
Happy Reading 😊
Arshel sedari tadi memperlihatkan wajah yang cemberut, entah kenapa dia tidak suka melihat ada seorang pria yang menatap istrinya kagum.
"Ya Tuhan sayang, dia itu adalah seniorku di kampus, kami memang sudah berteman cukup lama tapi tidak pernah ada hubungan apa-apa antara aku sama Kevin!" ucap Evelyn.
"Sayang, aku tidak suka dia menatapmu seperti itu. Aku tidak rela kalau ada orang lain yang melihat mu seakan ingin memilikinya." Evelyn terkekeh mendengar ucapan sang suami yang menurutnya mengada-ngada itu.
"Kevin itu memang baik dan juga sangat suka sekali memasak, terkadang aku juga saling bertukar ilmu dengannya. Dia sudah aku anggap seperti kakak sendiri. Kamu jangan cemburu gitu dong Sayang," Evelyn mengelus tangan Arshel.
Mendengar ucapan sang istri yang hanya menganggap Kevin sebagai kakaknya, akhirnya dia sedikit luluh. Jujur Arshel memang sedikit cemburu, tetapi dia harus mengesampingkan rasa itu karena dia tidak mau jika sang istri nanti menjadi marah kepadanya hanya karena perasaan cemburu nya itu.
Masih banyak waktu dan hari-hari yang akan mereka lalui, Arshel harus bersikap dewasa mulai sekarang. Dia tahu akan banyak rintangan dan halangan yang akan mereka hadapi, semua tantangan rumah tangga yang tidak bisa dia jadikan sebagai permainan.
Evelyn juga merasa dirinya harus bisa menjaga perasaan sang suami, tidak dipungkiri bahwa dia juga memiliki beberapa teman pria bahkan ada yang pernah menyatakan perasaan padanya, tetapi selama ini Evelyn selalu menolak mereka dengan lembut, karena Evelyn juga sudah memiliki orang yang dia cintai yang saat ini sudah menjadi suaminya.
###
Washington DC.
Sudah seminggu pernikahan Arshel dan Evelyn terjadi. Semua orang sudah kembali melakukan pekerjaan masing-masing. Seperti saat ini Mia dan Kenzo berada di perusahaan Alvares Group.
Kenzo dan Mia memang sudah mulai bekerja di perusahaan Daddy Danish.
Meskipun hanya menjabat sebagai wakil direktur untuk Kenzo dan juga manajer keuangan untuk Mia, tetapi bagi mereka posisi itu sudah cukup bagus untuk mereka yang baru mulai bekerja di perusahaan.
Bukan maksud Daddy Danish mengistimewakan anak dan menantunya itu, tetapi memang kecerdasan mereka dan keahlian yang dimiliki Kenzo dan Mia sudah sangat sepantasnya menduduki posisi itu sekarang.
__ADS_1
Mia saat ini sedang mendata keuangan perusahaan yang menurutnya sedikit ada penurunan grafik pada tabel.
"Kenapa di bagian sini ada sebuah kejanggalan," gumam Gadis itu sambil menunjukkan busur panah pada layar komputernya.
"Padahal seharusnya data yang masuk bisa sedikit besar dari itu tetap tetapi kenapa di sini tertulis berkurang 2%?" ucapnya bermonolog sendiri.
Tiba-tiba ponselnya di atas meja berdering. Mia melihat siapa yang menelpon. "Orang ini?" gumam Mia setelah melihat nomor yang sudah diberi nama 'Tuan Morrison'.
Salah satu ketua divisi keuangan yang artinya pria itu masih bawahannya. Mia mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu.
"Halo Tuan Morrison, ada apa?"
"Halo Nona Mia, setelah jam makan siang nanti Aku ingin in membicarakan hal yang penting denganmu."
Mia mengerutkan dahinya, kalau mau bertemu bisa langsung di kantor kan kenapa harus janjian setelah habis makan siang? pikir Mia tidak karuan.
"Tapi ini sangat penting dan kita harus bertemu di suatu tempat, tidak bisa di kantor karena saat ini saya juga sedang sibuk. Anda tau sendiri sepertinya ada kejanggalan pada keuangan perusahaan ini."
Pria itu memang benar, dia juga merasa ada sesuatu yang membuat Mia bertanya-tanya sejak tadi, tapi belum mendapatkan bukti apapun.
Kemudian istri Kenzo itu menutup panggilnya dan menaruh ponselnya kembali ke atas meja kerja.
Tok, tok, tok!
Ceklek!
Mia mendongak menatap seorang pria yang masuk ke dalam ruang kerjanya dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sayang, sebentar lagi jam makan siang, aku ingin kita makan siang diluar. Apakah kamu sudah selesai?" tanya Kenzo mendekat kearah sang istri.
"Sebenarnya aku belum selesai memeriksa file dan data data keuangan perusahaan, Tapi saat ini aku juga sudah merasa lapar." ucapnya menampilkan deretan gigi putihnya.
Kenzo berjongkok melihat ke arah layar komputer sang istri, keningnya berkerut setelah membaca data-data itu.
"Apakah ada masalah besar?" tanya Kenzi masih meneliti data di tabel.
"Lihatlah bagian ini, seharusnya pada bagian ini ini hasil dari keuangan perusahaan kita kalau di jumlah kan tidak seperti itu, sepertinya ada yang curang dan mengambil sedikit keuntungan dari keuangan perusahaan." Mia menjelaskan sambil menunjuk ke layar itu.
"Memang benar sayang, hanya dengan melihat angkanya pada waktu tanggal 12 dan 13 saja kalau keuangan kita yang masuk sebesar itu, seharusnya ditambahkan pada tanggal 14 dan 15 hasilnya di tanggal 16 tentu tidak akan berjumlah seperti itu, ada sedikit pengurangan di sana," Kenzo langsung bisa prediksi hanya dengan melihat deretan angka-angka di sana.
"Sebaiknya kita harus segera melaporkan kepada Daddy dan Mommy, agar masalah ini tidak semakin menjadi, aku rasa ada orang dalam yang sengaja mengambil keuntungan dari perusahaan kita." ucap Mia.
"Iya sayang, kamu benar sekali, kita akan segera menyelidikinya."
Akhirnya Kenzo dan Mia memutuskan untuk pergi ke lantai paling atas perusahaan Alvares dan langsung menuju ke ruang CEO di mana tempat Daddy dan Mommy-nya berada.
Tok, tok, tok!
Kenzo mengetuk pintu ruangan CEO itu dan tanpa dijawab oleh orang yang berada di dalam, langsung memutar handle pintu dan membukanya.
"Astaga Dad, Mom!!" pekik Kenzo ketika melihat pemandangan di depannya.
Bersambung.
__ADS_1