
Happy Reading π
Malam itu Regina pergi bersama sepupunya Rigen ke sebuah pesta acara teman kuliah. Rigen terlihat sangat tampan dengan kemeja putih di sertai jas abu senada dengan warna celananya.
Begitupun dengan Regina yang tampil sangat cantik, memakai dress selutut berwarna biru tosca di sertai sepatu hak tinggi membuatnya semakin terlihat mempesona.
Mereka berdua masuk ke sebuah gedung yang sudah disulap menjadi tempat yang sangat megah. Katanya sih acara kumpul-kumpul teman-teman masa kuliah. Tetapi pesta ini lebih terkesan acara pesta glamour dari berbagai kalangan atas, tetapi sepertinya memang semua tamu yang datang pasti dari kalangan atas, anak pejabat atau anak dari para orang hebat.
"Sungguh membosankan." Ucap Rigen sambil menegak minuman.
"Sudah ku bilang, kalau acara ini hanya untuk kalangan orang-orang yang suka kemewahan. Seharusnya tadi kita tidak perlu ke sini." Ucap Rigen.
Regina mengangkat kedua bahunya menanggapi ucapan Rigen, toh mereka juga sudah berada di pesta itu, jadi buat apa harus menghindar dan pulang, yang ada kan malah rugi. Mending di nikmati, meskipun di pesta itu hanya mereka berdua yang tidak memiliki pasangan karena menyandang status jomblo.
Sedari tadi ponsel Regina berdering dan dia tahu siapa yang tengah menelponnya, ya siapa lagi kalau bukan Aland sudah dua hari ini Regina memang mengabaikan pria itu, rasanya sudah lelah harus menanggapi berbagai macam pertanyaan dari Alan yang selalu di kirim setiap hari.
Apakah ini yang dulu Aland rasakan ketika aku sering mengganggunya? pantas saja dia merasa kesal dan terganggu, bahkan Aland dulu selalu menghindariku, mungkinkah dia tidak ingin merasa terganggu setiap hari waktu itu, seperti yang aku rasakan saat ini? Batin Regina.
Kenapa tiba-tiba Regina merasa kasihan melihat Aland yang terus saja memberi pesan atau meneleponnya, gadis itu ingat waktu dulu Aland tidak peduli padanya. Sakit, itulah yang Regina rasakan.
Akhirnya gadis itu membuka chat dari Aland, dia tidak tega kalau harus mengabaikan Aland karena dulu Regina pernah berada di posisi itu.
'Re, aku kangen banget! besok aku akan ke Washington DC untuk mengunjungimu sekalian mengajak Sherena bertemu dengan kalian dan kakek-neneknya.'
"Sherena mau kemari?" Rigen melirik Regina yang bergumam sendiri.
"Ada apa?"
"Sherena mau ke Washington DC weekend besok." Jawab Regina senang.
'Aku tunggu kalian.'
'Kamu mau di bawain apa dari Florida?'
Regina memikirkan sesuatu. Dia merasa tidak ingin apa-apa.
'Tidak perlu, kalian kemari saja aku sudah cukup senang.'
Sebuah emoticon love tertera di layar ponsel. Regina melototkan matanya, bodoh sekali, kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu tadi, bisa-bisa Aland akan besar kepala.
__ADS_1
Rigen melihat ada seorang wanita yang sangat ingin di hindari, diapun berusaha untuk tidak terlihat. Wanita yang dulu pernah dia sukai. Maria, seorang wanita cantik dan populer di kampusnya dulu, wanita yang selalu mengejarnya dan hampir membuat Rigen jatuh cinta. Tetapi ternyata Maria hanya ingin mendekati Rigen karena taruhan dengan teman-teman nya.
Rigen adalah pria tampan, populer dan kaya, tentu saja banyak yang ingin mendekatinya atau menjadi kekasihnya. Hanya demi meningkatkan popularitas mereka. Pria itu sudah sering menjadi bahan taruhan karena hal itu. Tidak ada yang pernah dari hati.
Mencari sosok wanita yang tulus sangat sulit, kebanyakan dari mereka pasti karena tahu siapa Rigen sebenarnya.
