Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 142 Charity Party Part 7 ( The Man in My Eyes )


__ADS_3

Harumi tidak berpikir apapun mengenai wanita ini, memang sempat ada rasa cemburu yang dirasakannya terhadap sikap wanita ini sebelumnya.


Bahkan tidak menyangka kalau sikap wanita yang bernama Kimberly ini bertolak belakang dari yang Harumi pikirkan.


Dia sangat anggun, tubuhnya tinggi, posturnya ramping, berparas cantik walaupun ia menutupi sebagian wajahnya dengan topeng tapi itu tidak mengurangi pesonanya, dan tidak jarang banyak para tamu pria yang selalu melemparkan godaan padanya tapi ia sama sekali tidak menggubrisnya.


Tidak ada tamu pria di pesta malam itu yang membuatnya bisa bersikap manja selain di saat Kimberly bersama Liam. Hanya pada Pria itu saja, Kimberly tampak nyaman berasa di dekat Pria bahkan tangannya selalu melingkar penuh posesif di lengan Liam.


Mungkin itu sebuah kewajaran bagi Liam karena hubungan mereka sangat dekat. Tapi, itu tampak tidak nyaman dimata Harumi.


Tentu saja, timbulnya rasa cemburu, dan Harumi tidak ingin mengakuinya.


Dan sekarang, sikap Kimberly ternyata diluar dugaan. Wanita itu begitu mudah akrab dengan Harumi. Dia tidak segan membantu mempertemukan Harumi dengan Liam.


Yah, Harumi berharap wanita ini tidak memiliki maksud lain.


"Hubungan kami tidak seperti yang kau bayangkan." ucap Harumi menatap tepi gelas wine ditangannya


Kimberly melangkah pelan mendekati Harumi "Liam Seymour tidak akan mengambil resiko, mendekati istri orang lain jika ia tidak memiliki perasaan. Dan aku yakin kalian memiliki keterikatan masing-masing."


Kimberly membuat respon itu terdengar ringan dengan senyuman kecil. Dan, disitu Harumi sudah kehabisan kata-kata.


"Kau pasti mengira aku dan Liam memiliki hubungan yang spesial, bukan ? dan tidak bisa dipungkiri kau pasti merasa cemburu" lanjutnya


Harumi semakin terkejut dengan respon yang dilontarkan wanita itu, ia begitu santai dan tidak merasa terbebani. Kimberly bukanlah wanita yang ingin terikat oleh sesuatu hal.


Itu tampak dari cara dia bersikap dingin sekaligus terlihat anggun dan ramah pada setiap orang yang ditemuinya.


"What ?" Harumi semakin kaku


"Dua tahun lalu, aku pernah menyatakan perasaanku pada Liam. Tapi, dia tegas menolakku. Bahkan untuk menjadi teman tidurku saja ia tidak mau. Dia beranggapan aku hanya sebagai sahabat baiknya. Its so Hurt" wanita itu tersenyum miris lalu meneguk wine hingga ia menghabiskan satu gelas hanya dalam sekali tegukan "Jadi kuharap kau tidak cemburu." ia tertawa kecil


Harumi menarik napas panjang "Apa karena itu kau tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya ?"


"Yap, kau pasti sudah mengetahuinya dari Liam. And Now, we are Fine. Aku sekarang sudah memiliki seseorang yang mencintaiku dan kini kami sudah bertunangan."


Harumi mulai mengagumi dengan sikap dari semua keputusan yang diambil Kimberly dalam hidupnya. Dia tidak lemah, tidak mudah larut begitu saja dengan kesedihan, dan dia selalu berpikiran terbuka untuk segala sesuatu yang terbaik bagi hidupnya. Walaupun, dia tidak bercerita panjang lebar tapi Harumi menyadari bahwa Kimberly sebenarnya memiliki perasaan kepada Liam cukup lama dipendamnya.


Pandangan Harumi berubah seketika, di saat ia merasa mungkin ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari pembicaraan singkatnya dengan Kimberly.


Bahwa tidak perlu menyerah untuk membuat diri Bahagia. Karena Hidup masih terus berjalan tidak peduli jika Kita masih terpaku di tempat.


So, lebih baik terus bergerak daripada hanya diam di tempat.


