Khilaf Terdalam

Khilaf Terdalam
(Season 3) Masih Belum Siap


__ADS_3

Happy Reading 😔


"Sebaiknya kalian harus segera menikah saja." Ucap Zack menghela napas.


"Apa? menikah?" Seru keduanya.


"Iya betul, Pipi sama Mimi sudah sepakat bahwa kalian harus secepatnya menikah, sepertinya kalian juga saling mencintai." Ucap Daniella.


Regina nampak shok dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Aland nampak senyum-senyum sendiri.


"Tapi kenapa kami harus menikah? Apa alasannya!!" Regina menggeleng tidak terima.


"Dari pada kalian nanti berbuat nekat, yang ada malah akan semakin parah!" Ucap Mimi.


Aland dan Regina saling memandang, mereka berdua tidak paham dengan perkataan Daniella.


"Maksudnya apa, Mi? Rere gak ngerti?" Daniella terlihat menghela napas. Sedangkan Zack sudah memijat pangkal hidungnya memikirkan kedua remaja tersebut.


Apa ini karma karena dulu aku suka memaksa Daniella? tapi masa iya, putriku yang seperti itu mengikuti jejak langkahku dengan memasukan pria ke dalam kamarnya, lalu kemudian berbohong!?? batin Zack mikir.


"Intinya kalian harus cepat menikah!" Mimi Daniella bisa sedikit sabar dalam menghadapi kedua remaja itu.


"Aku tidak mau, Mimi!" Seru Regina.


Aland yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya berucap. "Aku setuju, Uncle, Aunty.. Sebenarnya aku juga sangat mencintai Regina, kami berdua juga saling mencintai!" Jawab Aland.


Zack dan Daniella saling memandang, sepertinya mereka berdua memang harus segera di nikahkan, melihat keseriusan Aland yang sepertinya juga setuju dengan ide mereka berdua.


"Aku tidak mau, aku masih belum siap untuk menikah!" Regina menentang keinginan kedua orang tuanya.


"Loh, kenapa sayang, seharusnya kamu senang kalau kita secepatnya menikahkan kalian bukan? dari pada harus sembunyi-sembunyi kalau mau bermesraan," ucap Daniella.


"Siapa yang bermesraan secara sembunyi-sembunyi! ah Mimi sama Pipi kenapa seenaknya sendiri menentukan pernikahan ku sih!" Regina berdiri merasa sedikit emosi dengan keputusan kedua orang tuanya yang memutuskan perjodohan itu.


"Aku pergi dulu," Regina segera pergi keluar karena merasa kesal dengan sikap kedua orang tuanya yang tiba-tiba ingin menjodohkan nya dengan Aland.


"Aland, sebenarnya hubungan kalian kenapa? apa sedang ada masalah?" Tanya Daniella.


"Ehm, sepertinya memang seperti itu Aunty, aku dan Regina memang sedang tidak baik." Jawab Aland mengiyakan.

__ADS_1


Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba orang tua Regina ingin sekali mereka segera menikah. Tidak tahu saja Aland kalau tadi malam Daniella melihat dia keluar dari kamar Regina tidak lama setelah Daniella dari sana.


Tentu saja pikiran orang tua yang melihat hal itu pasti langsung merujuk ke arah yang negatif.


"Kamu kejar Regina, sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja." Ucap Zack.


"Baik Uncle, aku akan menyusul Regina." Aland langsung pergi untuk menyusul Regina yang sudah mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Hari weekend yang seharusnya bisa membuat Regina bersenang-senang malah semakin membuatnya badmood.


"Re, tunggu!" Aland menggedor kaca jendela mobil.


Regina menstater mobilnya dan tidak peduli dengan teriakan Aland.


"Please Re, kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Aland masih terus berusaha untuk membuat Regina membukakan pintu mobilnya.


Kemudian Regina segera mengijak pedap gas dan keluar dari halaman rumahnya itu.


"Aku tidak tahu apa-apa dengan semua ini, ku mohon, kita harus bicara!" Regina yang melihat keseriusan Aland akhirnya membuka pintu mobil itu dengan malas.


"Terima kasih, Re." Ucap Aland setelah duduk di kursi sebelah kemudi.


Regina tampak menghela napas. Kemudian gadis itu segera menginjak pedap gas dan keluar dari halaman rumahnya itu.


