
Happy Reading π
Sore itu di kediaman Darren dan Candy sedang berlangsung acara lamaran Arshel untuk Evelyn
Suasana romantis yang di ciptakan oleh Candy membuat semua orang berdecak kagum.
Arshel menatap Evelyn dengan senyum yang terus berkembang.
"Sayang, Pertama kali kamu menyentuhku, aku tahu, aku dilahirkan untuk menjadi milikmu. Ketika aku menatap matamu, aku tahu, aku telah menemukan cermin jiwaku. Aku sudah mencintaimu sejak awal. Kamu mungkin bertanya mengapa tidak ada orang lain dalam hidupku, dan alasannya adalah kamu. Kamu adalah jawaban untuk setiap doa yang aku panjatkan. Kamu adalah lagu, mimpi, bisikan, dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup tanpamu. Evelyn, maukah kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku?"
Peluh keringat membasahi dahi pria tampan itu, Arshel sudah menghafal bait dari bait kata-kata yang romantis untuk melamar Evelyn.
Evelyn tersenyum menatap pria yang sudah memporak-porandakan hatinya itu.
"Aku tidak tahu mengapa kamu mencintaiku dan memilihku, tetapi aku merasa seperti orang paling beruntung di dunia dan aku berharap dapat membuktikan bahwa aku layak mendapatkan keberuntungan ini. Mencintaimu dan dicintai olehmu adalah hadiah paling berharga yang pernah aku terima. Arshel aku bersedia menjadi istrimu dan Ibu dari anak-anakmu." Jawab Evelyn lantang.
Semua orang bertepuk tangan melihat kedua pasangan itu saling bertukar cincin, Arshel menyematkan Cincin berlian indah pilihannya ke jari manis Evelyn.
Begitupun dengan Evelyn, sekarang perasaannya menjadi sedikit lega karena selangkah lagi menuju pernikahan.
"Sayang, aku sangat mencintaimu!" Arshel menarik pinggang Evelyn memeluk dan mencium keningnya lama.
Tiba-tiba Evelyn merasa perutnya mual luar biasa, padahal biasanya kalau sore hari pasti tidak.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Arshel khawatir.
Evelyn menjauhkan tubuhnya dari Arshel. "Kenapa aroma parfum-mu menyengat sekali!"
Arshel yang mendengar itu langsung mengendus baunya sendiri.
"Tidak begitu menyengat sayang, ini bahkan aroma parfum kesukaan mu."
Arshel mencoba mendekati Evelyn kembali, tapi calon istrinya itu segera mundur. "Stop, jangan bergerak mendekat, aku merasa mual sayang ketika mencium aroma tubuhmu. Hoek!"
__ADS_1
Evelyn segera bergerak dan berjalan ke arah dapur. Arshel menggaruk kepalanya ketika melihat gelagat calon istrinya yang sangat aneh itu.
Perasaan Arshel dia tidak terlalu banyak menggunakan parfum di tubuhnya.
"Ada apa dengan Evelyn?" Arshel menoleh ketika Mommy Candy bertanya.
"Entahlah Aunty, Eve mengatakan perutnya mual ketika mencium aroma tubuhku." Jawab Arshel.
Candy mengerutkan keningnya, sepertinya putrinya itu akhir-akhir ini selalu merasa mual.
"Aku akan menyusulnya." Arshel menggangguk, sebenarnya dia juga ingin mengikuti Evelyn tapi dia ingat kalau Evelyn tadi sudah mencegahnya.
Lula dan Danish yang sudah paham dengan situasi ini saling memandang ketika melihat Evelyn yang mual lagi.
"Sayang, aku kesana dulu untuk ya?" Ucap Lula pada sang suami.
"Baiklah, tanya Evelyn dulu sebelum Candy." Jawab Danish melepaskan tautan jemarinya di jari Lula.
Lula mendatangi Candy yang akan pergi ke arah dapur.
Lula penasaran apakah kecurigaannya dan Danish selama ini benar, kalau Evelyn sedang hamil. Karena memang hanya mereka berdua yang telah mengetahui sejauh mana hubungan Arshel dan Evelyn.
"Baiklah, tapi aku akan menyusul Evelyn dulu." Jawab Candy.
"Sebaiknya aku saja, kamu kembalilah bersama orang-orang di sana." Lula menghentikan Candy.
"Tapi...!"
"Tenang saja, aku akan melakukan pendekatan dengan calon menantuku." Lula tersenyum dan langsung berjalan ke arah dapur.
Sedangkan Arshel berjalan ke arah saudara-saudaranya yang sedang asik menikmati hidangan yang di sajikan.
"Kemana Calon istrimu Arshel?" Tanya Daniella.
__ADS_1
"Dia tadi ke dapur, mungkin sedang ke kamar mandi." Jawab Arshel mengambil minuman di meja.
"Apa ada masalah?" Tanya Zack.
Arshel menatap adik iparnya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tidak, hanya saja aku merasa sedih Zack." Daniella dan Zack saling memandang.
"Hei Bro! Ini adalah hari yang bahagia untukmu, kenapa bersedih?" Zack merangkul bahu Arshel.
"Bukan begitu Zack, coba cium aroma tubuhku? Apa wanginya menyengat?" Arshel mendekatkan lengannya ke arah indra penciuman Zack.
"Wanginya biasa saja, tidak menyengat sama sekali," jawab Zack.
"Ada apa ini?" Kenzo datang bersama Mia.
"Coba cium bauku Kenzo?" Arshel melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pada Zack.
"Wangi, tidak ada bau yang aneh, memangnya kenapa?" Tanya Kenzo.
"Kalau begitu kenapa Evelyn mau muntah ketika mencium bauku? Perasaan masih wajar-wajar saja, aku memakai minyak wangi yang di sukai Evelyn juga!" Ucap Arshel.
"Ada apa memangnya? Apa Eve sakit?" Tanya Mia. Arshel menggeleng.
"Jangan sedih donk Arshel, mungkin memang Eve sedang tidak enak badan, nanti kita lihat keadaannya!" Daniella mengelus lengan Kakaknya itu.
"Aku sedih karena Evelyn menyuruhku untuk menjaga jarak, padahal aku sangat ingin sekali memeluk nya."
Bersambung.
Maaf ya Babang Arshel, kisahmu sedikit othor buat seruππππ
Hai akak Reader tercinta π₯°π₯°π₯° jangan sampai lupa untuk dukungannya ya π dengan cara like, vote dan bungaπΉπΉπΉ
__ADS_1
Agar othor lebih semangat lagi untuk up nya.
Terima kasih β€οΈπππ