***


Dalam suasana malam yang mulai berangsur pekat, Seseorang berdiri di atas sebuah jembatan kecil di taman yang luas dan begitu indah dengan penerangan dari berbagai sudut lampu taman.


Harumi tidak menyangka ada taman seluas ini, dan sebuah aliran air mengitari di tengah-tengah taman dan wanita itu bisa mendengar suara gemericik air yang menyejukkan.


Beberapa tanaman Raspberry yang ikut menghiasi sudut-sudutnya, berbagai variasi bunga-bunga di pinggiran aliran sungai kecil tersebut tampak begitu menyejukkan.

__ADS_1


Dan yang membuat Harumi heran, tidak ada seorang pun di taman seindah ini selain Harumi yang berjalan mendekati jembatan kecil tersebut.


Sambil memegangi tepi kain pada gaun, Harumi berjalan dengan hati-hati. Bau rerumputan hijau yang baru di potong langsung semerbak di indera penciumannya, malam itu begitu indah jika diperhatikan dengan baik bagaimana langit bertabur banyak bintang.


"Apa kau tidak merasa bosan menungguku ?" ucap Harumi menatap Liam yang berdiri dihadapannya sambil memperhatikan wanita itu


Sudah sampai diatas jembatan, Harumi berusaha berdiri dengan benar karena ia mulai merasa perih di bagian kakinya. Mungkin karena ia sudah cukup lama mengenakan heels ini.


"Apa aku sudah mengatakan kau sangat cantik malam ini ? " Liam mengulaskan senyum lembut dan apresiatif yang sangat maskulin.


Rona pipi Harumi memerah tanpa ia sadari "Ini berkat gaun mahal, aksesoris mahal dan..."


"Itu tidak akan ada artinya jika bukan kau yang mengenakannya." tegas pria itu


Komentar Liam tentang penampilan Harumi benar-benar membuat berdenyut-denyut di dadanya dan ia harus menggigit bibir untuk menahan diri agar tidak memeluk pria itu.


"Aku tidak nyaman jika ada orang lain yang melihat kita berdua disini " Guratan cemas mulai tampak di wajah Harumi


Yah, bisa ditebak olehnya. Liam tidak peduli akan hal itu "Tidak akan ada yang bisa mengganggu kita saat ini, apa kau tidak melihat sekelilingmu tidak ada orang lain selain kita"


Harumi baru menyadari ketika ia menoleh dan matanya mengitari ke sekeliling taman itu, dan yang benar saja taman ini begitu sunyi "But How ? bagaimana mungkin ?"


Rasanya tidak mungkin tamu yang hadir di pesta tersebut tidak ada seorang pun yang singgah ke taman seindah ini.


"Aku kenal dengan pemilik tempat ini, dan aku memintanya untuk meminjamkan taman ini sebentar untuk kita. Dan tenanglah, Sekretaris Will sudah mengerahkan untuk melakukan penjagaan di tempat-tempat yang tidak bisa terlihat olehmu"


Bibir Harumi hampir saja menganga ketika mendengar respon Liam yang benar-benar sangat,,,sangat...sangat santai. Jawaban seseorang yang selalu hidup dikalangan atas sepertinya selalu terlihat enteng menyelesaikan setiap urusan didepannya.


"Apa kau sudah menemui ibumu ?" Harumi bergeser dan melangkah menuju tepi jembatan


"Liam..."


"Hmmm"


Harumi menatap kembali ke wajah Pria itu yang kini berdiri sejajar disampingnya, Harumi merasakan dentaman hebat di jantungnya ketika ia bisa melihat lagi wajah pria itu dan saat itu ia tidak mengenakan topeng.


Garis wajahnya yang tegas, tampak dari bagian samping wajahnya. Rahangnya yang kuat dan posturnya yang maskulin. Itu tidak bisa membuat Harumi mengerti kenapa Liam pria sesempurna dia harus mengambil resiko untuk Harumi.


"Kau tidak pernah menceritakan apapun tentang kehidupan pribadimu,"


"Karena memang tidak ada yang perlu di ceritakan, bukan hal yang menarik untuk diingat."


Kehidupan pribadi Liam selama ini selalu menjadi Misteri bagi Harumi, teralu banyak hal yang tidak diketahuinya.


