
Happy Reading 😊
Aland langsung menepikan mobilnya dan tersenyum lebar. Pria itu menatap Regina yang masih bergumam ria.
Regina merasakan sebuah pelukan dadakan dari Aland. "Terima kasih sayang, terima kasih!" Aland mencium pucuk kepala Regina berkali-kali, membuat gadis itu bingung dengan sikap Aland saat ini.
"Kenapa kamu memeluk ku? aku kan belum jawab apa-apa?" Tanya Regina.
"Loh, aku kira tadi sudah kamu jawab?" Aland melepaskan pelukannya.
"Aku belum jawab, lagi bilang eeummmm,, gitu kok!"
"Oh, sepertinya aku tadi salah dengar, ku kira kamu bilang aku mauuuu, gitu." Aland terkekeh.
Sedangkan Regina hanya memutar bola matanya. "Ish, kepedean! aku gak mau ya kalau di lamar dengan cara seperti ini," Aland menarik hidung Regina.
"Jadi kamu mau di lamar dengan tema yang bagaimana, sayang?" Ucap Aland membuat Regina langsung menoleh.
"Siapa yang akan melamar?"
"Tentu saja, aku!! memangnya siapa lagi yang berani melamar putri dari Zack Dimitri dan Daniella Alvares." Jawab Aland .
"Tapi aku belum siap untuk melepaskan masa lajangku, eh,, maksudnya masa keperawanan ku!" Aland langsung menoleh ke arah Regina.
"Apa tadi yang kamu katakan? aku tidak salah dengar kan?" Tanya Aland mendekati wajah cantik Regina.
"Apa? aku hanya bilang aku belum siap melepas keperawanan ku!!" Regina melengos
Aland terkekeh melihat wajah Regina yang sudah semerah tomat.
"Kenapa tertawa, memangnya kalau aku masih perawan masalah buatmu? jujur aku bukan orang yang suka bermain begituan, apalagi melepaskan kesucian di usia yang masih remaja, meskipun aku enggak pernah pacaran, bukan berarti tidak ada yang mengajakku melakukan hubungan itu!" Ucap Regina membuat Aland melotot sempurna.
"Siapa yang mengajakmu melakukan itu!! akan ku buat perhitungan!" Ucap Aland langsung marah.
Entah mengapa mendengar Regina mengatakan hal itu membuat Aland tidak terima.
"Sudah lah gak usah di bahas lagi, lagian itu juga udah lama, di saat semua teman-teman ku merasa bangga karena telah melepaskan kesuciannya, tetapi tidak untukku, aku akan selalu menjaganya." Ucap Regina.
"Iya-iya aku percaya, aku juga sudah lihat sendiri punyamu masih rapet banget," Regina langsung mencubit lengan Aland.
__ADS_1
"Aaww, aduh Rere sakit ini, jangan di cubit?!"
"Bisa gak sih kalau kamu gak usah bahas itu lagi, lagian kalau buka karena pengaruh obat, aku gak bakalan mau di sentuh seperti itu!" Ucap Regina bersedekap dada.
"Tapi aku gak bisa melupakan semua itu Re, bayangan wajah mu saat berada di bawah kukunganku membuatku selalu merindukan mu, aku juga tidak bisa menghilangkan semua rasa yang pernah ku cicipi dari setiap inci tubuhmu!" Regina mencubit lengan Aland.
"Kenapa pikiran mu kotor terus!" Regina memukul lengan Aland.
"Jadi ya maunya bagaimana.,, diem saja, kan aku tidak tahu kenapa terus saja bisa terbayang dengan semua itu!" Ucap Aland.
"Aku benar-benar malu Aland." Regina menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aland yang merasa tidak enak langsung memeluk Regina kembali.
"Jangan malu, meskipun bukan kamu yang pertama ku lihat, tapi aku juga belum pernah merasakan yang namanya bercinta, sebenarnya aku masih perjaka." Bisik Aland.
"Benarkah? aku tidak percaya, mana ada pria seperti mu masih perjaka?" Regina menatap wajah Aland, menyelami mata coklat yang tajam itu.
