Khilaf Terdalam

Khilaf Terdalam
Terlambat Sudah


__ADS_3

Happy Reading 😊


Pagi hari di hotel Florida.


Fanny menatap kamar di mana tadi malam dia masuk ke dalam bersama Franklin, di kamar itu dia mendengar sendiri Franklin telah mengakui perasaannya dan mengatakan cinta padanya.


Sungguh hati Fanny masih terasa perih melihat kenyataan ini, tapi saat ini di sisinya sudah ada Harry, pria yang belum lama ini dia kenal tapi Harry terlihat tulus dan sangat perhatian padanya.


"Ayo sayang, sudah saatnya kita pulang, setelah ini kita harus segera mempersiapkan acara pernikahan kita yang tidak lama lagi," ucap Harry.


Fanny menoleh dan tersenyum ke arah kekasihnya itu.


"Iya, ayo kita pulang," jawab Fanny mengeratkat genggaman tangannya pada lengan Harry.


Mereka pergi ke Florida karena urusan pekerjaan Harry dan Fanny hanya menemaninya.


Fanny melangkah meninggalkan kamar itu, mungkin malam itu adalah pertemuan terakhirnya bersama Franklin sebelum dia menikah nanti.


"Ku lepaskan cinta ini Franklin, semuanya sudah terlambat, kamu datang padaku pada saat hati ini sudah memilih, seandainya waktu bisa di putar kembali, aku pasti akan bahagia bisa bersama dirimu yang ternyata juga mencintai ku, tapi saat ini pria yang berada di sisiku adalah adalah orang yang akan menemani ku di sisa hidupku nanti." Batin Fanny bergejolak.


Akhirnya Fanny dan Harry memutuskan untuk segera pulang ke Washington DC karena memang acara pernikahan mereka sudah dekat.


Keputusan Fanny untuk menikah cepat dengan Harry memang sudah bulat.


Danish membuka kamar Franklin dan mencari asistennya itu di dalam. Betapa terkejutnya dia melihat keadaan Franklin sudah berantakan dan sangat kacau.


"Itulah akibatnya kalau gak nurut sama aku, kalau cinta jangan gengsi, akibatnya akan menyesal setelah di tinggal pergi," Gerutu Danish mencibir pria yang masih terlelap itu.

__ADS_1


Danish menggoyangkan kaki Franklin membangunkannya, bau alkohol dan rokok menyeruak di indra penciuman suami Lula tersebut.


Sepertinya semalam Franklin minum sampai mabuk parah, penampilannya terlihat acak-acakan dan sangat menyedihkan.


"Bangun bod0h! apa kamu mau ku tinggal di hotel sendirian!" seru Danish masih berusaha membangunkan pria itu


Franklin menggeliat dengan mulut bergumam lirih.


"Fanny, Fanny maafkan aku," Franklin masih belum membuka matanya.


Danish benar-benar kesal dengan kelakuan asistennya itu.


"Baiklah, aku akan chek out satu jam lagi, kalau kamu tetap tidak bangun akan ku tinggalkan di sini sendiri," Danish berlalu dari kamar Franklin.


Keadaan Franklin memang sangat buruk, Fanny sudah tidak mau lagi bersamanya, bahkan Fanny akan segera menikah bersama Harry, pria yang awalnya hanya untuk pelarian tapi nyatanya Harry benar-benar mencintai Fanny dan akan segera menikahi wanita itu.


Nickolas memijit tengkuk Liora karena istrinya itu memuntahkan seluruh makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"Sayang, apa perlu kita ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi mu?" tanya Nickolas.


Dia merasa tidak tega melihat istrinya yang terlihat pucat dan kurus itu, apalagi tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya.


"Tidak perlu sayang," jawab Liora menggeleng.


Dia sudah menerima semua konsekuensi yang harus di alami oleh kebanyakan wanita hamil pada trimester pertama, Liora bahkan merasa sangat bahagia dengan kehamilannya tersebut.


Sungguh sangat tidak percaya Liora bisa hamil secepat itu, mungkin itu adalah anugrah terindah dari Tuhan yang di berikan untuknya dan Nickolas.

__ADS_1


"Bibi Livya, kenapa di bilangin ngeyel sih, kasihan Baby kecil di dalam sini kalau Bibi tidak mau makan dan selalu muntah seperti itu," ucap Zivana yang masih memanggil Liora dengan sebutan Bibi Livya.


Nickolas tersenyum mendengar nasihat gadis kecil yang imut dan cantik ini, Zivana memang sangat menyayangi Liora bahkan gadis kecil itu sudah tidak pernah menanyakan tentang Jane lagi yang notabene adalah Mama kandungannya.


Saat ini Jane sudah bekerja di sebuah perusahaan di luar kota, kabar terakhir yang Nickolas dengar adalah dia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan tersebut.


Jane benar-benar sudah memasrahkan putri kecilnya itu, asalkan Zivana bahagia bersama Nickolas dan Liora.


Nickolas membelai rambut Zivana lembut. "Nanti kita bujuk Baby untuk menyuruh Mommy makan ya?"


Zivana mengangguk dan tersenyum. "Paman, bolehkah aku memanggil Bibi dan Paman dengan sebutan Mommy dan Daddy? Zizi sudah tidak punya Daddy, kata Mama Daddy sudah ada di atas bersama Tuhan," ucap Zivana dengan wajah polosnya.


Nickolas dan Liora saling memandang, mereka merasa kasihan dengan nasib gadis kecil tersebut.


"Tentu saja sayang, anggapl kami ini orang tuamu, kamu bisa memanggilku Paman dengan sebutan Daddy mulai dari sekarang, sedangkan Mommy untuk sebutan dari Bibi, kamu adalah putri kecil kami, mulai saat ini dan seterusnya Zivana Ferguson adalah putri pertama dari Nickolas Ferguson dan Liora Ferguson," jawab Nickolas membuka Liora menitikan air matanya.


"Sini sayang, peluk Mommy," Liora merentangkan kedua tangannya.


Zivana langsung memeluk Liora erat, Nickolas juga ikut memeluk mereka berdua. Pria itu sungguh bahagia bisa memiliki dua wanita tangguh di hidupnya dan tentu saja calon Baby mungil yang saat ini sedang tumbuh di dalam rahim sang istri.


Bersambung.


Hai akak reader, minta saran donk, ceritanya aku mau bikin cover buat judul novelnya Franklin dan Fanny yang judulnya Penantian Wanita Milik Casanova mana yang lebih cocok ya?



__ADS_1


__ADS_2