"Apa hubunganmu dengan ibumu baik-baik saja ?" ucapnya dengan hati-hati


Liam menarik napas dalam-dalam, ia sedikit melonggarkan dasinya lalu berpegangan pada tepi jembatan "Anita Seymour bukanlah ibu kandungku, aku baru mengetahuinya beberapa waktu lalu"


Harumi merasa tersentuh mendengarnya, karena bagaimanapun itu sangat menyakitkan bagi Liam. Wanita yang selama ini sudah dianggapnya sebagai ibunya, ternyata bukanlah ibu yang sebenarnya.


Harumi sudah mengetahuinya, karena saat itu ia tidak sengaja mendengarnya sewaktu pamannya Luciano datang mengunjungi Liam.

__ADS_1


"Apa kau sudah mengetahui siapa ibumu yang sebenarnya ?"


Sorotan mata Liam tertuju pada aliran air yang mengalir di bawah jembatan, dan Harumi bisa melihat dari sorotan matanya ada kehampaan di dalam diri Pria tersebut "Yah, walaupun masih sedikit informasi yang ditemukan. Dan dari informasi itu, aku juga memiliki saudara laki-laki"


Harumi mengernyit "Saudara laki-laki ?"


Seringai kecil tergambar di wajahnya "Yah, I have a Brother."


Wanita itu merasakan sisi lain dari Liam yang baru diketahui olehnya. Ada perasaan bahagia yang terpancar diwajahnya ketika ia menceritakan hal tersebut.


Harumi baru menyadari, kalau sebenarnya Liam juga merasa Kesepian, dan disaat ia menceritakan tentang saudara laki-lakinya tersebut ada guratan kebahagiaan di wajahnya. Dan itu membuat Harumi ikut merasakannya.


"I think youre so happy because you have a Brother" Harumi berbalik dan sedikit bersandar pada tepi jembatan dan melipat tangannya sambil menatap tersenyum


"Maybe, tapi aku lebih bahagia karena


Memilikimu"


Pria itu tetiba mengambil sesuatu dari saku tuxedonya, Harumi bisa melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam di tangannya.


"Take it" Liam menatap Harumi yang terlihat bingung karena berbagai pertanyaan terngiang-ngiang diotaknya


"What this ?"


Harumi menatap lama kotak berwarna hitam yang kini ditangannya, sambil mengernyitkan dahi. Jantungnya berdebar hebat karena ia mengenal Liam yang sangat menyukai kejutan, dan terkadang itu membuat Harumi merasa khawatir "Apa ini Liam ?"


"Open it"


Dengan perlahan sambil menarik napas hingga membuat paru-parunya penuh sesak, Harumi bisa melihat bahwa Liam Seymour penuh kontradiksi dan hampir mustahil dibaca. Pria itu adalah campuran humor dan keseriusan yang aneh.


Saat kotak itu terbuka wanita itu melihat isinya, dan ia terkejut...


itu adalah sebuah kunci.


"Kunci ?"


Liam menyeringai penuh misteri "Yah, thats your new home. ....Our Home"


Kata-kata Liam seolah berdenyut seperti daya hidup "What you mean ? apa yang kau rencanakan ?" kedua mata Harumi terbuka lebar menanti penjelasan pria itu


Liam semakin mendekati Harumi, dan kini posisi mereka begitu dekat sangat dekat hingga tidak ada jarak berarti, pria itu menangkup pipi Harumi dan perlahan membuka topeng wanita itu dengan lembut "Aku ingin kau memindahkan barang-barang mu nanti ke sana, tidak perlu memikirkan kekurangannya. Semua sudah kupersiapkan."


"Are you asking me to move in with you ? You mean.... Living Togather" sambil menutup bibirnya dengan tangannya, Harumi merasa tidak percaya dengan apa yang dipikirkan Liam saat ini.


Maksud kunci yang di dalam kotak ini adalah sebuah langkah besar yang sedang direncanakan Liam. Dan dia meminta Harumi untuk hidup bersama dengannya.


Ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Harumi tersentak tidak karuan. Dan cukup membuat wanita itu membeku dan bungkam.


"Yes, Because I want with you"


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


__ADS_2