggorokannya menghilang, rasa itu berubah seketika menjadi rasa penasaran yang kuat.
Mata Anton menyipit ketika mengamati ekspresi Harumi yang sangat santai, bahkan senyuman simpul sering terulas di wajah cantiknya ketika ia membalas pembicaraan orang tersebut di balik ponselnya.
Sesekali tangan Wanita itu menutupi bibirnya, tersenyum malu-malu, seolah-olah ada sesuatu yang begitu membahagiakan terdengar di indera pendengarannya.
Yah, tentu saja. Itu membuat perasaan Anton gusar. Pria itu sempat mematung sesaat ia melihat bagaimana sikap Harumi yang seperti ini sudah lama sekali tidak pernah di lihatnya.
Malam itu Harumi, istrinya tersebut terlihat tampak sangat...
sangat BAHAGIA.
Anton menyadari, sudah lama ia tidak pernah melihat istrinya tersebut tersenyum sebahagia itu ketika dengannya.
Hanya pertengkaran dan banyak perdebatan yang mereka lalui hampir tiga tahun terakhir ini.
Ia tidak pernah lagi melihat Harumi seceria itu.
Mata Harumi kadang-kadang menatap langit malam yang bertabur bintang sambil merekahkan senyuman, lalu mengucapkan sesuatu yang tidak dapat di dengar Anton. Sesekali wanita itu tertunduk lalu menggigiti bibir bawahnya dan tentu saja memperlihatkan kedua sudut bibirnya yang melengkung.
Harumi memang tampak berbeda malam itu.
Dugaan lain mencuat dalam benak Anton.
__ADS_1
Apakah Harumi sedang berselingkuh ?
Anton ingin sekali membuang dugaan bodoh itu dari semua pikirannya. Karena ia merasa Harumi tidak mungkin melakukan hal gila seperti itu mengingat ia mengenal istrinya tersebut adalah sosok wanita yang sangat polos apalagi tentang Pria.
Anton adalah Pria pertama dalam hidup Harumi, karena sebelumnya Harumi tidak pernah menjalin hubungan dengan Pria manapun selain Anton.
Sebelumnya Harumi begitu tertutup dalam menjalin asmara sampai akhirnya ia bertemu Anton. Dia mampu melunakkan hati Harumi kala itu, bahkan hanya dalam hitungan bulan.
Pikiran Pria itu berperang antara perasaan dan logikanya.
Ketegangan mengoyak punggungnya dan gejolak rasa cemburu yang sebenarnya tidak ingin ia tampakkan sebelum ada bukti, kini menjadi-jadi.
Anton ingin menghampiri Harumi dan menanyakan langsung, ia mengurungkannya.
Ini bukan di waktu dan tempat yang tepat, pikirnya.
Anton menggeser pintu itu kembali, menutupnya. Ia menuju dapur meletakkan pisau tersebut ke tempatnya.
Ia kembali ke kamar tidur dengan perasaan yang hampir membakar dirinya.
Anton CEMBURU DAN MARAH tapi ia mencoba untuk menahan diri. Sebelum ia bisa membuktikannya.
Beberapa menit berlalu, Anton yang terbaring di sofa. Mendengar suara langkah kaki membuka pintu dan memasuki kamar. Yah, posisi pria itu membelakangi dan berpura-pura tidur di balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Matanya masih terjaga, tidak ada rasa kantuk sedikit pun. Ia mendengar Harumi masuk dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Anton berbalik, menoleh ke arah istrinya yang masih dengan posisi duduk di atas ranjang.
"Dari mana ?" tanyanya
Anton bangun dan duduk bersandar sambil terus memperhatikan istrinya "Selarut ini kau dari mana ?"
Ketegangan meroket di kamar itu "A-aku dari dapur"
"Aku barusan dari dapur, tapi tidak melihatmu" sorot dingin dari matanya berusaha menusuk-nusuk keadaan tersebut
Harumi sempat diam sejenak, hampir membuka bibirnya.
Anton lebih dulu mengusiknya "Aku melihatmu di teras halaman belakang, kau sedang menghubungi siapa selarut ini ?"
Ada keheningan panjang, "Apa pedulimu ?!" tangkis Harumi dengan ekspresi kesal.
