
Happy Reading 😊
Evelyn merasa sangat gugup saat ini, sedari tadi ia hanya meremas jemarinya yang sudah basah karena keringat.
Jantung nya bertalu tak menentu, antara gugup, grogi, antusias, dan yang paling besar adalah rasa berdebar karena akan bertemu dengan pria yang sangat di rindukannya.
Yah, Evelyn menahan semua rindu itu di hatinya yang paling dalam, Evelyn kali ini tidak akan mensia-siakan pertemuan ini, dia akan menyalurkan semua rasa rindu di hatinya itu dengan menatap bahkan memeluk Arshel meskipun nanti pria itu akan marah padanya.
Evelyn tidak peduli, toh nanti juga tidak akan bisa memeluknya lagi setelah ini, biarkan dia merasakan dekapan pria yang di cintainya untuk yang pertama dan terakhir.
Itulah yang ada di pikiran Evelyn, lebih baik dia mencurahkan semua perasaan nya dari pada suatu saat nanti akan menyesal seumur hidup.
Sudah hampir sejam dia menunggu kedatangan Kenzo yang akan membawa Arshel kepadanya, menurutnya sejam sudah sangat lama.
Di sebuah ruangan khusus di restoran itu yang di peruntukan untuk kelas VIP agar mereka bisa bicara lebih leluasa.
Sedangkan Kenzo baru saja tiba di restoran itu bersama Arshel. Pria itu menatap sekeliling mencari seseorang yang katanya ingin bertemu.
Banyak orang yang berada di dalam restoran itu tapi sepertinya tidak ada yang dia kenal.
"Di mana orangnya?" tanya Arshel penasaran.
Kenzo hanya tersenyum menanggapi.
"Dia ada di ruang VIP, pergilah ke sana, pasti saat ini dia sedang menunggu mu," jawab Kenzo menunjuk sebuah ruang.
Arshel mengernyitkan dahinya, memangnya siapa yang sangat ingin bertemu dengannya, setahu dia tidak ada teman yang spesial menurut nya karena Arshel memang tidak memiliki banyak teman.
Berbeda dengan Kenzo dan Daniella yang sangat humble terhadap teman-teman nya dulu, Arshel memiliki sifat yang sedikit pendiam apabila berhadapan dengan orang lain, tidak banyak bicara dan lebih suka menyendiri.
"Cepatlah Shel, nanti keburu malam, Daddy dan Mommy akan segera pulang," ucap Kenzo mendorong tubuh Arshel agar cepat berjalan menuju ruang VIP itu.
Akhirnya Arshel berjalan mendekat ke pintu itu, diapun memegang gagang pintu dan membukanya.
Ceklek.
Evelyn menoleh ke arah pintu karena mendengar suara pintu terbuka. Diapun merasa jantungnya berdetak lebih kencang lagi.
Sedangkan Arshel sendiri mematung melihat sosok orang yang berada di dalam ruangan itu.
Seperti bermimpi bertemu seorang gadis yang selalu berada di dalam hatinya.
__ADS_1
"Arshel!"
Suara itu sudah setahun lebih tidak pernah dia dengar, jantung Arshel juga sama berdegup kencang. Masih speechless dan tidak bergerak dari tempatnya ketika mendengar suara indah itu memanggil nya.
Evelyn merasa hatinya sakit saat Arshel hanya diam saja, dia sudah menduga bahwa pria ini pasti tidak akan senang bila bertemu dengannya.
Tapi kali ini tekadnya sudah kuat, Evelyn harus bicara pada Arshel mengenai perasaan nya, dia tidak akan menyia-nyiakan pertemuan ini.
Apakah kamu sebenci itu padaku Shel, sampai kamu hanya terdiam dan tidak berekspresi apapun kepadaku. Batin Evelyn sakit.
Dia harus kuat menahan rasa sakit itu ketika mendapatkan perlakuan dari Arshel.
Sedangkan tubuh Arshel merasa sangat lemah, dia sangat bahagia bisa bertemu dengan Evelyn, gadis yang selalu memenuhi pikirannya.
