
Happy reading 🥰
Danish masih berusaha membuat Lula mau memaafkannya, keadaan Lula yang masih lemah mengharuskan dia rawat inap di rumah sakit, untung kondisi janin di dalam perut Lula baik-baik saja, para calon Baby sangat kuat sehingga membuat Lula dan Dan Danish merasa lega.
Saat ini Danish akan menyuapi Lula bubur karena sejak siang tadi Lula belum makan apa-apa.
"Sayang, makanlah sedikit saja, kasihan nanti Baby-nya kalau Mommy tidak makan, nanti mereka nangis loh," Danish masih membujuk Lula agar mau makan.
Tapi Lula tetap tidak mau membuka mulutnya, sepertinya Danish harus ekstra sabar menghadapi kediaman sang istri yang sejak siang tadi masih tetap tidak mau membuka mulutnya itu.
"Sayangku, istriku, tolong maafkan aku ya, aku berjanji akan selalu ada untukmu, ayo makan dulu sayang," ucap Danish.
Lula memang merasa sudah lapar, tapi entah kenapa dia masih merasa malas terhadap suaminya itu, meskipun Danish sudah menjelaskan berkali-kali tapi Lula masih belum mau bicara pada suaminya itu.
Kruuuyyukk!!
Danish mendengar bunyi perut Lula yang terdengar sangat jelas itu.
"Tuh kan sayang, perut kamu udah bunyi terus, apa kamu tidak kasian sama Baby-baby kita," ucap Danish menatap sendu ke arah istrinya.
Lula merasa sedikit malu karena perutnya memang tidak bisa di bohongi. Dia merasa sudah sangat lapar. Akhirnya Lula menatap Danish dengan perasaan yang masih kesal.
"Aku mau makan asalkan yang menyuapi asisten Franklin," ucap Lula.
Danish merasa terkejut dengan keinginan Lula itu, apa? asisten Franklin? Lula meminta Franklin yang menyuapinya? apa Danish tidak salah dengar.
Melihat Lula di tatap oleh pria lain saja Danish merasa tidak terima apalagi harus meminta Franklin untuk menyuapi sang istri. Bisa-bisa Danish kebakaran jenggot dan meledak bom waktunya.
"Tapi sayang, kenapa harus Franklin yang menyuapimu? kan ada aku?" tanya Danish.
Lula menggeleng pelan. "Ini juga bukan kemauanku, tapi Baby kita yang minta," jawab Lula.
Danish melongo mendengar hal itu, dia masih tidak percaya dengan apa yang di inginkan sang istri.
"Kalau bukan asisten Franklin yang menyuapi aku tidak mau makan," ucap Lula cemberut.
Danish menepuk jidatnya, dia benar-benar di buat pusing oleh Lula kali ini. Tapi Danish harus memenuhi keinginan istrinya itu dengan merelakan sang istri di suapi oleh asisten pribadinya.
"Sayang, apa tidak ada pilihan lain lagi selain itu?" tanya Danish berharap Lula membatalkan niatnya.
"Tidak," jawab Lula cepat.
__ADS_1
Danish memilih pasrah dengan keinginan istrinya itu, yang penting Lula mau makan agar calon Baby-baby bisa mendapatkan asupan nutrisi meskipun harus merelakan Franklin menyuapi istri tercintanya.
"Baiklah sayang, aku akan memanggil Franklin kemari," ucap Danish mengambil ponsel dan menghubungi sang asisten yang sudah pulang belum lama ini.
Tuuttt, tuutt!!
"Halo Bos ada apa?"
"Halo Franklin, cepat ke rumah sakit sekarang."
"Memangnya ada apa Bos? apa ada sesuatu yang terjadi dengan Nona Lula?"
"Tidak, Lula baik-baik saja, sekarang jangan banyak tanya, cepat kemari."
"Baiklah bos, aku akan segera datang ke rumah sakit sekarang," jawab Franklin segera memutuskan panggilan itu.
Pria itu segera mengambil kunci mobilnya, padahal Franklin baru saja sampai di apartemen tapi sudah di hubungi lagi oleh
Danish agar segera kembali ke rumah sakit.
"Sebenarnya ada apa dengan Nona Lula, kenapa si bos terlihat begitu kesal?" guman Franklin.
Danish menunggu Franklin dengan gelisah, pria itu benar-benar serba salah, di sisi lain dia begitu khawatir dengan Lula yang tidak mau makan tapi di sisi lain dia harus merelakan Franklin yang harus menyuapi istrinya itu.
"Ada apa Bos?" tanya Franklin yang masih ngos-ngosan itu.
