Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 132 Stupid Thing Called Love


__ADS_3

Saat matahari mulai memuncak, meja makan sudah tertata rapi dengan beberapa menu makan siang yang telah dimasak oleh Elena.


Hampir seluruh keluarga berada di rumah siang itu, kecuali Robert yang pergi bekerja dan Alana yang sedang bersekolah.


Elena dengan sangat terampil menyiapkan makan siang walaupun ia lebih menyukai mengerjakannya seorang diri, tapi Ameera memaksa agar ibunya tersebut harus tetap di bantu oleh seorang Asisten Rumah Tangga yang hanya bekerja paruh waktu di kediaman keluarga Ameera itu. Ameera memanggilnya Bibi Mary.


Tampak Ameera sedang menyusui bayi kecilnya di kamar, sedangkan Harumi menemani Julie menonton acara kesukaannya di Ruang tengah.


Sesekali Elena melirik ke arah menantunya tersebut karena dapur berdekatan dengan Ruang tengah sehingga memudahkan Elena memperhatikan tingkah Harumi.


Wanita paruh baya itu mulai mengamati kebiasaan Harumi yang menurutnya tidak seperti yang ia kenal dulu.


Elena merasa bingung dan heran dengan perubahan Harumi.


Menantunya tersebut tampak ceria, wajahnya selalu merona dan sewaktu sarapan pagi tadi Harumi makan dengan lahap. Benar-benar berbeda dengan kemarin yang selalu tampak murung dan lebih banyak mengurung diri di kamarnya.


Ketika menemani Julie, Harumi sedang duduk di sofa tampak dia lebih fokus dengan ponselnya.


Terkadang Elena melihat Harumi tersenyum simpul sambil menatap layar ponselnya, ia bahkan tidak melepas ponselnya tersebut sejak tadi.


Entah apa dan siapa yang sedang berkomunikasi dengan Menantunya tersebut sampai-sampai Harumi sempat lupa mematikan keran air di wastafel kamar mandi bawah pagi tadi. Bahkan ia hampir memasukkan garam ke dalam secangkir teh.


Kecurigaan Elena makin kuat, ketika ia sempat melihat Harumi berbicara dengan suara pelan dan secara sembunyi-sembunyi menerima panggilan di ponselnya sejam lalu.


Awalnya Wanita itu ingin membuang jauh-jauh semua kecurigaan yang membuatnya semakin gusar.Tapi, sikap Harumi semakin menampakkan kejanggalan.


Elena sangat yakin, bahwa yang menghubungi menantunya tersebut sedari tadi adalah Liam.


Wanita paruh baya tersebut menarik napas dalam-dalam dan sejenak tatapannya kosong berdiri mematung.


Disibukkan dengan pikirannya, Elena nyaris tidak memperhatikan jarinya saat ia sedang memotong tomat. Tapi untunglah, Ameera sempat mencegahnya.


Dengan ekspresi khawatir Ameera yang baru keluar dari kamar bayi, langsung menghampiri Elena "Mom, are you Ok ? kau hampir menghilangkan satu jarimu"


Terlepas dari lamunannya, Elena mendengar kecemasan dalam suara Ameera "Oh God, aku tadi melamun."


"Sebaiknya biar Bibi Mary yang menyelesaikannya, lagipula Mom tidak lihat di atas meja sudah banyak sekali makanan. Jangan terlalu berlebihan, ingat kondisi kesehatan mu Ok" Ameera menarik lengan ibunya menuju meja makan "Yuk kita makan, setelah itu Mom harus menemaniku ke Pusat Pembelanjaan untuk membeli beberapa keperluan Jamie. Mom, you need refreshing."


Elena menggeleng "No, aku di sini saja, jika aku keluar denganmu bagaimana dengan Julie dan Jamie"

__ADS_1


Alis Ameera terangkat "Kan ada Harumi dan Bibi Mary. Dont Worry, Mama ke sini untuk berlibur bukan memasak"


Ameera dengan lembut mendorong bahu sang Ibu menuju kursi dan Elena akhirnya menyetujui ajakan Putrinya.


Harumi dan Julie pun ikut menyusul mereka ke meja makan.


Ketiganya pun menyantap makan siang dengan lahap sambil sesekali bersenda gurau dan Ameera selalu memberikan obrolan santai yang penuh humor sehingga membuat suasana saat itu tampak menyenangkan.


Elena menatap mata Harumi yang bersinar-sinar ketika menantunya tersebut sesekali mengetik sesuatu pada ponselnya yang ia yakini bahwa Harumi sedang saling berkiriman pesan singkat dengan seseorang.


Elena masih berusaha menahan diri untuk tidak terlalu terpengaruh dengan keadaan dirinya yang sangat tidak menentu tersebut karena melihat sikap menantunya.


***


Paradise Mall, California


Setengah jam sudah mereka lewati dengan berkeliling mall yang sangat luas dan begitu besar tersebut.


Ameera tampak bahagia berkeliling sambil membawa dua shopping bag hasil belanjanya saat itu.


Paradise Mall adalah Pusat Pembelanjaan terbaru di California, baru tiga bulan Mall tersebut telah resmi beroperasi.