"Kenapa melamun?" Tanya Regina.
"Tidak ada," jawab Rigen.
"Apa karena Maria ada di sini?" Regina menunjuk dengan dagunya.
"Sudahlah, jangan bahas dia." Rigen mengambil segelas minuman dan meneguknya kembali.
Berusaha mengusir bayang-bayang masa lalu tentang wanita itu.
"Sepertinya terlahir kaya, derajat tinggi, dan good looking tidak enak ya?"
"Hemm, makanya aku tidak ingin terlalu dekat dengan mahkluk yang namanya wanita." Regina tergelak.
"Asalkan jangan sampai belok." Rigen mencubit pipi Regina sedikit keras karena merasa gemas dengan sepupunya itu.
"Aduh, sakit Rigen!" Regina mengelus pipinya yang di tarik tadi.
"Eh, lihat ada yang mendatangi mu." Bisik Regina di telinga Rigen.
Mata Rigen memicing, melihat seorang wanita datang padanya dengan tatapan menggoda. Bukan Maria, melainkan wanita lain yang dulu juga pernah masuk ke dalam daftar hitamnya saat ini.
"Hai, Rigen? Malam ini kamu terlihat sangat tampan." Sapa wanita itu dengan senyum manis.
"Aku sudah tampan dari dulu." Jawab Rigen ketus.
Wanita bernama Sisilia itu semakin mendekat. Rigen mencium aroma yang sangat tidak dia sukai. Wangi yang akan membuatnya mual.
Regina tertawa kecil ketika melihat wajah masam Rigen yang sudah seperti akan muntah.
"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Rigen berjalan tergesa meninggal kan Regina dengan gadis yang baru saja datang.
"Kenapa Rigen pergi?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Apa kamu memakai parfum bunga mawar?" Tanya Regina. Wanita itu mengangguk.
"Ya benar, aku memang memakai parfum aroma bunga mawar, memangnya ada apa?" Tanya Seailia penasaran.
"Pantas saja tadi dia langsung merasa perutnya tidak nyaman, Rigen sangat alergi terhadap bunga mawar, jadi dia bisa langsung muntah atau akan gatal-gatal kalau terkena serbuk dari bunga mawar bahkan hanya mencium aroma bunganya." Jawab Regina.
Sedangkan Rigen langsung memuntahkan semua isi perutnya. Putra Kenzo itu memang alergi terhadap bunga mawar sudah sejak kecil.
Diapun membuka dua kancing bagian atas agar tidak merasa kepanasan.
"Kenapa sial sekali." Gerutu pria itu.
Setelah menuntaskan acaranya di kamar mandi, pria itu langsung keluar dan melangkah ke luar gedung untuk mencari udara segar.
Suasana di dalam sangat tidak nyaman. Rigen duduk di sebuah kursi yang ada di tempat itu. Berusaha mengatur napas setelah memuntahkan semua isi perutnya.
"Hiks, hiks!"
Rigen mendengar ada suara seorang wanita yang seperti sedang menangis.
"Suara apa tadi? sepertinya seseorang sedang menangis."
Rigen mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari sumber arah suara tersebut.
"Hiks." Rigen mendengar lagi.
"Bukan suara hantu wanita kan?"
Pria itu melangkah kan kakinya, tiba-tiba matanya membulat sempurna kala melihat seorang gadis cantik yang sedang menangis di sana.
"Aku benci kalian! tidak ku sangka semua yang aku lakukan hanya kalian manfaatkan begitu saja! hanya karena aku anak dari orang kaya membuat kalian melakukan semua itu padaku! Austin kamu pria brengsek! berpura-pura baik hanya untuk bisa memorotiku, dan akhirnya selingkuhanmu itu yang menikmati hasilnya! aku benci kalian! aku ingin hidup normal yang memiliki cinta dan sahabat yang tulus! kalau bisa memilih aku tidak mau di lahirkan menjadi anak orang kaya!"
Rigen mendengar semua ungkapan wanita cantil itu. "Kenapa kisah hidupnya sama dengan ku!" Batin Rigen.
Bersambung.
Hai akak reader π₯°
mana nih kopinyaββππ
__ADS_1