Maklum dia berlari dari tempat parkir karena khawatir terjadi apa-apa dengan Lula.
Danish mendesah kasar, dia harus siap melihat pemandangan yang sangat menyakitkan.
"Franklin, istriku tidak mau makan, dia hanya mau makan kalau kamu yang menyuapi-nya," ucap Danish menatap Lula.
Franklin melongo mendengar ucapan dari Bosnya itu. dia pun melihat ke arah Lula yang sedang berbaring itu tapi langsung di halangi oleh Danish.
"Awas kalau sampi kamu menatap Lula, aku tidak suka itu!" bisik Danish di telinga Franklin.
"Kenapa harus aku Bos?" tanya Franklin sedikit takut.
"Sudahlah tidak usah banyak tanya, segera kamu suapi istriku dengan cepat, aku tidak mau berlama-lama melihat pemandangan yang menyakitkan mata dan hati," bisik Danish kembali
Sepertinya Lula memang sedang membalasnya dengan cara seperti itu.
__ADS_1
"Nona Lula, apakah kamu ingin aku suapi?" tanya Franklin.
Lula yang sedari tadi hanya diam menatap ke arah suaminya. Bukan maksud dirinya membuat Danish sedih tapi entah kenapa Lula juga masih malas dengan sang suami.
"Iya asisten Franklin, tolong suapi aku?" ucap Lula.
Dengan berat hati Franklin mengambil bubur dan mulai menyendokan ke mulut Lula. Tangan Franklin bergetar, entah kenapa dia merasa takut dengan aura di belakangnya yang sepertinya siap membunuhnya kapan saja itu.
Danish menahan rasa cemburu kala melihat Lula yang akan di suapi oleh Franklin, dia masih menatap sang istri dengan memelas seakan memohon agar tidak melakukan itu terhadapnya.
"Tunggu sebentar!" seru Lula menghentikan tangan Franklin yang sudah mendekat ke mulutnya.
"Ada apa Nona?" tanya Franklin.
"Buburnya sudah dingin, aku tidak mau bubur yang dingin, asisten Franklin maukah kamu mengganti bubur ini dengan bubur yang baru?"
Franklin menoleh ke arah Danish yang masih melotot tajam ke arahnya.
"Baiklah Nona, akan ku ganti dengan yang masih hangat," jawab Franklin.
Sepertinya kali ini dia bisa sedikit bernafas lega karena belum terjadi drama yang lebih lanjut. Dia pun keluar dari dalam ruang rawat Lula untuk mengganti bubur yang memang sudah dingin itu.
Danish tiba-tiba memeluk Lula yang sedang duduk bersandar, dia merasa sakit saat Lula tidak menginginkannya seperti itu.
"Sayang, ku mohon jangan lakukan ini padaku, akan ku lakukan apapun asalkan jangan ada pria lain yang mendekati mu, maafkan aku Lula-ku," ucap Danish memohon.
Dia masih memeluk Lula dengan erat. Lula yang melihat hal itu merasa iba dan tidak tega terhadap suaminya itu.
"Baiklah, aku akan memaafkan mu tapi dengan syarat," jawab Lula.
Danish melepaskan pelukannya dan menatap wajah cubby istrinya yang menurutnya semakin imut itu.
"Aku tidak suka kamu menatap wanita lain lebih dari dua puluh detik dan aku juga tidak suka kamu tertawa bersama seakan menikmati obrolan kalian, kalau kamu melakukan itu aku juga akan melakukannya dengan pria lain," jawab Lula mantap tanpa ada keraguan.
Biarlah dia di anggap posesif, Lula hanya merasa agak sensitif selama kehamilannya ini.
"Tentu saja sayang, aku tidak akan melakukannya lagi, aku berjanji, aku akan selalu memberitahumu kalau nanti ada klien wanita," jawab Danish menangkup wajah Lula itu.
"Tidak perlu, aku hanya merasa insecure dengan para wanita yang berada di dekatmu, aku merasa tidak percaya diri Danish," ucap Lula.
"Sayang kamu tahu tidak, Lula-ku ini sangat cantik, bahkan aura kecantikan mu bertambah berkali-kali lipat saat kamu hamil seperti ini, makanya aku tidak suka kalau sampai ada pria yang melihatmu karena mereka nanti akan jatuh cinta padanmu sayang, aku hanya ingin kecantikan mu dan kebaikan mu hanya aku saja yang menikmati," ucap Danish mencium bibir Lula.
__ADS_1
Bersambung.
Maaf ya kalau masih banyak typo 🙏🏻 salah nulis kata atau dll. jangan lupa bunganya ya akak2 reader 🥰🥰🥰