"Mom, aku mampir ke sini dulu ya." Ameera tampak antusias dan tidak sabar ingin memasuki sebuah Toko Pakaian anak-anak yang kini dihadapannya. Itu seperti surga baginya, karena ibu tiga anak tersebut sangat memperhatikan segala kebutuhan ketiga anaknya.


Elena mengangguk "Yah, Mama ke Toko sebelah ya, ingin sedikit cuci mata" wanita itu tersenyum dan mereka berpisah sebentar


Elena memasuki sebuah Toko Pakaian Wanita, ia berkeliling sambil melihat-lihat berbagai model pakaian wanita yang sedang trend sekarang.


Toko yang diterangi oleh banyak lampu kristal itu tampak sangat mewah, sekilas Elena melihat harga per pakaian yang di gantung dan itu hampir membuatnya shock karena betapa tidak masuk akalnya harga-harga semua pakaian itu.


Sebenarnya, Elena bukan lah wanita yang senang Shopping seperti Ameera, cuma ia sangat menyukai semua hal tentang Fashion sama halnya seperti wanita-wanita lain. Elena tidak pernah berpenampilan mencolok, ia selalu berpakaian sederhana dengan warna-warna nude. Rambut coklatnya yang panjang selalu digulung ke belakang sehingga menampakkan tengkuk lehernya yang jenjang. Walaupun saat ini sebagian rambutnya yang sudah mulai memutih karena usia, tapi itu tidak membuatnya tampak tua.


Elena masih terlihat cantik.


Selesai berkeliling di dalam toko tersebut, Elena tidak membeli apapun ia memutuskan berjalan keluar menuju pintu.


Tapi...


Oh God, apakah takdir harus mempertemukan mereka kembali.

__ADS_1


Seseorang yang paling tidak ingin ditemui Elena di muka bumi ini, berpapasan dengannya.


Benar sekali, tepat di saat Elena sudah hampir keluar Toko.


Dia bertemu dengan Anita Seymour.


Wanita itu adalah seseorang dari masa lalunya.


Anita menatap Elena dengan tatapan menusuk, awalnya ia hampir tidak mengenali wajah Elena karena sudah bertahun-tahun lamanya kedua wanita tersebut tidak pernah bertemu.


Bahkan Anita sudah tidak pernah lagi mengetahui kabar Elena setelah wanita itu mengubah identitasnya.


"Well...Well...si Wanita murahan, Perusak Rumah Tangga ! Tidak kusangka bertemu dengamu di sini." Anita tersenyum sinis ia hampir seperti melemparkan kotoran ke wajah Elena .


Elena geram, ia menahan diri karena tidak ingin membuat keributan di sini. Wanita itu berpaling dan tidak ingin meladeni ocehan Anita.


"Untuk apa Wanita seperti mu yang KOTOR dan MENJIJIKAN bisa menginjakkan kaki di tempat elit. Apa kau sadar ini bukan kelasmu, Kau hanya seorang Penari dari Club Malam yang hanya bisa menjual diri kepada Pria-pria beristri dan berharap akan mendapatkan Kehidupan Kelas Atas. Benar-benar MEMALUKAN !!!" suara keras Anita makin tinggi, ia tidak peduli kalau mereka kini jadi pusat perhatian para pengunjung di Toko itu.


Tubuh Elena gemetar oleh Amarah yang membakar, ia tidak ingin merespon semua Hinaan yang dilontarkan Anita.


Awalnya Elena masih bisa bersikap tenang walaupun dalam dirinya kini berperang antara emosi dan akal sehat.


Elena berusaha menguatkan dirinya, "HENTIKAN !!!" balasnya


Perlawanan Elena hanya angin lalu bagi Anita, Wanita itu tertawa lepas melihat reaksi Elena yang dianggapnya seperti pertunjukkan hiburan "What ?! Kau berharap aku berhenti sampai di sini. Tentu Tidak, aku senang akhirnya bertemu lagi denganmu Roseanne. PELACU* !!!"


Tidak hanya sampai disitu, Tingkah sombong Anita makin meroket. Ia bersuara semakin nyaring dan ia sengaja melakukannya agar semua orang disitu memperhatikannya "DENGARKAN ! KALIAN AKAN KUBERI TAHU SIAPA WANITA INI. DIA PELACU*, WANITA JALA*G, PENGGODA SUAMI ORANG LAIN , JADI INGAT BAIK-BAIK WAJAH LUSUHNYA AGAR BERHATI-HATI DENGAN WANITA MURAHAN INI !!!!" Anita dengan sadis menunjuk-nunjuk wajah Elena sambil melempar Hinaan yang sangat menyakitkan dan ia tertawa puas


Sesaat Elena hanya berdiri di sana, menatapnya diam. "Jangan Menghinaku !!!" suaranya serak dan bergetar. Tapi ia memaksakan diri untuk terus berbicara.


Elena berjalan dengan langkah cepat, lalu dengan hati yang panas. Wanita itu menghampiri Anita lebih dekat.


Lalu....


PLAAAKK !!


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2