Arshel tidak mengerti kenapa Evelyn sangat ingin bertemu dengannya, tapi sepertinya kali ini dia juga harus menggunakan waktu ini untuk mengatakan semua yang dia rasakan pada Evelyn meskipun itu nanti akan membuatnya sakit.
Evelyn berusaha menguatkan dirinya untuk berdiri dan berjalan mendekati Arshel yang masih terdiam, dia tidak akan membiarkan Arshel pergi kali ini seperti waktu dulu ketika Arshel selalu menghindari nya.
"Hai Shel, apa kabar?" ucap Evelyn berusaha tersenyum.
Senyumnya penuh kerinduan, dia tidak ingin Arshel pergi kali ini.
Tapi tiba-tiba tubuhnya merasa tertarik oleh sebuah lengan kokoh dan wajahnya menabrak sebuah dada bidang milik Arshel.
Sedangkan Evelyn bisa merasakan hangatnya dekapan pria itu, Arshel memeluk Evelyn kuat, seakan tidak akan membiarkan gadis itu pergi.
"Eve, maafkan aku, biarkan aku memeluk mu sebentar saja!"
Deg, deg, deg.
Jantung Evelyn berdetak sangat kencang, sampai dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Tidak, ini bukan suara detak jantung Evelyn, suara ini bisa sangat jelas di dengar oleh telinga nya.
Ya, itu adalah suara detak jantung Arshel, benar tidak salah lagi, apakah Arshel juga merasa gugup atau ... !
"Eve, bolehkah aku bicara jujur padamu, meskipun aku tahu kau akan marah nantinya," Evelyn sangat terkejut ketika Arshel bicara sangat lembut padanya.
"Kalau kamu diam berarti aku boleh mengatakannya kan?" Evelyn masih diam.
Dia tidak bisa menjawab karena sangat bahagia mendengar suara Arshel yang lembut itu, sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Evelyn, aku sangat merindukanmu!" bisik Arshel di telinga Evelyn.
Deg, deg, deg!
Apa yang dia katakan, Arshel merindukan ku!
"Jangan marah ya, jujur selama ini aku bersikap dingin seperti itu karena aku tidak ingin menyakiti mu, Eve!" Evelyn merasa hatinya sangat sakit sekaligus bahagia mendengar ucapan Arshel.
"Kenapa kamu merasa menyakiti ku? apa kamu pernah berbuat salah padaku Shel? justru di sini aku yang di buat bingung," ucap Evelyn masih berada di dekapan pria itu.
"Apakah ada kesalahpahaman di antara kita Eve, aku mengira selama ini kamu tidak menyukai ku!"
Evelyn melonggarkan pelukannya.
"Tapi aku juga mengira hal yang sama!"
Arshel menatap mata biru Evelyn dengan lekat. Seakan melihat bayangan pantulan dirinya di mata itu.
"Selama ini aku tersiksa karena harus menahan rasa Eve, kali ini aku tidak akan menahannya lagi!" ucap Arshel mendekatkan wajahnya.
Cup.
Evelyn begitu terkejut dengan perlakuan Arshel yang tiba-tiba mencium bibirnya itu.
"Apakah kamu tidak menyukai ciumanku Eve?" Evelyn menggeleng cepat.
"Aku sama menyukai nya!"
"Lalu kenapa kamu mengatakan tidak suka waktu itu ...!" belum selesai berbicara Arshel di kejutkan pula dengan ciuman Evelyn yang tiba-tiba itu.
Masih sebatas menempel, mereka sama-sama belum belajar caranya berciuman. Tapi itu sudah membuat dua sejoli ini merasa sangat bahagia.
Arshel berinisiatif membuka mulutnya dan melu mat bibir mungil itu, memakannya seperti es krim yang manis.
Sepertinya mereka sudah sama-sama menyadari bahwa telah terjadi kesalahpahaman di antara mereka sebelum menjelaskan semuanya.
Bersambung.
Up besok lagi ya..
Mohon dukungannya teruss..
__ADS_1
Jangan lupa kunjungi novel othor yang lain yang tidak kalah seru dan romantis..
Jangan lupa like komen bunga dan kopinya ya😘😘😘😘😘