"Pertanyaan ku sederhana, Rumi. Apa sulit menjawabnya. Siapa yang sedang berbicara denganmu tadi ?" Anton tersenyum sabar seolah ingin mengintimidasi istrinya
"Aku tidak ingin membahas apapun denganmu"
"Siapa ? SIAPA ORANG ITU ?" kesabaran Anton menipis, nada bicaranya mulai naik dan terdengar nyaring di tengah keheningan malam itu
Harumi semakin kesal dibuatnya, ia mengepal kuat kedua tangannya di balik selimut, dadanya terasa panas. Ia menggigit bibirnya menahan diri karena ia hampir-hampir ingin meledak.
"JAWAB AKU, RUMI !!!" Pria itu berdiri, tubuhnya kaku oleh rasa tegang di seluruh tubuhnya.
"Kau berharap aku menjawab APA ?!" tantangnya
__ADS_1
Harumi berdiri lalu mendekati Anton yang sudah kesulitan mengontrol dirinya "Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Yah, kau tidak mau menceraikanku. Oleh karena itu, JANGAN PERNAH MENCAMPURI URUSAN KU LAGI !"
Anton tertawa memecah ketegangan saat itu "OOh....maksudmu karena aku tidak akan menceraikanmu JADI...Kau bebas berhubungan dengan Pria Lain !!"
Pria itu mencondongkan tubuh ke depan, ada sekilas humor masam dimatanya "Kau Perempuan yang Sangat LICIK, HARUMI NAYAKA"
Bibir Harumi bergetar, Matanya hampir berkaca-kaca ketika ia harus menguatkan dirinya. Ia bisa saja menampar wajah suaminya tersebut saat itu juga. Tapi, untuk apa ?
Semua yang dikatakannya memanglah benar. Tidak ada keraguan di wajahnya, Harumi marah karena Anton selalu melemparkan semua kesalahan itu kepadanya. Penyebab kehancuran Pernikahannya ini semua bertumpu pada wanita itu.
Hanya itu yang ada dipikiran Anton, Pria itu tidak pernah merasa dirinya juga melakukan kesalahan.
Anton selalu menganggap Harumi adalah dalang dari semua kehancuran pernikahan mereka.
Harumi tidak peduli lagi dengan semua omong kosongnya, wanita itu menatap tajam dengan dingin lalu berbalik. Ia tidak merespon apapun dengan ucapan terakhir yang dilontarkan Anton. Harumi kembali ke tempat tidurnya.
Sudah cukup baginya dengan perdebatan yang tidak akan pernah menemukan titik terang di antara keduanya.
Karena Harumi sadar, bahwa sekarang ini perasaannya terhadap Anton sudah menghilang entah kemana. Tidak ada rasa apapun yang tersisa di dalam hatinya untuk pria itu.
Semua terasa kosong.
Hanya tersisa rasa jenuh, hambar dan kebosanan.Itu semua yang dirasakan Harumi pada Pernikahannya saat ini.
Harumi merebahkan dirinya, lalu perlahan memejamkan kedua matanya menutup kelopak matanya dengan kuat. Ia mendengar samar-samar semua ocehan suaminya dari belakang.
Harumi tidak memperdulikannya lagi, ocehan-ocehan itu seolah menghilang pelan - pelan.
Wanita itu membiarkan suaminya terus membicarkan hal-hal bodoh dengan kemarahan yang berapi-api.
Tidak ada lagi yang perlu dibahas, pikirnya.
Jika ia meladeninya, ini akan berbuntut panjang.
Ocehan omong kosong Anton sama sekali tidak mengganggu istirahatnya, Harumi terpejam, suara Anton semakin menjauh lalu menghilang.
Dan Harumi pun tertidur.
Tidur dalam kepuasaan karena bisa melewati malam perdebatan mereka.
Dan tentu saja, dibalik itu ada sesuatu yang membuatnya bahagia, sesuatu yang membuatnya mampu memberikan kekuatan untuk menahan diri.
Yah, seseorang dibalik telepon tadi.
Suara yang selalu dirindukan Harumi, Suara yang membuatnya bisa melupakan semua masalah hidupnya untuk sementara.
Suara itu tidak lain adalah...
Liam.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank You ❤