"Kita harus bicara Re, aku tahu kamu pasti shock mendengar ucapan kedua orang tuamu yang tiba-tiba ingin menjodohkan kita. Tapi aku berani bersumpah bahwa semua ini tidak ada hubungannya denganku." Ucap Aland melirik Regina yang masih diam dan fokus menyetir.


"Aku tahu," jawab Regina singkat.


"Jadi kita cari tempat yang nyaman untuk bicara, katanya mau mengajakku ke tempat favorit-mu?" Tanya Aland.


"Hem, aku ingin pergi ke rumah Rigen, ingin menenangkan hati." Jawab Regina.


"Kenapa harus ke rumah siapa? Rigen?" Tanya Aland mengingat-ingat.


"Bukankah Rigen itu sepupu mu, anak dari Pamanmu, siapa?? aku lupa."


Regina melirik Aland sebentar. "Paman Kenzo." Jawab Regina kembali fokus.


"Ah iya benar, dia itu sedikit sombong dan ya begitu."

__ADS_1


"Begitu kenapa?"


"Tidak, dia sepertinya agak cuek."


"Kenapa jadi bahas Rigen?? sebenarnya aku masih belum siap untuk menikah karena masih ingin bekerja dan merintis karir ku, jadi ku harap kalian bisa ngerti posisiku, menikah muda memang sah-sah saja, tapi aku tidak mau." Ucap Regina.


"Apa kamu masih meragukanku, Re?" Tanya Aland.


"Entahlah, Aland.. aku masih menata hatiku untukmu, jujur kemarin memang sempat kecewa padamu karena sikapmu yang acuh, dan sekarang kamu baru sadar kamu kehilangan ku setelah aku menjauh dan sengaja menghindar, aku hanya takut kalau cintamu itu palsu, atau hanya karena belum..!" Aland menyela.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu, sayang,, aku memang belum bisa di bilang pantas untuk mendapatkan maaf darimu, karena aku baru menyadari telah jatuh cinta padamu setelah aku tahu bahwa kamu mengabaikan ku, meskipun rasa nyaman itu sudah hadir sejak dulu." Ungkap Aland tentang isi hatinya.


"Baiklah, kalau begitu maukah kamu membuktikan bahwa kamu benar-benar cinta dan tulus padaku!" Tanya Regina.


"Tentu saja, izinkan aku membuktikan bahwa cintaku dan hatiku hanya untukmu, Sayang." Jawab Aland.


###


Rigen mengajak Emma ke rumahnya yang kecil dan sangat sederhana. Emma sejak semalam merengek pada Rigen meminta izin untuk main ke rumahnya. Akhirnya siang ini Rigen membawa Emma masuk ke dalam rumah yang telah di belinya itu.


"Masuklah, Emma." Rigen membuka pintu.


Emma melihat sekeliling dan matanya begitu berbinar. "Rumahmu sangat nyaman, dengan siapa kamu tinggal di sini?" Tanya Emma.


"Aku tinggal sendiri," jawab Rigen.


"Kemana orang tuamu? atau saudara mu?" Rigen nampak sedikit gelagapan ketika Emma bertanya tentang keluarganya. Masa iya Rigen harus menjawab bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal? itu artinya sama saja mendoakan Daddy Kenzo dan Mommy Mia.


"Ehm, mereka tinggal jauh dari kota ini, sebenarnya aku merantau ke sini." Lagi-lagi Rigen berbohong.


Dia bingung harus selalu menutupi setiap kebohongan yang dia buat. Tapi semuanya sudah terlanjur, mudah-mudahan Emma tidak pernah mengetahuinya ataupun curiga denganya.


"Wah, pasti sangat nyaman ya tinggal di sini!" Emma duduk di sofa single yang ada di ruang tamu. Benar-benar rumah yang mungil, bahkan kamar di rumah itu hanya ada dua kamar, kamar mandi dua, yang satu di dalam kamar dan yang satunya berada di luar.


"Emma, apa kamu percaya padaku, kalau aku beneran orang miskin?" Tanya Rigen menatap mata Emma.


Bersambung.


hai akak reader semuanya 🥰

__ADS_1


Maaf ya kalau ceritanya di bab2 atas ada yang sedikit mbulet atau banyak typo🙏🙏😅


__ADS_2