"Hahahaha, pasti tidak akan ada yang percaya! mereka menganggap kalau aku ini suka berganti-ganti pasangan juga suka bercinta dengan mereka, sejujurnya aku sama sekali tidak pernah tertarik buat melakukan hubungan itu, tapi entah kenapa saat sama kamu, apalagi membayangkan tubuh indahmu itu, hasrat ku langsung naik." Regina langsung mendorong Aland.
"No S_ex before marriage!!"
"Iya, sayang,,, aku tau kok,, makanya ayo kita nikah cepet, biar bisa bebas kapanpun bermesraan denganmu!" Aland menaik turunkan alisnya menggoda.
"Tapi aku takut," gumam Regina.
"Takut kenapa, sayang? apa kamu masih meragukanku?" Regina menggeleng.
Dia masih belum siap menjalani kehidupan pernikahan yang katanya sangat rumit itu.
"Aku masih takut untuk berkomitmen, apalagi menikah itu harus siap mental, bagaimana kalau seandainya kita sama-sama belum siap untuk menghadapi masalah yang akan datang kedepannya?"
Aland merubah posisi duduknya menghadap ke arah Regina. Menggenggam tangan gadis itu dan mengecupnya perlahan.
"Jangan pernah ragukan aku, meskipun dulu aku bisa di bilang playboy, tapi kalau sudah siap melamar dan mengajak nikah itu artinya aku memang beneran siap dan bertanggung jawab," ucap Aland serius.
Regina bisa melihat tatapan keseriusan di mata Aland. Mungkin dia harus memikirkan lagi tawaran Aland itu. Menikah di usia muda memang tidak seperti yang kita bayangkan.
"Beri aku waktu selama sebulan, aku ingin melihat seperti apa kesungguhan mu padaku, kita dilarang bertemu dan aku akan memutuskan jawaban ku sebualan ke depan." Jawab Regina.
__ADS_1
Sebenarnya Aland sedikit kecewa dengan keputusan Regina, tetapi dia tahu kalau Regina berhak memberikan waktu untuk merenung, lihatlah bagaimana Aland merasa hampir tidak sanggup saat Regina memberikan waktu sebulan saja.
Padahal dulu Regina bisa menunggu nya bertahun-tahun demi mendapatkan perhatian dan cinta dari Aland.
"Baiklah sayang, aku akan menunggu jawaban mu sebulan lagi." Ucap Aland.
Regina tersenyum dan merasa sedikit lega karena dia juga akan melihat seberapa besar keinginan Aland untuk serius padanya.
###
Rigen menuntun Emma untuk duduk di sofa. Sepertinya kedua orang itu masih betah berada di rumah Rigen yang sederhana itu. Rumah yang jauh di bilang dari kata mewah.
Entah kenapa rasanya Rigen malah enjoy bisa berperan sebagai pria miskin yang tidak punya apa-apa.
"Apa setiap hari kamu tidur di rumah ini sendiri?" Tanya Emma.
"Iya, tentu saja, memangnya sama siapa lagi? mungkin hanya di temani kecoak!" Mendengar kata kecoak membuat Emma langsung mengangkat kakinya ke atas sofa dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Rigen.
"Eghem, kenapa kamu nempel-nempel terus?" Ucap Rigen tersenyum jahil.
"Kenapa sih bahas kecoak terus, kan jadinya aku geli!" Seru Emma.
"Modus ya? bilang saja suka nempel-nempel gini?" Emma langsung menjauhkan tubuhnya.
"Aku akan pulang saja kalau terus di kerjain seperti ini." Gadis itu berdiri dan akan berjalan tetapi tangannya di tahan oleh Rigen.
"Jangan pergi, aku kan hanya bercanda." Rigen menarik tangan Emma sampai gadis itu duduk di atas pangkuannya.
"Rigen!!" Emma meronta.
"Sssttt... jangan bergerak!"
"Kenapa?" Tanya Emma.
"Nanti ada yang bangun?" Jawab Rigen.
"Siapa yang bangun?" Tanya Emma polos.
"Burung-nya!" bisik Rigen di telinga Emma.
__ADS_1
"Burung?? aakkk!! Rigen kamu mesum!" Tiba-tiba bibir Rigen mendekat dan Emma merasakan bibir telah di raup oleh pria itu.
Bersambung.